Posted in

Hari ketika semua ingatan Rafa kembali, aku sedang bergulat di lantai ruang tamu. Tangan kiriku memegang celana pendek AJ, sementara tangan kananku mencengkeram kerah baju Nini.

Hari ketika semua ingatan Rafa kembali, aku sedang bergulat di lantai ruang tamu. Tangan kiriku memegang celana pendek AJ, sementara tangan kananku mencengkeram kerah baju Nini.

Dua anak ini licin seperti ikan lele—meronta-ronta hanya untuk bersembunyi di bawah sofa.

Sementara aku sendiri sudah kesulitan bergerak karena perut tujuh bulan yang terasa seperti membawa batu besar. Setiap napasku seperti napas pelari yang kelelahan.

“Rafa! Tolong bantu aku di sini!”

Tidak ada jawaban.

Aku menoleh ke arah home office miliknya. Pintu terbuka sedikit, dan aku mendengar suaranya di telepon.

Nada bicaranya dingin, rendah, tapi tajam. Sangat berbeda dari pria yang selama tiga tahun terakhir merawat dan mencintaiku sepenuh hati.

“Rencana merger Q3 De Vega Corp suruh tim legal revisi ulang.”

“Untuk Mr. Chua, biar aku sendiri yang urus.”

“Dan satu lagi.”

Dia berhenti sejenak. Suaranya semakin dalam.

“Lakukan background check untuk Nicole Reyes.”

Nicole Reyes.

Itu aku.

Kepalaku seperti meledak.

Dia menyelidikiku…?

Kenapa?

Kecuali kalau…

Aku melepaskan kedua anak itu dan memaksa berdiri. Perutku sakit dan kakiku gemetar, jadi aku berpegangan erat pada meja.

Tepat saat itu pintu kantor terbuka.

Rafa berdiri di ambang pintu, wajahnya tertutup bayangan cahaya dari belakang. Tatapannya lurus ke arahku.

Tidak ada lagi kehangatan.

Dingin… seperti menatap mangsa.

“Nica.”

Cara dia menyebut namaku terdengar begitu jauh sampai membuat bulu kudukku meremang.

Aku mundur selangkah.

“A-ada apa?”

Dia berjalan mendekat, mengambil biskuit yang jatuh di lantai, lalu meletakkannya di meja.

“Mau makan malam apa? Aku yang masak.”

Dia tersenyum.

Senyum yang sama. Wajah seorang “suami sempurna.”

Tapi sekarang aku tahu, telepon tadi adalah dirinya yang asli.

CEO De Vega Corp. Taipan termuda di Makati. Dingin, tegas, dan licik.

Tiga tahun lalu, kecelakaan menghapus seluruh ingatannya.

Dan aku, hanya seorang asisten kecil yang bahkan nyaris tak pernah dia perhatikan sebelumnya, nekat berbohong. Aku bilang aku istrinya.

Bahwa kami saling mencintai.

Dan karena “cinta” itu, dalam tiga tahun kami punya dua anak… dan satu lagi kini ada di dalam kandunganku.

“Apa saja tidak apa-apa…”

Aku memaksakan senyum sementara jantungku seperti ingin melompat keluar dari dada.

Dia menyiapkan makan malam.

Adobo liempo, tumis sayur, dan leche flan. Semua makanan favoritku.

Dia menuangkan sup untukku. Lalu mengangkat AJ ke high chair dan memasangkan bib untuk Nini.

Dia sudah sangat terbiasa melakukannya, seperti telah menjalani semua itu ribuan kali.

Tapi aku tetap menyadarinya.

Tatapannya pada anak-anak berubah.

Tak ada lagi kehangatan seorang ayah.

Ada kabut tipis penuh kecurigaan.

Seolah dia sedang mengamati sesuatu.

Aku menunduk dan makan. Setiap suapan terasa tersangkut di tenggorokan.

Malam itu, dia tetap memelukku saat tidur.

Tangannya berada di atas perutku, mengusap bayi kami perlahan.

“Nica, kamu sudah ngantuk?”

“I-iya…”

“Kalau begitu tidur saja.”

Dia mencium tengkukku.

Persis seperti ribuan malam sebelumnya.

Tapi aku tak bisa tidur.

Pukul empat pagi, perlahan aku melepaskan diri dari pelukannya.

Aku tak tahu apakah dia benar-benar tidur atau hanya berpura-pura.

Aku pergi ke walk-in closet dan mengambil koper yang sudah lama kusiapkan.

Ya. Sudah lama.

Sejak hari pertama aku berbohong, aku sudah menyiapkan jalan kabur.

Di dalam koper ada tiga paspor palsu, uang tunai 200 ribu peso, akta lahir anak-anak, dan tiket sekali jalan menuju Cebu.

Begitulah aku.

Kalau berbohong, harus siap menanggung akibatnya.

Kalau kabur, harus punya tujuan.

Aku menoleh ke kamar untuk terakhir kali.

Rafa tidur menyamping, wajahnya di bawah cahaya bulan terlihat begitu dingin—seolah tak nyata.

Tiga tahun.

Utangku padanya tak akan pernah bisa kubayar.

Aku berjalan ke kamar anak-anak.

AJ dan Nini tidur lelap dengan posisi aneh seperti anak katak kecil.

Aku ingin menggendong mereka, tapi perutku terlalu besar untuk membungkuk dengan benar.

Jadi aku berlutut dan memeluk mereka satu per satu.

AJ terbangun dengan mata setengah tertutup.

“Mommy…”

“Shh…”

Aku menaruhnya di stroller lalu mengangkat Nini.

Nini lebih berat, sampai rasanya punggungku hampir patah.

Satu tangan mendorong stroller, satu tangan menarik koper, dan perut besarku di depan.

Perlahan aku keluar dari rumah.

Di cermin lift, rambutku berantakan dan lingkar hitam di bawah mataku terlihat jelas. Aku benar-benar tampak seperti buronan.

Tiga tahun lalu, aku juga sama putus asanya saat masuk ke kamar rumah sakitnya.

Waktu itu dia bertanya:

“Siapa kamu?”

Dan aku menangis sejadi-jadinya:

“Aku istrimu… kamu tidak ingat?”

Akting terbaik seumur hidupku.

Dan dia percaya.

Seorang CEO miliarder percaya kalau asistennya yang gajinya cuma 25 ribu peso adalah istrinya.

Lucu, bukan?

Tapi dia percaya. Bahkan dia berusaha menebus semua “kesalahannya” padaku.

Dia begitu baik sampai kadang aku berpikir… tak apa hidup dalam kebohongan ini selamanya.

Tapi tak ada drama yang berlangsung selamanya.

Taksi sudah menunggu di gerbang.

“Ke pelabuhan ya, Pak.”

“Baik, Bu. Anak-anaknya lucu sekali.”

“Terima kasih.”

Aku menatap keluar jendela.

Lampu penthouse kami di gedung belakang tiba-tiba menyala.

Dadaku langsung nyeri.

“Pak, tolong lebih cepat.”

Mobil melaju kencang.

Aku membuka WeChat miliknya.

Isi chat kami hanya hal-hal sederhana: mau makan apa, tendangan bayi makin kuat, atau anak-anak rebutan dot lagi.

Jariku berhenti di tombol “Delete.”

Tiga detik.

Aku tidak menghapusnya.

Aku hanya mematikan ponsel dan menyelipkannya ke bawah koper.

Kami tiba di pelabuhan.

Aku memilih kapal paling lambat menuju Cebu, berangkat pukul 5:20 pagi.

Aku tidak naik pesawat.

Aku takut terlalu cepat tertangkap.

AJ terbangun.

“Mommy, Daddy ke mana?”

“Daddy lagi business trip.”

“Katanya hari ini kita mau ke kebun binatang…”

“Nanti lain kali ya?”

“Selalu nanti…”

Aku terdiam.

Aku menggendong mereka naik ke kapal.

Kapalnya tua, berbau mie instan dan laut.

Nini tidur lagi. AJ memeluk leherku erat.

“Kita mau ke mana, Mommy?”

“Ke rumah baru.”

“Ada perosotan?”

“Ada.”

“Yeay.”

Dia anak yang sangat baik. Mirip ayahnya.

Ah, tidak juga.

Ayahnya bukan orang yang mudah dihadapi.

Rafael De Vega adalah pria yang tak mengenal belas kasihan.

Di tahun pertamanya menjadi CEO saja, dia sudah memecat tiga anggota dewan direksi.

Dunia bisnis menjulukinya “Grim Reaper.”

Dan aku?

Aku menipu “Grim Reaper” selama tiga tahun.

Aku memberinya dua anak.

Dan satu lagi kini ada di rahimku.

Kapal mulai bergerak.

Perlahan Metro Manila mengecil di pandanganku.

Aku menyandarkan kepala ke jendela.

Selamat tinggal, Rafa.

Semoga kau tidak mencari kami lagi.

Aku tidak butuh uangmu, rumahmu, atau mobilmu.

Aku hanya butuh anak-anak.

Kalau kau ingin merebut mereka dariku, baru kita bicara.

Dua jam kemudian, matahari mulai terang.

Aneh sekali tenang rasanya, mungkin karena aku tahu hari ini pasti akan datang.

AJ lapar, jadi kuberi roti.

Nini bangun menangis.

Dan bayi dalam perutku ikut menendang.

Mereka bertiga membuatku hampir pusing.

Wanita di sebelahku menatapku kasihan.

“Kamu sendirian mengurus tiga anak? Suamimu ke mana?”

“Lagi business trip.”

Wanita itu menghela napas.

“Laki-laki macam apa itu.”

Aku hanya tersenyum tipis.

Dia bukan sedang business trip.

Dia hanya baru ingat siapa dirinya… dan sadar kalau aku sudah membohonginya selama tiga tahun.

Jadi sekarang aku kabur membawa anak-anak kami.

Kalau kukatakan yang sebenarnya, mungkin wanita ini langsung pingsan.

Menjelang siang aku menyalakan ponsel.

137 panggilan tak terjawab.

Semuanya dari Rafa.

Ada juga 20 pesan WeChat.

Aku hanya menatap layar itu.

Aku menarik napas dalam-dalam, menguatkan hati sebelum membuka rentetan pesan itu. Jemariku gemetar di atas layar yang retak.

Pesan-pesan awal berisi kepanikan seorang suami: “Nica, kamu di mana?” “Kenapa membawa anak-anak?” “Jangan bercanda, Nica. Pulang.”

Namun, seiring berjalannya waktu, isi pesan itu berubah. Kalimatnya memendek, nadanya mendingin, beralih dari seorang suami yang cemas menjadi Rafael De Vega yang sesungguhnya.

Pesan terakhir dikirim sepuluh menit yang lalu: “Dermaga 4. Kapal MV Saint Antony menuju Cebu. Kecepatan 12 knot. Kamu punya waktu tiga puluh menit sebelum kapal itu diperintahkan berbalik arah, Nicole.”

Dia menyebut nama asliku. Dia sudah tahu segalanya.

Jantungku serasa berhenti berdetak. Seluruh tubuhku kaku, sementara wanita di sebelahku masih asyik mengunyah keripik, tak tahu bahwa wanita hamil di sampingnya baru saja menerima vonis mati dari sang Grim Reaper.

Tepat saat aku hendak mematikan ponsel untuk selamanya, layar handphone-ku kembali menyala. Sebuah panggilan masuk. Nama yang tertera membuat lambungku meremas sakit: Rafa.

Dengan tangan gemetar, aku menggeser tombol hijau dan menempelkannya ke telinga. Aku tidak bersuara. Hanya deru angin laut dan tangisan bayi di kejauhan yang mengisi keheningan.

“Tiga tahun, Nicole.” Voice note? Bukan, ini suara langsung. Dingin, jernih tanpa distorsi, seolah dia sedang berdiri tepat di belakangku. “Tiga tahun aku hidup dalam dongeng yang kamu buat. Kamu pikir kamu sangat pintar?”

Air mataku menetes tanpa bisa ditahan. “Rafa… maafkan aku.”

“Maaf?” Kedengarannya ada tawa sinis di ujung sana. “Kamu memalsukan dokumen, membohongi seluruh keluargaku, dan membuatku percaya bahwa aku adalah pria paling bahagia di dunia karena memiliki istri sepertimu. Kamu menipuku, Nicole.”

“Aku akan mengembalikan semuanya!” pangkasku dengan suara parau, berusaha menahan tangis agar AJ tidak terbangun. “Semua uang bulanan yang kamu beri, perhiasan, semuanya ada di brankas penthouse. Aku tidak membawa sepeser pun uangmu. Aku hanya membawa anak-anak. Mereka anak-anakku, Rafa…”

“Mereka juga darah dagingku!” Suaranya meninggi, memotong kalimatku dengan ketegasan yang mutlak. “Kamu pikir De Vega Corp akan membiarkan penerusnya tumbuh di tempat pelarian seperti tikus? Dan anak yang ada di dalam perutmu itu… dia juga anakku.”

“Kamu tidak pernah menginginkanku, Rafa! Sebelum kecelakaan itu, aku hanya bayangan di kantormu!” teriakku frustrasi, menyembunyikan wajahku di antara lutut. “Kamu mengingat semuanya sekarang. Kamu tahu aku berbohong. Lepaskan kami. Anggap saja tiga tahun ini adalah kesalahan.”

Hening menyelimuti sambungan telepon itu selama beberapa detik yang menyiksa. Hanya terdengar suara helaan napasnya yang berat.

“Memang kesalahan,” ucapnya lirih, namun nadanya berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap, sesuatu yang membuat bulu kudukku meremang. “Tapi aku sudah terbiasa dengan kesalahan ini, Nicole. Aku sudah terbiasa membuatkanmu adobo, memelukmu setiap malam, dan mendengar rengekan AJ dan Nini.”

“Rafa…”

“Kamu yang memulai permainan ini, Sayang. Kamu yang menjebakku ke dalam pernikahan palsu ini. Jadi, jangan harap kamu bisa keluar begitu saja setelah membuatku menjadi ayah.”

Sebelum aku sempat mencerna kalimatnya, sebuah bayangan besar jatuh menutupi jendela kapal di sampingku. Suara gemuruh yang bising mulai memekakkan telinga, membuat air laut di sekitar kapal bergolak hebat.

Aku mendongak ke luar jendela.

Sebuah helikopter pribadi berwarna hitam dengan logo De Vega Corp sedang berputar rendah di atas dek kapal. Beberapa petugas kapal berlarian panik di bawah instruksi yang menggema dari pengeras suara. Kapal tua ini benar-benar berhenti di tengah laut.

Ponsel di tanganku kembali bersuara.

“Keluar ke dek sekarang, Nicole. Bawa AJ dan Nini. Jangan membuatku harus menjemputmu ke dalam ruangan bau itu. Perutmu sedang besar, jangan keras kepala.”

Aku terduduk lemas. Air mataku mengalir deras, meratapi kebodohanku. Aku mengira bisa lari dari pria yang menguasai setengah jalur bisnis di negara ini hanya dengan kapal lambat.

Dengan perlahan, aku membangunkan AJ, menggendong Nini yang masih mengantuk, dan melangkah keluar menuju dek dengan sisa-sisa kekuatanku. Angin laut yang kencang langsung menerpa wajahku, menerbangkan rambutku yang kusut.

Helikopter itu telah mendarat di area darurat dek kapal.

Pintu helikopter terbuka. Di sana, Rafael De Vega berdiri. Jas hitamnya berkibar tertiup angin baling-baling. Wajahnya datar, matanya yang tajam menembus langsung ke arahku. Tidak ada kemarahan yang meledak-ledak, hanya dominasi mutlak yang tak terbantahkan.

Dia berjalan mendekat. Langkah kakinya terdengar mantap di atas besi dek.

Saat dia berdiri tepat di depanku, dia tidak merebut anak-anak. Dia justru mengulurkan tangannya yang besar dan hangat, menyelipkan seuntai rambut yang menghalangi mataku ke belakang telinga. Sentuhan yang begitu akrab, namun kini terasa begitu mendebarkan.

Dia menunduk, menatap perut buncitku yang berbalut gaun hamil murah, lalu beralih menatap mataku yang sembap.

“Pelarian yang payah, Nicole Reyes,” bisiknya di dekat telingaku, suaranya mengalahkan gemuruh mesin helikopter.

“Apa yang akan kamu lakukan padaku? Memenjarakanku?” tanyaku pasrah, memeluk AJ lebih erat.

Rafa tersenyum tipis—senyuman dingin seorang CEO, namun ada kilat posesif yang tak bisa disembunyikannya di dalam matanya.

“Memenjarakanmu di sel? Itu terlalu mudah,” ujarnya sambil mengambil alih Nini dari gendonganku dengan gerakan yang sangat lihai dan protektif. “Kamu akan tetap menjadi istriku, Nicole. Kamu akan melahirkan anak ketiga kita di rumah sakit terbaik di Manila, bukan di puskesmas Cebu.”

Dia berbalik arah menuju helikopter, memberi isyarat pada pengawalnya untuk membawa koper palsuku.

“Ayo pulang,” ucapnya tanpa menoleh lagi, namun nadanya tidak memberi ruang untuk bantahan. “Kita punya waktu seumur hidup untuk membahas hukumanmu atas kebohongan tiga tahun ini.”

Aku menatap punggung tegapnya. Aku tahu, hidupku setelah ini tidak akan pernah sama lagi. Dongengku telah usai, dan kini aku memasuki realitas bersama seorang pria yang tahu seluruh busukku, namun menolak untuk melepaskanku.

Sambil menghela napas berat, aku melangkah mengikutinya masuk ke dalam helikopter. Aku kalah, tapi entah mengapa, saat tangannya kembali menggenggam tangan kiriku yang dingin, ada rasa aman yang aneh yang kembali menyergap dadaku.

Permainan berbohongku memang sudah selesai, tapi hidupku bersama Rafael De Vega… baru saja dimulai.