Permohonan Seorang Anak Yatim
Malam itu gelap, dingin, dan hujan badai mengguyur tanpa henti. Di sebuah gubuk reyot di bawah jembatan kota Jakarta, seorang gadis 12 tahun bernama Maya menangis sambil memeluk erat adik laki-lakinya yang baru berusia tiga bulan, Leo. Tubuh bayi itu semakin pucat, suaranya serak karena sudah tiga hari tidak minum susu.
Baru tadi malam ibu mereka meninggal akibat pneumonia parah. Mereka bahkan tidak punya uang untuk pemakaman, apalagi makanan.
Dalam keputusasaan, Maya mengambil ponsel keypad lama milik ibunya. Masih tersisa sedikit pulsa. Dengan tangan gemetar dan mata kabur oleh air mata, ia memutuskan mengirim pesan kepada Tante Minda—kakak ibunya yang kaya raya, pemilik supermarket besar yang sudah lama membuang mereka dari hidupnya.
Maya mengetik:
“Tante Minda… tolong kami… cuma Rp300 ribu untuk beli susu Leo. Mama meninggal tadi malam. Saya rela jadi pembantu seumur hidup asal adik saya jangan sampai mati kelaparan…”
Ia lalu menekan tombol Kirim.
Namun karena layar ponselnya retak dan jemarinya terus gemetar, satu angka di nomor tujuan salah ketik.
Miliarder Berhati Besi
Di lantai paling atas Sterling Empire Tower, sedang berlangsung rapat bisnis bernilai triliunan rupiah. Duduk di kursi utama adalah Alexander Sterling, CEO berusia 45 tahun yang dijuluki “Raja Besi” karena terkenal dingin dan tak punya belas kasihan dalam dunia bisnis.
Delapan tahun lalu, ia kehilangan istri dan anaknya dalam kecelakaan tragis. Sejak saat itu, hatinya berubah menjadi dingin dan mati rasa.
Saat sedang menandatangani kontrak merger besar, ponsel pribadinya tiba-tiba bergetar. Hanya sedikit orang yang mengetahui nomor itu.

Alexander mengernyit lalu membaca pesan yang masuk.
“Mama meninggal tadi malam… Saya rela jadi pembantu seumur hidup asal adik saya jangan sampai mati kelaparan…”
Dadanya seperti dihantam sesuatu.
Kalimat itu mengingatkannya pada pesan terakhir anaknya sebelum terjebak di dalam mobil yang terbakar bertahun-tahun lalu.
Alexander langsung berdiri.
“Sir? Apakah ada masalah dengan kontraknya?” tanya salah satu investor asing dengan gugup.
“Batalkan rapatnya. Saya harus pergi sekarang.”
Suara Alexander menggema dingin di seluruh ruangan. Semua direktur terdiam shock melihat pria tanpa hati itu tiba-tiba meninggalkan rapat terpenting tahun ini.
Sambil berjalan cepat di lorong gedung, Alexander membalas pesan tersebut:
“Kalian ada di mana?”