Posted in

MEREKA MENERTAWAKANKU SAAT AKU MEWARISI SEBUAH LADANG TUA — SAMPAI AKU MENEMUKAN RETAKAN ANEH DI TANAH

MEREKA MENERTAWAKANKU SAAT AKU MEWARISI SEBUAH LADANG TUA — SAMPAI AKU MENEMUKAN RETAKAN ANEH DI TANAH

Mereka tertawa ketika seorang yatim piatu kelaparan mewarisi empat puluh delapan hektare tanah berbatu di Bukidnon yang bahkan nilainya tak sampai Rp7.000.

Tomas Mercado duduk diam di kantor pengacara, memegang topinya dengan kedua tangan. Ia mengenakan jas yang kebesaran dan sepatu bot dengan ujung yang sudah robek. Selama dua hari terakhir, yang masuk ke perutnya hanyalah sebutir telur, setengah potong bibingka, dan oat kering.

Namun ia tetap duduk tegak.

Itulah satu-satunya harga diri yang masih ia miliki.

Di seberang ruangan, Orlando Tañedo, pengusaha susu terkaya di seluruh provinsi, mulai tertawa bahkan sebelum pengacara selesai membacakan surat wasiat.

“Ya Tuhan,” kata Orlando sambil menepuk lututnya. “Anak itu mewarisi empat puluh delapan hektare batu dan sarang ular.”

Mandornya ikut tertawa.

Agen tanah itu juga.

Bahkan janda pemilik rumah kontrakan menutup mulut sambil gemetar menahan iba—iba yang terasa lebih menyakitkan daripada kekejaman.

Tomas tetap diam sambil menatap pinggiran topinya yang sudah pudar.

Ia sudah terbiasa ditertawakan. Ia mengalaminya di panti asuhan. Di stasiun kereta. Dari pria-pria yang melihat lengannya yang kurus lalu berkata bahwa ia tak akan bertahan seminggu pun. Tawa orang lain sudah begitu lama mengikutinya hingga terasa seperti cuaca yang tak pernah berubah.

Lalu pengacara membacakan kalimat terakhir dari surat wasiat pamannya, Don Julio Mercado.

“Tanah ini diwariskan kepada keponakanku, Tomas Mercado, karena hanya dia di keluarga kami yang lebih penasaran pada apa yang berada di bawah tanah dibandingkan apa yang ada di atasnya.”

Mereka tertawa lebih keras lagi.

Agen tanah mendekati Tomas. “Nak, ambillah apa pun yang bisa kau dapatkan. Sudah sembilan tahun tidak ada hasil panen yang layak di sana.”

Namun Tomas hanya mengangkat pandangannya.

“Aku ingin melihat tempat itu.”

Menjelang senja, ia mendaki sendirian ke Bukit Amihan, membawa sekantong tepung jagung dan kacang panjang yang diam-diam diberikan oleh sang pengacara. Jalan yang ia lalui nyaris tak bisa disebut jalan. Angin dingin menembus jas pinjamannya. Rumah di puncak bukit itu lebih tampak seperti tantangan daripada warisan.

Dua kamar.

Sebuah balkon yang mulai amblas.

Atap seng penuh tambalan.

Dan sebuah lumbung yang tampak membungkuk karena berat usia.

Di sisi bukit, setengah terkubur di tanah, berdiri sebuah rumah mata air rendah dari batu dengan pintu kayu tebal.

Di dalam pondok, Tomas menemukan kayu bakar kering. Korek api. Kompor. Dan di bawah terpal luar, setumpuk kayu ek yang terbelah rapi.

Don Julio tahu seseorang akan datang.

Mungkin Tomas.

Mungkin bukan siapa-siapa.

Karena itu lelaki tua itu menyiapkan kayu untuk orang yang mungkin masih hidup setelah dirinya tiada.

Malam itu, Tomas makan bubur jagung dari kaleng sambil duduk di dekat kompor lalu berbisik pada kegelapan:

“Di sinilah aku akan mati, atau di sinilah aku akan hidup. Tapi aku tidak akan kembali lagi.”

Saat matahari terbit, ia mulai memeriksa tanah itu.

Di mana-mana terdapat retakan di batu kapur.

Ada yang tipis seperti jahitan benang.

Ada pula yang cukup lebar untuk menelan sepatu bot.

Dekat sudut barat daya, ia menemukan retakan hampir selebar satu meter, dengan udara dingin yang keluar dari bawah tanah.

Itu bukan angin.

Bukan cuaca.

Itu adalah napas yang terus mengalir dari kedalaman bumi.

Lalu ia teringat satu-satunya pertanyaan yang pernah diajukan Don Julio kepadanya.

“Pernahkah kau mendengar tanah bernapas?”

Pada hari keempat, dalam keadaan lapar dan pusing, Tomas menemukan sebuah kaleng tersembunyi di balik almanak tua. Di dalamnya ada empat belas buku catatan, sebuah termometer, kompas tembaga, tali dengan simpul-simpul, dan sepucuk surat atas namanya.

Isi surat itu:

“Apa yang berada di bawah bukit ini jauh lebih berharga daripada apa pun yang ada di atasnya.

Kunci rumah mata air ada di belakang kompor, tertanam di antara bebatuan.”

Tomas menggunakan pisau kecil untuk mengorek sela-sela batu sampai sebuah kunci besi kecil jatuh ke telapak tangannya.

Di luar, bukit itu masih tampak hancur dan tak bernilai.

Namun di bawahnya… ada sesuatu yang bernapas.

Rahasia di Balik Pintu Batu

Tomas berdiri di depan pintu kayu tebal rumah mata air itu. Tangannya yang gemetar menancapkan kunci besi kecil ke dalam lubang kunci yang berkarat. Dengan satu sentakan kuat, terdengar bunyi klik logam yang berat, disusul suara derit kayu tua yang enggan terbuka setelah bertahun-tahun terkunci.

Aroma pertama yang menyergap hidungnya bukan bau apak tanah mati, melainkan aroma tajam, segar, dan dingin—seperti bau udara pegunungan setelah badai petir, bercampur dengan kelembapan mineral yang pekat.

Tomas menyalakan senter minyak yang ditinggalkan pamannya, lalu melangkah turun melewati tangga batu yang licin.

Tangga itu membawanya jauh ke bawah bukit, melingkar ke dalam kegelapan. Di dasar tangga, ruang batu itu melebar menjadi sebuah gua kapur alami yang sangat besar. Senter minyaknya nyaris tak mampu menerangi ujung langit-langit gua, namun cahaya itu memantulkan sesuatu yang membuat napas Tomas tercekat.

Air.

Bukan sekadar genangan mata air biasa, melainkan sebuah danau bawah tanah raksasa yang airnya begitu jernih hingga ia bisa melihat dasar gua puluhan meter di bawahnya. Namun, bukan air itu yang membuat Don Julio menyembunyikan tempat ini.

Di sepanjang dinding gua, di dalam retakan-retakan batu yang dialiri air, tumbuh ribuan formasi kristal berwarna biru pekat yang berkilauan seperti bintang di malam hari.

Tomas mendekat, menyentuh salah satu kristal tersebut. Teksturnya dingin, dan saat jarinya bersentuhan dengan batuan itu, ia merasakan getaran halus yang konstan. Udara dingin yang ia rasakan di atas bukit ternyata berasal dari embusan angin yang melewati celah-celah kristal ini.

Ia membuka buku catatan Don Julio dengan tangan gemetar, membaca halaman yang ditandai dengan tinta merah.

“Ini bukan sekadar batu kapur. Ini adalah kandungan Blue Quartz murni dengan kadar tertinggi yang pernah ditemukan di Filipina, terasah oleh tekanan geotermal dan mata air bawah tanah selama ribuan tahun. Dan di bawah danau ini, terdapat jalur akuifer air mineral purba beralkalin tinggi. Nilai tanah ini bukan pada jagung atau ternak, Tomas. Tapi pada apa yang tersimpan di rahimnya.”

Tomas terduduk di lantai gua yang dingin. Air mata menetes di pipinya yang kotor. Pria-pria di kota, Orlando Tañedo, dan semua orang yang menertawakannya—mereka hanya melihat permukaan yang gersang, sementara pamannya telah mewariskan sebuah kerajaan yang tak ternilai langsung ke tangannya.


Tiga minggu kemudian, sebuah mobil jip mewah menderu mendaki Bukit Amihan, memecah keheningan wilayah itu. Orlando Tañedo turun dengan senyum meremehkan yang biasa ia pasang, ditemani oleh agen tanah yang tempo hari tertawa paling keras.

“Tomas!” panggil Orlando sambil berjalan menuju pondok tua. “Aku datang membawa belas kasihan. Aku tahu kau kelaparan di sini. Aku akan membeli tanah berbatu ini seharga Rp50.000, hitung-hitung sedekah agar kau bisa membeli tiket kapal ke Manila.”

Tomas keluar dari pondok. Wajahnya tidak lagi sepucat dulu. Lengannya masih kurus, tetapi tatapan matanya begitu tegak dan penuh percaya diri. Di belakang Tomas, muncul dua pria paruh baya mengenakan pakaian lapangan resmi dengan logo Biro Tambang dan Ilmu Bumi Filipina (MGB), didampingi oleh seorang pengacara korporat dari Manila.

Senyum Orlando perlahan memudar. “Siapa mereka?”

Tomas berjalan mendekat, lalu melempar sebuah dokumen resmi ke atas kap mobil jip Orlando.

“Tanah ini tidak dijual, Señor Tañedo,” kata Tomas, suaranya tenang namun bergaung kuat. “Hasil survei geologi dan hukum resmi menyatakan bahwa empat puluh delapan hektare ini adalah kawasan lindung sumber daya mineral privat. Kandungan Blue Quartz dan mata air alkalin di bawah bukit ini bernilai jutaan dolar.”

Agen tanah di samping Orlando membuka dokumen itu dengan tangan gemetar, wajahnya langsung memucat saat membaca angka estimasi dan stempel resmi pemerintah.

Orlando melangkah mundur, menatap Tomas dengan mata terbelalak, menyadari bahwa anak yatim piatu yang ia tertawakan kini memegang aset yang jauh lebih besar daripada seluruh perusahaan susu miliknya digabungkan.

“Kau…” Orlando gagap, kehilangan kata-kata.

Tomas memakai topinya kembali, menatap lurus ke arah pria kaya yang kini tampak begitu kecil di matanya.

“Terima kasih atas tawa Anda di kantor pengacara hari itu,” kata Tomas dingin sembari menunjuk jalan turun bukit. “Sekarang, silakan turun dari tanahku. Angin di bawah sini mulai berembus kencang, dan aku tidak ingin debunya mengotori jas mahal Anda.”