Laila menunduk, napasnya terasa berat, ada sesuatu yang kembali menyeruak dari dalam ingatannya yang paling dalam. Wajahnya terangkat lalu tatapannya lurus jauh ke depan.
“Oek… oek… lekk…”
Terdengar suara tangisan bayi.
Laila langsung tersentak dan terbangun. Matanya terbuka lebar, napasnya sedikit memburu. Ia menatap ke sebelah, kosong. Suaminya belum pulang dari melaut, suaminya Nelayan.
Ia pun terdiam beberapa detik di atas kasur, mencoba memastikan apa yang baru saja ia dengar.
Lalu, tangisan itu kembali terdengar jelas.
Dan… itu berasal dari luar rumah.
Laila perlahan duduk di atas kasur. Pandangannya beralih ke arah dinding, tepat ke jam yang tergantung di sana.
Pukul sebelas lewat lima menit, malam.
Tangisan itu masih terus ada. Tidak terlalu keras, tetapi cukup untuk membuat bulu kuduknya meremang.
Tanpa membuang waktu, Laila turun dari kasur dan berjalan keluar dari kamarnya. Langkahnya pelan, hati-hati, namun ada rasa gelisah yang mendorongnya untuk terus bergerak.
Semakin ia berjalan menuju depan rumah, suara tangisan itu semakin dekat. Semakin jelas. Seolah memang memanggilnya.
Hingga saat ia hampir mencapai pintu depan—
Tok… tok… tok…
Terdengar ketukan dari pintu depan disusul suara seorang pria dari luar.
“Laila… buka pintunya. Ini aku.”
Laila langsung berhenti.
Itu suara suaminya. Dharmawangsa.
Namun ia tidak langsung membuka pintu. Dengan hati-hati, ia melangkah ke samping dan mengintip melalui jendela kecil di dekat pintu.
Dan benar, di luar sana berdiri Dharmawangsa Wajahnya tampak lelah, pakaiannya sedikit basah, dan di dalam gendongannya ada kotak kardus yang di dalamnya ada seorang bayi kecil yang terus menangis.
Laila pun segera membuka pintu.
Namun begitu pintu terbuka, pandangannya tidak langsung tertuju pada Dharmawangsa. Matanya justru terpaku pada bayi yang ada dalam gendongan suaminya.
Tangisannya masih pecah, tubuh kecilnya bergerak gelisah, seolah ketakutan.
Laila bingung, jelas sekali kebingungan itu terlihat di wajahnya. Namun ia tetap mempersilakan Dharmawangsa masuk.
Mereka pun masuk ke dalam rumah.
Dharmawangsa berjalan ke arah sofa, lalu dengan hati-hati meletakkan bayi itu di atasnya. Tangisan itu masih terdengar, memenuhi ruangan yang sebelumnya sunyi.
“Tolong ambilkan aku minum,” ujar Dharmawangsa pelan.
Laila mengangguk tanpa berkata apa-apa. Ia berbalik menuju dapur, lalu kembali beberapa saat kemudian dengan segelas air.
Dharmawangsa mengambilnya dan langsung meminum air itu dengan cepat, seolah tenggorokannya sangat kering.

Laila berdiri di depannya, sejak tadi menahan pertanyaan yang terus berputar di kepalanya.
Begitu Dharmawangsa selesai minum, Laila tidak bisa menahannya lagi.
“Anak siapa ini, Mas?” tanyanya pelan.
Dharmawangsa tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap bayi itu, tatapannya berubah menjadi sendu, seperti menyimpan sesuatu yang berat.
Laila mengernyit.
“Mas… aku tanya,” katanya lagi, kali ini lebih tegas. “Jangan bilang ini anakmu. Kau menduakan aku?”
Dharmawangsa langsung menggeleng cepat.
“Tidak,” jawabnya. “Aku menemukan bayi ini di gubuk… di kampung sebelah. Di ujung kampung, dekat pantai.”
Laila terdiam.
Perasaan heran dan kaget bercampur jadi satu.
“Bagaimana bisa?” tanyanya.
Dharmawangsa menarik napas panjang, lalu mulai bercerita dengan perlahan.
“Tadi arus laut terlalu deras,” ujarnya. “Perahuku terbawa sampai ke kampung sebelah. Aku tidak bisa melawan arus, jadi aku terpaksa menepi di sana, menunggu air kembali tenang.”
Ia berhenti sejenak, seolah mengingat kembali setiap detail kejadian itu.
“Waktu aku menunggu… aku dengar tangisan bayi,” lanjutnya. “Awalnya aku kira salah dengar. Tapi suaranya terus ada.”
Laila memperhatikan dengan serius.
“Aku ikuti suara itu… sampai ke sebuah gubuk,” katanya lagi. “Aku sempat memanggil… berteriak… mungkin ada orang di dalam. Tapi tidak ada jawaban.”
Ia menunduk sedikit.
“Waktu aku masuk… bayi ini ada di sana. Sendirian. Tergeletak di lantai.”
Laila menutup mulutnya pelan, terkejut.
“Aku cari ke sekitar… mungkin ibunya atau siapa pun. Tapi tidak ada siapa-siapa,” lanjut Dharmawangsa. “Aku tunggu… lama. Tapi tidak ada yang datang.”
Suasana hening sejenak.
“Aku tidak tega meninggalkannya,” katanya pelan. “Makanya aku bawa pulang.”
Laila menatap bayi itu lagi.
“Kalau begitu… besok kita cari orang tuanya,” ucapnya. “Kita kembalikan dia. Mungkin saja mereka tidak sengaja meninggalkannya.”
Namun Dharmawangsa langsung menggeleng.
“Tidak,” katanya cepat.
Nada suaranya berubah lebih tegas.
“Aku melihat jejak darah di dekat gubuk itu,” lanjutnya. “Aku pikir… sesuatu yang buruk sedang terjadi. Mungkin ada yang ingin membunuh bayi ini.”
Laila terdiam.
Perkataan suaminya membuat suasana semakin berat.