**“SILAKAN MENDAFTAR. PEDIATRIC EMERGENCY.”**
Aku menyerahkan kartu asuransi kesehatan sambil gemetar ketakutan demi Baby Anton.
Pukul dua dini hari di Manila Medical Central, cahaya putih di lobby emergency terasa dingin menusuk.
Tinggal tiga nomor lagi sebelum giliran kami.
Dahi Anton bersandar di leherku, panas membakar karena demam.
“Mama… sakit…”
“Sebentar lagi ya, sayang. Anton harus kuat.”
Aku memeluknya erat sambil melihat thermometer di ponselku—39,8 derajat.
Giliran kami tiba.
Aku menggendong Anton dan mendorong pintu klinik.
Dokternya membelakangi kami sambil mencuci tangan.
Memakai jas putih, bahunya lebar, lengan bajunya digulung sampai siku.
Lalu dia berbalik.
Aku langsung membeku di tempat.
Ricardo Dizon.
Wajahnya masih sangat jelas di ingatanku saat dia menandatangani surat cerai tiga tahun lalu—cara dia meninggalkan balai kota tanpa menoleh sedikit pun.
Dan sekarang, dia duduk di hadapanku, dengan name tag di dadanya bertuliskan:
Dr. Ricardo Dizon, Assistant Head of Trauma Surgery.
Surgery?
Kenapa dia berjaga di bagian Pediatrics?
Dia tidak melihat ke arahku. Tatapannya langsung jatuh pada Anton.
“Umurnya berapa?”
“Empat tahun,” jawabku pelan.
Hampir seluruh wajahku tertutup masker, dan gaya rambutku juga sudah berubah. Dia tidak mungkin mengenaliku.
Tidak boleh.
“Demamnya sejak kapan?”
“Sekitar jam lima sore. Sudah saya beri paracetamol, sempat turun ke 38, tapi setengah jam kemudian naik lagi.”
Dia mengambil stetoskop dan menempelkannya di punggung Anton.
Anton takut pada orang asing, jadi dia makin menyusup ke pelukanku.
“Jangan takut, Om Dokter cuma mau mendengar napasnya,” katanya lembut.
Masih sama seperti dulu.
Dia memeriksa tenggorokan Anton, menekan perutnya perlahan, lalu kembali ke meja untuk menulis catatan medis.
“Suppurative tonsillitis. Dia perlu diinfus.”
Pulpen di tangannya bergerak cepat di atas resep.
Di tengah menulis, dia tiba-tiba berhenti.
“Ayah anak ini di mana? Kenapa tidak menemani?”
“Sudah tidak ada.”
Tiga kata.
Aku mengucapkannya dengan tenang.
Ujung pulpennya berhenti di atas kertas selama dua detik.
Lalu dia kembali menulis.
“Infusnya sekitar dua jam. Ruang observasi ada di ujung lorong sebelah kiri.”
Dia menyerahkan resep itu padaku.
Jarak jari kami hanya sekitar tiga sentimeter.
Sepanjang proses, dia bahkan tidak pernah mengangkat kepala untuk melihatku.
Aku mengambil resep itu dan menggendong Anton keluar.
Baru saja keluar dari klinik, aku mendengar suara perawat dari belakang:
“Doc Rico, tunangan Anda menelepon. Katanya bunga untuk pesta pertunangan besok mau diganti jadi white roses.”
Tunangan.
Pesta pertunangan.
Aku memeluk Anton lebih erat sambil berjalan ke ujung lorong.
Hanya ada satu lampu kecil yang menyala di ruang infus.
Setelah infus dipasang, akhirnya suhu Anton mulai turun dan dia tertidur.
Aku duduk di sampingnya di kursi plastik, menatap tetesan cairan obat.
Ponselku bergetar.
Pesan dari Lia:
Gimana Anton?
Aku membalas:
Sudah diinfus, demamnya tinggi tapi harusnya sudah aman.
Lia:
Kamu sendirian? Mau aku susul?
Aku:
Nggak usah, besok kamu masih meeting project.
Lia mengirim emoji peluk.
Lalu menambahkan:
Oh iya, besok sore second round negotiation sama Stellar Pharmaceutics. Semua dokumen sudah siap, tinggal kamu cek email aja.
Aku:
Oke.
Stellar Pharmaceutics—distributor farmasi terbesar di negara ini.
Kalau perusahaanku berhasil mendapatkan kontrak itu, keuntungan kami tahun ini bisa dua kali lipat.
Tapi sekarang pikiranku sama sekali tidak ada di pekerjaan.
Saat tidur, Anton menggenggam jariku.
Tangannya kecil, kukunya bersih.
Siapa pun yang melihatnya pasti langsung tahu dia mirip siapa.
Alisnya, hidungnya, bentuk bibirnya.
Benar-benar mewarisi Ricardo.
Karena itulah aku tidak pernah membawanya ke tempat mana pun yang mungkin mempertemukannya dengan keluarga Dizon.
Empat tahun.
Aku menyembunyikannya dengan sangat baik.
Pukul empat pagi, infus selesai.
Demam Anton turun menjadi 37,5.
Aku membungkusnya dengan selimut, menggendongnya, lalu keluar.
Saat melewati lorong emergency, pintu klinik masih terbuka.
Ricardo masih ada di sana.
Dia bersandar di kursi sambil memejamkan mata, seperti tertidur sebentar.
Di mejanya ada kopi dingin, dan sebuah foto tertindih di bawah gelasnya.
Aku tidak bisa melihat siapa di dalam foto itu.
Dan aku juga tidak berniat mencari tahu.
Aku mempercepat langkah keluar dari rumah sakit.
Grab sudah menunggu di luar.
Begitu masuk dan pintu tertutup, mobil mulai melaju di jalanan dini hari yang sunyi.
Di pelukanku, Anton bergerak pelan lalu berbisik:
“Papa…”
Pelukanku langsung mengencang.

Dia belum pernah melihat ayahnya.
Tapi di taman kanak-kanak, semua anak lain punya ayah.
Suatu kali dia pernah bertanya kepadaku:
“Mama… Papa ada di mana?” …
Aku terpaksa berbohong hari itu. Aku membelai rambutnya yang ikal dan berkata, “Papa sedang bekerja di tempat yang sangat jauh, menjaga orang-orang agar tetap sehat.”
Siapa sangka, kebohongan yang kukarang asal-asalan demi menenangkan hati seorang balita, justru menjadi kenyataan pahit yang kusaksikan sendiri malam ini. Ayahnya memang ada di tempat yang jauh—jauh dari kehidupan kami—dan sedang menjaga orang lain. Termasuk menjaga masa depan barunya bersama wanita lain.
Babak Lanjutan: Pertemuan yang Tak Terhindarkan
Keesokan harinya, berkat obat dari rumah sakit, kondisi Anton jauh lebih baik. Demamnya tidak kembali naik, dan dia sudah bisa menghabiskan semangkuk bubur ayam buatanku. Setelah memastikan ibuku datang ke apartemen untuk menjaga Anton, aku segera bersiap-siap.
Hari ini adalah hari besar untuk perusahaanku. Negosiasi putaran kedua dengan Stellar Pharmaceutics bukan sekadar urusan bonus, tapi ini adalah pembuktian atas seluruh kerja kerasku setelah terpuruk dari perceraian tiga tahun lalu.
Pukul tiga sore, aku sudah berada di ruang rapat lantai 28 salah satu gedung pencakar langit di Bonifacio Global City (BGC). Lia duduk di sebelahku, memeriksa kembali tumpukan dokumen dokumen kerja sama.
“Perwakilan dari Stellar Pharmaceutics sudah datang. Mereka membawa konsultan medis utama mereka hari ini untuk meninjau formula suplemen kita,” bisik Lia saat pintu ruang rapat terbuka.
Jantungku mendadak berhenti berdetak saat melihat siapa yang berjalan masuk di belakang jajaran direksi Stellar Pharmaceutics.
Pria itu mengenakan setelan jas formal abu-abu gelap, rambutnya tertata rapi, dan tatapan matanya setajam biasanya. Di belakangnya, seorang wanita cantik dengan gaun formal berwarna pastel menggandeng lengannya dengan mesra. Di jari manis wanita itu, sebuah cincin berlian berkilau megah.
Ricardo Dizon. Dan tunangannya.
“Selamat sore semuanya,” pimpinan Stellar Pharmaceutics membuka suara. “Perkenalkan, ini Dr. Ricardo Dizon, perwakilan spesialis trauma dan bedah yang menjadi penasihat medis utama untuk ekspansi produk baru kami. Dan ini tunangannya, Dr. Bianca Santos.”
Aku mencengkeram pulpen di tanganku erat-erat hingga buku-buku jariku memutih. Aku tidak memakai masker hari ini. Tidak ada tempat untuk bersembunyi.
Saat pandangan mata Ricardo menyapu ruangan dan berhenti tepat di wajahku, aku bisa melihat kilatan keterkejutan yang sangat jelas di mata elangnya. Rahangnya mengeras. Dia mengenaliku. Sangat mengenaliku.
Ketegangan di Meja Perundingan
Sepanjang rapat, suasana terasa amat tegang. Bianca, tunangannya, beberapa kali mengajukan pertanyaan tentang distribusi obat, sementara Ricardo lebih banyak diam, namun tatapan matanya tidak pernah lepas dariku. Setiap kali aku mempresentasikan poin data keuangan, aku bisa merasakan tatapannya seolah menguliti seluruh pertahananku.
“Formulasi ini sangat bagus,” Bianca berkomentar sambil tersenyum manis ke arah Ricardo. “Rico, bagaimana menurutmu dari sisi klinis? Produk mereka aman untuk didistribusikan ke jaringan rumah sakit kita, kan?”
Semua orang di ruangan menatap Ricardo, menunggu keputusan sang ahli. Negosiasi senilai miliaran peso ini berada di ujung telunjuknya. Jika dia ingin membalas dendam atas pernikahan kami yang gagal, atau jika dia ingin menyingkirkanku dari jalurnya, ini adalah momen yang tepat.
Ricardo menurunkan dokumen di tangannya, lalu menatapku lurus-lurus.
“Formulanya sempurna,” ucap Ricardo dengan suara beratnya yang familier. “Pemilik perusahaan ini memiliki reputasi yang sangat teliti. Saya pribadi… sangat menjamin kredibilitasnya.”
Rapat berakhir dengan kesepakatan penuh. Kontrak ditandatangani. Semua orang bersalaman dan merayakan keberhasilan itu, namun aku segera membereskan barang-barangku, berniat lari dari sana secepat mungkin.
“Elena,” sebuah suara menghentikan langkahku di koridor luar yang sepi, sesaat setelah Lia berjalan lebih dulu ke arah lift.
Aku berbalik lambat-lambat. Ricardo berdiri di sana sendirian. Tunangannya sudah tidak terlihat.
“Selamat atas kontraknya, Dr. Dizon. Dan selamat atas pertunangan Anda,” kataku, berusaha menjaga suaraku agar tetap profesional dan sedingin es.
Ricardo maju selangkah, memangkas jarak di antara kami. “Semalam… itu kamu, kan? Di ruang emergency Manila Med?”
Aku mengepalkan tangan di balik blazerku. “Aku tidak tahu apa maksud Anda.”
“Jangan bohong, Elena!” desisnya, ada kilatan emosi yang tertahan di matanya. “Semalam aku memang lelah, tapi aku tidak bodoh. Masker dan rambut barumu tidak bisa menipuku. Anak itu… anak yang bersamamu semalam…”
Ricardo mengambil sesuatu dari saku jasnya. Itu adalah ponselnya. Dia menyalakan layar dan menunjukkan sebuah foto yang tertata di mejanya semalam—foto yang sempat kulihat di bawah gelas kopinya. Itu bukan foto tunangannya.
Itu adalah foto USG janin berusia tiga bulan, tertanggal tepat tiga tahun lalu. Hari di mana kami menandatangani surat cerai.
“Kamu menggugat cerai aku dan pergi begitu saja tanpa mengatakan kalau kamu sedang mengandung anakku, Elena,” suara Ricardo bergetar, campur aduk antara amarah, penyesalan, dan rasa sakit yang mendalam. “Empat tahun, katamu semalam? Umurnya empat tahun? Dia… anak kandungku, kan?”
Akhir dari Sebuah Rahasia
Air mata yang sejak semalam kutahan kini mendesak ingin keluar, namun aku menolak terlihat lemah di depannya.
“Dia anakku, Ricardo. Hanya anakku,” jawabku tajam. “Tiga tahun lalu, kamu lebih memilih kariermu di rumah sakit dan mengabaikan pernikahan kita sampai semuanya hancur. Kamu yang menandatangani surat itu tanpa menoleh ke belakang. Jadi, apa hakmu menanyakan tentang anakku sekarang?”
“Aku punya hak karena aku ayahnya!” Ricardo mencengkeram pundakku, matanya memerah. “Aku tidak pernah tahu kamu hamil, Elena! Kalau saja aku tahu—”
“Kalau saja kamu tahu, apa? Kamu akan membatalkan pernikahanmu yang megah besok sore?” aku menepis tangannya dengan kasar, menunjuk ke arah cincin pertunangan fiktif yang baru saja kudengar ceritanya dari para perawat. “Kamu sudah punya hidup yang baru, Dr. Dizon. Pergilah ke pesta pertunanganmu. Pakai mawar putihmu. Jangan ganggu hidup kami lagi.”