Lucunya, saking paniknya, Ibu tidak hanya memasukkan baju. Ia juga memasukkan setoples kerupuk udang, remote TV, dan taplak meja ruang tamu ke dalam kopernya.
Sepertinya jiwa ‘tidak mau rugi’ ibuku sudah mendarah daging.
“Tapi Bu, masa Ibu pergi begitu saja? Arya ini anak kandung Ibu!”
“Halah! Kalau lagi susah baru ingat Ibu! Waktu gajian, pasti diam-diam kamu kasih istrimu juga, kan?!” sahut Ibu sama sekali tidak logis, mengingat detik tadi dia sendiri yang bilang Dinda tidak pernah pegang uang.
Sambil menyeret kopernya, Ibu menabrak bahuku dengan kasar, berjalan tergesa menuju pintu depan.
Sebelum benar-benar keluar, ia menyempatkan diri berbalik ke taman depan.
“Awas ya, Dinda! Kalau sampai polisi cari Arya ke rumah Rini, aku akan laporkan kamu sebagai dalangnya!” ancam Ibu, lalu setengah berlari keluar pagar mencari ojek pangkalan.

Begitu sosok Ibu menghilang di ujung jalan kompleks, keheningan kembali menyelimuti rumah ini.
Hanya terdengar suara detik jam dinding dan embusan napas Dinda yang tersengal.
Aku membalikkan badan, menatap istriku yang masih berdiri kaku.
Wajah cantiknya kuyu, celemeknya basah oleh air pel, dan ada luka melepuh di punggung tangannya.
Rasa bersalah seketika menghantam dadaku tanpa ampun.
Selama setengah tahun pernikahan kami, aku selalu memarahi Dinda jika rumah berantakan, menuduhnya pemalas, padahal ia sedang disiksa di neraka kecil yang diciptakan ibu kandungku sendiri.
“Dinda,” panggilku lembut, mengulurkan tangan ingin menyentuhnya.
Dinda tersentak mundur. Air matanya yang sejak tadi ditahan akhirnya tumpah. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan, bahunya bergetar hebat.
“Mas, maafin aku. Maafin aku,” tangis Dinda pecah. “Aku memang istri yang nggak berguna. Kalau saja aku bisa kerja, aku pasti bisa bantu bayar utang dua miliar itu. Sekarang Mas mau dipenjara, hiks … aku harus gimana, Mas?”
Hatiku mencelos.
Astaga. Di saat ibuku sendiri lari terbirit-birit menyelamatkan hartanya, wanita yang semalam kutampar ini malah menangis karena merasa tidak bisa membantuku melunasi utang fiktif itu.
Aku janji Dinda, aku akan meratukanmu. Mereka tidak akan pernah bisa menghancurkanmu, justru mereka yang akan hancur!