Posted in

“BU, ITU MIRIP CINCIN IBU SAYA”: SEORANG PENGEMIS YANG MENGEJUTKAN SEORANG NYONYA KAYA — DAN MEMBONGKAR RAHASIA YANG TERPENDAM SELAMA 13 TAHUN

“BU, ITU MIRIP CINCIN IBU SAYA”: SEORANG PENGEMIS YANG MENGEJUTKAN SEORANG NYONYA KAYA — DAN MEMBONGKAR RAHASIA YANG TERPENDAM SELAMA 13 TAHUN

Nyonya Cecilia dikenal di seluruh Makati. Ia adalah pemilik pusat perbelanjaan terbesar di negara itu. Namun di balik kekayaannya, matanya selalu terlihat sedih. Tidak ada yang tahu alasannya, kecuali sopir setianya.

Tiga belas tahun yang lalu, putri satu-satunya hilang dalam sebuah insiden perampasan mobil. Mobilnya ditemukan, tetapi bayinya… tidak pernah ditemukan lagi.

Suatu sore, Nyonya Cecilia sedang makan di restoran mewah dengan area terbuka. Saat ia memotong steak-nya, seorang gadis kecil mendekat. Pakaiannya lusuh, tubuhnya kurus, dan ia membawa bunga melati untuk dijual.

“Bu, beli ya… buat biaya obat ibu saya,” kata anak itu pelan.

Satpam hendak mengusir gadis itu, tetapi Nyonya Cecilia menghentikannya. Ia merasa iba melihat wajah polos anak tersebut.

Nyonya Cecilia mengambil uang sebesar Rp150.000. Saat hendak memberikannya, ia melihat anak itu menatap jarinya.

“Kenapa, Nak? Kamu mau makanan?” tanya sang nyonya.

Anak itu menggeleng. Ia menunjuk cincin Nyonya Cecilia—sebuah cincin emas antik berbentuk mawar dengan batu merah di tengahnya.

“Bu… cantik sekali. Mirip dengan cincin ibu saya. Disimpan di bawah bantalnya,” kata anak itu dengan polos.

Nyonya Cecilia langsung terdiam. Garpu di tangannya terlepas dan jatuh berdenting ke piring.

“A-Apa katamu?” tanyanya dengan suara gemetar.

“Iya, Bu. Kata ibu saya, saya tidak boleh memakainya karena itu sangat berharga. Tapi benar-benar mirip sekali.”

Mustahil. Cincin itu dibuat khusus. Hanya ada dua di seluruh dunia: satu untuk dirinya, dan satu lagi untuk bayi perempuannya yang hilang—yang dijadikan liontin pada hari itu.

Nyonya Cecilia tiba-tiba berdiri. “Nak, di mana ibumu? Antar saya ke sana. Sekarang juga.”

Mereka pun naik Mercedes-Benz mewah milik Nyonya Cecilia. Dari gedung-gedung megah di Makati, mereka menuju gang sempit yang gelap dan kumuh di Tondo…

Mobil mewah itu berhenti di ujung gang sempit yang becek. Di bawah tatapan bingung warga sekitar, Nyonya Cecilia turun tanpa memedulikan sepatu mahalnya yang terendam lumpur. Dipandu oleh langkah kecil gadis itu, mereka sampai di sebuah gubuk reyot berdinding tripleks.

Di dalam ruangan yang remang-remang, seorang wanita paruh baya tampak terbaring lemah di atas kasur tipis. Wajahnya pucat digerogoti penyakit.

Begitu melihat Nyonya Cecilia masuk, wanita sakit itu terbelalak. Ketakutan yang luar biasa langsung terpancar dari matanya.

“N-Nyonya Cecilia…” bisik wanita itu lirih.

Nyonya Cecilia terpaku. Suara itu tidak asing. Ia melangkah mendekat, memperhatikan wajah wanita yang ringkih itu dengan saksama. Ingatannya berputar ke kejadian 13 tahun lalu.

“Kau… Maria? Pengasuh bayiku dulu?” tanya Nyonya Cecilia dengan suara tercekat.

Wanita itu langsung menangis histeris. Dengan sisa-sisa tenaganya, ia turun dari kasur dan bersujud di kaki Nyonya Cecilia.

“Maafkan saya, Nyonya! Maafkan saya!” tangis Maria pecah. “Tiga belas tahun lalu, suami saya terlibat utang judi dan merencanakan perampasan mobil Anda. Dia membawa lari nona kecil untuk ditebus. Tapi rencana itu kacau, suami saya tewas dalam kecelakaan saat melarikan diri.”

Maria kemudian meraba bagian bawah bantalnya yang kusam dan mengeluarkan sebuah kalung perak dengan liontin emas antik berbentuk mawar berhias batu merah—kembaran persis dengan cincin di jari Nyonya Cecilia.

“Saya terlalu takut dipenjara, tapi saya juga tidak tega menelantarkan bayi ini. Akhirnya, saya membawanya kabur ke Tondo dan merawatnya sebagai anak saya sendiri. Dia… dia adalah putri Anda, Nyonya. Dia Angelica.”

Mendengar kebenaran itu, dunia seolah berhenti berputar bagi Nyonya Cecilia. Air matanya mengalir deras. Ia menoleh ke arah gadis kecil lusuh yang berdiri kebingungan di ambang pintu.

Nyonya Cecilia berlutut di depan gadis kecil itu, memegang kedua pundaknya yang kurus dengan tangan gemetar. Saat ia menatap lekat-lekat mata anak itu, ia melihat bayangan dirinya sendiri—dan bayangan bayi perempuan yang ditangisinya selama belasan tahun.

“Angelica… anakku…” bisik Nyonya Cecilia, langsung mendekap erat gadis kecil itu ke dalam pelukannya.

Gadis kecil itu awalnya tegang, namun kehangatan dekapan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya membuat air matanya ikut menetes tanpa ia pahami mengapa.

Akhir Cerita

Nyonya Cecilia tidak menaruh dendam pada Maria yang kondisinya sudah sekarat. Demi rasa kemanusiaan dan rasa terima kasih karena telah menjaga putrinya tetap hidup, ia membiayai seluruh pengobatan Maria di rumah sakit terbaik, meskipun proses hukum tetap berjalan semestinya.

Beberapa bulan kemudian, tidak ada lagi pengemis kecil penjual melati di jalanan Makati. Yang ada hanyalah Angelica, pewaris muda yang kini hidup bahagia bersama ibu kandungnya. Kesedihan yang selama 13 tahun menggelayuti mata Nyonya Cecilia kini telah sirna, digantikan oleh senyuman hangat setiap kali ia melihat putrinya memakai cincin mawar berkilau yang kini telah kembali ke pemilik aslinya.