“Kayana, kamu sudah enam tahun menikah dengan Langga. Kenapa pernikahan kalian belum dicatatkan secara resmi? Kasihan Arkana. Mau sekolah tapi tidak punya akta kelahiran dan kartu keluarga. Bagaimana nanti dia mendaftar?” tanya Bude Murni sambil memilih cabai di lapak sayur.
Aku terpaku. Pertanyaan itu menampar kesadaranku. Ya Tuhan, kenapa aku bisa lupa, Arkana tahun ini masuk SD, tapi surat-suratnya belum ada. Dadaku mendadak sesak.
Dengan tangan gemetar, aku menyodorkan uang ke penjual tanpa menunggu kembalian. Kepalaku penuh dengan Arkana. Aku harus segera menelepon Mas Langga. Dan aku harus bicara dengan Ibu.
Langkahku terasa berat menapaki teras rumah. Bau dapur bercampur aroma jamu menyengat hidung. Ibu duduk di kursi rotan, mengipas diri dengan kipas kayu. Matanya melirikku sinis begitu aku meletakkan kantong belanja.
“Bu,” panggilku pelan. Tenggorokanku kering. Jantungku berdebar tak karuan, seperti menunggu vonis.
Ibu menaruh kipasnya. “Apa? Belanja saja lama. Sudah tidak becus jadi istri, ngurus anak juga lalai.”
Aku menelan ludah. Kalimat Bude Murni tadi menggema lagi. Kugenggam ujung dasterku, menahan gemetar. “Anu, Bu. Soal Arkana. Tahun ini dia masuk SD. Sekolah minta akta kelahiran dan kartu keluarga.”
Senyum tipis Ibu menyeringai, tapi matanya dingin. “Lalu?”
“Sa … saya mau minta izin, Bu. Saya mau ke Jakarta. Mau urus surat-surat Arkana, sekalian,” Napasku tercekat. Kata selanjutnya seperti batu besar di mulutku. “Sekalian meresmikan pernikahan saya dengan Mas Langga.”
Plak!
Kipas itu dihempaskan ke meja. Ibu bangkit, sorot matanya tajam. “Kamu tidak tahu diri, ya? Langga itu polisi. Kariernya masih panjang. Kalau ketahuan nikah siri sama perempuan kampung kayak kamu, hancur dia! Mau kamu jadi perusak masa depan anakku?”
Tubuhku menegang. Setiap kata Ibu seperti tamparan. Tapi bayangan Arkana diejek karena tidak punya ayah di kartu keluarga membuatku bertahan. “Ini demi Arkana, Bu. Dia berhak punya nama ayahnya.”
“Sudah! Pokoknya tidak boleh!” Ibu mendesis. “Kalau kamu nekat ke Jakarta, jangan harap bisa injak rumah ini lagi!”
Aku melangkah ke kamar dengan terhuyung, dan menutup pintu pelan-pelan agar tidak memancing amarah Ibu lagi. Ancaman tadi masih terngiang, menusuk ulu hati. Jangan harap bisa injak rumah ini lagi. Tapi wajah Arkana yang polos, yang tadi pagi memeluk kakiku sambil bertanya, “Ibu, kapan Arkana sekolah kayak Tedi?”, mengalahkan semua takutku.
Tanganku meraih ponsel butut di atas bantal. Layarnya retak di ujung, sama retaknya dengan perasaanku sekarang. Jemari yang tadi menggenggam daster kini gemetar menekan nomor yang sudah di luar kepala. Mas Langga.
Nada sambung pertama terdengar seperti hitungan mundur. Satu … dua … tiga … Setiap detiknya membuat napasku semakin pendek. Bagaimana kalau dia marah? Bagaimana kalau dia setuju dengan Ibu?
“Halo, Kayana?” Suara bariton itu akhirnya menyapa, diselingi deru kendaraan dari seberangnya. Kedengaran sibuk. Selalu sibuk.
“Mas,” lirihku. Aku buru-buru menutup mulut, takut Ibu mendengar isak yang kutahan. “Mas, Arkana tahun ini masuk SD.”
Ada jeda sejenak. Hanya terdengar embusan napasnya. “Iya. Terus? Nanti mas urus kalau cuti.”
“Cuti, Mas?” Air mataku lolos satu tetes, jatuh di layar ponsel. “Sekolah butuh akta, butuh KK, Mas. Namamu harus ada di sana. Kalau tidak, Arkana tidak bisa ….” Kalimatku terhenti. Gengsi, takut, dan putus asa bercampur jadi satu.
“Kayana, kamu tahu sendiri kan aturannya?” Suara Mas Langga terdengar tidak sabar, diselingi klakson panjang dari seberangnya. “Anggota yang mau nikah harus dapat izin Komandan dulu. Prosesnya panjang. Mas belum sempat urus. Nanti saja kita bicarakan lagi. Mas lagi tugas.”
“Tugas terus, Mas!” Bentakanku meluncur begitu saja seraya mencengkeram seprai sampai buku jariku memutih. “Arkana itu anakmu. Dia diejek di sini, Mas. Katanya anak tidak punya bapak. Aku mau ke Jakarta. Mau urus surat-suratnya. Sekalian, kita catatkan pernikahan kita, Mas. Biar Arkana tenang.”
Hening. Aku bisa membayangkan kerutan di dahinya, rahangnya yang mengeras.
“Kamu gila, ya?” Desisnya akhirnya terdengar, dingin dan menusuk. “Ke Jakarta? Dengan uang dari mana? Kamu mau hancurin karier Mas? Ibu sudah telepon Mas tadi. Katanya kamu bikin ulah. Kayana, dengar. Jangan macam-macam. Urus saja Arkana di sana. Uang bulanan Mas transfer, kan? Sudah, cukup.”
Klik!
Sambungan terputus.
Ponselku merosot jatuh ke lantai. Dinginnya keramik terasa sampai ke tulang. Jadi Ibu sudah mengadu lebih dulu.
Di luar, suara Arkana memanggil, “Ibu, Arkana laper.”
Aku menghapus air mata kasar dengan punggung tangan. Rasa takut di dadaku perlahan digantikan sesuatu yang panas, nekat.
Aku lalu berdiri. Kalau mereka semua tidak mau peduli, biar aku sendiri yang berjuang untuk anakku. Dengan atau tanpa restu mereka.

Malamnya, setelah memastikan Arkana terlelap tidur dan Ibu sudah mendengkur di kamar depan, aku menyelinap ke dapur. Bukan untuk mencari makan. Perutku terlalu perih untuk diisi.
Tanganku terulur ke atas lemari kayu yang sudah lapuk. Di balik tumpukan kaleng kerupuk kosong, kusentuh sebuah kotak besi bekas biskuit. Debu tebal menempel di jariku. Inilah kotak rahasiaku selama enam tahun.
Jantungku kembali berpacu saat kubuka pelan. Tidak ada bunyi berisik, tapi bagi telingaku, engsel berderit itu seperti sirene. Di dalamnya, bukan perhiasan. Hanya beberapa buku tabungan dan tumpukan kertas sketsa yang sudah menguning di pinggirnya.
Kubuka buku tabungan, mataku memindai deretan angka. Rp 478.532.000.
Saldo dari upah merancang perhiasan untuk Starlink Jewels di Singapura. Pekerjaan yang kulakukan diam-diam tiap malam memakai laptop lamaku sebelum menikah dengan Mas Langga. Saat Arkana tidur dan setelah semua pekerjaan rumah dari Ibu selesai. Mereka pikir aku bodoh, hanya istri kampung yang tidak bisa apa-apa. Mereka tidak tahu, setiap garis yang kugores untuk kalung dan cincin itu dihargai dolar.
Tanganku gemetar bukan karena takut lagi. Ini amarah. Enam tahun aku menyembunyikan ini demi satu hal, suatu hari bisa membeli rumah kecil untuk Arkana dan keluarga kami supaya Arkana bisa selalu bersama papanya. Tapi sekarang, rencana itu harus kupakai lebih cepat.
Kualihkan pandangan ke sketsa terakhir, desain liontin berbentuk bintang, bertabur berlian kecil. Desain yang diremehkan oleh Ibu mertuaku kemarin saat kutunjukkan, katanya “norak, tidak pantes buat istri polisi”. Rasanya dadaku sakit, tapi ibu tidak tahu harga sketsa itu bisa beli tiket pesawat pulang-pergi Jakarta sepuluh kali.
Kumasukkan satu buku tabungan ke dalam kutang, menyelipkannya rapat di balik daster. Kutinggalkan sketsa-sketsa itu. Biar. Biar jadi bukti kalau aku bukan perempuan yang cuma bisa menadah tangan.
Sebelum subuh, saat azan pertama belum berkumandang, aku sudah mengguncang bahu Arkana pelan.
“Nak, bangun. Kita jalan-jalan, ya? Naik burung besi.”
Arkana mengucek mata, tapi langsung duduk tegak mendengar kata burung besi. “Naik pesawat, Bu? Ketemu Ayah?”
Pertanyaan polos itu lagi-lagi menyayat. Kucubit pipinya pelan, menahan air mata. “Iya, Sayang. Kita ketemu Ayah. Kita minta Ayah tulis nama Arkana di buku, biar Arkana bisa sekolah.”
Kumasukkan dua stel baju kami dan laptop lamaku ke tas ransel butut. Aku sengaja tidak pamitan ke ibu mertuaku, atau iparku yang rumahnya tidak jauh dari rumah ibu.
Langkahku mantap menembus kabut tipis pagi, menggandeng tangan Arkana. Di belakang, rumah itu masih gelap dan sunyi. Selamat tinggal, neraka.
Jakarta, aku datang. Kali ini, bukan sebagai istri yang menunggu. Tapi sebagai ibu yang menuntut hak anaknya.