Tadi Bagas abis dari sini, mau nyiapin pernikahannya sama Sekar,” cetus Ibu tanpa menoleh padaku. Ia sedang sibuk mencocokkan warna kain dengan kulit Teh Sekar.
“Ras, sini kamu,” panggil Bapak yang sedang menyeruput kopi. “Tadi Ibu sama Bapak sudah hitung-hitung biaya pesta. Karena Bagas minta pestanya mewah dan undangannya banyak, uang tabungan Bapak sama Ibu sudah kepakai hampir semua.”
Aku terdiam, perasaanku mulai tidak enak. “Terus?”
“Terus, buat pernikahan kamu, kita hemat aja, ya?” Ibu menyahut santai sambil melempar sebuah kantong plastik besar ke arahku. “Itu kebaya Sekar yang waktu wisuda tahun lalu. Masih bagus, cuma kepanjangan dikit di kamu. Nanti minta tolong Bi Ijah permak, paling keluar dua puluh ribu.”
Aku menatap kantong plastik itu. Kebaya bekas wisuda? Untuk hari pernikahanku?
“Bu, ini ‘kan hari sekali seumur hidup Raras. Masa Raras pakai baju bekas wisuda Teh Sekar?” Suaraku bergetar.
Teh Sekar mengelus kain brokat miliknya yang tampak sangat mahal. “Ras, jangan egois. Kamu lihat ‘kan A Bagas lamaran aja bawa seserahan sebanyak itu? Malu dong kalau pestanya biasa aja. Lagi pula, Aksa ‘kan nggak kasih modal apa-apa ke Ibu. Ya sewajarnya aja.”
“Benar yang dikatakan Tetehmu.” Bapak bangkit dari duduknya. “Kami rela keluar uang banyak, karena Bagas pasti bisa ganti dengan uang pemberiannya nanti. Sedangkan Aksa? Kamu liat sendiri ‘kan, tingkahnya aja kayak bocah, nggak mapan. Punya uang dari mana dia?”
“Kalian juga akan satu pelaminan, Ras. Kamu nanti duduk di pojokan dikit nggak apa-apa, kan? Yang penting sah,” tambah Ibu tanpa rasa bersalah.

Aku meremas kantong plastik di tanganku.
Rasanya ingin sekali aku membanting berkas pengiriman keramik mewah dari toko material tadi ke depan wajah mereka. Ingin aku teriak bahwa calon suamiku sedang membangun rumah di Blok C-15! Tapi aku teringat pesan Aksa. Jangan biarkan mereka tahu sampai waktunya tiba.
Aku berbalik, masuk ke kamar tanpa sepatah kata pun. Di dalam, aku melempar kebaya bekas itu ke lantai. Air mataku jatuh juga. Bukan karena bajunya, tapi karena statusku yang selalu jadi anak sisa di rumah ini.
Drrrtt … Drrrtt ….
Ponselku bergetar. Nama Aksa muncul di layar. Aku menarik napas panjang, berusaha menstabilkan suara sebelum mengangkatnya.
“Halo?”
‘Mbak Raras? Suaranya kok sengau? Habis makan yang pedes-pedes, ya?’ Suara Aksa terdengar jenaka seperti biasa.
Aku terkekeh getir. “Nggak. Kenapa telpon?”
‘Cuma mau tanya. Mbak lebih suka taman di depan rumah nanti pakai air mancur kecil atau kolam ikan koi? Aku lagi liat katalognya, nih. Kalau pakai air mancur, katanya suaranya bisa bikin tenang kalau Mbak lagi stres dengerin ocehan Ibu-ibu.”
Aku terdiam. Di depanku ada kebaya bekas wisuda yang kusam, tapi di sebrang sana, seseorang tengah menawarkan sesuatu untuk istanaku.
“Air mancur, Sa. Yang suaranya kenceng, biar bisa nenggelamin suara orang-orang jahat,” jawabku lirih.
Aksa terdiam sejenak di seberang sana. Suaranya berubah lembut, tidak ada lagi nada bercanda.
‘Oke. Air mancur, noted. Mbak, sabar, ya? Tinggal dua minggu lagi. Setelah itu, kamu nggak akan direndahin siapa pun lagi, selamanya.’
Aku menutup telepon dengan perasaan campur aduk.
Tiba-tiba, pintu kamarku terbuka tanpa diketuk. Teh Sekar masuk dengan gaya anggunnya yang menyebalkan. Ia bersandar di pintu, menatap kebaya bekas di lantai.
“Sabar, ya, Ras. Memang nasib orang beda-beda.” Ia terkekeh kecil. “Oh, ya, papanya Bagas mau ngasih kami rumah. Nanti kalau aku sudah pindah ke rumah itu, kamu sering-sering main, ya? Biar kamu nggak sumpek di rumah ini terus. Kasihan ‘kan kalau kamu nggak pernah ngerasain duduk di sofa mahal.”
Aku menatap Teh Sekar, lalu tersenyum tipis, senyum yang membuat alis tetehku itu mengernyit bingung.
“Iya, Teh. Semoga Teteh beneran betah, ya, di rumah barunya nanti. Jangan lupa dicek kuncinya, siapa tahu kuncinya salah lagi.”
“Maksud kamu apa?!” bentak Teh Sekar seakan teringat dengan kejadian sepeda listrik waktu itu.
“Nggak ada. Cuma saran aja,” jawabku tenang.
Teh Sekar mendengus, seolah menganggapku hanya sedang iri seperti biasanya. Setelah itu, ia melenggang pergi dengan sombong.
Aku tersenyum miring. Kita lihat nanti. Rumah siapa yang paling mewah? Rumah Teh Sekar yang dibeli dari uang papanya Bagas atau rumahku yang dibangun dari uang kerja kerasnya Aksa!