“Tanda tangani surat persetujuan operasi ini sekarang, Pak! Satu detik saja Anda ragu, Anda akan kehilangan darah daging Anda dan wanita yang sudah menyelamatkan nyawa ibu Anda!”
Bentakan Dokter Handoko tak ubahnya petir yang menyambar tepat di ulu hatiku. Papan dan pulpen yang disodorkannya dengan kasar ke depan dadaku terasa seperti vonis mati.
Tubuhku gemetar hebat. Persendian di lututku seolah luruh tak bertulang, memaksaku jatuh bersimpuh di lantai koridor rumah sakit yang dingin.
Udara di sekitarku tiba-tiba terasa lenyap. Dadaku sesak, dicekik oleh rasa bersalah yang teramat masif hingga aku tak bisa bernapas.
“Dok, saya mohon.” suaraku bergetar parah, nyaris hanya berupa cicitan putus asa. Air mataku tumpah tanpa bisa dicegah.
“Selamatkan keduanya, Dok. Tolong, selamatkan Arini dan bayi kami. Berapa pun biayanya akan saya bayar! Saya akan cari pinjaman ke mana pun, Dok!”
Dokter Handoko mendengus sinis. Sorot matanya menatapku penuh amarah.
“Sekarang Anda bicara soal nyawa dan uang? Ke mana saja Anda tadi malam saat istri Anda datang ke sini dengan daster basah kuyup, bibir membiru kedinginan, dan tangan bergetar menyerahkan uang jaminan lima puluh juta agar kami segera mengoperasi ibu kandung Anda?!”
Aku memejamkan mata kuat-kuat. Ya Allah, apa yang sudah kulakukan?
“Dia bahkan mengabaikan rasa sakit di perutnya sendiri, memohon kepada kami untuk memprioritaskan ibu Anda karena saudara-saudara Anda lepas tangan! Dan karena stres berat serta terguncang diusir oleh Anda, pembuluh darahnya pecah. Tanda tangani ini sekarang, atau bayinya tidak akan selamat!”
Dengan tangan yang gemetar tak karuan, aku menorehkan tanda tangan di atas kertas itu.
Kertas yang menjadi penentu hidup dan matinya dua nyawa yang paling berharga dalam hidupku.
Begitu kertas itu kuserahkan, Dokter Handoko langsung berbalik dan setengah berlari memasuki ruang operasi.
Lampu merah di atas pintu menyala, menandakan pertarungan antara hidup dan mati telah dimulai.
Aku merangkak mendekati pintu ruang operasi, menempelkan dahi dan telapak tanganku pada daun pintunya. Isak tangisku pecah, menggema di lorong yang sepi.
Terngiang kembali suara keras bantinganku pada koper berisi pakaian Arini semalam.
Terbayang wajah pucatnya yang bersimpuh memeluk kakiku, memohon belas kasihan di tengah dinginnya angin malam.
Namun, aku justru menepisnya, menuduhnya sebagai pencuri, dan menjatuhkan talak padanya tanpa memberinya kesempatan untuk bicara satu kata pun.
Istriku bukan pencuri. Dia malaikat yang kuusir dengan tanganku sendiri demi menyelamatkan nyawa ibuku.

Sudah dua jam berlalu, dan pintu operasi belum juga terbuka.
Aku baru saja bangkit dari lantai berniat menuju ruang perawatan ibuku untuk melihat kondisinya, ketika sayup-sayup kudengar suara derap langkah kaki yang tergesa-gesa dan berat dari ujung lorong.
Bukan hanya satu atau dua orang. Aku menoleh dengan mata merah dan bengkak.
Mataku membelalak mendapati belasan pria berjas hitam legam berbaris rapi mengamankan lorong.
Di tengah-tengah mereka, berjalan seorang pria paruh baya dengan setelan jas navy beraura bangsawan yang terlihat sangat mahal.
Auranya memancarkan intimidasi yang luar biasa, dengan rahang mengeras dan tatapan mata yang setajam elang.
Di belakangnya, seorang pemuda tampan dengan gurat wajah yang sangat mirip dengan Arini, menatapku dengan raut wajah penuh dendam yang siap meledak.
Aku mundur selangkah. Jantungku berpacu gila.
Siapa mereka? Setahuku, Arini hanyalah anak panti asuhan yang sebatang kara dan tak punya keluarga.
Pria paruh baya itu berhenti tepat di hadapanku. Tanpa peringatan apa pun, tangannya terayun ke udara.
PLAAKKK!!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipiku hingga ujung bibirku robek dan mengeluarkan darah.
Tubuhku terhuyung dan ambruk menghantam kursi tunggu. Telingaku berdenging hebat.
Sebelum aku sempat mencerna apa yang terjadi, pria itu mencengkeram kerah bajuku, menarikku ke atas hingga kakiku nyaris terangkat dari lantai.
Matanya berkilat menakutkan, menusuk tepat ke dalam manik mataku.
“Tadi malam kau membuang putriku ke jalanan yang dingin layaknya seorang pencuri hina hanya karena uang receh lima puluh juta? Kau salah besar memilih lawan, Dewa! Jika sampai terjadi sesuatu pada putri kesayanganku dan cucu pewaris utama Keluarga Suryanegara di dalam sana, aku pastikan kamu akan memohon agar nyawamu dicabut hari ini juga!”