Dalam radius sepuluh mil dan delapan desa, tidak ada yang tidak mengenal keluarga Mang Choy. Bayangkan saja—mereka melahirkan seorang “Anak Iblis” hidup-hidup.
Saat usiaku baru tiga tahun, aku sudah bisa menangkap ular di sawah dengan tangan kosong.
Saat umur lima tahun, aku mencabuti bulu angsa peliharaan Pak RT sampai terlihat seperti ayam siap direbus.
Waktu umur sepuluh tahun, tetangga mencuri ayam kami. Tengah malam aku memanjat atap rumah mereka lalu menuangkan tiga kilo cabai ke lubang cerobong dapur mereka.
Semua orang bilang—aku, Luzviminda “Luz” Dimalanta—lahir dengan darah buruk. Pemberontak yang tidak akan pernah ada pria waras yang berani menikahiku.
Sampai suatu hari di pasar saat usiaku sembilan belas tahun, tiba-tiba beberapa orang asing membekap mulutku lalu menyeretku masuk ke sebuah van L300 tua dengan plat nomor palsu.
Mereka tidak tahu, saat itu aku justru sedang pusing memikirkan cara kabur dari blind date dengan Mang Berting si pria buta di ujung gang.
Ayahku? Dia hanya berdiri di pinggir desa sambil melihatku dibawa pergi. Bukannya mengejar, dia malah santai menyalakan rokok dan membuat tanda salib sambil menatap asap van yang menjauh.
Van itu melaju kencang menuju pegunungan terpencil. Tiga pria menatapku seperti anjing kelaparan.
“Yang ini cantik,” kata salah satu dari mereka. “Kalau kita jual ke para bujangan tua di gunung, kita bisa dapat lima puluh ribu peso.”
Tiba-tiba van menghantam lubang besar.
Seluruh kendaraan terguncang.
Sebuah karung menggelinding ke tengah lalu talinya terbuka sedikit.
Dan di situlah aku melihat wajah seorang pria.
Aku melirik tangan terikatku, lalu ke pria itu, tersenyum nakal, dan perlahan memutus tali pengikatku.
**1**
Tali tua itu hanya mengeluarkan bunyi kecil saat putus di tanganku.
Aku memijat pergelangan tanganku. Aku tidak buru-buru bergerak. Aku membiarkan tali yang putus tetap menggantung agar mereka tidak curiga.
Pria berwajah penuh bekas luka di kursi penumpang mengembuskan asap rokok lalu meludah ke lantai.
“Kenapa cewek ini diam saja? Tidak nangis sama sekali. Jangan-jangan gila?”
Si sopir pirang tertawa.
“Lebih bagus kalau gila. Para bujangan tua di Barrio Sagrada suka yang nurut. Setelah diperiksa si Lucio Pincang, kita ambil uang lalu langsung ke tempat karaoke.”
Bagian dalam van bau rokok basi.
Van kembali terguncang dan karung itu semakin terbuka.
Aku terpaku.
Bahkan guru paling tampan di desa kami tidak sampai setengah ketampanan pria ini.
Wajahnya pucat, tubuhnya berkeringat, dan sudut matanya merah. Kemejanya kusut, lengan bajunya penuh lumpur, dan kedua tangannya terikat di belakang.
Dia menyadari aku sedang menatapnya lalu perlahan membuka mata.
Matanya sangat indah.
Tapi penuh ketakutan.
Dan kelemahan.
Saat dia melihat tanganku sudah bebas, jakunnya bergerak dan dia berbisik gemetar:
“Kak… jangan bergerak sembarangan. Mereka punya pisau. Mereka bisa membunuhmu.”
Cara dia memanggilku “Kak” membuat dadaku terasa aneh.
Dengan wajah setampan itu, bagaimana dia bisa ditangkap para bajingan ini?
Si pirang berteriak lewat kaca spion.
“Hei! Kalian bisik-bisik apa? Diam! Kita sudah dekat!”
Van berhenti di sebuah desa kosong.
Hari sudah gelap. Ada rumah-rumah tua dari nipa dan lumpur di kaki gunung.
Di sana berdiri seorang pria kurus sekitar lima puluh tahun, kaki kanannya pincang dan memegang tongkat. Giginya kuning dan wajahnya nyaris tak tampak manusia.
Dialah Lucio si Pincang.
Si sopir pirang membuka pintu lalu menarik rambutku dengan kasar.
“Turun! Jangan banyak tingkah!”
Aku tidak melawan. Aku hanya mengikuti saat dia menyeretku turun.
Lalu pria di dalam karung juga diseret keluar dan dilempar ke tanah berlumpur.
Dia mengerang kesakitan.
Lucio mendekat sambil bertopang pada tongkatnya, menatapku dari kepala sampai kaki, lalu menggosok kedua tangannya dengan rakus.
“Wah, yang ini cantik. Pinggulnya bagus. Pasti gampang melahirkan. Lima puluh ribu peso terasa murah!”
Pria berwajah luka mengangguk.
“Tentu saja. Kami pilih dengan hati-hati. Tidak punya penyakit juga. Tinggal rantai saja di bawah rumahmu, pasti tidak kabur.”
Lucio tertawa menjijikkan, lalu melirik pria di sampingku dan mengernyit.
“Kenapa ada laki-laki? Aku tidak mau yang pucat dan lemah!”
Pria berwajah luka meludah.
“Itu bonus. Mau kami jual ke tambang ilegal di gunung jadi kuli angkut. Kalau kau tidak mau, sekarang juga kupatahkan kakinya.”
Pria itu gemetar di tanah sambil terus menatapku, matanya berkaca-kaca.
“Kak… tolong selamatkan aku.”
Amarah yang kupendam selama sembilan belas tahun seakan meledak di kepalaku.
Bajingan-bajingan ini bukan cuma menculik perempuan—mereka juga mau mematahkan kaki anak tampan ini?
Kalau “Anak Iblis” keluarga Dimalanta tidak menunjukkan taring malam ini, mereka pasti mengira aku cuma lumpia lembek yang gampang dihancurkan!
Lucio mendekat dan tangan kotornya mencoba menyentuh dadaku.
“Sini, Neng. Biar aku cek barangnya.”
Mataku menyipit.
Aku tak bisa lagi menahan kebiadaban dalam diriku.
Sebelum tangannya menyentuh bajuku, aku langsung mencengkeram pergelangan tangannya.
“Periksa saja ibumu!”
Aku menyeringai lalu mematahkan tangannya.
**KRAK!**
Suara tulang patah menggema di seluruh desa.
Pergelangan tangan Lucio tertekuk ke sudut yang mustahil, hampir menembus kulit.
“Tanganku!” teriaknya sambil jatuh ke lumpur.
Ketiga pria itu membeku.
Mereka tidak percaya.
Si sopir pirang buru-buru mengeluarkan pisau balisong lalu menyerbu.
“Sialan! Kau mau mati?!”
Pisau itu berkilat menuju wajahku.
Aku tidak bergerak.
Aku menunggu dia mendekat.
Lalu kutendang dadanya sekuat tenaga.
Tubuhnya terbang hampir lima meter dan menghantam pohon narra tua.
Daun-daunnya berguguran.
Dia jatuh ke tanah, memuntahkan darah dan entah apa lagi dari dalam perutnya, sebelum pingsan.
Pria berwajah luka dan teman gendutnya langsung pucat pasi.
Aku memutar leherku, melambaikan jari ke arah mereka, lalu tersenyum congkak.
“Ayo. Bukannya kalian mau menjualku? Sekarang kita lihat siapa yang akan menjual siapa.”
**2**
Suasana mendadak sunyi seperti kuburan.
Hanya tangisan Lucio yang terdengar sementara angin membawa bau darah.
Tangan pria berwajah luka gemetar. Dia tidak mengerti bagaimana wanita kurus seperti aku bisa memiliki kekuatan seperti itu.
“Kita serang bareng!” teriaknya pada si gendut.
Mereka maju bersamaan.
Aku meludah ke samping lalu menyambut mereka.
Si gendut mengayunkan pipa besi ke arah kepalaku.
Aku menghindar, menangkap lengannya, lalu melemparkannya dengan bantingan bahu.
Tubuh hampir sembilan puluh kilonya menghantam jalan semen.
**BUUGH!**
Aku menginjak lututnya sampai terdengar suara retakan lain.
Dia menjerit lalu pingsan.
Saat pria berwajah luka sadar mereka kalah, dia langsung berbalik ingin kabur.
Aku mengambil pipa besi lalu melemparkannya sekuat tenaga.
Pipa itu menghantam kakinya.
Dia tersungkur ke tanah dan dua gigi depannya langsung copot.
Belum sampai dua menit, tiga buaya manusia dan Lucio sudah terkapar di tanah.
Aku menepuk debu di tanganku lalu menoleh pada pria yang tadi terikat.
Dia tampak sangat ketakutan.
Dia duduk bersandar di rerumputan sambil menatapku seperti melihat monster dan malaikat sekaligus.
Aku mendekat lalu merobek tali plastik di tangannya hanya dengan tenaga tanganku sendiri.
“Kamu bisa berdiri?” tanyaku sambil menepuk bahunya.
Dia mengusap pergelangan tangannya yang luka lalu perlahan berdiri.

Namun saat tubuhnya melemah, dia jatuh bersandar ke dadaku.
Tubuhnya harum.
Dia mencengkeram bajuku sementara suaranya bergetar.
“Kak… apa mereka mati?”
“Belum mati, cuma pingsan. Tapi kalau mereka bangun nanti, mungkin mereka bakal berharap mereka mati saja,” kataku santai sambil menahan tubuhnya agar tidak merosot ke lumpur.
Dekat begini, bau harum tubuhnya makin tercium. Bau sabun mahal yang dicampur aroma maskulin, sangat asing untuk hidungku yang terbiasa dengan bau lumpur sawah dan minyak angin Mang Choy. Pria ini mendongak, menatapku dengan mata bulatnya yang masih berair. Jantungku memberikan sentakan kecil yang aneh. Sialan, apa ini yang dinamakan pubertas terlambat?
“Siapa namamu? Dan kenapa cowok secakep kamu bisa nyasar di van rongsokan ini?” tanyaku sambil menjitak kepala Lucio si Pincang yang mencoba merangkak kabur di bawah kakiku. Lucio langsung pingsan beneran.
Pria itu menelan ludah, suaranya masih bergetar halus. “Nama… namaku Ethan. Ethan Concepcion. Aku diculik dari Manila tiga hari lalu. Mereka minta tebusan pada keluargaku, tapi sepertinya mereka panik karena polisi mulai melacak, jadi mereka mau menjualku ke tambang.”
Concepcion? Otakku yang jarang dipakai untuk berpikir keras ini mendadak mengingat koran bekas pembungkus ikan asin yang dibaca ayahku minggu lalu. Concepcion Group. Keluarga konglomerat pemilik jaringan hotel dan real estate terbesar di Luzon.
“Wah, anak orang kaya,” siulan kagum keluar dari mulutku. “Berarti hari ini hari keberuntunganmu, Ethan. Kamu diselamatkan oleh Luzviminda Dimalanta, si Anak Iblis dari delapan desa.”
Ethan menatap tangan kotor dan penampilanku yang acak-akan, tapi bukannya ketakutan, matanya justru berbinar penuh kekaguman. “Kak Luz… kamu hebat sekali. Aku belum pernah melihat orang bertarung seperti itu.”
“Biasa saja. Di desaku, kalau kamu tidak bisa banting babi hutan, kamu tidak akan kebagian jatah makan malam,” jawabku menyombongkan diri.
Aku melirik van L300 yang mesinnya masih menyala. Sebuah ide brilian—atau ide kriminal, tergantung siapa yang menilai—mendadak muncul di kepala si Anak Iblis ini. Aku berjalan ke arah pria berwajah luka yang masih setengah sadar, lalu merogoh kantong celananya. Aku menemukan dompet tebal berisi tumpukan uang peso dan kunci van.
“Kak Luz, apa yang mau kamu lakukan?” tanya Ethan bingung sambil mengekor di belakangku seperti anak ayam kehilangan induk.
“Mengambil komisi penyelamatan,” aku menyeringai lebar, memperlihatkan deretan gigiku yang rapi. “Ayo naik. Kita pinjam mobil bajingan ini untuk keluar dari gunung.”
Aku melompat ke kursi kemudi. Ethan buru-buru naik ke kursi penumpang di sampingku. Aku menginjak pedal gas dalam-dalam, membuat ban van berdecit keras dan melemparkan lumpur tepat ke wajah si sopir pirang yang baru saja siuman. Van itu melesat membelah kegelapan malam, meninggalkan desa terpencil itu di belakang kami.
3
Selama satu jam pertama, hanya ada suara deru mesin van yang reyot. Aku menyetir dengan satu tangan, sementara tangan satu lagi memegang sebatang tebu sisa pasar yang kukunyah dengan nikmat.
Aku melirik Ethan lewat sudut mataku. Dia sudah agak tenang, meskipun setiap kali van menghantam lubang, tubuhnya otomatis menegang. Dia terus menatap profil samping wajahku seolah aku adalah makhluk magis yang baru keluar dari buku dongeng.
“Kenapa? Terpesona?” godaku tanpa menoleh.
Wajah pucat Ethan mendadak merona merah muda. Dia buru-buru memalingkan wajah ke jendela. “T-tidak… aku hanya berpikir, bagaimana aku bisa membalas budimu, Kak? Keluargaku pasti akan memberikan apa saja yang kamu minta setelah kita sampai di Manila.”
Aku tertawa renyah. “Uang? Boleh juga. Tapi sejujurnya, aku lebih butuh tempat sembunyi.”
“Sembunyi? Dari siapa? Polisi?” Ethan menatapku panik.
“Bukan. Dari Mang Berting si pria buta di ujung gang desaku,” aku menghela napas dramatis. “Ayahku menjualku padanya demi melunasi hutang judi sabung ayam. Kalau aku pulang, malam ini juga aku bakal dinikahkan dengan pria tua yang bahkan tidak tahu bedanya wajahku dan pantat panci.”
Ethan terdiam lama. Keheningan di dalam van mendadak terasa berat. Aku mengira dia menganggapku aneh, sampai akhirnya dia menoleh kembali padaku, matanya tidak lagi memancarkan ketakutan, melainkan sebuah keyakinan yang tajam.
“Kalau begitu, jangan pulang,” kata Ethan, suaranya mendadak terdengar lebih dewasa dan tegas. “Ikutlah denganku ke Manila. Menikahlah denganku.”
UHUK!
Aku tersedak ampas tebu. Van yang kukendarai hampir saja oleng ke dalam jurang jika aku tidak segera menyeimbangkan setirnya. Aku mengerem mendadak di pinggir jalan yang sepi, lalu menatap Ethan dengan mata membelalak.
“Kamu gila ya? Efek diculik membuat otakmu geser?” bentakku, menempelkan punggung tanganku ke dahinya. “Aku ini Luz si Anak Iblis. Aku bisa mematahkan leher orang dengan tangan kosong! Pria-pria di desaku saja membuat lingkaran proteksi setiap kali aku lewat!”
Ethan tidak mundur. Dia justru memegang tanganku yang berada di dahinya, menggenggamnya dengan jemarinya yang halus namun hangat.
“Aku serius, Kak Luz,” Ethan menatap lurus ke dalam mataku. “Di duniaku, di Manila, semua orang memakai topeng. Mereka mendekatiku karena uang dan namaku, tapi mereka akan melarikan diri saat bahaya datang. Kamu… kamu berbeda. Kamu monster yang menyelamatkanku tanpa meminta imbalan.”
Dia tersenyum manis, jenis senyuman yang kubahu bisa membuat seluruh gadis di provinsi Bulacan pingsan di tempat.
“Lagipula, keluargaku sedang menekanku untuk segera membawa calon istri ke rumah demi suksesi perusahaan. Daripada aku menikahi wanita ular pilihan ibu tiriku, lebih baik aku membawa ‘Anak Iblis’ yang bisa melindungiku dari mereka, kan?”
Aku menatap tangan kami yang bertautan, lalu menatap wajah tampannya yang luar biasa itu. Pikiranku berputar cepat. Skenario pertama: pulang ke desa, dinikahkan dengan Mang Berting, lalu menghabiskan sisa hidupku memandikan ayam aduan ayahku. Skenario kedua: pergi ke Manila, menjadi istri pura-pura dari seorang miliarder tampan, dan menghancurkan siapa saja yang berani mencari masalah dengannya.
Pilihan yang sangat mudah bagi seorang Luzviminda Dimalanta.
Aku menarik tanganku dari genggamannya, lalu memukul setir van dengan penuh semangat hingga klaksonnya berbunyi nyaring.
“Oke, Deal! Pasang sabuk pengamanmu, Ethan,” aku menyeringai berbahaya, menginjak gas hingga van itu melesat bagai peluru menuju ibu kota. “Mari kita lihat bagaimana reaksi orang-orang kaya di Manila saat melihat menantu baru mereka bisa mencabut bulu angsa dan mematahkan tulang bajingan dalam waktu dua menit!”