Ibu menoleh dan tersenyum tipis. “Sudah bangun, Nak?”
“Baru bangun,” jawabku sambil duduk. Suaraku masih serak oleh sisa kantuk. Semalaman aku resah, tak bisa memejamkan mata setelah pulang dari rumah Bi Nura. “Ibu sedang apa?”
“Berkemas,” jawabnya singkat, tangannya kembali sibuk menyusun baju ke dalam koper.
“Berkemas?” ulangku, memastikan pendengaranku tak salah.
“Iya, Nak.” Ibu berhenti sejenak, lalu menutup koper itu perlahan, seakan keputusan ini sudah dipikirkan matang-matang. “Sebaiknya kita keluar dari rumah ini. Walaupun pemilik barunya mengizinkan kita tetap tinggal di sini. Ibu masih punya uang. Cukup untuk mengontrak rumah, yang penting kita punya tempat sendiri.”
Aku ingin menunjukkan sesuatu pada Ibu, tapi niatku tertahan. Aku takut Ibu terkejut saat tahu kenyataannya—bahwa saudara-saudaranya bukan hanya merebut rumah kami, tapi juga bersekongkol dengan kejam.
“Nanti uang bagian penjualan rumah ini bisa kita pakai buat beli rumah atau kebun,” ucap Ibu.
Aku tersenyum pahit. Aku sudah tahu, uang itu tak akan pernah sampai.
“Aku mau keluar dulu. Mau bertemu teman.”
Ibu tersenyum, “Iya, pergilah. Hati-hati di jalan.”
Aku bangkit dari ranjang, melangkah keluar kamar dengan perasaan campur aduk.
“Alita, mau ke mana?” tanya Ayah saat aku sudah bersiap melangkah ke luar rumah.
“Mau keluar sebentar, Yah. Ada urusan sama teman,” jawabku.
Ayah tidak diam. Lalu duduk di kursi kayu dekat pintu.
“Ayah habis dari mana?” tanyaku, meski jawabannya sudah bisa kutebak.
Ayah menghela napas panjang. “Ayah habis bertemu pamanmu,” ucapnya lirih. “Ayah menagih uang bagian kita. Kata ibumu pemilik baru rumah ini sudah mentransfer tiga ratus juta. Tapi Bibi dan pamanmu bilang uangnya belum masuk.”
Aku mengepalkan tangan di balik tas yang kugenggam. Dalam hati aku ingin tertawa getir—kebohongan itu sudah kuduga sejak awal.
“Ayah curiga, Nak,” lanjut ayah dengan suara bergetar. “Ayah takut kita cuma dipermainkan.”
Aku melangkah mendekat, menahan amarah yang mendidih di dada. “Kita memang sedang dipermainkan, Yah,” kataku pelan.
Ayah menatapku dengan wajah terkejut.
“Mereka memang tak pernah berniat membaginya sejak awal. Jadi, jangan lagi berharap pada orang-orang yang sudah dikuasai keserakahan itu, Yah,” lanjutku tegas.
“Sekarang Ayah masuk dan istirahat saja. Jangan terlalu banyak pikiran, nanti Ayah bisa jatuh sakit.”
Ayah mengangguk lirih, lalu bangkit dan melangkah masuk ke dalam rumah.
“Baru lamaran saja acaranya sudah semeriah itu. Gimana nanti kalau nikah, ya?”
Aku sudah mengenakan helm, talinya bahkan belum sempat kukaitkan sempurna, tapi telingaku terlanjur menangkap suara ibu-ibu yang baru saja pulang dari rumah Bi Nura. Dari arah tawa mereka, aku tahu betul topik yang sedang mereka bahas.

Aku sengaja memalingkan wajah. Pura-pura sibuk mengatur spion motor, berharap mereka tak menyadari keberadaanku.
“Eh, itu Alita!” seru salah satu dari mereka. “Yuk, kita samperin.”
Aku menghela napas pelan saat suara langkah kaki mendekat. Bau minyak rambut dan parfum menyengat bercampur jadi satu.
Bu Ika, tetanggaku yang paling rajin mengumpulkan kabar orang lain, berdiri tepat di samping motorku.
“Alita, ibu kamu nggak datang ke acara lamarannya Namira?” tanyanya sambil mencondongkan badan, matanya menyelidik. “Tadi nggak kelihatan. Padahal biasanya ibumu selalu ada kalau ada acara-acara begini.”
Aku tersenyum tipis, senyum aman yang biasa kupakai untuk menutup percakapan yang tak ingin kupanjangkan.
“Ibu lagi nggak enak badan, Bu,” jawabku singkat, sekenanya.
“Yah, sayang banget,” sahut Bu Ika cepat. “Rugi lho nggak datang. Acaranya meriah. Tamu banyak, makanannya lengkap.”
Ia lalu mengangkat sesuatu dari dalam tas plastiknya—sebuah panci baru yang masih mengilap. “Nih, setiap yang datang dapat panci. Lumayan, kan?”
Beberapa ibu lain ikut mengangguk, seolah panci itu adalah bukti kesuksesan acara lamaran tersebut.
Aku melirik sekilas, lalu kembali fokus ke motorku. “Kalau panci sih, sudah punya banyak di dapur,” kataku santai. “Jadi nggak rugi-rugi amat kalau nggak datang.”
Tanganku memutar kunci kontak. Mesin motor mulai menyala pelan, tapi rupanya itu belum cukup untuk menghentikan sesi tanya-jawab yang tak diundang.
“Kamu kapan nyusul, Lit?” suara Bu Diah menyela. Julidnya sudah seperti merek dagang, terkenal seantero kampung.
Ia menyipitkan mata, senyum tipisnya penuh arti. “Usiamu itu sudah mau kepala tiga, lho. Mumpung orang tua masih ada. Jangan kebanyakan milih.”
Ada jeda sepersekian detik. Aku menoleh perlahan ke arah Bu Diah.
“Saya nyusul kok, Bu,” ucapku, ramah. “Tinggal nunggu suami Bu Diah lamar saya.”
Beberapa ibu-ibu langsung terdiam.
Aku melanjutkan, masih dengan nada tenang yang sama, “Coba ditanyain suaminya, kapan mau lamar saya. Biar saya bisa siap-siap nunggu di rumah.”
Hening sekejap. Wajah Bu Diah menegang, senyumnya lenyap seketika. Tanpa menunggu reaksi lebih jauh, aku menarik gas motor dan melaju pergi.
Di belakangku, suara melengking terdengar jelas, kalah oleh deru mesin.
“Kurang ajar itu anak! Pantesan belum nikah-nikah!”
Aku tertawa geli melihat Bu Diah masih marah-marah lewat kaca spion. Mulutnya terus bergerak, tangannya melambai-lambai, tapi semua omelannya sudah kalah oleh deru mesin motorku.
Motorku melaju pelan saat melewati rumah Bi Nura. Beberapa ibu-ibu masih berkerumun mengantre panci dan serempak menoleh saat aku lewat. Di antara mereka ada Tante Wati, yang menatapku tanpa senyum. Aku pura-pura tak melihat.
Aku mempercepat laju motor agar segera sampai ke tujuan.
Satu jam kemudian, aku tiba di sebuah kafe—tempatku akan bertemu dengan seseorang. Aku masuk dan mengedarkan pandangan ke seluruh sudut ruangan, tapi sosok itu belum terlihat.
Mungkin dia belum datang.
Aku memesan minuman kepada pelayan, lalu memilih duduk di kursi dekat jendela. Tanganku menyentuh permukaan meja yang dingin, sementara mataku sesekali melirik ke arah pintu kafe, menanti sosok yang kutunggu-tunggu.
“Maaf lama menunggu.”
Suara bariton itu terdengar jelas, membuatku mendongak seketika. Seorang pria berdiri di hadapanku, posturnya tegap. Ia kemudian duduk di kursi seberang dan melepaskan kacamata hitam yang menutupi matanya. Tatapannya tajam, tapi tidak mengintimidasi.
“Apa sudah lama menunggu?” tanyanya sambil meraih sandaran kursi, suaranya tenang dan terkontrol.
“Baru aja duduk,” jawabku jujur.
Ia mengangguk kecil. “Sudah pesan makanan dan minuman?”
“Sudah,” jawabku, lalu melanjutkan dengan nada sopan, “maaf mengganggu waktunya, Mas—”
“Panggil Abang Arkan,” potongnya ringan namun tegas.
Aku sempat mengernyit, merasa sedikit canggung dengan sebutan itu, tapi memilih mengangguk. Aku tak ingin memperpanjang hal sepele.
“Ada sesuatu yang ingin saya perlihatkan,” ucapku kemudian. Aku mengambil ponsel dari dalam tas kecil dan membuka file yang sudah kusiapkan sejak tadi malam.