Posted in

GADIS KECIL YANG BERSEMBUNYI DI RUANG LAUNDRY ITU DIAM-DIAM MENELEPON AYAHNYA:“DADDY… MEREKA MAU MENGAMBIL PERUSAHAANMU… DAN MEREKA INGIN MENYINGKIRKANKU…”

GADIS KECIL YANG BERSEMBUNYI DI RUANG LAUNDRY ITU DIAM-DIAM MENELEPON AYAHNYA:
“DADDY… MEREKA MAU MENGAMBIL PERUSAHAANMU… DAN MEREKA INGIN MENYINGKIRKANKU…”
Tak seorang pun tahu bahwa panggilan singkat itu akan mengguncang seluruh dunia bisnis Jakarta hanya dalam satu malam.

Hujan turun deras di kawasan elite Pondok Indah.

Dari jendela besar mansion keluarga Del Rosario, kilat terus menyambar langit malam yang gelap.

Di ruang laundry kecil di belakang dapur, Mia yang baru berusia delapan tahun meringkuk di antara seprai dan taplak meja yang baru dicuci.

Ia menggenggam erat ponsel lama dengan tangan gemetar.

Lantai marmer terasa dingin di telapak kakinya.

Dari lorong luar, ia bisa mendengar suara hak tinggi.

Bisikan pelan.

Dentingan gelas wine.

Dan tawa palsu.

Mia menggigit bibirnya agar tidak menangis.

Ia tahu…

orang paling berbahaya bukanlah mereka yang selalu berteriak.

Melainkan mereka yang selalu tersenyum.

Yang bisa memelukmu erat di depan orang lain…

namun diam-diam ingin menyingkirkanmu dari rumah ini untuk selamanya.

Layar ponsel kembali menyala.

Perlahan Mia menekan satu-satunya nomor yang ia hafal.

Tiga tahun lalu, ayah angkatnya menyuruhnya menghafal nomor itu.

Hari ketika Eduardo Del Rosario membawanya pulang dari sebuah child center di Jakarta Timur.

Saat itu Eduardo mengusap kepalanya dan berkata:

— Kalau ada orang yang menyakitimu…

— Telepon Daddy.

— Di mana pun Daddy berada, Daddy akan pulang menjemputmu.

Panggilan itu berdering lama.

Sampai akhirnya seorang pria menjawab dengan suara rendah.

— Ini siapa?

Begitu mendengar suara itu, Mia langsung menangis.

— Daddy…

Mendadak suasana di seberang telepon menjadi hening.

Hanya beberapa detik.

Namun ketika pria itu berbicara lagi, nada suaranya sudah berubah total.

— Mia?

Mia terisak saat berbicara.

— Daddy… mereka mau mengambil perusahaanmu…

— Dan mereka mau mengirimku ke Surabaya supaya aku tidak mengganggu lagi…

Di seberang sana…

di sebuah ruang konferensi mewah di Singapura, Eduardo Del Rosario langsung berdiri dari kursinya.

Di hadapannya tergeletak kontrak dan dokumen investasi bernilai triliunan rupiah.

Namun saat mendengar tangisan putrinya…

semuanya langsung kehilangan arti.

— Sekarang kamu di mana?

— Di ruang laundry…

— Pintunya dikunci?

— Iya…

— Kamu sudah makan malam?

Mia menggeleng walaupun ayahnya tidak bisa melihat.

— Tante Angela bilang aku tidak boleh ikut makan malam karena ada tamu penting…

Tangan Eduardo langsung mengepal erat di ponselnya.

Angela Rivera.

Tunangannya.

Wanita yang selalu tampak baik di depan media.

Wanita yang ia percaya untuk menjaga Mia selama ia pergi.

— Mia, dengarkan Daddy baik-baik.

Suara Eduardo sangat tenang.

Dan itu jauh lebih menakutkan daripada teriakan.

— Jangan keluar dari sana.

— Dan jangan tanda tangan apa pun yang mereka berikan.

Mia gemetar saat berkata:

— Daddy… aku dengar mereka bicara…

— Tante Angela bilang setelah menikah nanti, saham Daddy akan dipindahkan ke Om Marco…

Perlahan Eduardo berdiri tegak.

Wajahnya berubah dingin sepenuhnya.

— Apa lagi yang mereka katakan?

— Om Marco bilang kalau aku dikirim ke boarding school selama beberapa tahun… nanti tidak akan ada lagi yang ingat kalau aku pernah tinggal di sini…

Mia tiba-tiba menangis tersedu-sedu.

— Daddy… aku tidak mau pergi dari sini…

Pada saat itu…

sosok pengusaha tenang itu menghilang.

Dan yang kembali adalah Eduardo Del Rosario yang dulu ditakuti seluruh lingkaran bisnis Jakarta.

Pria yang membangun kerajaannya dengan tangan sendiri.

Dan yang tidak pernah membiarkan siapa pun menyakiti keluarganya.

Ia langsung mengambil mantelnya dan berjalan keluar dari ruang konferensi.

— Mia…

— Daddy sedang pulang.

Mia terdiam.

— Tapi Daddy bilang baru pulang besok ke Jakarta…

Eduardo masuk ke private elevator.

Tatapannya begitu dingin sampai tidak ada satu pun asistennya yang berani bicara.

— Rencananya berubah.

Tepat pada detik itu…

terdengar ketukan pelan di pintu ruang laundry.

Tok.

Tok.

Tok.

Mia mendengar suara manis Angela.

— Mia…

— Keluar sebentar ya, sweetheart.

— Ada beberapa dokumen sekolah yang perlu kamu tanda tangani.

Mia langsung menggenggam ponselnya lebih erat.

Lalu…

ia mendengar suara pria lain di belakang Angela.

— Cepat. Kalau chairman pulang lebih awal, semua rencana kita bakal hancur.

Di seberang telepon…

Eduardo berbicara pelan.

— Mia…

— Tempelkan ponsel itu ke pintu.

— Daddy ingin mendengar siapa saja yang ada di luar.

Mia menelan ludah, menahan isak tangisnya agar tidak menimbulkan suara. Dengan kaki telanjang yang gemetar, ia melangkah mendekati pintu kayu ruang laundry. Perlahan, ia menempelkan bagian speaker ponsel lamanya ke permukaan pintu yang dingin, persis seperti yang diperintahkan ayahnya.

Di seberang telepon, di dalam private jet yang baru saja lepas landas membelah badai menuju Jakarta, Eduardo Del Rosario mendengarkan dengan saksama. Setiap napasnya terasa seperti badai yang siap meruntuhkan langit.

Dari balik pintu, suara Angela kembali terdengar, kali ini kehilangan nada manisnya.

“Sialan, anak ini mengunci pintunya dari dalam,” desis Angela, suaranya sarat akan kekesalan. “Marco, ambil kunci cadangan di ruang kerja Eduardo. Cepat! Penerbangan ke Surabaya sudah dipesan untuk jam lima pagi besok.”

“Tenang, Angela. Anak bodoh itu tidak akan tahu kalau dokumen yang dia tanda tangani adalah surat pelepasan hak asuh dan pengalihan aset perwalian,” sahut suara berat Marco, terdengar terkekeh sinis. “Begitu Eduardo sadar, semua saham Del Rosario Group di Jakarta sudah bersih berpindah tangan ke kita. Dia tidak akan bisa berbuat apa-apa tanpa memicu skandal besar.”

“Cepatlah! Aku tidak mau mengambil risiko. Pengacara kita sudah menunggu di ruang tamu,” desak Angela lagi, ketukan di pintu berubah menjadi gedoran kasar. “Mia! Buka pintunya sekarang! Jangan membuat Tante kehilangan kesabaran!”

Di dalam jet pribadi yang melaju menembus awan hitam, Eduardo memejamkan matanya. Rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya menonjol. Suara Marco dan Angela telah dicatat dengan sempurna oleh sistem perekam otomatis di ponsel satelitnya.

“Mia,” bisik Eduardo kembali ke pengeras suara, suaranya begitu rendah hingga mampu membuat bulu kuduk merinding. “Daddy sudah mendengar semuanya. Sekarang, menjauhlah dari pintu. Bersembunyilah kembali di bawah seprai.”

“Daddy… aku takut…” bisik Mia lirih.

“Jangan takut, Sayang. Daddy sudah mendarat di bandara Halim dalam tiga puluh menit. Malam ini, Daddy akan menunjukkan pada mereka… apa akibatnya jika berani menyentuh milik seorang Del Rosario.”

Dua Puluh Menit Kemudian

Pintu ruang laundry akhirnya terbuka paksa setelah Marco mendobraknya dengan kunci cadangan. Angela melangkah masuk dengan angkuh, menatap muak ke arah tumpukan kain di sudut ruangan.

“Keluar kamu, anak pungut!” bentak Angela, menjambak kasar seprai yang menutupi tubuh Mia.

Mia menjerit kecil saat Angela menarik lengannya dengan kasar, memaksanya duduk di kursi kayu dapur. Di atas meja, selembar dokumen tebal sudah menanti, lengkap dengan sebotol tinta cap jempol.

“Tanda tangan di sini, dan cap jempolmu di sebelah sini,” perintah Marco dingin, menyodorkan pena ke tangan Mia yang gemetar. “Setelah itu, kamu bisa tidur sepuasmu di pesawat menuju tempat barumu.”

“Aku tidak mau!” Mia berteriak, melemparkan pena itu ke lantai. “Ini perusahaan Daddy! Kalian orang jahat!”

PLAK!

Tamparan keras dari Angela mendarat di pipi mungil Mia, menyisakan bekas kemerahan yang kontras dengan kulitnya yang pucat. Mia tersungkur ke lantai marmer, memegangi pipinya yang terasa panas, namun ia menolak untuk mengeluarkan air mata lagi di depan wanita ular itu.

“Berani kamu melawan?! Ayahmu yang bodoh itu sedang sibuk di Singapura, dia tidak akan tahu!” pekik Angela kejam. Ia menjambak rambut Mia, memaksa jempol anak itu masuk ke dalam tinta. “Marco, pegang tangannya!”

Namun, sebelum jempol Mia menyentuh kertas…

BUM!!!

Pintu depan mansion Del Rosario hancur berantakan, jebol dari engselnya akibat dorongan paksa dari luar. Suara dentuman itu begitu keras hingga menggetarkan seluruh isi rumah mewah di Pondok Indah tersebut.

Seketika itu juga, lampu di seluruh mansion padam. Hanya menyisakan lampu darurat berwarna merah yang berputar, menciptakan atmosfer yang mencekam.

“Apa-apaan ini?!” Marco berteriak panik, langsung melepaskan tangan Mia dan meraba-raba jasnya untuk mencari senjata.

Dari kegelapan lorong, terdengar langkah kaki yang berat dan teratur. Langkah kaki yang sangat familier. Ditambah dengan suara kokangan puluhan senjata laras panjang yang serentak bergema di dalam rumah.

KLIK.

Senter berkekuatan tinggi tiba-tiba menyala dari arah pintu dapur, menembak langsung ke wajah Angela dan Marco, membuat keduanya silau dan melangkah mundur karena panik.

Di balik cahaya terang itu, berdirilah sesosok pria dengan mantel hitam yang basah oleh sisa air hujan. Tatapan matanya lebih dingin dari es, memancarkan aura membunuh yang begitu pekat.

“E-Eduardo?!” Angela memekik, suaranya bergetar hebat. Jantungnya seakan berhenti berdetak. “Bagaimana bisa… bukankah kamu di Singapura?!”

Eduardo tidak menjawab. Ia bahkan tidak memandang Angela ataupun Marco. Pandangannya langsung terkunci pada Mia yang terduduk di lantai dengan pipi yang memerah.

Melihat bekas tamparan di wajah putri angkatnya, rahang Eduardo bergemeletuk.

“Daddy…” bisik Mia lemah.

Eduardo melangkah maju. Setiap langkahnya membuat Angela dan Marco gemetar ketakutan hingga terjatuh ke lantai. Dua puluh pria berseragam taktis hitam—tim keamanan khusus Del Rosario—langsung mengepung ruangan, menodongkan senjata tepat ke kepala Marco dan Angela.

Eduardo berlutut di depan Mia, mengabaikan setelan mahalnya yang kotor terkena lantai. Dengan tangan yang tiba-tiba melunak, ia mengangkat Mia ke dalam pelukannya, mendekap kepala gadis kecil itu ke dadanya.

“Daddy di sini, Mia. Maafkan Daddy karena terlambat,” bisik Eduardo lembut, mencium puncak kepala putrinya.

“Mereka… mereka mau mengambil perusahaan Daddy…” adu Mia sambil terisak di pelukan ayahnya.

“Tidak akan ada yang bisa mengambil apa pun, Sayang. Tidak malam ini, tidak selamanya.”

Pembalasan Sang Singa

Eduardo berdiri kembali sambil menggendong Mia dengan tangan kirinya. Ia berbalik menatap Angela dan Marco yang kini sudah berlutut di bawah todongan senjata anak buahnya. Di belakang mereka, beberapa petugas kepolisian dan pengacara korporat paling ditakuti di Jakarta masuk membawa map hitam.

“Eduardo! Tolong dengarkan aku! Ini semua ide Marco! Aku dipaksa!” ratap Angela, air mata palsunya kini berubah menjadi tangis ketakutan yang nyata. Perempuan itu mencoba merangkak maju, memohon belas kasihan.

Eduardo menatapnya dengan pandangan jijik, seolah melihat seekor serangga.

“Angela Rivera. Marco Rivera,” suara Eduardo terdengar sangat tenang, namun sarat akan kehancuran. “Kalian berpikir bisa membodohiku? Semua rekaman percakapan kalian, bukti transfer penggelapan dana, dan rencana penculikan Mia sudah berada di tangan Jaksa Agung sejak sepuluh menit yang lalu.”

Pengacara di belakang Eduardo melangkah maju, melempar sebuah dokumen ke hadapan Marco.

“Mulai detik ini, seluruh aset keluarga Rivera dibekukan. Perusahaan logistik kalian dinyatakan pailit karena manipulasi pasar yang dilakukan oleh Del Rosario Group dalam lima belas menit terakhir. Kalian tidak hanya kehilangan hak asuh, tapi kalian juga kehilangan segala hal yang pernah kalian miliki di dunia ini,” ujar sang pengacara dingin.

Wajah Marco mendadak abu-abu. “Kamu… kamu menghancurkan bisnis kami hanya dalam satu malam?!”

“Satu malam?” Eduardo tersenyum sinis, sebuah senyuman yang membuat Marco tahu bahwa hidupnya telah berakhir. “Bagi kalian, ini satu malam. Bagiku, ini hanya butuh satu panggilan telepon dari putriku.”

Eduardo memberi isyarat dengan kepalanya.

“Bawa mereka pergi. Pastikan mereka mendapatkan sel paling bawah, dan jangan biarkan ada jaminan apa pun yang bisa mengeluarkan mereka,” perintah Eduardo mutlak.

“Baik, Pak!”

Angela dan Marco menjerit histeris saat tubuh mereka diseret kasar oleh petugas kepolisian keluar dari mansion mewah itu, menembus derasnya hujan malam. Janji manis pernikahan dan harta triliunan yang mereka impikan lenyap, digantikan oleh dinginnya dinding penjara yang menanti seumur hidup.

Epilog

Keesokan paginya, seluruh halaman depan surat kabar dan media bisnis Jakarta gempar. Kerajaan bisnis Rivera Group runtuh total hanya dalam hitungan jam setelah intervensi langsung dari Eduardo Del Rosario. Saham mereka jatuh bebas ke titik nol, dan dua petingginya resmi mengenakan rompi oranye.

Di ruang kerja mansion Del Rosario yang kini sudah kembali tenang, sinar matahari pagi masuk menembus jendela, menghapus sisa-sisa badai semalam.

Eduardo duduk di kursi kerjanya, memangku Mia yang sedang asyik memakan sarapan bubur ayamnya. Tidak ada lagi ketakutan di wajah gadis kecil itu.

“Daddy,” panggil Mia sambil mendongak. “Apakah mereka akan kembali lagi?”

Eduardo mengusap pipi Mia yang sudah diberi salep, tersenyum hangat dengan binar mata seorang ayah yang penuh kasih.

“Tidak akan pernah lagi, Mia. Daddy berjanji,” jawab Eduardo tegas. “Mulai sekarang, rumah ini, perusahaan ini, dan seluruh dunia ini tahu… bahwa kamu adalah pemilik tunggal dari segalanya yang Daddy bangun. Dan siapa pun yang mencoba menyentuhmu, harus melewati Daddy terlebih dahulu.”

Mia tersenyum lebar, memeluk leher ayahnya erat-element. Di luar, dunia bisnis Jakarta mungkin sedang terguncang hebat, namun di dalam ruangan itu, seorang gadis kecil tahu bahwa ia telah aman di dalam perlindungan paling kokoh di dunia: pelukan ayahnya.