Posted in

AKU MENGIKUTI KARYAWANKU SAMPAI KE RUMAHNYA KARENA SEMUA ORANG DI KANTOR MENERTAWAKAN TASNYA YANG SUDAH ROBEK. TAPI SAAT AKU MENGINTIP DARI JENDELA RUMAHNYA, HATIKU HANCUR MELIHAT KETIGA ANAKNYA MEMAKAN SISA MAKANANKU DARI KANTOR. DAN SEBELUM AKU SEMPAT MENDEKAT UNTUK MENOLONG MEREKA, SEBUAH PESAN ANONIM MASUK KE PONSELKU—MENGHANCURKAN PERNIKAHANKU DAN SELURUH DUNIAKU.

AKU MENGIKUTI KARYAWANKU SAMPAI KE RUMAHNYA KARENA SEMUA ORANG DI KANTOR MENERTAWAKAN TASNYA YANG SUDAH ROBEK. TAPI SAAT AKU MENGINTIP DARI JENDELA RUMAHNYA, HATIKU HANCUR MELIHAT KETIGA ANAKNYA MEMAKAN SISA MAKANANKU DARI KANTOR. DAN SEBELUM AKU SEMPAT MENDEKAT UNTUK MENOLONG MEREKA, SEBUAH PESAN ANONIM MASUK KE PONSELKU—MENGHANCURKAN PERNIKAHANKU DAN SELURUH DUNIAKU.

Karyawan yang Ditertawakan

Namaku Gabriel Valderama, tiga puluh delapan tahun, CEO sebuah perusahaan finansial besar di BGC. Aku dikenal sebagai bos yang tegas, tapi aku selalu memastikan para karyawanku mendapat gaji dan tunjangan yang tinggi.

Namun beberapa bulan terakhir, salah satu data encoder paling rajin di perusahaanku menjadi bahan pembicaraan semua orang—Samuel.

Samuel selalu ditertawakan rekan-rekan kerjanya. Bagaimana tidak, sepatunya sudah dililit duct tape, seragamnya kusam, dan tas ransel hitam yang dibawanya penuh sobekan serta jahitan benang tebal.

“Sir, Samuel itu memalukan banget. Perusahaan kita menghasilkan miliaran, tapi dia kelihatan seperti pengemis,” ejek Marcus, Vice President HR-ku, saat kami minum kopi suatu sore.

Aku heran.
“Bukankah bulan lalu kita baru menaikkan gaji dan memberi tunjangan medis? Kenapa dia masih seperti itu?”

“Entahlah, Sir. Mungkin uangnya dipakai judi,” jawab Marcus sambil tersenyum sinis.

Aku tidak percaya. Samuel itu pendiam dan sangat pekerja keras. Karena penasaran, malam itu aku memutuskan mengikuti dia pulang.

Makan Malam dari Tempat Sampah

Pukul delapan malam. Dari dalam mobil, aku diam-diam mengikuti Samuel yang berjalan kaki di pinggir jalan. Dia berjalan hampir lima kilometer menuju kawasan kumuh gelap dan becek di ujung kota.

Aku turun dari mobil lalu berjalan pelan dalam gelap agar tidak ketahuan. Kulihat dia masuk ke sebuah gubuk reyot yang terbuat dari seng dan papan bekas.

Lewat celah-celah dinding, aku bisa melihat jelas apa yang terjadi di dalam.

Tiga anak kecil berlari menghampirinya—usia sekitar empat, enam, dan delapan tahun. Tubuh mereka kurus kering dan pakaian mereka tipis.

“Papa! Papa! Bawa lauk nggak? Kami lapar banget!” tangis si bungsu.

“Iya, anak-anak Papa. Papa bawa makanan,” jawab Samuel sambil tersenyum, meski wajahnya terlihat sangat lelah.

Samuel menurunkan tasnya yang robek. Perlahan ia membukanya dan mengeluarkan dua kantong plastik kecil. Saat ia menuangkannya ke piring tua di meja, mataku langsung membelalak. Dadaku terasa seperti dihantam ledakan.

Isi plastik itu… adalah setengah potong Wagyu steak mahal dan sisa truffle pasta yang kupesan untuk makan siangku tadi di boardroom! Aku tidak menghabiskannya dan memerintahkan agar dibuang ke tempat sampah!

Ternyata Samuel mengambilnya dari tong sampah pantry, membersihkan pinggirnya, lalu membawanya pulang agar anak-anaknya bisa makan.

“Wah! Enak banget ini, Pa! Dapat dari mana?” tanya si sulung polos saat mereka berbagi potongan kecil daging yang tadi siang hanya sempat kucicipi.

“Itu pemberian bos Papa yang baik hati, Nak. Ayo makan supaya kalian kuat,” jawab Samuel sambil menangis melihat anak-anaknya makan.

Dia sendiri hanya minum air putih karena tak ada makanan tersisa untuknya.

Aku jatuh berlutut di jalanan berlumpur. Aku menangis tanpa suara.

Ya Tuhan… bagaimana ini bisa terjadi?! Perusahaanku menghasilkan miliaran! Aku menganggarkan jutaan untuk kesejahteraan karyawan! Kenapa karyawanku sampai harus memberi makan anak-anaknya dari sampah?!..Aku baru saja hendak melangkah maju, merobek pintu gubuk itu untuk memeluk Samuel dan berjanji akan menanggung seluruh hidup keluarganya malam ini juga, saat ponsel di saku jas mahalku bergetar.

BZZZ.

Sebuah notifikasi pesan dari nomor tidak dikenal. Aku mengusap air mataku kasar lalu membuka layar ponsel. Pikiranku masih tertuju pada anak-anak Samuel yang sedang mengunyah sisa daging steak-ku, namun kalimat pertama di pesan itu membuat seluruh darah di tubuhku mendadak berhenti mengalir.

[ANONYMOUS]: “Gabriel Valderama yang terhormat. Kau menangis melihat karyawanmu kelaparan? Jangan salahkan sistem perusahaanku. Salahkan istrimu, Celine, dan Marcus—VP HR-mu yang setia. Buka lampiran ini dan lihat ke mana perginya uang tunjangan serta potongan gaji Samuel selama setahun terakhir.”

Di bawah pesan itu, terdapat sebuah file dokumen PDF berukuran besar dan sebuah tautan video. Dengan tangan gemetar yang mendadak dingin, aku mengklik dokumen tersebut.

Itu adalah laporan audit ganda dari rekening bank rahasia milik perusahaan finansialku. Rekening yang seharusnya digunakan untuk menyalurkan bonus, asuransi, dan dana darurat karyawan. Di sana tertera nama Samuel. Selama dua belas bulan terakhir, gaji Samuel dipotong secara ilegal hingga 70% dengan alasan “denda administratif” dan “biaya penalti sistem” yang fiktif. Bukan hanya Samuel, ada puluhan nama karyawan kelas bawah lainnya yang mengalami hal serupa.

Dan di kolom muara transfer akhir dana curian itu… tertera satu nama rekening perusahaan cangkang: C&M Holdings.

Celine & Marcus.

Kenyataan yang Menghancurkan

Jantungku berdegup begitu kencang hingga telingaku berdenging. Aku beralih mengklik tautan video. Kamera tersembunyi itu merekam sebuah kamar hotel mewah di pusat kota BGC—terjadi tiga hari yang lalu, saat aku menghadiri rapat pemegang saham di Singapura.

Di dalam video itu, Marcus, pria yang sore tadi mengejek Samuel bersamaku, sedang memeluk erat Celine, istri yang sangat kucintai dan kunikahi selama delapan tahun. Mereka minum sampanye mahal sambil tertawa terbahak-bahak.

“Gabriel si bodoh itu benar-benar tidak tahu apa-apa,” suara Marcus terdengar sangat jelas di video. “Dia mengira uang miliaran yang kita potong dari para tikus kantor itu adalah bonus efisiensi. Celine, sayang… dengan uang dari para karyawan miskin itu, kita bisa membeli villa baru di surga tropis setelah kita menguras habis Valderama Corp.”

Celine tertawa manja, mengecup bibir Marcus. “Biarkan saja Gabriel sibuk menjadi pahlawan kesiangan bagi karyawannya. Yang penting, seluruh aset pribadinya secara bertahap sudah dialihkan atas namaku. Sebentar lagi, kita tendang dia dari kursinya.”

PRAAAK!

Aku menyandarkan tubuhku ke dinding seng gubuk Samuel, nyaris menjatuhkan ponselku ke kubangan lumpur. Napasku memburu, dadaku sesak bagai dihantam gada besi.

Duniaku runtuh berkeping-keping di bawah guyuran gerimis malam kota. Wanita yang kusayangi, yang selalu menyambutku dengan senyuman hangat di rumah, dan sahabat sekaligus orang kepercayaanku di kantor… mereka berdua merajut benang pengkhianatan yang begitu keji. Mereka tidak hanya mengkhianati pernikahanku; mereka memeras darah dan keringat orang-orang kecil seperti Samuel demi membiayai perselingkuhan dan gaya hidup mewah mereka.

Aku menoleh kembali ke celah dinding gubuk. Samuel sedang mengusap kepala anak bungsunya yang mulai terkantuk-kantuk setelah kenyang memakan sisa makananku.

“Maafkan aku, Samuel…” desisku dengan rahang mengatup rapat. Mataku yang semula dipenuhi air mata duka, kini berkilat oleh amarah murni yang menuntut balas. “Mereka telah mencuri darimu. Dan mereka telah menghancurkan hidupku. Malam ini, permainan mereka selesai.”

Serangan Balik Sang CEO

Aku tidak langsung melabrak gubuk Samuel. Aku butuh pria itu dalam keadaan utuh dan siap menerima keadilan. Aku kembali ke mobilku, langsung menghubungi kepala tim hukum internal independenku dan seorang detektif swasta yang merupakan mantan perwira tinggi kepolisian.

“Kumpulkan tim cyber dan audit forensik sekarang juga di kantor pusat. Blokir seluruh akses digital Marcus dan Celine ke sistem Valderama Corp dalam satu jam ke depan. Malam ini kita lakukan pembersihan total,” perintahku tanpa emosi, sedingin es.

Setelah itu, aku melajukan mobilku kembali ke mansion mewahku di Forbes Park.

Pukul sepuluh malam, aku melangkah masuk ke dalam rumah. Suasana sepi. Di ruang tengah, Celine sedang duduk santai di sofa sambil memakai masker wajah mewah, membaca majalah fesyen. Ketika melihatku berjalan masuk dengan setelan jas yang kotor terkena lumpur, dia mengernyit jijik.

“Astaga, Gabriel! Kamu dari mana saja? Kenapa bajumu kotor begitu? Seperti orang miskin jalanan saja,” keluhnya dengan nada manja yang kini terdengar seperti lolongan iblis di telingaku.

Aku berjalan pelan, lalu duduk di sofa tepat di hadapannya. Aku melemparkan ponselku ke atas meja kaca, menampilkan video perselingkuhannya dengan Marcus yang masih berputar.

Wajah Celine seketika berubah pucat pasi. Masker di wajahnya seolah retak bersamaan dengan runtuhnya topeng kepura-puraannya. “G-Gabriel… ini… ini manipulasi! Seseorang ingin menjatuhkan kita!” jeritnya gagap, tubuhnya mulai gemetar.

“Jangan sebut namaku dengan mulut kotor itu, Celine,” kataku, suaraku sangat rendah namun sarat akan ancaman. “Tim audit hukumku baru saja membekukan seluruh aset C&M Holdings. Semua aliran dana dari pemotongan gaji karyawan telah dilacak. Detektifku sudah menyerahkan bukti video dan dokumen ini ke markas kepolisian BGC sepuluh menit yang lalu.”

Akhir dari Keangkuhan

Belum sempat Celine menjawab, pintu depan mansion digedor dengan keras. Sekelompok petugas kepolisian masuk bersama pengacaraku. Di belakang mereka, Marcus berjalan dengan tangan sudah diborgol, wajahnya babak belur oleh rasa malu karena ditangkap langsung di apartemennya.

“Nyonya Celine Valderama, Anda ditahan atas tuduhan penggelapan dana dalam jabatan, pencucian uang, dan penipuan korporasi,” ujar petugas polisi tegas sambil memasangkan borgol besi ke pergelangan tangan Celine yang mulus.

Celine menjerit histeris, menangis meraung-raung sambil mencoba menggapai kakiku. “Gabriel! Maafkan aku! Aku khilaf! Marcus yang menjebakku! Tolong jangan penjarakan aku!”

Aku berdiri, menatapnya dari atas dengan pandangan kosong. “Kau tahu, Celine? Tadi aku melihat anak-anak Samuel memakan sisa steak-ku dari tong sampah karena uang mereka kau curi untuk bersenang-senang dengan bajingan ini. Jeritanmu malam ini tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa lapar mereka selama setahun ini.”

“Bawa mereka keluar,” perintahku pada petugas.

Mansion megah itu mendadak sunyi setelah sepasang pengkhianat itu diseret masuk ke dalam mobil tahanan. Pernikahanku hancur, harga diriku diinjak-injak, namun ada satu hal yang harus kuselesaikan.

Fajar yang Baru untuk Samuel

Keesokan paginya, suasana di kantor pusat Valderama Corp gempar. Marcus telah resmi dipecat secara tidak hormat dan statusnya menjadi tersangka. Di tengah kebingungan para staf, aku memanggil Samuel ke ruangan CEO-ku di lantai paling atas.

Pria paruh baya itu masuk dengan gugup, meremas-remas tali tas ransel hitamnya yang robek dan jahitannya menyedihkan.

“S-Sir Gabriel… Anda memanggil saya? Apakah saya melakukan kesalahan dalam data?” tanyanya takut-takut, tidak berani menatap mataku.

Aku bangkit dari kursi kebesaranku, berjalan mendekatinya, lalu melakukan sesuatu yang membuat Samuel terperanjat—aku membungkuk dalam-dalam di hadapannya.

“Samuel, secara pribadi dan atas nama perusahaan, aku memohon maaf yang sebesar-besarnya atas kejahatan yang menimpamu dan keluargamu,” kataku dengan suara serak.

“Sir… apa maksudnya?”

Aku menyerahkan sebuah amplop tebal dan sebuah surat keputusan resmi. “Ini adalah pengembalian seluruh uang gajimu yang dipotong secara ilegal oleh Marcus selama setahun ini, ditambah bunga dan kompensasi penuh dari perusahaan. Dan per hari ini, kau resmi kuangkat menjadi Kepala Supervisor Administrasi Finansial dengan gaji tiga kali lipat dari sebelumnya.”

Samuel terpaku. Air mata perlahan mengalir di pipinya yang kusam. Tangannya yang kasar bergetar hebat saat memegang dokumen tersebut. “Sir… ini… ini sungguhan? Anak-anak saya… kami bisa makan layak?”

“Bukan hanya makan layak, Samuel. Perusahaan akan menanggung seluruh biaya pendidikan ketiga anakmu sampai kuliah,” kataku sambil tersenyum tulus, menepuk bahunya erat. “Dan tolong… buang tas robek itu. Sore ini, aku sendiri yang akan menemanimu membeli tas dan keperluan baru untuk anak-anakmu.”

Malam itu, pengkhianatan Celine dan Marcus memang telah menghancurkan dunia pernikahan yang kubangun. Namun melihat tangis bahagia Samuel pagi ini, aku tahu bahwa dari puing-puing kehancuran hidupku, aku telah menyelamatkan dunia sebuah keluarga yang jauh lebih berharga.