Posted in

SEORANG PEMUDA SELALU PULANG MENJELANG SUBUH DENGAN TANGAN PENUH OLI DAN GEMUK. AYAHNYA MARAH BESAR KARENA MENGIRA ANAKNYA IKUT BALAP LIAR ATAU MEMAKAI NARKOBA KARENA SELALU TERLIHAT KELELAHAN. SUATU MALAM, SANG AYAH MENGIKUTI ANAKNYA

SEORANG PEMUDA SELALU PULANG MENJELANG SUBUH DENGAN TANGAN PENUH OLI DAN GEMUK. AYAHNYA MARAH BESAR KARENA MENGIRA ANAKNYA IKUT BALAP LIAR ATAU MEMAKAI NARKOBA KARENA SELALU TERLIHAT KELELAHAN. SUATU MALAM, SANG AYAH MENGIKUTI ANAKNYA

Pukul tiga dini hari.

Pintu rumah terbuka. Adrian, 25 tahun, masuk ke dalam. Kaosnya penuh noda hitam. Kukunya menghitam karena oli dan gemuk. Tubuhnya berbau campuran bensin dan keringat.

Di ruang tamu, Mang Victor—ayahnya—sudah duduk dengan tangan bersedekap. Wajahnya gelap menahan marah.

“Kamu dari mana?” bentak Victor.

Adrian berhenti melangkah.
“Dari… kerja tambahan saja, Yah.”

“Kerja?! Jam tiga pagi?!” Victor berdiri. “Adrian, jangan bohongi Ayah! Lihat penampilanmu! Seperti habis berkelahi! Sebenarnya kamu ngapain? Balap liar? Atau jangan-jangan pakai narkoba?!”

“Yah, bukan begitu—”

“Sudah berapa malam kamu begini! Selalu begadang, selalu capek, selalu tidak ada di rumah! Kamu sedang menghancurkan hidupmu!”

Adrian tidak menjawab lagi. Ia hanya menunduk lalu masuk ke kamar.

Hati Victor dipenuhi amarah dan kecewa. Menurutnya, anaknya mulai kehilangan arah sejak istrinya, Rosa, meninggal sepuluh tahun lalu.

Keesokan harinya, malam sebelum ulang tahun Victor yang ke-60.

Pukul sebelas malam, Adrian keluar lagi secara diam-diam.

Namun kali ini Victor sudah siap. Ia mengambil kunci becak motornya lalu diam-diam mengikuti sang anak.

Victor melihat Adrian mengendarai motor menuju kampung sebelah. Pemuda itu masuk ke sebuah gang gelap dan sepi, tempat sebuah bengkel tua berdiri.

Victor berhenti agak jauh. Ia melihat Adrian masuk ke dalam bengkel.

“Nah kan,” pikir Victor. “Pasti tempat motor curian… atau sarang narkoba!”

Victor mengambil pipa besi dari becak motornya. Ia berniat menyeret pulang anaknya sebelum polisi menangkapnya.

Pelan-pelan ia mendekati gerbang bengkel dan mengintip dari celah pagar.

Di tengah bengkel yang gelap, hanya ada satu lampu menyala.

Adrian ada di sana. Tubuhnya berada di bawah sebuah mobil tua. Ia memukul sesuatu. Mengencangkan baut.

Victor menatap kendaraan itu.

Sebuah Jeep Owner tua. Berwarna biru. Sudah berkarat, tapi bagian kapnya terlihat baru dicat.

Mata Victor langsung membesar. Tangannya memegang dada.

Di sisi jeep itu tertulis sebuah nama:

“ROSA.”

Kenangan lama langsung menghantam pikirannya.

Itu jeep miliknya. Jeep yang ia beli dengan tabungan masa mudanya. Jeep yang dipakai saat menikahi Rosa. Jeep yang menemani masa kecil Adrian.

Sepuluh tahun lalu, saat Rosa terkena kanker, Victor menjual jeep itu dengan berat hati demi biaya rumah sakit. Namun meski jeep itu sudah dijual, Rosa tetap meninggal dunia. Kendaraan itu menjadi kenangan terakhir dari keluarga kecil mereka yang bahagia.

Victor mendengar Adrian berbicara sambil mengelap mesin jeep itu.

“Sedikit lagi ya, Rosa,” bisik Adrian pada jeep itu. “Besok ulang tahun Ayah. Aku harus membuat Ayah mendengar suara mesinnya lagi. Ayah sangat merindukanmu.”

Saat itulah hati Victor runtuh. Pipa besi di tangannya terlepas.

CLANG!

Adrian langsung menoleh.
“Siapa itu?!”

Victor keluar dari balik kegelapan. Air matanya mengalir.

“Y-Yah?” kata Adrian kaget. “Kenapa… Ayah ada di sini?”

Victor mendekati jeep itu. Tangannya menyentuh nama Rosa dengan gemetar.

“Adrian…” suara Victor serak menahan tangis. “Jadi ini? Ini yang kamu datangi setiap malam?”

Adrian mengangguk. Wajahnya penuh noda oli dan gemuk.

Adrian tersenyum tipis, sebuah senyuman lelah namun penuh ketulusan.

“Maafkan aku, Yah. Aku harus berbohong dan pulang larut malam selama berbulan-bulan ini,” kata Adrian sambil mengusap keringat di dahinya, meninggalkan bekas hitam baru di wajahnya.

“Aku tidak ikut balap liar, apalagi narkoba. Tiga tahun lalu, aku tidak sengaja melihat jeep ini terbengkalai di sebuah gudang rongsokan di pinggir kota. Pemilik barunya sudah menelantarkannya karena mesinnya mati total. Sejak hari itu, aku bertekad untuk membelinya kembali dan memperbaikinya secara diam-diam.”

Adrian berjalan mendekati ayahnya, lalu menyerahkan sebuah kunci usang berkepala logam yang sangat dikenal oleh Victor.

“Uang tabunganku hanya cukup untuk menebus rongsokannya, Yah. Aku tidak punya uang lagi untuk membayar montir. Jadi, aku bekerja paruh waktu di bengkel ini setiap malam, bertukar sandang dan ilmu dengan pemilik bengkel agar aku diizinkan memakai peralatannya dan memperbaiki jeep ini sendiri.”

Victor menatap kunci di tangannya, lalu beralih menatap tubuh anaknya yang kurus dan kelelahan. Rasa bersalah yang teramat besar menghujam dada sang ayah. Ia ingat betul bagaimana ia telah memaki, menuduh, dan menyumpahi anak laki-lakinya itu dengan kata-kata kasar. Padahal, pemuda yang ia cap sebagai “perusak hidup” itu justru sedang mengorbankan waktu tidur dan tenaganya demi mengembalikan kebahagiaan ayahnya yang telah lama mati.

“Adrian… maafkan Ayah…” bisik Victor, suaranya pecah oleh tangis yang tak lagi bisa ditahan. Ia merengkuh tubuh Adrian ke dalam pelukannya.

Victor tidak peduli lagi dengan noda oli, gemuk, atau bau bensin yang kini berpindah ke bajunya. Di dalam pelukan itu, ia hanya merasakan detak jantung putranya yang begitu menyayangi dirinya.

“Ayah tidak salah, aku yang salah karena tidak jujur,” ucap Adrian lirih, membalas pelukan hangat ayahnya.

Setelah pelukan mereka terurai, Adrian menepuk kap mobil tua itu dengan bangga. “Nah, karena Ayah sudah ada di sini… bagaimana kalau kita rayakan ulang tahun Ayah yang ke-60 sekarang? Tepat di jam dua belas malam.”

Adrian masuk ke dalam kursi kemudi. Ia memasukkan kunci, lalu memutarnya.

Uhuk… Oroooommm!

Suara deru mesin Jeep tua itu menggelegar, membelah kesunyian malam di dalam bengkel. Suaranya terdengar begitu bulat, halus, dan bertenaga—persis seperti sepuluh tahun yang lalu.

Mendengar suara itu, Victor menutup wajahnya dengan kedua tangan, menangis sejadi-jadinya. Di dalam deru mesin jeep tersebut, ia seolah mendengar kembali tawa mendiang istrinya, Rosa.

Malam itu, di sebuah bengkel tua yang remang-remang, tidak ada lagi amarah yang tersisa. Hanya ada seorang ayah yang mendapatkan kembali kenangan terindahnya, dan seorang anak yang berhasil memberikan hadiah ulang tahun terbaik sepanjang hidup ayahnya: sebuah bukti cinta yang tak lekang oleh waktu.