Posted in

MEREKA MENERTAWAKAN GAUN MURAH SANG PACAR DI PESTA TUNANGAN DI ATAS YACHT… BEBERAPA MENIT KEMUDIAN, SANG DESAINER DATANG KHUSUS UNTUKNYA

MEREKA MENERTAWAKAN GAUN MURAH SANG PACAR DI PESTA TUNANGAN DI ATAS YACHT… BEBERAPA MENIT KEMUDIAN, SANG DESAINER DATANG KHUSUS UNTUKNYA

Warna matahari terbenam tampak menyala di tengah Manila Bay pada Sabtu malam.

Yacht mewah putih itu bergerak perlahan sementara cahaya keemasan memantul di permukaan laut yang berombak.

Musik saxophone live terdengar di upper deck.

Ada menara champagne di dekat area bar.

Dan meja-meja panjang dipenuhi seafood impor, wine, serta rangkaian bunga saat para tamu satu per satu datang ke pesta pertunangan Lucas Madrigal dan Isabelle Torres.

Itu adalah acara sosial elite yang menjadi pembicaraan di kalangan bisnis Manila.

Lucas adalah putra keluarga pengusaha pelayaran Madrigal.

Keluarga kaya lama.

Berkuasa.

Dan dikenal memiliki koneksi besar di dunia bisnis negara itu.

Sementara Isabelle…

berasal dari keluarga sederhana.

Usianya dua puluh delapan tahun.

Pendiam.

Pekerja keras.

Dan dulunya seorang freelance graphic designer sebelum bertemu Lucas.

Mereka berpacaran selama tiga tahun sebelum pesta pertunangan itu digelar.

Dan meskipun Lucas mencintainya…

keluarganya tidak pernah benar-benar menerima Isabelle.

Bukan karena Isabelle orang jahat.

Tetapi karena dia dianggap tidak “cocok” dengan dunia keluarga Madrigal.

Saat Isabelle berjalan menuju upper deck…

dia menggenggam clutch kecilnya erat-erat sambil membenarkan gaun krem sederhana yang dipakainya.

Gaun itu bukan merek desainer.

Tidak mahal.

Dan bukan custom-made seperti gaun para wanita lain di yacht itu.

Dia membelinya dari hasil tabungan beberapa proyek freelance selama berbulan-bulan.

Awalnya…

dia bahkan ingin menolak pesta mewah itu.

Dia lebih suka makan malam keluarga yang sederhana.

Tetapi Lucas berkata:

“Aku ingin memperkenalkanmu dengan layak.”

Karena itulah dia ada di sana sekarang.

Di tengah orang-orang yang sejak awal sudah menunggu untuk melihat seberapa “tidak pantas” dirinya berada di tempat itu.

Saat dia mendekati area cocktail…

beberapa tamu mulai meliriknya.

Terutama teman-teman ibu Lucas.

“Dia tunangannya?”

“Sederhana sekali.”

“Ini pesta pertunangan di yacht, bukan?”

Bisik-bisik kecil langsung menyebar di sekitar.

Isabelle hanya diam sambil memaksakan senyum.

Dia sudah terbiasa dipandang seperti itu.

Sejak pertama kali Lucas memperkenalkannya pada keluarganya…

dia langsung merasakan bahwa mereka tidak menyukainya.

Terutama Veronica Madrigal.

Ibu Lucas.

Elegan.

Dingin.

Dan tipe wanita yang bisa membuatmu merasa rendah tanpa perlu meninggikan suara.

“Lucas pantas mendapatkan wanita yang lebih sophisticated.”

Itulah yang pernah dikatakannya saat dia pikir Isabelle tidak mendengar.

Semakin lama pesta berlangsung…

semakin berat perasaan Isabelle.

Semua wanita di sekitarnya memakai gaun desainer.

Memakai berlian.

Membawa tas mewah.

Sementara mereka sibuk minum champagne dan bersosialisasi…

Isabelle merasa dirinya semakin kecil di tengah mereka.

Di sisi lain yacht…

Veronica melihatnya bersama dua sahabat sosialitanya.

Setelah memandang Isabelle dari kepala hingga kaki…

dia tersenyum tipis.

“Kamu yakin itu yang ingin kamu pakai?”

…Veronica melangkah mendekat, gelas kristal berisi anggur putih bergoyang pelan di tangannya. Aroma parfum mahalnya langsung mendominasi udara, mencekik keberanian Isabelle yang tersisa.

“Maaf, Tante?” Isabelle merapikan ujung gaun kremnya yang mendadak terasa sekaku kertas koran di bawah lampu sorot deck.

“Gaun itu,” Veronica tertawa kecil, suara tawa yang halus namun tajam seperti belati. “Bahannya satin lokal, bukan? Jahitannya agak mengkerut di bagian dada, dan potongannya… oh, sayang sekali, membuatmu terlihat seperti pelayan yang salah memakai baju nyonyanya.”

Dua wanita sosialita di sebelah Veronica menutup mulut mereka, terkekeh geli.

“Veronica, jangan begitu,” sahut salah satu dari mereka, pura-pura bersimpati. “Mungkin dia tidak tahu kalau kode busana malam ini adalah Haute Couture. Lagipula, tidak semua orang punya akses ke perancang busana papan atas di Makati.”

Wajah Isabelle memerah padam. Dia menoleh ke sekeliling, mencari sosok Lucas. Namun, tunangannya itu sedang tertahan di lower deck, dikelilingi oleh para investor dan sang ayah yang sengaja menjauhkannya dari Isabelle. Isabelle sendirian di tengah serigala-serigala berbalut berlian.

“Aku membelinya dengan hasil kerjaku sendiri, Tante,” ucap Isabelle, mencoba mempertahankan harga dirinya meski suaranya sedikit bergetar.

“Dan itu sangat kentara, Isabelle,” balas Veronica dingin, menatapnya dari balik bulu mata palsunya. “Di dunia kami, kerja keras saja tidak cukup. Kamu harus memiliki kelas. Malam ini, kamu mempermalukan keluarga Madrigal di atas kapal kami sendiri.”

Tepat setelah kalimat kejam itu terlontar, sebuah kehebohan terjadi di dekat tangga pelabuhan yacht. Beberapa petugas keamanan kapal tampak membungkuk hormat, dan musik saxophone yang tadinya mendayu-dayu mendadak berhenti.

Sesosok pria berjalan menaiki dek. Dia mengenakan setelan jas hitam tanpa dasi yang dipotong dengan sangat sempurna, memancarkan aura otoritas yang mutlak. Langkah kakinya mantap, dan di belakangnya, dua orang asisten membawa sebuah manekin yang ditutupi kain beludru hitam.

Mata Veronica langsung melebar. “G-Gabriel Reyes? Kenapa dia bisa ada di sini?”

Tamu yang Tak Diundang

Gabriel Reyes. Desainer legendaris yang karyanya hanya bisa dipakai oleh keluarga kerajaan, kepala negara, dan segelintir miliarder dunia. Garis tunggunya bisa mencapai dua tahun, dan uang saja tidak cukup untuk membeli sehelai benang pun darinya. Dia adalah dewa di industri fashion modern.

Veronica segera memasang senyum terbaiknya, bersiap menyambut sang maestro. Dia mengira suaminya diam-diam menyewa Gabriel sebagai kejutan untuk pesta ini.

“Tuan Reyes! Kehormatan besar Anda bersedia hadir di—”

Namun, Gabriel meleewati Veronica begitu saja seolah wanita tua itu hanyalah udara kosong. Langkah kakinya berhenti tepat di depan Isabelle, yang masih berdiri mematung dengan mata yang berkaca-kaca.

Gabriel menatap Isabelle, lalu senyum tipis—senyum yang sangat jarang diperlihatkan kepada media—muncul di wajahnya yang tegas.

“Maaf aku terlambat, Isabelle,” suara Gabriel berat namun terdengar sangat lembut. “Kemacetan di sekitar pelabuhan Manila sangat parah. Tapi untungnya, gaunmu sudah selesai tepat waktu.”

Seluruh deck mendadak sunyi senyap. Angin laut bertiup, menerbangkan ujung rambut Isabelle.

“Tuan Reyes… Anda mengenalku?” bisik Isabelle bingung.

Gabriel tertawa kecil. “Tentu saja. Tiga bulan lalu, seorang pria muda bernama Lucas Madrigal datang ke studioku. Dia memohon, bahkan menawarkan setengah saham salah satu kapalnya, hanya agar aku bersedia merancang gaun pertunangan untuk wanita paling berharga dalam hidupnya.”

Gabriel melirik ke arah asistennya, lalu memberi isyarat tangan. Kain beludru hitam itu ditarik.

Suara helaan napas serentak terdengar dari para tamu.

Di atas manekin itu tersemat sebuah gaun mahakarya. Gaun malam berwarna rose gold yang terbuat dari sutra Prancis premium, dengan ribuan payet mikro yang dijahit tangan, membentuk gradasi warna matahari terbenam Manila Bay. Gaun itu berkilau begitu indah di bawah cahaya lampu, seolah-olah ditenun dari cahaya itu sendiri.

“Lucas tahu kamu adalah wanita yang mandiri dan tidak ingin membebankannya, jadi dia merencanakan kejutan ini,” kata Gabriel, beralih menatap Veronica dengan pandangan yang mendadak sedingin es. “Dan kurasa, keputusannya sangat tepat. Karena rupanya, ada orang-orang di kapal ini yang matanya terlalu rabun untuk melihat berlian, dan hanya bisa melihat pakaian luar.”

Topeng yang Runtuh

Wajah Veronica berubah dari pucat menjadi abu-abu. Sahabat-sahabat sosialitanya perlahan mundur, tidak ingin ikut terseret dalam kemarahan Gabriel Reyes. Menghina wanita yang memakai gaun rancangan Gabriel sama saja dengan menghina sang desainer itu sendiri—dan itu adalah bunuh diri sosial di Manila.

“T-Tuan Reyes, saya tidak bermaksud…” Veronica tergagap, mencoba memperbaiki keadaan, namun Gabriel mengangkat satu tangannya, membungkam kalimat wanita itu seketika.

“Isabelle,” panggil sebuah suara dari belakang. Lucas berlari menaiki tangga dek dengan napas terengah-engah, wajahnya dipenuhi kebahagiaan saat melihat Gabriel. “Tuan Reyes! Anda berhasil datang!”

Lucas langsung menghampiri Isabelle, menggandeng tangannya erat-erat di depan semua orang. “Maafkan aku, sayang. Aku harus merahasiakan ini selama tiga bulan. Aku ingin seluruh Manila tahu, bahwa wanita yang akan menjadi istriku pantas mendapatkan yang terbaik di dunia ini.”

Isabelle menatap Lucas, air mata harunya akhirnya jatuh, namun kali ini bukan karena terluka, melainkan karena rasa bahagia yang membuncah.

Gabriel tersenyum matang melihat keduanya. “Nah, Isabelle, asistenku akan membantumu berganti pakaian di dalam kabin eksekutif. Malam ini adalah malammu. Mari kita tunjukkan pada mereka apa arti sophisticated yang sesungguhnya.”

Ratu Malam Ini

Sepuluh menit kemudian. Pintu kabin terbuka.

Isabelle melangkah keluar ke atas upper deck dengan mengenakan gaun rose gold mahakarya Gabriel Reyes. Gaun itu melekat sempurna di tubuhnya, menonjolkan keanggunan alaminya yang selama ini tersembunyi di balik kesederhanaannya. Setiap langkah yang diambilnya membuat payet-payet gaun itu berkilau seperti riak air laut yang diterpa bulan.

Para tamu terpesona. Tidak ada lagi bisik-bisik merendahkan. Yang ada hanyalah tatapan kagum dan rasa segan yang mendalam.

Veronica Madrigal berdiri di sudut dek, memegang gelasnya dengan tangan gemetar, tidak berani lagi menatap mata menantunya. Dia tahu, mulai malam ini, posisinya sebagai wanita paling berpengaruh di keluarga Madrigal telah bergeser.

Lucas menyambut tangan Isabelle, mengecupnya dengan penuh hormat di tengah alunan musik yang kembali berdentang. Di dekat bar, Gabriel Reyes mengangkat gelas champagne-nya ke arah Isabelle, sebuah penghormatan tertinggi dari sang maestro fashion dunia.

Isabelle tersenyum lebar, menatap matahari yang akhirnya tenggelam di cakrawala. Gaun krem murahnya mungkin telah ditinggalkan di dalam kamar ganti, namun keberanian dan harga diri yang dibawanya malam ini akan tetap melekat bersamanya selamanya. Dia bukan lagi sekadar gadis freelance biasa—dia adalah ratu di atas ombak Manila Bay.
……