ANJING JALANAN ITU HAMPIR TAK MAMPU BERDIRI DI BAWAH PANAS TERMINAL… TAPI ALIH-ALIH MEMINUM AIR YANG DITAWARKAN, IA MENDORONG ANAK ANJING PALING KURUS KE ARAH SEORANG WANITA ASING DENGAN MONCONGNYA, SEOLAH TAHU BAHWA ANAK KECIL ITU TAKKAN BERTAHAN HINGGA MALAM.
Sejak pukul enam pagi, Jacinta Reyes sudah melihatnya di sana.
Bukan di taman.
Bukan di halaman rumah.
Bukan di tempat di mana seekor hewan masih bisa bersembunyi dengan sedikit martabat.
Anjing itu bersandar di dinding panas Terminal Bus Manila, tepat di belakang kios makanan ringan yang tutup. Ia berbaring di atas sweter tua penuh debu dan minyak, sementara empat anak anjing yang baru lahir menempel di perutnya.
Awalnya Jacinta mengira induk anjing itu tidak akan bertahan.
Jacinta menjual gelas buah di gerobak hijau, hanya beberapa meter dari peron tempat bus dari Pampanga dan Batangas datang silih berganti. Usianya empat puluh delapan tahun, kakinya bengkak karena berdiri seharian, dan ia memiliki kebiasaan lama untuk memperhatikan hal-hal yang sudah tak ingin dilihat orang lain.
Karena itulah ia memperhatikan anjing itu.
Dulu warnanya mungkin cokelat karamel, sebelum debu, asap, dan kelaparan menghapus warna aslinya. Tulang rusuknya menonjol seperti jari-jari di bawah kulit, telinganya dipenuhi debu, dan matanya cekung oleh kelelahan yang terasa bukan hanya berasal dari hari itu… melainkan dari terlalu banyak hari.
Orang-orang hanya lewat di dekatnya.
Ada yang melihat anak-anak anjing itu lalu berkata, “Kasihan sekali.”
Ada pula yang melemparkan roti atau sisa siopao, seolah membuang makanan dari jauh sudah cukup disebut bantuan.
Seorang sopir meninggalkan setengah gelas minuman bersoda.
Seorang pemuda melempar sisa hotdog yang sudah digigit.
Seorang nenek menaruh tutup plastik berisi campuran susu dan air.
Namun anjing itu tidak menyentuh apa pun.
Setiap kali ada anak anjing menangis, ia hanya sedikit mengangkat kepala, menjilatinya pelan, atau mendorongnya kembali ke tempat teduh dengan ujung moncongnya. Jika ada yang terlalu jauh, ia perlahan menariknya kembali di antara kedua kakinya dengan kelembutan yang menyakitkan untuk dilihat.
Menjelang pukul sebelas, panas terasa keluar langsung dari aspal.
Bus-bus memuntahkan asap hitam.
Para pedagang berteriak menawarkan dagangan.
Kaca-kaca bergetar karena suara mesin.
Dan tangisan anak-anak anjing itu semakin keras.
Jacinta berhenti memotong pepaya.
Induk anjing itu mencoba berdiri.
Ia hanya berhasil mengangkat setengah tubuhnya. Kaki depannya gemetar, tubuhnya miring ke samping, lalu ia jatuh lagi ke atas sweter sambil bernapas cepat dan pendek, seperti sangat ketakutan.
Namun meski begitu, ia tetap mengangkat kepala.
Bukan untuk mencari makanan.
Melainkan untuk menghitung anak-anaknya.
Satu.
Dua.
Tiga.
Empat.
Ada sesuatu yang menyumbat tenggorokan Jacinta.
Ia menyeberang jalan tanpa banyak berpikir. Di tangannya ada payung pudar untuk memberi sedikit teduh dan botol terakhir air dingin dari gerobaknya. Seorang tukang semir sepatu dari pintu masuk berteriak agar ia tidak mendekat karena hewan-hewan itu bisa menggigit.
Jacinta tidak memedulikannya.
Ia berlutut perlahan.
— Tenang ya, induk… tenang…
Anjing itu membuka matanya perlahan dan menatapnya.
Tidak memperlihatkan taring.
Tidak menggeram.
Tidak membela diri.
Ia hanya menatap dengan ketakutan yang begitu lelah hingga membuat dada Jacinta terasa berat.
Jacinta memasang payung di atas mereka agar ada sedikit bayangan. Lalu ia menuangkan air ke tutup plastik bersih. Anjing itu hanya mengendusnya… lalu melakukan sesuatu yang benar-benar menghancurkan hati Jacinta.
Dengan moncongnya, ia mendorong anak anjing paling kecil ke arah tangan Jacinta.
Bukan meminta makanan.
Bukan meminta air.
Melainkan untuk anaknya.
Lalu ia mengeluarkan erangan yang sangat pelan.
Seolah ia tidak lagi meminta dirinya diselamatkan.
Hanya anak-anaknya.
— Ya Tuhan… —bisik Jacinta dengan mata yang mulai dipenuhi air mata.
Ia mengangkat anak anjing kecil itu dengan hati-hati. Tubuhnya masih hangat, tetapi begitu kurus hingga terasa seperti tulang yang dibungkus kulit. Tiga anak lainnya bergerak mencari susu. Sang induk mencoba kembali melingkupi mereka meski hampir tak punya tenaga.
Jacinta menelepon Berto, keponakannya yang mengemudikan van penumpang di terminal. Ia meminta Berto membawa kardus, handuk, dan datang secepat mungkin. Sambil menunggu, Jacinta mulai mengumpulkan satu per satu anak-anak anjing itu.
Saat itulah ia menyadari sesuatu yang aneh.
Induk anjing itu terus menatap selokan.
Bukan ke arah Jacinta.
Bukan ke air.
Bukan ke anak-anak anjing di sampingnya.
Melainkan ke selokan.
Jacinta terdiam.
Awalnya ia mengira anjing itu hanya linglung karena kelelahan. Tetapi sekali lagi induk itu menggerakkan kepalanya sedikit, memaksa, lalu mengeluarkan erangan pendek yang kini terdengar lebih putus asa.
Jacinta mendekati jeruji besi berkarat di tepi trotoar.
Ia berlutut.
Menahan napas.

Dan dari bawah sana, nyaris tenggelam oleh suara bus dan bau panas selokan, terdengar rengekan yang sangat pelan.
Ternyata bukan empat.
Ada satu yang hilang….
Penyelamatan di Batas Waktu
Rengekan dari dalam selokan itu begitu lemah, seperti lilin yang tertiup angin di tengah badai suara Terminal Manila. Jacinta merayap di atas aspal yang membakar lututnya, mengabaikan tatapan heran para calon penumpang bus yang berlalu lalang.
Ia menyalakan senter dari ponsel tuanya dan mengarahkannya ke sela-sela jeruji besi yang sempit dan pekat. Di sana, sekitar satu meter di bawah permukaan trotoar, di atas tumpukan sampah plastik dan lumpur kering, seekor anak anjing kelima—yang paling kurus dan berbulu hitam legam—sedang berjuang menjaga kepalanya agar tidak tenggelam ke dalam sisa air limbah yang mengalir perlahan.
“Berto! Cepat ke sini! Bawa linggis atau apa saja!” teriak Jacinta panik, suaranya melengking membelah kebisingan peron.
Berto, seorang pemuda berbadan tegap dengan handuk kecil yang melingkar di lehernya, berlari kencang membelah kerumunan sambil membawa kardus besar dan beberapa helai kain bersih. Melihat bibinya tiarap di dekat selokan, ia langsung tanggap.
“Ada apa, Tante?”
“Ada satu lagi di bawah! Anak anjing kelima! Dia jatuh dan tidak bisa naik!” Jacinta menunjuk ke dalam celah besi dengan tangan gemetar. “Jerujinya terlalu rapat, tanganku tidak muat!”
Berto berlutut, memeriksa besi pembatas yang sudah berkarat dan tertanam mati di semen trotoar. Tanpa membuang waktu, ia berlari ke arah van miliknya dan kembali membawa kunci roda panjang serta dongkrak hidrolik kecil.
Sementara Berto berjuang merenggangkan jeruji besi, Jacinta kembali ke samping sang induk. Anjing malang itu kini berbaring dengan mata setengah tertutup, napasnya tersengal-sengal di bawah bayang-bayang payung pudar. Ia sudah tidak punya energi lagi bahkan untuk mengangkat moncongnya. Namun, begitu Jacinta membisikkan kata-kata penenang, ekor kurus sang induk bergerak sekali, sangat pelan, seolah mengerti bahwa pesannya telah tersampaikan.
“Tahan sebentar lagi, Ibu pintar… anakmu sedang diselamatkan,” bisik Jacinta, menyeka air mata yang bercampur keringat di pipinya.
KRETEK… BRAK!
Besi tua itu akhirnya menyerah di tangan Berto. Dengan sisa ruang yang berhasil terbuka, Berto menjulurkan tubuhnya ke dalam selokan, mengabaikan bau menyengat, hingga jemarinya berhasil meraih tengkuk anak anjing hitam yang basah kuyup itu.
“Dapat!” seru Berto, menarik anak anjing itu ke atas. Tubuh kecil itu menggigil hebat, dipenuhi lumpur hitam dan bau busuk terminal.
Jacinta segera menyambutnya, membungkus anak anjing kelima itu dengan sweter kering, lalu mendekatkannya ke arah perut sang induk. Keajaiban kecil terjadi di atas aspal panas siang itu. Begitu mencium bau anaknya yang hilang, sang induk membuka mata lebar-lebar. Dengan sisa kekuatan terakhir yang entah datang dari mana, ia menjilati tubuh anaknya yang kotor, membersihkan sisa air selokan dengan penuh kasih sayang.
Kelima anak anjing itu kini berkumpul, mencicit pelan dalam dekapan induk mereka yang kelelahan namun tampak lebih tenang.
“Ayo, Tante, kita pindahkan mereka semua ke dalam van. AC-nya sudah kunyalakan. Kita bawa ke klinik dokter hewan di dekat pasar,” kata Berto tegas, mulai mengangkat kardus besar tempat mereka meletakkan sweter tua dan seluruh keluarga anjing tersebut.
Jacinta membereskan dagangan buahnya dengan terburu-buru, tidak peduli jika ia harus kehilangan penghasilan setengah hari itu. Hidup di terminal telah mengajarinya banyak hal tentang kekejaman dunia, namun siang ini, seekor anjing jalanan mengajarinya tentang arti pengorbanan yang sesungguhnya.
Saat van Berto bergerak meninggalkan pelataran Terminal Manila yang bising dan berdebu, Jacinta memangku sang induk yang kini menyandarkan kepalanya yang berat di atas lutut wanita tua itu. Mata anjing itu tidak lagi memancarkan ketakutan yang lelah, melainkan sebuah rasa terima kasih yang mendalam. Mereka tidak lagi menjadi sampah terminal; hari itu, mereka telah menemukan rumah.