Maya muncul dari arah dapur dengan dahi berkerut, mengeringkan tangannya pada selembar kain. Langkahnya terhenti saat melihat wajah Rohana yang merah padam dan Arka yang tampak gelisah.
“Ada apa ini? Kok suaranya sampai kedengaran ke belakang?” tanya Maya, mencoba mencari tahu sumber kegaduhan.
“Itu, May… si Arini!” seru Rohana, suaranya kembali melengking begitu mendapat penonton baru.
Maya menyandarkan tubuhnya di bingkai pintu, melipat tangan di dada dengan tatapan penuh selidik. “Ada apa lagi dengan wanita itu, Ma?” tanya Maya pada sang mantan mertua.
“Dia benar-benar sudah hilang akal, May! Dia berani menyetop jatah belanja Mama secara sepihak. Katanya, dia nggak mau kasih satu rupiah pun lagi buat Mama!” Rohana mengadu dengan nada yang dibuat semalang mungkin, seolah-olah dia adalah korban penganiayaan.
Mata Maya membelalak, pura-pura terkejut meskipun ada kilat kepuasan yang tersembunyi di balik matanya. Ia menutup mulut dengan telapak tangan, berakting dramatis.
“Ya ampun… tega sekali dia, Ma,” sahut Maya dengan nada prihatin yang dibuat-buat.
Maya sengaja memanasi suasana, menuangkan bensin ke dalam api yang sudah menyala di hati Rohana dan Arka.
“Ar, coba kamu pergi dan bujuk istrimu itu! Sekarang!” titah Rohana dengan nada tidak mau dibantah. Baginya, Arka adalah satu-satunya kartu as untuk melunakkan hati Arini.
Arka mendengus, ia menyandarkan punggungnya ke sofa dengan kasar. “Ma, aku dan Arini itu sedang bertengkar. Kalau aku datang sekarang, yang ada malah makin panas. Coba tenang saja dulu!” sahutnya berusaha menghindar.
Sebenarnya, jauh di dalam lubuk hatinya, Arka merasa gengsi. Ia tidak sudi jika harus pulang dan merendahkan diri, memohon-mohon pada istrinya demi selembar uang jatah bulanan.
“Ar, tapi mau sampai kapan ditunda?!” sergah Rohana, suaranya naik satu oktav karena panik membayangkan dompetnya yang kosong. “Mama sudah nggak ada pegangan lagi! Kamu mau lihat Mama kelaparan?”
Arka meremas rambutnya dengan frustrasi. Tekanan dari sang ibu dan kenyataan bahwa sumber keuangannya sedang macet membuatnya merasa terpojok. Ia berdiri dengan gerakan gusar, membuat Sisil yang berada di dekatnya sempat tersentak.
“Sudahlah! Nanti kita pikirkan lagi bagaimana caranya. Aku pusing!” bentak Arka sambil melangkah lebar meninggalkan mereka.
Satu hari berganti dua, hingga kalender telah mencoret angka lima, namun keberadaan Arka di rumah tak lebih dari sekadar bayangan yang melintas. Ia pulang hanya saat matahari nyaris tenggelam atau ketika fajar masih menyisakan embun—itu pun hanya untuk menyambar beberapa potong pakaian bersih, lalu kembali menghilang lagi.

Rumah itu kini terasa begitu hening, sesak oleh ketegangan yang tak kasatmata.
Sore itu, Arka kembali masuk ke kamar dengan langkah terburu-buru. Ia membuka lemari, membiarkan bunyi gesekan gantungan baju memecah kesunyian. Di ambang pintu, Mesya berdiri mematung. Matanya yang polos menatap sang ayah dengan binar harap yang perlahan meredup.
“Papa…” sapa Mesya lirih, jemari kecilnya meremas ujung baju.
Arka tak bergeming. Jangankan pelukan atau sekadar kecupan di dahi, menoleh pun tidak. Ia seolah menulikan telinga, sibuk memasukkan kemeja ke dalam tas ranselnya seakan ada api yang mengejarnya dari belakang.
“Papa mau pergi lagi?” suara Mesya nyaris hilang, bergetar menahan tangis.
Hening. Arka justru melangkah melewati putrinya begitu saja, menciptakan embusan angin dingin yang membuat Mesya tertunduk lesu.
Di sudut ruang makan, Arini menyaksikan segalanya dengan tangan yang terkepal kuat di atas meja. Dadanya naik-turun, menahan gejolak yang sedari kemarin ia coba redam demi kewarasan di depan anak mereka.
Arini melangkah masuk dengan napas yang masih memburu. Matanya tertuju pada lemari besar di sudut ruangan.
Dengan gerakan kasar, ia menarik keluar koper besar dari bawah ranjang. Pintu lemari disingkapnya lebar-lebar. Satu per satu kemeja kerja, kaus, hingga jas milik Arka ia tarik paksa dari gantungannya dan dilemparkan ke dalam koper tanpa niat untuk melipatnya dengan rapi.
“Kalau memang kami sudah tidak ada harganya lagi di matamu, Mas… lebih baik kita akhiri saja semuanya,” gumam Arini dengan suara serak. Air matanya jatuh mengenai tumpukan kain itu, namun ia segera menyekanya dengan punggung tangan. “Aku tidak mau membiarkan Mesya tumbuh besar dengan melihat ayahnya menganggapnya tidak ada.”
Klik.
Suara kunci koper yang tertutup rapat bergema di dalam kamar. Arini menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya. Ia menyeret koper itu keluar, rodanya berderit berisik di atas lantai parket.
Namun, langkahnya terhenti di ambang pintu. Mesya berdiri di sana, menatap koper besar itu dengan mata bulat yang masih sembab.
“Mama mau ke mana? Kok bawa koper?” tanya Mesya kecil. Suaranya terdengar takut, seolah koper itu adalah monster yang akan membawa ibunya pergi jauh.
Arini tertegun. Ia segera berjongkok, mencoba mengatur ekspresi wajahnya agar terlihat setenang mungkin meski hatinya hancur berkeping-keping. Ia memaksakan sebuah senyum tipis, lalu mengusap lembut pipi putrinya.
“Nggak ke mana-mana, Sayang,” bohong Arini, suaranya diusahakan tetap lembut. “Mama cuma mau mengantar baju-baju Papa. Biar Papa nggak repot bolak-balik pulang cuma buat ambil baju. Kasihan kan Papa capek?”
Mesya menatap ibunya lama, seolah mencari kejujuran di balik mata Arini. “Tapi nanti Mama pulang lagi kan?”
“Iya nak.”
Langkah kaki Arini terhenti di depan pintu ruang tamu yang sedikit terbuka. Pemandangan di dalamnya seolah menarik paksa jantungnya keluar.
Brak!
Pintu itu didorong kasar, dan Arini menghempaskan koper besar di tangannya ke tengah ruangan dengan suara dentuman yang memekakkan telinga.
“Arini! Kamu gila?! Koper siapa ini?!” bentak Arka.
“Koper kamu, Mas,” jawab Arini, suaranya terdengar dingin dan tajam, membelah udara yang pengap oleh kemunafikan. “Semua baju kamu, semua barang-barangmu, sudah aku masukkan!”