Posted in

LIMA TAHUN AKU BEKERJA SEPERTI BUDAK DI NEGERI ORANG DEMI MEMBERIKAN HIDUP MEWAH UNTUK ISTRIKU DAN AYAHKU YANG SUDAH TUA. AKU PULANG TANPA MEMBERI KABAR UNTUK MEMBERI MEREKA KEJUTAN, TAPI SAAT MEMBUKA PINTU, AKU MENDAPATI AYAHKU BERLUTUT MENGEPEL LANTAI, SEMENTARA ISTRIKU DAN IBUNYA BERSANTAI DI SOFA SEPERTI RATU. DI SAAT ITULAH, CINTAKU MATI.

LIMA TAHUN AKU BEKERJA SEPERTI BUDAK DI NEGERI ORANG DEMI MEMBERIKAN HIDUP MEWAH UNTUK ISTRIKU DAN AYAHKU YANG SUDAH TUA. AKU PULANG TANPA MEMBERI KABAR UNTUK MEMBERI MEREKA KEJUTAN, TAPI SAAT MEMBUKA PINTU, AKU MENDAPATI AYAHKU BERLUTUT MENGEPEL LANTAI, SEMENTARA ISTRIKU DAN IBUNYA BERSANTAI DI SOFA SEPERTI RATU. DI SAAT ITULAH, CINTAKU MATI.

Lima Tahun Pengorbanan

Namaku Rafael, tiga puluh lima tahun. Selama lima tahun aku bekerja sebagai Chief Engineer di sebuah perusahaan minyak besar di Arab Saudi. Aku bertahan menghadapi panas gurun yang membakar, kelelahan luar biasa, dan rasa rindu yang hampir membuatku gila pada keluargaku.

Sebelum pergi, aku menitipkan ayahku yang berusia enam puluh tahun, Pak Mando, kepada istriku, Sabrina. Sabrina berjanji akan merawat ayahku sementara aku mengirim uang sebesar Rp31 juta setiap bulan. Dari tabunganku, aku membangun sebuah mansion besar agar mereka hidup nyaman.

“Jangan khawatir, Sayang,” kata Sabrina waktu itu sebelum aku naik pesawat, memeluk leherku erat. “Aku akan memperlakukan Ayah seperti raja. Semua kebutuhannya akan aku urus. Jaga diri baik-baik di sana.”

Aku percaya pada kata-kata manisnya.

Setiap kali video call, Sabrina selalu bilang Ayah sudah tidur atau sedang istirahat di kamar sehingga aku jarang bisa berbicara dengannya. Kalaupun sempat berbicara, ayahku selalu menunduk dan menjawab singkat. Karena terlalu lelah dan terlalu percaya, aku tidak pernah curiga.

Kepulangan Rahasia

Kontrakku selesai satu bulan lebih cepat. Karena ingin melihat keterkejutan dan kebahagiaan di wajah mereka, aku memutuskan pulang diam-diam tanpa memberi tahu siapa pun.

Aku membawa perhiasan mahal dan tas desainer untuk Sabrina, serta jam tangan emas baru dan kopi impor untuk Ayah.

Begitu turun dari bandara, aku langsung menuju kompleks rumah kami di Alabang. Saat tiba di depan mansion besar kami, aku melihat lampu ruang tamu masih menyala. Aku masuk ke gerbang dengan tenang. Tidak ada satpam maupun pembantu rumah.

Menggunakan kunciku sendiri, aku perlahan membuka pintu utama.

Aku membayangkan pelukan hangat akan menyambutku.

Aku membayangkan ayahku duduk santai di kursi goyang favoritnya.

Tapi pemandangan di depanku membuat duniaku seakan berhenti berputar.

Ratu dan Budak

Tas-tas belanjaanku jatuh ke lantai, tapi mereka tidak mendengarnya karena suara musik dari TV besar dan tawa mereka yang keras.

Di sana, di tengah lantai marmer yang dingin dan luas, ayahku, Pak Mando, sedang berlutut.

Tubuhnya sangat kurus, hampir tinggal tulang. Dia mengenakan kaus lusuh penuh lubang, dan kedua lengannya yang kecil gemetar saat menggosok noda di lantai dengan kain pel.

Keringat dan air matanya menetes saat dia membersihkan lantai.

Di depannya, istriku Sabrina dan ibunya, Dona Esmeralda, duduk santai di sofa kulit mahal milikku. Mereka mengenakan silk robe mewah, perhiasan emas berkilauan di leher dan tangan, sambil meminum kopi mahal dari cangkir porselen seperti keluarga kerajaan.

“Cepat sedikit, Tua!” bentak Sabrina dengan suara nyaring dan menghina kepada Pak Mando. “Lama banget ngepelnya! Gimana kalau tamuku datang nanti?! Bau tanah sudah, malas lagi!”

“T-Tunggu sebentar, Sabrina… pinggang Ayah sakit sekali,” rintih ayahku dengan suara serak, mencoba menegakkan punggungnya yang tampak bungkuk.

Mendengar keluhan itu, Dona Esmeralda—ibu mertuaku yang selama ini kuberi uang saku jutaan rupiah setiap bulan—justru mendengus jijik. Ia mengangkat cangkir kopinya dan dengan sengaja menyiramkan sisa kopi hitam yang panas itu tepat ke atas punggung tua ayahku.

“Aduh! Kalau sakit ya jangan manja! Bersihkan kopi itu sekarang juga sebelum nodanya membekas di marmer mahal anakku!” ketus Dona Esmeralda sambil tertawa bersama Sabrina.

Ayahku tersentak kaget, menahan perih di kulitnya, lalu kembali merangkak dengan gemetar untuk menyeka tumpahan kopi itu menggunakan kain lap kusamnya. “Maaf, Jeng Esme… maaf, Mando bersihkan sekarang…”

Melihat pemandangan itu, ada sesuatu yang patah di dalam dadaku. Cintaku pada Sabrina yang kupupuk selama lima tahun di tengah gersangnya gurun Arab, mati seketika tanpa sisa. Rasa hangat dari oleh-oleh perhiasan di dalam tasku berubah menjadi bongkahan es yang membekukan seluruh rasa kemanusiaanku.

Setiap tetes keringatku, setiap malam aku terjaga menahan rindu, dan uang ratusan juta yang kukirim demi memuliakan keluargaku… ternyata digunakan untuk menyiksa satu-satunya pria yang merawatku sejak kecil setelah ibuku tiada.

Aku melangkah maju. Sepatu boot-ku menginjak lantai marmer dengan dentuman yang keras.

Runtuhnya Kerajaan Palsu Sang Ratu

BRAAAK!

Aku menendang tas-tas desainer dan kotak perhiasan emas bawaanku hingga barang-barang mewah itu berhamburan di atas lantai yang basah oleh kopi.

Suara benturan keras itu membuat tawa Sabrina dan ibunya terhenti seketika. Mereka berdua menoleh ke arah pintu, dan dalam hitungan detik, warna merah di bibir Sabrina memudar menjadi pucat pasi bagai kain kafan.

“R-Rafael?!” pekik Sabrina, cangkir porselen di tangannya terlepas dan hancur berkeping-keping di lantai. “K-kamu… bukankah kontrakmu baru habis bulan depan?!”

Aku tidak menjawabnya. Aku langsung berlari, menjatuhkan diriku di atas lantai marmer yang dingin, dan merebut kain pel dari tangan ayahku.

“Ayah… ini Rafael, Yah. Rafael pulang,” bisikku, suaraku tercekat di tenggorokan. Air mataku tumpah ruah melihat mata ayahku yang cekung dan ketakutan.

Pak Mando menatapku dengan nanar, tangannya yang kurus kering dan penuh kapalan gemetar menyentuh wajahku. “Rafael? Anakku? Kamu nyata, Nak? Tolong… jangan marah pada Sabrina… Ayah yang salah, Ayah yang lelet kerja…”

Tangisanku pecah mendengarnya. Bahkan setelah diperlakukan seperti binatang, ayahku masih mengkhawatirkan amarahku pada wanita iblis ini. Aku mendekap tubuh ringkih Ayah erat-erat. “Cukup, Yah. Cukup. Ayah tidak salah apa-apa. Mulai detik ini, tidak akan ada lagi yang bisa menyentuh Ayah.”

Aku membantu Ayah berdiri perlahan, menuntunnya untuk duduk di sofa kulit paling mahal—sofa yang dibeli dengan uangku, yang selama lima tahun ini haram disentuh oleh kulit keriput ayahku.

Eksekusi Dingin Sang Chief Engineer

Aku berbalik. Tatapanku yang semula dipenuhi air mata duka, kini menjelma menjadi badai es yang siap menghancurkan siapa saja di depanku.

Sabrina mencoba mendekat, memasang wajah manis yang menjijikkan dengan air mata buaya yang mulai dipaksakan keluar. “Rafael, sayang… ini salah paham. Tadi itu… kami cuma sedang melatih Ayah olahraga supaya ototnya tidak kaku. Iya kan, Ibu?”

“I-iya, Rafael! Ibu cuma bercanda tadi, kopinya tidak sengaja tumpah,” sahut Dona Esmeralda dengan senyum kaku yang gemetar.

“Melatih olahraga?” tanyaku dengan nada suara yang teramat tenang, namun sarat akan ancaman maut. “Mengirim Rp31 juta setiap bulan selama lima tahun, membangun mansion seharga miliaran, dan kalian menjadikannya budak di rumah anaknya sendiri?!”

Aku mengeluarkan ponselku, menekan nomor kepala keamanan kompleks Alabang dan tim pengacara pribadiku yang mengurus seluruh aset Valderama Engineering.

“Bawa sepuluh sekuriti ke mansionku sekarang. Dan panggil tim hukum,” perintahku singkat, lalu mematikan sambungan.

Sabrina mulai panik. Dia berlutut di depanku, mencoba mencengkeram kaki celanaku. “Rafael! Aku istrimu! Aku yang menemanimu dari bawah! Kamu tidak bisa memperlakukanku seperti ini hanya karena masalah sepele!”

“Masalah sepele?!” raungku, suaraku menggelegar menghantam dinding-dinding tinggi mansion hingga Sabrina tersentak mundur ketakutan. “Dia ayahku! Pria yang kelaparan demi membelikanku susu saat kecil! Dan kau… kau menghinanya seperti sampah di rumah yang kubangun dari tetes darahku sendiri!”

Keluar dari Istana Curian

Sepuluh menit kemudian, rombongan petugas keamanan kompleks merangsek masuk ke dalam rumah, dipimpin oleh pengacaraku, Malik.

“Malik, balikkan semua hak kepemilikan mansion ini atas namaku mutlak. Blokir semua kartu kredit, sita mobil mewah yang diparkir di garasi, dan ajukan gugatan cerai atas dasar kekerasan terhadap orang tua malam ini juga. Jangan biarkan wanita ini dan ibunya membawa sepeser pun uangku,” ujarku dingin.

“Tidak! Rafael, kamu kejam! Aku berhak atas setengah dari hartamu!” teriak Sabrina histeris, wajah cantiknya kini berubah menjadi monster yang mengerikan karena keserakahan.

“Kau tidak punya hak apa-apa di sini, Sabrina. Semua aset ini kubeli atas nama perusahaan sebelum kita menikah,” sahutku kejam.

Aku berjalan ke arah lemari pakaian, menarik gaun-gaun sutra dan robe mewah yang dipakai Sabrina serta ibunya, lalu melemparkannya ke lantai. Aku mengambil dua daster kain murah yang robek-robek milik pembantu yang dulu sengaja mereka pecat agar bisa mempekerjakan ayahku.

“Pakai ini. Dan keluar dari rumahku,” perintahku.

“Rafael, tolong… ini sudah malam, kami mau tinggal di mana?!” ratap Dona Esmeralda yang keangkuhannya sebagai sosialita gadungan runtuh total dalam sekejap.

“Aku tidak peduli. Kalian bisa tidur di kolong jembatan atau di jalanan, aku tidak peduli,” desisku tanpa belas kasihan. “Sekuriti, seret kedua wanita ini keluar dari gerbang kompleks. Jangan biarkan mereka membawa apa pun selain baju murah itu.”

Sabrina dan ibunya menjerit, mencakar, dan menangis melolong-lolong saat para petugas keamanan mencengkeram lengan mereka dan menyeret mereka keluar menembus dinginnya malam Alabang. Tetangga sekitar mulai keluar, menonton dengan pandangan jijik ke arah dua mantan ratu palsu yang kini menjadi tontonan hina.

Raja yang Sesungguhnya

Setelah suasana kembali hening, aku kembali berjalan ke arah sofa tempat ayahku duduk. Aku berlutut di hadapannya, meletakkan kepalaku di atas lututnya yang gemetar, dan menangis sejadi-jadinya.

“Maafkan Rafael, Yah… Rafael terlambat pulang… Rafael bodoh karena mempercayai wanita itu,” isakku lirih.

Pak Mando mengusap rambutku dengan lembut, air mata tuanya menetes di bahuku. Tangannya yang hangat kini tidak perlu lagi memegang kain pel yang kotor.

“Sudah, Nak… jangan menangis. Ayah sudah bahagia karena kamu sudah pulang.”

Malam itu, di dalam mansion megah yang kini terasa bersih dari racun pengkhianatan, aku bersumpah tidak akan pernah kembali ke gurun Arab lagi. Aku akan mengambil alih perusahaan lokal di Manila, tinggal di sini, dan memastikan bahwa sisa hidup ayahku dipenuhi dengan kemewahan dan penghormatan yang sesungguhnya. Mahkota kerajaan ini telah kukembalikan kepada raja yang sebenarnya: ayahku tercinta.