Aroma gulai kambing dan sambal goreng ati menyeruak dari dapur rumah joglo yang asri di pinggiran desa itu. Hanum, wanita berusia 27 tahun dengan paras ayu yang dibalut kesederhanaan, nampak sibuk menata piring-piring porselen di meja panjang. Peluhnya menetes, namun senyumnya tak luntur. Hari ini adalah hari yang paling ia tunggu selama lima tahun terakhir.
”Nduk, istirahat dulu. Biar Ibu yang teruskan menata buahnya,” ucap Bu Rahmi, ibu kandung Hanum, sambil menatap putrinya dengan rasa iba sekaligus bangga.
Hanum menyeka keringat dengan ujung celemeknya. “Tidak apa-apa, Bu. Hanum ingin semuanya sempurna. Mas Aris sudah berjuang lima tahun di Jakarta untuk melunasi hutang-hutang peninggalan almarhum Bapak mertua. Dia pulang sebagai pemenang, Bu. Hanum harus menyambutnya seperti raja.”
Lima tahun. Bukan waktu yang singkat bagi Hanum untuk hidup dalam kesendirian dan gunjingan tetangga. Selama Aris merantau, Hanum bekerja banting tulang; mulai dari menerima pesanan kue subuh, menjahit seragam sekolah, hingga berkebun di lahan sempit belakang rumah. Setiap sen yang ia hasilkan, sebagian besar ia kirimkan ke Jakarta untuk membantu biaya hidup Aris agar suaminya itu bisa menabung lebih banyak untuk melunasi hutang keluarga mereka.
Kini, hutang itu sudah lunas. Kabarnya, Aris sukses besar dalam sebuah proyek pembangunan apartemen mewah.
”Aris datang! Mobilnya sudah masuk gang!” teriak salah seorang tetangga dari depan rumah.
Jantung Hanum berdegup kencang. Ia segera merapikan hijabnya dan berlari kecil menuju teras. Di sana, para tetangga sudah berkumpul. Sebuah karpet merah panjang yang sengaja disewa Hanum dari jasa dekorasi pernikahan membentang dari pagar hingga pintu utama. Ini adalah kejutan kecil untuk menghormati suaminya.
Sebuah mobil SUV hitam mengkilap—jenis yang hanya pernah dilihat warga desa di televisi—berhenti tepat di depan gerbang. Kaca filmnya yang gelap membuat suasana makin penasaran. Pintu kemudi terbuka, dan keluarlah Aris. Ia nampak jauh lebih muda, kulitnya bersih, mengenakan kemeja slim-fit dan kacamata hitam yang mahal.
”Mas Aris!” Hanum hendak menghambur memeluk suaminya, namun langkahnya terhenti.
Aris tidak segera menyambut Hanum. Ia justru berputar ke arah pintu penumpang sebelah kiri dan membukanya dengan sangat hati-hati, seolah-olah sedang membawa barang pecah belah yang sangat berharga.
Dari dalam mobil, muncullah seorang wanita muda. Rambutnya pirang kecokelatan yang tertata rapi, wajahnya penuh riasan glowing khas kota besar, dan ia mengenakan gaun hamil berbahan brokat yang menonjolkan perutnya yang sudah membuncit sekitar lima bulan. Wanita itu memegang lengan Aris dengan manja, wajahnya nampak jijik saat melihat debu di sekitar jalanan desa.
Suasana yang tadinya riuh dengan sorak-sorai mendadak hening seketika. Para tetangga saling lirik. Bu Rahmi yang berdiri di belakang Hanum menutup mulutnya dengan tangan, gemetar.
”Mas… siapa ini?” suara Hanum hampir tidak terdengar, tercekat di tenggorokan yang tiba-tiba kering.
Aris berdehem, memperbaiki kerah kemejanya, lalu menatap Hanum dengan tatapan yang tidak lagi hangat—tatapan yang penuh dengan rasa bersalah yang ditutupi oleh keangkuhan.
”Hanum, kenalkan. Ini Sheila,” ucap Aris dengan suara lantang, sengaja agar didengar oleh para tetangga. “Sheila adalah istri keduaku. Dia sedang mengandung anak laki-lakiku. Aku membawanya pulang karena dia sebatang kara di Jakarta dan butuh perawatan yang lebih baik di udara desa yang segar.”
Brak!
Piring berisi jeruk yang dipegang Bu Rahmi jatuh ke lantai, hancur berkeping-keping. Persis seperti hati Hanum saat itu juga.
”Istri… kedua?” Hanum mengulang kata itu seolah itu adalah bahasa asing yang paling menyakitkan. “Mas, apa maksudnya? Selama lima tahun aku menunggu, aku kirimkan uang tabunganku, aku bayar cicilan hutangmu di sini… dan kamu pulang membawa istri baru yang sedang hamil?”
Sheila, sang wanita kota itu, mengibaskan tangannya ke depan wajah, seolah menghalau bau yang tidak sedap. “Aduh, Sayang… ini yang namanya Hanum? Kok penampilannya begini? Lebih mirip pembantu daripada istri kontraktor sukses. Pantesan kamu betah lama-lama di Jakarta sama aku.”

Aris nampak kikuk, namun ia segera merangkul bahu Sheila. “Sudahlah, Hanum. Jangan bikin malu di depan tetangga. Aku sukses di Jakarta juga berkat doa dan dukungan Sheila. Dia yang menemani hari-hariku yang sulit di sana. Sekarang, tolong ambilkan koper-koper kami di bagasi. Sheila tidak boleh kelelahan.”
Hanum berdiri mematung di atas karpet merah yang ia sewa dengan uang hasil menjahit lembur selama dua minggu. Karpet itu kini terasa seperti darah yang tumpah dari jantungnya sendiri. Aris melangkah melewati Hanum begitu saja, menuntun Sheila masuk ke dalam rumah yang sudah dibersihkan Hanum hingga mengkilap.
”Aduh, Mas! Bau apa ini? Bau kambing? Aku nggak suka bau gulai!” teriak Sheila dari dalam rumah. “Dan ini sofa apa? Keras sekali! Aku mau sofa empuk seperti di apartemen kita!”
Hanum masih terdiam di teras. Para tetangga mulai berbisik-bisik.
“Kasihan ya si Hanum, sudah banting tulang malah dikhianati.”
“Itu istrinya cantik banget, pantesan suaminya lupa diri.”
“Hamil lagi, wah… Hanum kan belum punya anak juga sampai sekarang.”
Kata-kata itu menghujam telinga Hanum lebih tajam daripada belati. Namun, di tengah rasa sakit yang luar biasa, sebuah titik api kecil mulai menyala di sudut matanya yang memerah. Ia melihat mobil mewah itu. Ia melihat gaya sombong Aris.
Hanum menarik napas dalam-dalam. Ia tidak menangis meraung-raung seperti yang diharapkan Sheila. Ia menyeka air matanya dengan kasar, lalu berbalik arah. Ia melihat koper-koper besar di bagasi mobil yang masih terbuka.
”Hanum, Nduk… sabar, Nduk…” tangis Bu Rahmi memeluk putrinya.
”Ibu, jangan menangis,” ucap Hanum, suaranya kini terdengar dingin dan datar.
“Hanum sudah cukup bersabar selama lima tahun. Jika Mas Aris membawa ‘oleh-oleh’ istri baru, maka Hanum juga punya ‘kejutan’ untuk mereka.”
Hanum melangkah masuk ke rumah. Ia melihat Sheila sedang duduk di kursi jati kesayangan almarhum bapaknya, sementara Aris sedang sibuk mengipasinya dengan buku tabungan.
”Mana minumnya, Hanum? Sheila haus, dia mau jus jeruk dingin, jangan pakai gula pasir, pakai madu ya!” perintah Aris tanpa melihat wajah istrinya.
Hanum tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke mata. “Tentu, Mas. Jus jeruk pakai madu. Akan aku siapkan… spesial untuk tamu istimewamu.”
Hanum berjalan ke dapur. Ia tidak mengambil jeruk. Ia mengambil ponselnya yang sudah retak layarnya, lalu mengirimkan pesan singkat ke sebuah nomor yang ia simpan dengan nama ‘Pak Bagaskara – Kolektor Mobil’.
“Pak, mobil SUV hitam dengan plat B XXXX sudah ada di rumah saya. Silakan jemput unitnya sekarang sesuai perjanjian jika cicilannya menunggak tiga bulan.”
Hanum menyimpan kembali ponselnya. Ia mengambil gelas, namun bukannya mengisi dengan jus, ia hanya mengisi dengan air keran biasa.
”Selamat datang di neraka yang kamu buat sendiri, Mas Aris,” bisik Hanum pelan.
Ia melangkah kembali ke ruang tamu dengan wajah tenang. Perang domestik baru saja dimulai, dan Hanum tidak berencana untuk menjadi pihak yang kalah kali ini.