Posted in

“Maaf, tolong tunggu sebentar lagi sus, istri saya pasti bisa melahirkan normal kok.”

Suara Mas Danang mengudara di ruang bersalin. Kalimat itu seharusnya menjadi penenang bagiku, tapi di telingaku saat ini, ucapan suamiku itu terdengar seperti vonis maa- ti.

“Bapak, ini sudah lima jam!” Suara Suster Rina meninggi. Kentara sekali perawat berseragam biru muda itu mulai frustrasi melihat kepasrahan suamiku.

“Pembukaannya tertahan dan tidak ada kemajuan. Ketubannya sudah pecah dari tadi, dan pinggul Ibu Arumi terlalu sempit untuk melahirkan secara normal. Kepala bayinya tidak bisa turun. Kalau kita paksa menunggu lebih lama lagi, kondisi ibu dan bayinya bisa sangat berbahaya, Pak!”

Aku mengee- rang tertahan. Rasa sakit yang melilit dari perut tembus hingga ke tulang belakangku tidak bisa dideskripsikan dengan kata-kata. Rasanya seperti tubuhku sedang diremukkan secara perlahan dari dalam, ditarik paksa hingga ke ambang batas kesadaran. Tanganku mereemas pinggiran seprai rumah sakit. Keringat dingin sebesar biji jagung membasahi seluruh wajah, leher, hingga rambutku lepek.

“Sakit, Mas ….” lirihku dengan napas terputus-putus. “Sakit sekali ….”

Alih-alih mendekat, mengusap kepalaku, dan menenangkanku layaknya suami pada umumnya, Mas Danang justru menoleh ke arah pintu masuk ruang bersalin. Di sana, ibu mertuaku masuk dengan wajah angkuh, bibir melengkung sinis, dan kedua lengan bersedekap di dada.

“Halah, Suster ini gimana sih! Jangan nakut-nakutin anak saya dong!” Ibu mertuaku melangkah maju, menatap Suster Rina.

“Orang melahirkan itu ya memang sakit! Namanya juga taruhan nyawa, kodratnya perempuan. Kalau nggak mau sakit, ya nggak usah hamil sekalian dari awal!”

“Ibu, tolong pahami, ini bukan masalah sakit biasa. Ini indikasi medis murni. Ini ….”

“Medis, medis apa!” potong ibu mertuaku cepat dengan suara melengking. “Zaman dulu boro-boro ada dokter kandungan. Saya ini melahirkan lima anak, keluar semua itu normal di dukun beranak! Nggak ada drama pinggul sempit lah, ketuban pecah lah, apa lah. Anak saya semua sehat, pintar-pintar! Buktinya ini si Danang, jadi anak berbakti!”

Suster Rina menarik napas panjang, gurat kelelahan dan kekesalan terlihat jelas di wajahnya. Dia mencoba bersabar menghadapi wanita tua yang sama sekali buta medis dan menutup telinga ini.

“Ibu, setiap perempuan itu bentuk anatomi dan kondisinya berbeda-beda. Ibu Arumi sudah kehabisan tenaga, dia bisa syok, Bu.”

“Itu karena dia yang terlalu manja!” sahut ibu mertuaku tajam. Matanya kini menatapku yang sedang terbaring sekaarat dengan tatapan kesal.

“Baru kontraksi lima jam saja sudah menyerah, gampang banget minta dibelek perutnya. Dengar ya, Arumi! Anak yang lahir normal itu otaknya bakal lebih cerdas! Ikatan batin sama ibunya juga lebih kuat! Kamu jangan egois cuma mikirin diri sendiri. Masa mau gampangnya saja minta operasi sesar! Lagian, kamu tahu kan biaya sesar itu mahal sekali? Kamu mau bikin suami kamu bangkrut uu-tang sana-sini?!”

Air mataku menetes melewati pelipis. Bukan hanya karena rasa sakit di rahimku yang semakin menggiila, tapi juga karena perih di ulu hati mendengar cacii maaki mertuaku.

Tiga tahun lamanya aku menanti kehadiran buah hati ini. Tiga tahun aku menelan ludah dihiina mandvl oleh mulut pedasnya. Dan sekarang, di saat nyawaku dan cucunya sendiri sedang dipertaruhkan di ambang kematian, dia masih saja memikirkan uuwang dan egonya?

“Mas ….” Aku menatap Mas Danang dengan pandangan memohon. Tenggorokanku terasa kering kerontang seperti menelan pasir.

“Tolong, Mas. Tanda tangani surat persetujuan operasinya sekarang. Aku udah benar-benar nggak kuat. Bayi kita, Mas … selamatkan anak kita.”

Mas Danang tampak ragu. Laki-laki berseragam satpam yang baru pulang sif malam itu menatapku, lalu menatap ibunya bergantian. Wajahnya terlihat pucat dan pias. Kebingungan khas laki-laki penakut yang tidak punya pendirian tegas.

“Gimana, Bu? Kasihan Arumi, udah pucat banget dia,” ucap Mas Danang.

“Kamu ini laki-laki, Danang! Kepala keluarga! Jangan mau disetir dan dibodohi sama istri!” bentak ibunya marah, matanya melotot ke arah suamiku.

“Tunggu sebentar lagi! Ibu yakin dia bisa ngeden kalau dipaksa. Arumi, ayo ngeden yang kuat! Gitu aja kok lemah banget jadi perempuan! Bikin malu keluarga aja!”

“Mas! Ini daa rah dagingmu!” Aku berteriak dengan sisa tenaga yang kumiliki, meski suaraku bergetar hebat. “Kalau sampai terjadi apa-apa sama anak ini, aku bersumpah nggak akan pernah maafin kamu, Mas!”

“Sabar, Rum, sabar istighfar. Kata Ibu benar, anak lahir normal itu lebih bagus untuk masa depannya. Kamu tahan sedikit lagi ya? Coba ngeden lagi pelan-pelan. Demi anak kita, Rum,” ucap Mas Danang dengan nada membujuk yang terdengar begitu absurd di telingaku. Sedikit pun dia tidak berani membantah titah ibunya.

Duniaku rasanya runtuh berkeping-keping. Laki-laki yang seharusnya menjadi pelindung utamaku, laki-laki yang seharusnya pasang badan untuk keselamatan nyawaku, justru berdiri mematung membebek pada ibunya yang giila hormat.

Tiba-tiba, pintu ruang bersalin didorong hingga terbuka dengan kasar. Bunyi engsel yang berderit nyaring membuat semua orang di ruangan terkejut.

Seorang pria jangkung berjas dokter putih yang terlihat agak kusut memasuki ruangan. Dia menatap tajam ke arah Mas Danang dan ibu mertuaku secara bergantian.

Jantungku seakan berhenti berdetak sesaat melihat siluetnya. Di balik masker medis hijau yang menutupi separuh wajahnya, aku sangat mengenali bentuk rahang dan sorot mata itu. Dia orang yang sangat kukanal, Alvin.

“Kenapa surat persetujuan operasinya belum ditandatangani sampai detik ini?” Suara berat itu menggema di seluruh sudut ruangan bersalin.

Suster Rina seperti mendapat bala bantuan. Dia langsung memberikan laporan rekam medis dengan cepat.

“Keluarga pasien menolak keras tindakan SC, Dok. Pasien sudah kontraksi hebat selama lebih dari lima jam, pembukaan stagnan, dan pinggul pasien terindikasi sempit (CPD). Cairan ketuban sudah sangat berkurang.”

Dokter Alvin melangkah panjang mendekati ranjangku. Matanya menatapku sesaat. Ada kilatan keterkejutan yang amat besar di sana, seolah dia juga tidak menyangka takdir akan membawanya menemuiku dalam kondisi paling mengenaskan dan hancur seperti ini.

Namun, profesionalitasnya dengan cepat mengambil alih. Dia melirik monitor detak jantung janin dan raut wajahnya langsung mengeras menahan amarah.

“Bapak ini suaminya?” Dokter Alvin menoleh, menatap lurus Mas Danang.

“I-iya, Dok. Saya suaminya,” jawab Mas Danang terbata-bata.

“Istri Anda sedang meregang nyawa di atas brankar ini, dan Anda masih punya waktu untuk berdebat soal melahirkan normal?” Dokter Alvin nyaris membentak. Urat di lehernya terlihat menonjol saking marahnya.

“Kondisi istri Anda semakin kritis! Jalan lahir terhambat total! Kalau Anda tidak tanda tangan detik ini juga, Anda bukan hanya akan kehilangan anak Anda, tapi juga istri Anda! Anda mengerti bahayanya?”

“Heh, Dokter muda!” Ibu mertuaku maju selangkah, menepuk daddanya sendiri, tidak terima anak kesayangannya dibentak oleh orang asing.

“Dokter jangan nakut-nakutin keluarga pasien dong! Ini akal-akalan rumah sakit saja kan biar dapat uwang banyak dari biaya operasi caesar? Saya ini sudah pengalaman melahirkan lima kali di dukun beranak, selamat semua! Menantu saya ini saja yang dasar mentalnya lembek dan manja!”

Dokter Alvin menatap ibu mertuaku. “Ibu, ini bukan zaman batu di mana perempuan harus maa ti konyol saat melahirkan cuma karena keboo- dohan dan keegoisan keluarganya! Ilmu medis ada untuk menyelamatkan nyawa manusia, bukan untuk menguras dompet Anda!”

“Lancang sekali mulut kamu ya ngomong begitu ke orang tua!” Ibu mertuaku meradang, jari telunjuknya menunjuk-nunjuk arogan ke depan wajah Dokter Alvin.

“Pokoknya saya sebagai ibunya Danang tidak izinkan menantu saya dibelek! Harus normal! Harus! Danang, awas kalau kamu berani tanda tangan kertas itu!”

“Mas ….” rintihku panjang.
Rasa sakit itu datang lagi menggulung perutku, kali ini ribuan kali lipat lebih dahsyat dari sebelumnya.

“Toloooong, sakit ….”

“Rum! Arumi!” Mas Danang panik.

“Suster Rina! Siapkan ruang OK sekarang juga! Bawa pasien ini ke sana secepatnya!” perintah Dokter Alvin, suaranya menggelegar mengabaikan makiian ibu mertuaku.

“Tapi Dok, surat persetujuan dari keluarganya belum ….” Suster Rina tampak pucat dan ragu menyalahi prosedur.

“Saya yang ambil alih semua tanggung jawab! Kalau pasien ini sampai meninggal malam ini, saya pastikan Anda berdua membusuk di penjara atas tuduhan pembv nvhan berencana!” ancam Dokter Alvin tanpa ampun, telunjuknya menunjuk tepat di depan hidung Mas Danang dan ibu mertuaku yang mendadak kaku.

Suasana di dalam ruangan seketika menjadi sangat kacau balau. Aku mendengar sayup-sayup ibu mertuaku menjerit marah, memakii-makii Dokter Alvin dengan kata-kata kasar.

Mas Danang kebingungan mondar-mandir, mencoba menenangkan ibunya namun matanya menyiratkan ketakutan luar biasa mendengar ancaman penjara.

Sementara aku, duniaku mulai berputar. Aku sudah tidak bisa membedakan mana suara makian dan mana jeritan tangisku sendiri.

Tiba-tiba, suara beep … beep … beep … dari monitor pendeteksi jantung janin di sampingku berubah tempo menjadi sangat serabutan, lalu perlahan suaranya semakin melambat dan memanjang.

“Dokter! Gawat! Detak jantung janin menurun drastis!” teriak Suster Rina sangat panik.

Gelombang rasa sakit yang paling brutal meledak di dasar panggulku. Napasku seakan ditarik paksa dari kerongkongan. Pandanganku mulai mengabur hebat, bayangan lampu neon di langit-langit ruang bersalin menyilaukan mataku.

“Arumi! Bertahan, Rum! Buka matamu, Arumi!” Suara Dokter Alvin terdengar parau memanggil namaku sambil menepuk pipiku keras, disusul suara roda brankar yang didorong tergesa-gesa.

Kegelapan perlahan menelan sisa kesadaranku. Tubuhku terasa sangat ringan dan kebas. Apakah ini akhirnya?

Apakah aku dan malaikat kecilku akan maa- ti malam ini, hanya demi memuaskan keegoisan seorang laki-laki pengecut dan ibunya?