“Nggak usah lebay kamu, Rin. Toh, Mesya sudah sembuh, kan?” ucap Rohana tanpa beban, seolah-olah demam tinggi yang nyaris merenggut kesadaran cucunya tempo hari hanyalah gangguan kecil seperti gigitan nyamuk. “Hidup ini harus terus berjalan, jangan manja jadi perempuan.”
Arini terkesiap. Kalimat itu terasa seperti siraman air es di tengah luka yang masih menganga. Ia mengusap dadanya pelan, mencoba menekan sesak yang mendesak naik ke tenggorokan. Ditatapnya wanita di hadapannya itu—wanita yang seharusnya menjadi pelindung, namun justru menjadi sumber badai di rumah tangganya.
Sikap dingin Rohana bukan lagi hal baru, tapi kali ini, kesabaran Arini sudah mencapai batas tipisnya.
“Ma,” suara Arini terdengar rendah, namun bergetar oleh emosi yang tertahan. “Kalau memang Mama tidak punya sedikit pun rasa peduli pada cucu Mama sendiri, kenapa Mama masih punya muka untuk datang ke sini dan minta uang padaku?”
Pertanyaan itu membuat suasana ruang tamu mendadak sunyi. Rohana sedikit terperanjat, tak menyangka menantu yang biasanya penurut itu akan melontarkan kalimat setajam itu.
“Apa kamu bilang?”
“Aku bukan orang pelit, Ma. Mama tahu itu,” potong Arini cepat sebelum mertuanya sempat mengamuk. Ia menatap lurus ke netra Rohana. “Tapi rasa hormat itu timbal balik. Bagaimana Arini bisa terus bersikap baik, kalau Mama sendiri yang memaksa Arini untuk berubah menjadi orang jahat?”
Arini lelah mengalah. Baginya, kebaikan tanpa batas kepada orang yang tidak tahu terima kasih bukanlah ketulusan, melainkan kebodohan yang mematikan nurani. Dan hari ini, ia memilih untuk berhenti menjadi bodoh.
Rohana berdecak, suara decakannya terdengar nyaring di ruang tamu yang mulai terasa pengap oleh ketegangan. Ia melirik jam dinding dengan gelisah, seolah-olah waktu adalah musuh besarnya saat ini.
“Ayo, Rin! Cepat kasih jatah bulanan Mama. Sudah malam ini, Mama mau pulang!” desaknya dengan nada memerintah, tanpa ada sisa-sisa kelembutan seorang ibu.
Arini menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Tidak ada lagi tangan yang gemetar atau sorot mata yang ragu. Ia berdiri tegak, melipat kedua tangannya di depan dada—sebuah benteng pertahanan yang baru saja ia bangun untuk dirinya sendiri.
“Maaf, Ma,” suara Arini terdengar dingin, datar, dan mutlak. “Aku sudah bilang sama Mama kemarin, kan? Mulai detik ini, aku tidak akan memberikan jatah belanja lagi untuk Mama. Tidak satu rupiah pun.”
Rohana ternganga, matanya membulat sempurna. Ia seolah tidak percaya dengan pendengarannya sendiri.
“Kalau Mama butuh uang,” lanjut Arini dengan senyum getir yang menyayat, “silakan minta saja sama mantan menantu kesayangan Mama itu. Bukankah dia yang selama ini Mama bangga-banggakan di depanku?”
Wajah Rohana mendadak pias. Ia mendelik, mencoba mencari celah untuk membela diri, namun lidahnya terasa kelu. Melihat ketegasan Arini yang tak tergoyahkan, nyali wanita tua itu menciut. Ia tahu, kali ini ancamannya tidak akan mempan.
“Rin… jangan bercanda kamu,” nada suara Rohana berubah drastis, kini terdengar memelas. Ia mencoba meraih tangan Arini, namun Arini dengan cepat menghindar. “Ayolah, Nak. Mama minta maaf, ya? Mama janji akan merubah sikap. Mama tidak akan pilih kasih lagi antara kamu dan dia. Mama janji!”

Arini hanya menatap mertuanya dengan tatapan kosong. Janji itu sudah terlalu sering ia dengar, dan setiap kali pula janji itu menguap begitu saja saat keinginan Rohana terpenuhi.
“Cukup, Ma. Aku sudah muak mendengar janji-janji itu,” potong Arini tegas, suaranya tak menyisakan ruang untuk negosiasi. “Sebaiknya Mama cepat pulang. Aku lelah, Mesya juga butuh istirahat.”
Arini membalikkan badan, berjalan menuju kamarnya tanpa menoleh lagi. Ia meninggalkan Rohana yang terpaku sendirian di ruang tamu.
Rohana kehilangan kendali. Wajahnya yang semula memelas kini berubah merah padam karena murka.
“Rin! Arini! Kamu jangan durhaka sama mertua!” teriaknya tanpa malu, urat-urat lehernya menegang. “Kamu mau masuk neraka, Rin?! Berani-beraninya kamu memperlakukan orang tua seperti ini!”
Suasana rumah tetap hening. Tak ada sahutan dari balik pintu kamar yang tertutup rapat. Arini seolah telah menulikan telinganya, membiarkan kemarahan mertuanya menguap begitu saja menjadi udara kosong. Keheningan itu justru menjadi tamparan yang lebih menyakitkan bagi harga diri Rohana yang selangit.
Rohana makin naik pitam. Ia menghentakkan kakinya ke lantai dengan kasar, menciptakan bunyi berdentum yang menunjukkan betapa besar kekesalannya. Sambil menyambar tasnya, ia melangkah lebar menuju pintu keluar dengan sisa-sisa kesombongan yang hancur.
“Awas kamu, Arini! Aku sumpahin kamu sial seumur hidup!” teriaknya lagi sebelum menuruni anak tangga. Matanya mendelik ke arah rumah yang selama ini menjadi tempatnya meminta-minta. “Berani sekali kamu menghentikan jatah bulananku! Kita lihat saja, hidupmu tidak akan berkah!”
Setelah bayangan Rohana menghilang di kegelapan malam, Arini yang berdiri di balik jendela kamar hanya bisa menghela napas panjang. Ada rasa perih saat mendengar sumpah serapah itu.