“Bagaimana reaksi suamiku dan keluarganya jika mereka tahu bahwa rumah mewah yang dipamerkan mantan pacarnya itu sebenarnya milikku?”
_ Aku masuk dan duduk bersama Rendi dan ibu mertuanya. Aku duduk di sebelah Rendi dan hanya mendengarkan percakapan mereka, tanpa repot-repot menyela.
Ibu mertua Rendi terus memuji mantan pacar Rendi, sementara Sela terus membual tentang rumah, bisnis, dan aset orang tuanya, meskipun dia baru…
Telepon Sela berdering, dan dia menjawabnya. Wajah mantan pacar Rendi pucat pasi ketika mendengar apa yang dikatakan orang di ujung telepon.
“Ya,” kata Sela kepada orang di ujung telepon.
Aku tersenyum tipis. Aku mengerti perasaanmu, Sela. Jadi jangan berpura-pura dan merasa tidak aman. Aku menunggu untuk melihat apa yang akan dikatakan Sela selanjutnya.
“Tante Rendi. Maaf, aku harus buru-buru menjemput orang tuaku di bandara,” kata Sela. “Biar Rendi yang mengantar kita ke sana agar dia bisa bertemu orang tuamu, Sela,” kata ibu mertuaku.
“Tidak perlu, Tan. Aku akan menjemput mereka sendiri,” jawab Sela.
“Jadi, Ibu mengusir kami?” tanyaku.
“Dengar, Tara. Sela tidak bermaksud mengusirmu, hanya saja orang tuamu baru saja pulang dari luar negeri, jadi kamu harus menjemput mereka,” kata ibu mertuaku dengan kesal.
“Baiklah. Kalau begitu, ayo pulang, Bu,” kataku kepada ibu mertuaku.
“Ya. Kita harus pulang,” kata Rendi.
“Sela. Aku dan Rendi hampir sampai rumah, oke? Kita bisa bertemu orang tuamu lain kali, kan?” tanya ibu mertuaku.
“Ya, Bibi,” jawab Sela dengan senyum ramah.
Kemudian, Sela bergegas keluar. Dia pasti ketakutan, hanya putri seorang pelayan, namun dia bertindak seperti nyonya rumah.
Aku tidak bermaksud meremehkannya, tapi dia benar-benar kurang kesadaran diri. Aku merasa kasihan pada orang tuanya.
“Sampai jumpa nanti, Sela,” ibuku melambaikan tangan kepada Sela.
Kemudian, mobil Rendi pergi, meninggalkan tempat yang dulunya adalah rumahku.
“Lain kali, jangan ajak Tara ke mana-mana, Ren. Dia hanya mempermalukanku,” kata ibu mertuaku, sambil melirikku sinis.
“Bu, apa salahku?”
“Jelas kamu melakukan banyak kesalahan. Kamu terlalu banyak bicara dan tidak sopan, tapi untungnya Sela baik dan tidak mempermasalahkannya,” kata ibu mertuaku. Dia masih tampak sangat marah padaku.
“Aku hanya meminta air, kan? Apa yang salah dengan itu?” Aku mengerutkan kening. “Masalahnya, pertanyaanmu pada Sela terlalu kasar, Ra. Kau sepertinya meremehkan Sela, yang melakukan semuanya sendiri tanpa pembantu. Dia membuat semua orang lebih manusiawi, Tara,” bentak Rendi.
“Mungkin dia bukan pemilik rumah, Mas. Mungkin Sela hanya berpura-pura menjadi putri pemilik rumah besar itu?” tanyaku pada Rendi.
“Omong kosong!” bentak Ibu.
“Mungkin saja, Bu,” jawabku.
“Kau hanya iri, Ra. Jangan membuat tuduhan seperti itu. Itu tidak baik,” kata Rendi.
“Ayah selalu membela Sela. Jika dia tahu Sela berbohong, dia akan menyesal telah membelanya,” kataku.
“Kau selalu licik, Ra,” Rendi menggelengkan kepalanya. “Diam, Tara. Ibu mengundang Rendi ke rumah Sela untuk membicarakan sesuatu yang penting, tetapi karena kau ikut dan mempermalukan mereka, Rendi dan aku tidak memberi tahu Sela apa maksud Ibu.”
“Kalian mau ke rumah Sela untuk apa?”
“Bukan urusanmu!” Ibu membentakku lagi.
Aku terdiam dan tidak berkata apa-apa lagi. Aku masih tidak mengerti mengapa Sela mengaku sebagai pemilik rumah. Bukankah dia takut aku akan merusak rumah itu sebelumnya? Oh, aku lupa. Sela belum pernah bertemu denganku. Di rumah itu, hanya ada foto-fotoku saat masih kecil; baik ibuku maupun ayahku tidak pernah menggantung foto keluarga saat dewasa.
Sela bahkan menurunkan foto keluarga besar kami dari ruang tamu. Foto itu cukup besar. Bagaimana mungkin dia menurunkannya? Aku bersumpah tidak akan membiarkan apa pun terjadi pada foto keluargaku.
“Kami di sini, Ra. Turunlah,” kata Rendi. Aku terkejut dengan kata-kata Rendi, “Oh, kalian di sini?”
“Kau hanya melamun selama ini. Ibu tahu kau selalu membayangkan dirimu sebagai putri seorang pengusaha seperti Sela. Terimalah takdirmu, jadilah yatim piatu yang tinggal bersama kakek-nenekmu di desa. Kau lelah berharap menjadi kaya, bukan?
Itulah mengapa kau datang ke Rendi, untuk hidup seperti seorang wanita bangsawan,” kata Ibu. Kemudian ia membuka pintu mobil dan pergi, meninggalkanku bersama Rendi.

Rendi keluar dari mobil tanpa mengucapkan sepatah kata pun, untuk menghiburku setelah kata-kata kasar ibunya. Aku menarik napas dalam-dalam dan berjalan keluar. Aku mengikuti Rendi dan ibunya, yang telah keluar dari mobil lebih dulu, “Nyonya, kita baru menikah tiga bulan, tetapi mengapa Ibu berubah begitu banyak? Dulu, Ibu begitu baik dan penyayang kepadaku, sekarang Ibu sama sekali tidak peduli dengan hinaan ibuku.”
Aku ingin berbicara langsung denganmu.
Berikut adalah kelanjutan cerita tersebut yang penuh dengan kejutan dan pembalasan yang elegan:
Aku merapikan rambutku yang kubiarkan terurai indah, lalu menyemprotkan parfum mewah yang selama ini kusembunyikan di dasar lemari. Aroma berkelas langsung memenuhi kamar. Aku menatap cermin, tersenyum puas. Tara yang lugu dan penurut sudah mati. Hari ini, mereka akan melihat siapa aku yang sebenarnya.
Dengan langkah anggun, aku membuka pintu kamar dan berjalan menuju ruang makan. Di sana, suasana tampak kacau. Mas Rendi sudah rapi dengan kemeja kerjanya, wajahnya ditekuk masam menatap meja makan yang kosong melongpong. Mama mertua sedang sibuk mengomeli Nia yang mendengus kesal karena dipaksa menggoreng telur.
Begitu tumit sepatu hak tinggiku berketuk di atas lantai, ketiganya serentak menoleh.
“Tara?!” Mas Rendi terperangah. Matanya tak berkedip menatapku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Ia seolah pangling melihat wanita yang selama ini hanya mengenakan daster pudar dan berbau bawang, kini menjelma menjadi wanita yang begitu menawan dan berkelas.
“Heh! Mau ke mana kamu dandan menor begitu? Bukannya masak, malah mau kelayapan!” semprot Mama mertua, meski matanya tak bisa menyembunyikan rasa terkejut.
“Mbak Tara kok penampilannya… beda banget? Itu dress merek Gucci kan? Mas Rendi yang beliin?” tanya Nia dengan nada iri yang kentara.
Aku tersenyum tipis, melangkah santai melewati mereka menuju meja makan, lalu mengambil tas tangan mewahku. “Mas Rendi beliin? Uang jajan dari Mas Rendi saja dicatat sampai sepeser pun sama Mama. Mana cukup buat beli baju ini,” ujarku tenang namun menohok.
Wajah Mas Rendi memerah. “Ra, kamu mau ke mana? Kenapa dandan seperti ini? Kita perlu bicara!”
“Aku ada urusan penting, Mas. Oh ya, mulai hari ini aku mogok jadi pembantu gratis di rumah ini. Kalau lapar, silakan masak sendiri atau beli di luar. Bukankah keluarga kalian kaya? Uang harusnya bukan masalah, kan?” ucapku sengaja membalikkan perkataan Mama mertua kemarin.
“Kurang ajar kamu, Tara! Berani kamu menyindir Mama?!” teriak Mama mertua sambil menunjuk mukaku.
Sebelum suasana makin panas, ponsel Mas Rendi di atas meja berdering. Nama ‘Sela’ tertera di layarnya. Mas Rendi bergegas mengangkatnya, mungkin berharap mendapat pelarian dari kekacauan di rumah ini.
“Halo, Sela? Ada apa?” tanya Mas Rendi.
Suara Sela di seberang telepon terdengar sangat panik, bahkan saking kerasnya, suaranya sampai terdengar keluar. “Rendi! Tolong aku! Kamu dan Tante bisa ke rumahku sekarang? Tolong… hiks… aku dikepung orang!”
“Dikepung? Siapa yang mengepungmu, Sela?” Mas Rendi langsung panik.
“Pemilik rumah ini datang, Ren! Ternyata ibuku cuma kepala pelayan di sini! Pemilik aslinya tahu aku mengaku-ngaku dan membawa orang asing masuk ke rumahnya tanpa izin! Mereka mau lapor polisi, Ren! Tolong aku, bawa pengacara atau apa saja!” Isak tangis Sela terdengar histeris sebelum sambungan telepon terputus sepihak.
Bak disambar petir di siang bolong, Mas Rendi dan Mama mertua membeku.
“A-apa? Sela… anak pembantu?” gumam Mama mertua dengan wajah pucat pasi. Seluruh impiannya memiliki menantu kaya raya dari Jakarta runtuh seketika dalam hitungan detik.
“Mas, ayo kita ke sana sekarang! Kita harus lihat apa yang terjadi!” ajak Nia yang ikut panik.
Mas Rendi menatapku dengan bingung dan bimbang. Aku hanya tersenyum manis, memiringkan kepalaku sedikit. “Kenapa, Mas? Mantan kekasihmu yang ‘memanusiakan manusia’ itu sedang kesulitan? Kebetulan sekali, tujuanku pergi pagi ini juga ke rumah besar itu.”
“Kamu mau ngapain ke sana, Tara? Jangan bikin malu lagi!” bentak Mama mertua, meski suaranya kini bergetar.
“Lihat saja nanti, Ma. Ayo, kita ke sana bareng-bareng. Tapi maaf, mobil Mas Rendi terlalu sempit untuk dress mahalku. Aku berangkat duluan,” ucapku santai, lalu melangkah keluar rumah. Di depan pagar, sebuah mobil Alphard hitam mewah dengan sopir berseragam sudah menungguku—mobil yang sengaja kupesan dari aset keluargaku pagi ini.
Mas Rendi, Mama, dan Nia yang menyusul ke luar terbelalak melihatku masuk ke dalam mobil mewah tersebut. Tanpa memedulikan wajah cengo mereka, aku memerintahkan sopir untuk melaju cepat menuju rumahku.
Sesampainya di mansion mewah milik keluargaku, suasananya sudah sangat tegang. Sela dan kedua orang tuanya bersimpuh di lantai ruang tamu yang luas. Di hadapan mereka, berdiri tiga orang berbadan tegap—tim legal dan kepala keamanan dari perusahaan papaku.
Tak lama kemudian, Mas Rendi, Mama mertua, dan Nia datang dengan napas terengah-engah.
“Sela! Apa yang terjadi?!” teriak Mama mertua langsung menghampiri Sela.
Sela mendongak dengan wajah sembap penuh air mata. “Tante… Rendi… tolong aku. Ibu dan ayahku terancam dipecat dan kami mau dipolisikan karena aku pakai rumah ini buat pamer…”
“Heh! Berani-beraninya kalian mengancam calon menantuku! Kalian tahu siapa pemilik rumah ini? Papanya Sela itu pengusaha sukses!” bentak Mama mertua dengan sisa-sisa kesombongannya kepada tim keamananku.
Kepala keamananku, Pak Joko, mengerutkan kening. “Pengusaha sukses? Wanita tua ini adalah kepala ART di sini yang bertugas merawat rumah selama pemiliknya di luar kota. Dan gadis ini berani membawa kalian masuk ke properti pribadi tanpa izin pemiliknya. Itu tindakan pidana!”
“Bo-bohong! Sela, katakan kalau mereka bohong!” Mas Rendi mengguncang bahu Sela, namun Sela hanya bisa menangis pasrah.
Tepat saat itu, langkah kakiku terdengar menggema di lantai marmer ruang tamu. Aku berjalan anggun, melewati Mas Rendi dan keluarganya yang tengah syok.
“Selamat pagi, Pak Joko. Bagaimana situasinya?” tanyaku dengan nada suara yang berwibawa.
Pak Joko dan kedua anak buahnya langsung membungkuk hormat 90 derajat ke arahku. “Selamat pagi, Nona Tara. Seperti yang Anda instruksikan, kami telah mengamankan pelaku yang berani menyalahgunakan aset rumah keluarga Anda, serta menurunkan foto keluarga besar Anda tanpa izin.”
Mendengar kata-kata Pak Joko, ruangan itu seketika hening sepeninggal kuburan.
Mama mertua melotot hingga matanya hampir keluar. Nia menutup mulutnya karena syok, sementara Mas Rendi mundur satu langkah dengan wajah yang mendadak tak berdarah.
“Ta-Tara…? Kamu…” suara Mas Rendi tercekat di tenggorokan.
Aku berbalik, menatap suami dan mertuaku dengan pandangan dingin dan senyum kemenangan.
“Kenapa, Mas? Mama? Nia? Kaget ya, melihat anak yatim piatu yang katanya miskin, kampungan, dan cuma pantas jadi ‘babu gratisan’ di rumah kalian, ternyata adalah pemilik sah dari rumah mewah yang kalian puji-puji sejak kemarin?” ujarku, setiap kata keluar dengan penekanan yang menusuk.
“Ta… Tara… ini rumahmu? Kamu anak pemilik rumah ini?” tanya Mama mertua dengan suara mencicit, kakinya mendadak lemas hingga ia harus berpegangan pada sofa.
“Betul, Ma. Ini rumah peninggalan orang tuaku. Aku memang tinggal di desa bersama kakek dan nenek setelah orang tuaku tiada, tapi bukan berarti aku miskin. Seluruh perusahaan dan aset Papa di kota ini, akulah ahli waris tunggalnya,” jawabku tegas.
Aku berjalan mendekati Mas Rendi yang mematung. “Dulu aku memilih berpenampilan sederhana karena aku ingin mencari laki-laki yang tulus menerimaku apa adanya, bukan karena hartaku. Tiga bulan lalu kamu lulus ujian itu, Mas. Tapi setelah menikah, kenapa kamu dan keluargamu berubah menjadi monster yang tamak?”
“Ra… maafkan aku, Ra… aku tidak tahu…” Mas Rendi mencoba meraih tanganku, matanya berkaca-kaca penuh penyesalan.
“Kamu tidak tahu, atau karena kamu memang tidak punya pendirian sebagai suami?” aku menepis tangannya kasar. “Kamu membiarkan ibumu dan adikmu menghinaku, menjadikanku pembantu, bahkan kamu berniat mendekati Sela kembali karena mengira dia kaya, kan?”
Nia dan Mama mertua langsung bersimpuh di dekat kakiku. “Tara… menantuku sayang… Mama minta maaf. Mama khilaf, Nak. Tolong jangan penjarakan kami, jangan ceraikan Rendi…” ratap Mama mertua yang kini menangis histeris, kehilangan seluruh harga dirinya.
Aku mundur selangkah, menatap mereka dengan rasa jijik yang mendalam.
“Pak Joko, untuk Sela dan keluarganya, potong gaji ibunya untuk ganti rugi pembersihan rumah, dan pecat mereka hari ini juga. Jangan biarkan mereka menginjakkan kaki di properti keluargaku lagi,” perintahku.
“Baik, Nona Tara,” jawab Pak Joko tegas. Sela dan ibunya langsung menangis tersedu-sedu diringkus keluar.
Kini tinggal tersisa Mas Rendi dan keluarganya yang menatapku penuh harap dan ketakutan. Aku mengambil sebuah map dari dalam tas mewahku—map yang sudah kusiapkan sejak subuh tadi setelah menguping pembicaraan busuk mereka.
Aku melemparkan map itu tepat di depan dada Mas Rendi.
“Apa ini, Ra?” tanya Mas Rendi dengan tangan gemetar.
“Surat gugatan cerai,” jawabku dingin tanpa beban. “Keluarga kalian menginginkan istri ‘spek babu’ yang bisa ditindas, sedangkan aku adalah seorang Nyonya besar yang memegang kendali atas hidupku sendiri. Kita tidak selevel, Mas. Silakan pulang ke rumah kecil kalian, dan tunggu surat panggilan dari pengadilan.”
Setelah mengatakan itu, aku berbalik memunggungi mereka, berjalan menaiki tangga menuju lantai dua rumahku sendiri tanpa sekali pun menoleh ke belakang. Sayup-sayup kudengar tangisan penyesalan Mama mertua dan teriakan frustrasi Mas Rendi yang memanggil namaku. Namun bagiku, drama ini sudah selesai, dan pembalasanku telah tunai dengan sangat sempurna.