“JANGAN MASUK, PAK! PACAR BAPAK SUDAH MENYIAPKAN JEBAKAN DI DALAM!”
Aku menginjak rem mobilku dengan mendadak. Namaku Reza, seorang CEO miliarder. Hari itu, aku sedang dalam perjalanan pulang ke vila pribadiku di Puncak untuk memberi kejutan bagi tunanganku, Vanessa, sambil membawa dokumen pendaftaran pernikahan kami.
Namun, tepat di depan gerbang tinggi mansion tersebut, seorang bocah laki-laki berpakaian dekil menghadang jalanku. Dia adalah Baim, anak jalanan yang sering aku beri makan setiap kali aku lewat di daerah ini.
Tubuhnya basah kuyup oleh keringat, gemetar, dan ada luka gores di lengannya karena berlari kencang. “Pak Reza, demi Tuhan jangan masuk! Saya dengar Mbak Vanessa sedang bersama seorang pria di dalam. Mereka menaruh racun di minuman Bapak dan ada orang-orang bersenjata di balik pintu! Mereka berencana memaksa Bapak menandatangani surat-surat sebelum menghabisi Bapak!”

Jantungku berdegup kencang. Vanessa? Wanita yang rencananya akan kuberikan setengah dari kekayaanku dan satu-satunya orang yang sangat kucintai?
Sempat terlintas di pikiranku bahwa anak ini mungkin hanya mengarang cerita, tapi aku melihat ketakutan yang luar biasa di matanya. Saat aku mencoba mengintip jendela mansion secara diam-diam dari kejauhan, aku melihat bayangan seorang pria memegang pistol yang sedang berjaga tepat di balik pintu utama…
Darahku terasa membeku. Bayangan hitam dengan moncong senjata di balik kaca samar itu menghancurkan seluruh dunia yang telah kubangun bersama Vanessa. Dokumen pendaftaran pernikahan di kursi penumpang yang tadinya adalah simbol masa depan, kini terasa seperti surat kematianku sendiri.
“Baim, masuk ke mobil sekarang,” bisikku dengan suara tertahan, membuka kunci pintu.
Anak itu segera melompat ke kursi samping, napasnya masih memburu. Aku memutar kemudi, memundurkan mobil dengan senyap sebelum menginjak gas sedalam-dalamnya, meninggalkan gerbang vila terkutuk itu.
Otak bisnisku yang biasanya dingin kini berputar cepat mengalahkan rasa sakit di dadaku. Sebagai CEO, aku tidak boleh panik. Aku segera menghubungi kepala keamananku, mantan komando pasukan khusus bernama mpo Darma.
“Darma, kepung vila Puncak sekarang. Bawa tim penuh dan polisi. Ada penyusupan bersenjata. Vanessa… terlibat,” perintahku, suaraku bergetar di kata terakhir.
Satu jam kemudian, aku berdiri di bawah guyuran hujan yang mulai turun, menyaksikan dari kejauhan saat tim keamanan Darma dan pihak kepolisian mendobrak masuk. Suara tembakan terdengar beberapa kali, disusul jeritan histeris yang sangat kukenali.
Itu suara Vanessa.
Ketika aku melangkah masuk ke dalam ruang tamu vilaku yang mewah, keadaannya sudah porak-poranda. Dua pria berbadan besar bertato sudah diborgol di lantai. Di sudut ruangan, seorang pria klimis berjas mahal—yang kukenali sebagai pengacara pribadi Vanessa—juga sedang dipaksa berlutut.
Dan di sana, di tengah ruangan, Vanessa berdiri dengan tangan terikat. Wajah cantiknya yang biasa memancarkan kelembutan kini pucat pasi, dipenuhi air mata kepanikan. Di atas meja kaca, sebuah gelas berisi minuman berwarna pekat dan tumpukan surat pengalihan aset perusahaan sudah tersaji rapi.
“Reza! Sayang! Ini salah paham!” jerit Vanessa begitu melihatku. “Pria-pria ini… mereka memaksaku! Aku diancam, Reza!”
Aku berjalan mendekat, menatapnya dengan tatapan paling dingin yang pernah kumiliki. Aku mengambil surat pengalihan aset di atas meja. Di sana, nama Vanessa sudah tertera sebagai penerima kuasa penuh jika terjadi “kecelakaan maut” pada diriku.
“Diancam, Vanessa? Tapi namamu sudah diketik rapi di sini bahkan sebelum aku sampai,” kataku dengan suara berbisik, namun tajam bagai pisau. “Aku kemari untuk membawakan dokumen pernikahan kita. Aku berniat membagikan hidup dan hartaku bersamamu secara sukarela. Tapi kau… kau justru menginginkan nyawaku.”
Vanessa terbungkam. Kedoknya runtuh total. Tatapan matanya berubah dari penuh tangis menjadi kebencian yang mendalam. “Kamu terlalu pelit, Reza! Menunggu dinikahi bertahun-tahun sementara aku tahu kamu punya miliaran! Aku tidak mau menunggu lebih lama lagi!”
Aku berbalik, tidak sudi lagi melihat wanita yang hampir menghancurkan hidupku. “Bawa mereka semua,” perintahku pada polisi.
Malam itu, di dalam mobil dalam perjalanan kembali ke Jakarta, suasana menjadi hening. Aku melirik ke kursi belakang melalui spion tengah. Baim sudah tertidur pulas dengan selimut tebal yang kuberikan, perutnya kenyang setelah kuhadiahi makan malam termewah yang bisa kubeli di daerah Puncak.
Tangannya yang kecil masih memegang erat mainan robot yang kubelikan di minimarket tadi.
Aku mengembuskan napas panjang, mencengkeram kemudi dengan erat. Hari ini aku kehilangan wanita yang kucintai, dan aku sadar bahwa dikelilingi oleh harta miliaran tidak menjamin keselamatan ataupun ketulusan.
Namun, melihat bocah jalanan yang sedang tertidur lelap itu, aku tersenyum tipis. Aku kehilangan seorang pengkhianat, tetapi aku menemukan sebuah ketulusan yang sesungguhnya. Mulai besok, hidup Baim tidak akan pernah sama lagi. Dia tidak akan lagi kelaparan di jalanan, karena dia baru saja menyelamatkan seorang miliarder—dan miliarder ini tahu persis bagaimana cara membalas budi.