Posted in

Mantan calon ibu mertuaku, menghi n4 aku dan ibu karena kami mis kin dan tidak pantas bersanding dengan keluarga mereka yang kay4 r4ya.

Tapi, keesokan pagi, dia justru berdiri dengan badan bergetar di hadapanku saat tahu ternyata aku adalah

“Sadarlah, Adeline. Apa cermin di rumahmu itu tidak cukup besar untuk membuatmu melihat sadar siapa dirimu sebenarnya?”

Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Tante asih, calon ibu mertuaku, atau lebih tepatnya, wanita yang hampir menjadi ibu mertuaku. Ia duduk bersedekap di sofa ruang tamu rumahnya yang dipenuhi perabotan berlapis warna emas yang tampak norak. Di sampingnya, Rendy; pria yang dua tahun ini mengisi hatiku hanya berdiri sambil menunduk, membiarkan ibunya menguliti harga diriku tanpa berusaha untuk membela.

Hari ini seharusnya menjadi hari pertemuan keluarga untuk membahas tanggal pernikahan kami. Namun, yang kudapatkan justru hinaan dari ibunya.

“Ibu saya sudah berniat baik datang ke sini untuk memenuhi undangan, Tante. Kami hanya ingin membicarakan kelanjutan hubungan saya dan Rendy,” kataku berusaha menjaga nada suaraku agar tetap tenang. Di sebelahku, Ibu terdengar menghela napas berat. Tangan kasarnya yang biasa memegang gunting rumput kini meremas ujung kebaya batiknya yang sudah mulai pudar.

Tante Asih tertawa, suara renyahnya terdengar begitu menyakitkan di telinga. “Hubungan apa? Pernikahan? Adeline, Rendy ini sebentar lagi akan diangkat menjadi manajer di pabrik tekstil terbesar di kota ini. Masa depannya cerah. Lalu, apa yang bisa kamu bawa sebagai modal? Ibumu itu cuma tukang kebun di kediaman mewah keluarga kaya, dan kamu cuma anak perempuan yang menumpang hidup di paviliun belakang rumah mereka.”

“Ibu saya bekerja dengan halal, Tante,” sahutku, setitik rasa kesal mulai menjalar di dadaku. Aku bisa tahan jika diriku yang dihina, tapi tidak dengan Ibu.

“Halal saja tidak cukup untuk menaikkan gengsi keluarga kami!” Tante Asih berdiri, melangkah mendekati Ibu lalu meletakkan sebuah amplop cokelat tebal di atas meja dengan kasar.

“Ini u4ng dua puluh jut4 rupi4h. Ambil. Anggap saja ini ongkos ganti rugi waktu dua tahun yang dihabiskan Rendy bersamamu. Jangan pernah temui anakku lagi. Rendy sudah dijodohkan dengan Karina, anak pemilik ruko terbesar di pasar kota.”

Tante Asih lalu melvd4h persis di hadapan ibuku. Aku menoleh pada Rendy, mencari sisa-sisa keberanian di matanya. Namun, pria itu justru memalingkan wajah.

“Maaf, Del. Ibu benar. Kita tidak selevel. Aku butuh istri yang bisa mendukung karierku karena sebentar lagi aku akan menjadi manajer,” bisik Rendy pelan.

Detik itu juga, ada sesuatu yang patah di dalam da daku, namun bersamaan dengan itu, sebuah dinding tebal runtuh. Rasa hormatku pada pria ini menguap tanpa sisa.

Ibu menggenggam tanganku, memberi isyarat agar kami segera menyudahi penghin aan ini.

“Ayo pulang, Nduk. Tempat kita bukan di sini,” bisik Ibu dengan suara yang bergetar menahan tangis.

Aku berdiri, menatap Tante Asih dan Rendy bergantian. Tanpa menyentuh amplop u ang di meja, aku tersenyum tipis, sebuah senyuman yang membuat Tante Asih sempat mengernyit bingung.

“Terima kasih atas suguhannya, Tante. Semoga pilihan Rendy tidak salah.”

Kami berjalan keluar dari rumah mewah berpagar tinggi itu. Sepanjang jalan pulang menumpang angkutan umum, Ibu terus menggenggam tanganku dengan erat, sementara air matanya mengalir diam-diam.

Ibu pasti mengira aku sedang hancur. Ibu mengira dunia putrinya baru saja runtuh atas penghin aan mantan calon besannya. Mereka semua tidak tahu satu hal, bahwa mereka telah benar-benar salah menilaiku.

Sore harinya, sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam legam dengan pelat nomor khusus berhenti tepat di depan gerbang belakang paviliun tempat kami tinggal. Seorang pria paruh baya berjas rapi turun dengan tergesa, lalu membungkuk hormat begitu melihat Ibu yang sedang menyiram bunga di halaman.

“Nyonya, Tuan meminta saya menyampaikan bahwa proses akuisisi pabrik tekstil kota sudah selesai 100%. Mulai besok pagi, seluruh aset pabrik itu resmi dialihkan atas nama Nona Adeline,” ucap pria berjas itu dengan sangat sopan.

Ibu menghentikan aktivitasnya, lalu menoleh ke arahku yang sedang duduk di undakan teras sambil memegang ponsel pintar keluaran terbaru yang selama ini selalu kusembunyikan.

“Bagaimana, Del? Kamu masih mau bermain-main menjadi anak tukang kebun?” tanya Ibu, suaranya kini berubah. Tidak ada lagi nada gemetar atau ketakutan seperti di rumah Tante Asih tadi, benar-benar seperti wanita ningrat yang berkelas.

Ya. Ibuku memang suka berkebun. Ia sangat mencintai tanaman sampai-sampai rela menghabiskan waktu berjam-jam mengenakan caping dan baju lusuh di halaman rumah utama keluarga kami sendiri, rumah mewah yang dikira Tante Asih milik orang lain, padahal itu adalah salah satu dari sekian banyak aset properti milik keluargaku.

Selama ini, aku sengaja meminta Ibu untuk menyembunyikan identitas kami dari Rendy, hanya untuk menguji apakah pria itu tulus mencintaiku apa adanya atau hanya mengincar harta. Dan hari ini, aku mendapatkan jawabannya dengan sangat jelas.

“Aku tidak sedang bermain, Bu. Aku hanya sedang menyiapkan panggung pertunjukan,” jawabku tenang sambil mengusap layar ponselku.

Sebuah pesan singkat masuk dari Rendy.

[Adel, maafkan ucapan Ibuku tadi. Tapi ini yang terbaik untuk kita. Oh ya, besok pagi aku dan Ibu mau datang ke pabrik pusat untuk penandatanganan SK manajerku dengan pemilik perusahaan yang baru. Tolong jangan membuat kekacauan, aku tidak mau namaku buruk di depan Bos besarku]

Aku membaca pesan itu dengan senyum miring yang menghiasi bibirku. Jari-jariku bergerak cepat membalas pesannya.

[Semoga sukses dengan jabatan barumu, Ren]

Setelah mengirim pesan itu, aku langsung menelepon sekretaris pribadiku. “Siapkan ruang rapat utama besok jam sembilan pagi. Katakan pada manajer personalia, jangan tandatangani SK apa pun sebelum saya tiba di ruangan.”

Malam ini, aku t idur dengan sangat nyenyak. Bayangan wajah sombong Tante Asih dan kepasrahan Rendy terus berputar di benakku, namun kali ini bukan sebagai luka, melainkan sebagai bahan bakar yang siap meledakkan kesombongan mereka esok hari.

Koridor lantai teratas gedung pusat pabrik tekstil itu tampak sangat ramai pagi ini. Dari balik kaca ruang kerja baruku yang buram dari luar, aku bisa melihat Tante Asih yang mengenakan pakaian terbaiknya, berjalan dengan dagu terangkat seolah dia adalah pemilik gedung ini. Di sampingnya, Rendy melangkah dengan kemeja necis, berkali-kali merapikan dasinya dengan wajah tegang tapi penuh kesombongan.

“Katanya Pemilik baru perusahaan ini adalah seorang wanita muda, Ren. Kamu harus cari muka, siapa tahu nanti posisimu bisa naik lagi,” samar-samar aku mendengar suara Tante Asih dari luar pintu yang sedikit terbuka.

“Iya, Bu. Rendy pasti akan berikan kesan terbaik,” jawab Rendy penuh percaya diri.

Pintu jati besar ruang rapat utama akhirnya terbuka lebar. Sekretarisku melangkah masuk terlebih dahulu, membuat suasana ruangan yang tadinya bising langsung hening seketika.

“Harap semuanya berdiri. Pemilik baru sekaligus Direktur Utama kita telah tiba,” seru sekretarisku dengan suara lantang.

Tante Asih dan Rendy langsung berdiri paling depan dengan senyum lebar.

Aku melangkah masuk dengan anggun, mengenakan setelan blazer maroon formal yang memeluk tu buhku dengan sempurna. Sepatu hak tinggiku mengetuk lantai marmer dengan irama yang khas. Rambutku yang biasa dikuncir asal kini tersanggul rapi, memancarkan aura dingin yang aku yakin mampu mengintimidasi mereka.

Begitu aku berdiri di ujung meja panjang dan menatap langsung ke arah mereka, senyum di wajah Tante Asih langsung membeku. Mata Rendy membelalak sempurna, wajahnya mendadak pias seperti kehilangan seluruh darahnya dalam sekejap.

“A … Adeline?!” pekik Tante Asih lirih, suaranya tercekat di tenggorokan seolah baru saja melihat hantu di siang bolong.

Aku meletakkan dokumen SK di atas meja, lalu menatap mereka berdua dengan tatapan paling dingin yang pernah kupunya.

“Selamat pagi, Tuan Rendy dan Nyonya Asih. Mari kita bicarakan tentang masa depan karier Anda di perusahaan saya.”