Posted in

Aku dije bak warga setempat harus menikahi perempuan lusuh yang tinggal di gubuk tua. Namun, disaat malam pertama kami, aku dikejutkan dengan fakta baru tentang siapa sosok perempuan itu sebenarnya.

Pintu gubuk perlahan terbuka. Perempuan yang aku nikahi satu jam yang lalu itu terlihat mendorong pintu dengan sedikit tenaga. Dibawah sinar bulan purnama, aku melihat ada jejak ragu saat ia menoleh ke arahku.

“Silahkan masuk!” Ia melebarkan daun pintu usang agar aku masuk terlebih dahulu.

Angin malam menyusup masuk, memainkan ujung hijab lusuh yang ia kenakan. Ada jejak lelah di wajah tirusnya.

“Kamu tinggal di sini?”

Aku mengedarkan pandangan ke penjuru ruangan. Dinding gubuk dipenuhi retakan, beberapa bagian bahkan bolong hingga cahaya bulan masuk membentuk bayangan aneh di lantai. Selian itu, ada cahaya lentera sebagai satu-satunya penerang di dalam gubuk.

Di sudut ruangan, terlihat sebuah tikar tipis yang sudah usang. Tak ada perabot layak. Yang ada, semuanya serba usang dimakan waktu.

“Iya,” jawabnya singkat.

Aku menoleh padanya. “Sejak kapan?”

“Sejak aku tidak punya tempat lain untuk pulang.”

“Kamu sendirian di sini?” tanyaku lagi.

Dia kembali mengangguk. “Iya.”

Aku melangkah menuju tikar di sudut ruangan. Setelah membuka jaket, aku memutuskan duduk di atasnya.

“Saya ambil air minum dulu.” Evita melangkah menuju dapur dan tak lama kemudian ia sudah kembali lagi dengan segalas air putih yang ia bawa. Menyimpannya di hadapanku.

“Duduklah, ada yang ingin saya bicarakan sama kamu.” Menunjuk tikar di hadapan ku.

Tidak ada protes darinya. Wanita yang aku nikahi karena salah paham warga itu mendudukkan dirinya di tikar, di hadapanku.

Sesaat aku menghela napas, mengingat kejadian tadi dimana aku bermaksud mau menolong Evita yang tengah berada di jurang, eh malah aku terpeleset dan ikut jatuh. Lebih parahnya lagi, posisi kami berdua bisa di salah artikan oleh warga yang menemukan kami. Lebih parahnya lagi, aku dan Evita dituntut nikah.

“Pertama, kamu harus tahu, kalau Saya sudah punya istri di kota. Bisa dikatakan saya ini masih pengantin baru.” Aku mulai menceritakan maksud dari obrolan kami.

Gadis bertubuh kurus itu hanya diam tanpa kata.

“Yang kedua, pernikahan kita terjadi atas kesalah pahaman warga setempat.” Aku kembali melanjutkan ucapan. “Bukan atas dasar cinta, terlebih lagi kita tidak saling kenal.”

Sesaat aku diam sambil menatap wajahnya. “Dan yang terakhir, setelah mobil saya selesai diperbaiki, besok atau mungkin lusa saya akan kembali pulang ke Jakarta.”

Evita masih berdiam. Sama sekali belum bicara apa-apa. Baik setuju atau mungkin sekedar basa-basi.

Lentera di dinding kembali bergoyang pelan saat angin malam menembus dinding gubuk yang terbuat dari bambu, cahayanya jatuh tepat di wajah Evita yang masih tertunduk.

Aku menghela napas pelan. “Kamu dengar kan, apa yang saya bilang?”

“Iya,” jawabnya singkat.

“Ya sudah, sekarang kamu istirahat, biar saya tidur di sini.”

Mau tidak mau aku harus tidur di atas tikar ini. Ya setidaknya, malam ini aku tidak tidur di tanah.

“A Erwan saja yang dikamar, biar saya disini.” Ia menolak permintaanku. Menoleh ke arah pintu kamar tanpa daun pintu. Hanya kain lusuh panjang yang menutupi pintu kamar tersebut.

“Kamu saja yang dikamar.” Aku langsung menolak tawarannya. Mulai merebahkan diri di atas tikar.

“Kalau mau ngecas ponsel dimana?” tanyaku saat Evita yang tengah bangkit dari tempat duduknya. Mengingat ponselku sudah kehabisan daya.

“Di warung pinggir jalan.”

“Kenapa kamu gak pake listrik?” tanyaku sambil menatapnya.

Ada helaan napas darinya. “Tidak punya uang.”

Pandangan mataku kembali berkeliling ruangan. Dinding lapuk, atap bocor dan lantai kayu yang nyaris ambruk, semuanya seperti menegaskan ucapan Evita barusan. Andai saja malam ini hujan, aku sudah bisa dipastikan akan basah kuyup.

Pagi harinya aku terbangun dari tidur saat mendengar suara dentuman keras dari luar rumah.

Mataku terbuka perlahan. Cahaya matahari pagi menyusup masuk dari celah-celah dinding yang bolong, menggantikan sinar bulan semalam. Udara terasa lebih dingin dari yang seharusnya.

Aku segera bangkit dan duduk. Punggungku terasa pegal dengan leher yang terasa kaku. Tidur di tempat seperti ini benar-benar bukan kebiasaanku.

“Evita!” Aku memanggilnya.

Sayangnya tidak ada jawaban darinya.

Kuedarkan pandangan mencari sosok perempuan yang semalam aku nikahi, tapi sepertinya ia tidak ada di sini. Kemana perginya? Padahal ini masih pagi.

Teringat harus menghubungi Naina di Jakarta, aku memutuskan pergi ke warung untuk mengisi daya baterai.

Keluar dari gubuk, mata-ku disuguhkan dengan hamparan kebun dan sawah yang terbentang luas. Sepuluh meter dari gubuk, terdapat sungai kecil dengan air yang mengalir jernih.

Setelah membasuh muka di sungai, aku langsung menuju warung kopi yang ada di pinggir jalan. Jarak dari gubuk ke warung kopi sekitar 20 menit dengan jalan kaki. Sangat jauh kalau menurutku.

“Eh, ada pengantin baru, mau ngopi?”

Baru juga tiba di warung, aku sudah mendapat cibiran dari warga setempat yang tengah ngopi. Senyum sinisnya tersungging saat melihatku masuk kedalam warung.

“Wah, kelihatannya lelah banget.” Laki-laki yang disampingnya ikut nimbrung obrolan temannya. Ada tawa dalam ucapannya. “Tapi kok sendirian, mana istrimu?”

“Itu si Evita.” Baru juga mau bicara, laki-laki bertubuh kurus menunjuk ke arah luar.

Aku menoleh. Tatapan mata ini dibuat kaget ketika melihat Evita yang tengah menggendong karung yang entah apa isinya. Keringat dingin mengucur dari wajahnya.