AKU MEMELUK BAYIKU DI SEBUAH KAMAR KECIL YANG PENUH TAMBALAN DI TENGAH HUJAN DERAS. PRIA YANG KUKIRA SUDAH MENINGGALKANKU TIBA-TIBA MUNCUL. DAN SATU PANGGILAN TELEPONNYA… AKAN MEMBONGKAR SEMUA KEBENARAN.
Namaku Mira.
Baru sepuluh hari sejak aku melahirkan anak laki-lakiku yang pertama. Tubuhnya begitu kecil, kulitnya kemerahan, dan tangisnya lemah—seolah takut mengganggu dunia. Aku pikir, seberat apa pun hidup ini, selama aku masih bersama suamiku dan punya keluarga, aku pasti bisa bertahan.
Tapi aku salah.
Sejak menikah dengan Adrian, hidupku perlahan terasa sesak. Dia bilang keluargaku tidak pernah menyukainya, terutama kakekku—seorang pria berpengaruh di dunia bisnis. Berkali-kali dia mengatakan bahwa kakekku sudah membuangku karena aku “tidak tahu patuh.”
Aku mempercayainya.
Aku mempercayainya sampai rela berhenti bekerja dan menyerahkan seluruh tabunganku kepadanya. Aku mempercayainya sampai menerima tinggal di kamar kontrakan sempit, dengan atap bocor setiap kali hujan turun, dan hidup dengan menghemat setiap rupiah.
Bahkan setelah melahirkan pun, tidak ada yang berubah.
Aku masih mencuci pakaian, memasak, dan membersihkan rumah, sementara ibu mertuaku hanya duduk menonton TV sambil mengeluh bahwa aku “terlalu lemah.”
“Perempuan zaman dulu, sehari setelah melahirkan sudah langsung bekerja lagi,” katanya dingin.
Malam itu, hujan turun sangat deras.

Angin menghantam dinding tipis kamar kami, dan air hujan masuk dari setiap celah. Aku memeluk bayiku erat-erat, membungkusnya dengan kain lama. Air susuku mulai sedikit, dan tangisnya terdengar serak.
Aku meraba saku bajuku—kosong.
Adrian membawa semua uang kami. Katanya dia pergi bekerja.
Tiba-tiba—
ada ketukan di pintu.
Tok. Tok. Tok.
Awalnya kukira hanya suara angin. Tapi ketukan itu terdengar lagi—lebih keras, lebih tegas.
Perlahan aku berdiri sambil menggendong bayiku dan berjalan menuju pintu. Saat kubuka—
aku langsung terpaku.
Seorang pria tua berdiri di sana. Rambutnya sudah memutih, posturnya tegak, dan tatapannya tajam. Ia mengenakan setelan jas elegan, ditemani dua pria berpakaian hitam di belakangnya.
“…Kakek?” suaraku gemetar.
Sudah bertahun-tahun sejak terakhir kali aku melihatnya.
Pria yang kukira telah membuangku dari keluarga.
Ia masuk tanpa menunggu dipersilakan. Tatapannya menyapu seluruh ruangan—atap bocor, dinding lembap, ranjang rusak… lalu berhenti padaku—dengan pakaian lusuh dan pudar, memeluk bayi yang dibungkus kain robek.
Ia terdiam.
Menatapku.
Lalu menatap bayiku.
“Mira…” suaranya merendah, “apa yang terjadi padamu?”
Aku tak mampu menjawab. Tenggorokanku terasa tercekat.
Ia mendekat, lalu matanya berhenti pada pakaianku—sobek di bahu dan penuh noda susu kering.
“Sudah berapa lama kamu hidup seperti ini?”
Aku menunduk.
“…Sejak aku menikah.”
Udara terasa membeku.
Ia menggenggam tongkatnya erat-erat. Urat di tangannya terlihat menonjol.
“Apa yang dikatakan pria itu tentang aku?”
Aku ragu sejenak.
“Dia bilang… Kakek tidak menerima aku lagi… jadi semua bantuan dihentikan…”
Ruangan mendadak sunyi.
Lalu—
ia tertawa.
Bukan tawa bahagia.
Melainkan tawa dingin… menakutkan.
“Tidak menerima?” ulangnya pelan.
Ia menoleh pada asistennya dan mengulurkan tangan.
Seketika sebuah ponsel diberikan padanya.
“Sejak kamu pergi,” katanya perlahan, “aku mengirim uang setiap bulan ke rekening atas namamu.”
Duniaku seperti berhenti berputar.
“R-rekening apa?” tanyaku lirih.
Ia menatapku lurus.
“Itu cukup untuk membuatmu hidup nyaman—di mana pun kamu mau tinggal. Bukan di tempat seperti ini.”
Aku menggeleng.
“Aku tidak pernah menerima apa pun… tidak sekalipun…”
Belum selesai aku bicara—
BRAK!
Pintu di belakangku tiba-tiba terbuka.
Adrian berdiri di sana—basah kuyup karena hujan. Di sampingnya ada ibunya yang membawa beberapa kantong belanja.
Mereka langsung membeku saat melihat kakekku.
Udara di dalam kamar terasa semakin berat.
Tatapan kakekku perlahan berpindah dariku… menuju Adrian.
Pelan.
Tajam.
“Akhirnya kamu pulang juga,” katanya dingin.
Adrian menelan ludah. Baru kali itu aku melihatnya seperti ini.
“A-apa yang Anda lakukan di sini?” katanya, berusaha terdengar tenang.
Kakekku tidak menjawab.
Ia hanya mengangkat ponselnya.
Lalu menekan sebuah nomor.
Seluruh ruangan sunyi. Hanya suara hujan yang terdengar.
“Ini saya,” katanya ke telepon, dengan suara berat dan dingin. “Siapkan semua catatan transfer selama tiga tahun terakhir. Saya ingin tahu siapa… yang mengambil setiap rupiahnya.”
Tangan Adrian langsung gemetar.
Aku melihatnya dengan jelas.
Ibunya mundur perlahan, wajahnya pucat pasi.
Kakekku belum selesai.
“Dan hubungi tim hukum,” tambahnya tanpa melepaskan tatapan dari Adrian. “Kalau kalian menemukan sedikit saja penipuan… kita mulai semuanya malam ini juga.”
Panggilan telepon itu masih tersambung.
Tapi tak seorang pun berani bicara.
Aku hanya bisa mendengar detak jantungku sendiri.
Dan suara hujan…
yang semakin deras.
Kakek mengakhiri panggilan teleponnya, lalu memasukkan ponsel itu ke dalam saku jasnya tanpa memutuskan tatapan dari Adrian. Keheningan yang tercipta setelahnya jauh lebih mengerikan daripada suara petir yang menggelegar di luar.
“K-Kakek…” Adrian mencoba melangkah maju, memaksakan sebuah senyuman kaku yang tampak menggelikan. “Ini pasti salah paham. Saya… saya merawat Mira dengan baik. Rumah ini hanya sementara karena bisnis saya sedang—”
“Diam!”
Satu sentakan tongkat Kakek ke lantai semen yang retak membuat kata-kata Adrian tertelan kembali. Ibu mertuaku di belakangnya bahkan terpekik kecil, menjatuhkan kantong belanjaan yang dibawanya. Dari kantong yang robek itu, menggelinding keluar beberapa stoples kosmetik mahal dan pakaian baru—hal yang bertolak belakang dengan popok kain bekas dan robek yang membungkus bayiku.
Aku menatap barang-barang yang berserakan itu, lalu beralih menatap Adrian. Seketika, potongan-potongan teka-teki yang selama ini membingungkanku menyatu dengan paksa.
Alasan mengapa tabunganku habis tak bersisa. Alasan mengapa dia selalu melarangku memegang ponsel atau membuka rekening bank sendiri dengan dalih “biar suami yang mengurus semuanya.” Alasan mengapa ibunya bisa terus berbelanja sementara aku harus menahan lapar agar air susuku bisa keluar untuk bayiku.
“Tiga tahun, Adrian,” suara Kakek terdengar begitu tenang, namun di dalamnya ada ancaman yang mematikan. “Setiap bulan, ratusan juta rupiah masuk ke rekening yang kukira dipegang oleh cucuku. Ternyata, uang itu digunakan untuk membiayai parasit seperti kalian, sementara cucu dan cicitku dibiarkan kelaparan di tempat kumuh ini.”
“Tidak, Mira! Jangan percaya dia!” Adrian beralih menatapku, matanya membelalak panik. Dia mencoba meraih tanganku. “Kakekmu sengaja menjebak kita! Dia ingin memisahkan kita!”
“Jangan sentuh aku!” aku berteriak, mundur selangkah hingga punggungku merapat pada dinding yang basah. Bayiku tersentak karena suaraku dan mulai menangis lemah. Aku mendekapnya lebih erat, air mataku yang sejak tadi tertahan akhirnya tumpah. Bukan karena sedih, melainkan karena amarah yang teramat sangat. “Cukup, Adrian. Cukup.”
Tiba-tiba, ponsel Kakek bergetar. Beliau mengangkatnya, mendengarkan selama beberapa detik, lalu mengaktifkan pengeras suara.
Dari seberang telepon, suara tegas seorang pria terdengar jelas: Perlu kami laporkan, Pak. Semua dana dari rekening Nyonya Mira telah didebit secara berkala ke rekening pribadi atas nama Adrian Pratama dan ibunya, Lastri. Kami juga menemukan pemalsuan tanda tangan Nyonya Mira pada dokumen kuasa bank. Tim hukum kami sudah berada di depan kantor kepolisian wilayah setempat bersama seluruh bukti cetak.
Wajah ibu mertuaku langsung kehilangan seluruh warnanya. Dia jatuh terduduk di lantai yang basah oleh tampungan air hujan. “Adrian… bagaimana ini, Adrian? Ibu tidak mau masuk penjara!” tangisnya pecah, kehilangan seluruh keangkuhan yang biasanya dia gunakan untuk menindasku.
Adrian membeku, seluruh tubuhnya gemetar hebat. Kesombongan yang selama ini dia gunakan untuk mengontrolku runtuh total. Pria yang selalu berlagak menjadi penyelamatku itu kini tak lebih dari seorang pencuri yang tertangkap basah.
Kakek menoleh pada dua pria berjas hitam di belakangnya. “Urus mereka. Pastikan malam ini mereka tidur di tempat yang jauh lebih dingin dari kamar ini.”
“Baik, Pak.” kedua pria itu melangkah maju, mencengkeram lengan Adrian dan ibunya, lalu menyeret mereka keluar ke tengah guyuran hujan deras tanpa memedulikan teriakan histeris mereka.
Pintu kamar yang rusak itu kini terbuka lebar, menyisakan suara badai di luar. Namun, entah mengapa, hawa dingin yang masuk tidak lagi terasa menyesakkan.
Kakek berjalan mendekatiku. Tatapan matanya yang tadi setajam silet perlahan melunak, digantikan oleh rasa bersalah yang amat dalam. Dia meletakkan tangan tuanya yang hangat di bahuku yang gemetar.
“Maafkan Kakek, Mira. Kakek terlalu percaya pada dokumen-dokumen palsu yang dikirim bajingan itu, sampai tidak datang melihatmu sendiri,” bisiknya, suaranya kini terdengar seperti seorang kakek yang merindukan cucunya. Beliau menatap bayi di pelukanku, lalu tersenyum tipis dengan mata yang berkaca-kaca. “Ayo pulang. Tempatmu bukan di sini. Kamar yang layak dan hangat sudah menunggu cicitku.”
Aku menatap Kakek, lalu menatap bayiku yang perlahan mulai tenang dalam dekapanku.
Malam itu, di tengah badai yang perlahan mereda, aku melangkah keluar dari kamar kecil penuh tambalan itu tanpa menoleh lagi. Kebohongan yang mengurungku selama tiga tahun telah hancur lebur oleh satu panggilan telepon. Aku memang telah kehilangan waktu dan kepercayaan, tetapi saat aku masuk ke dalam mobil Kakek yang hangat, aku tahu… malam ini adalah awal dari hidup baru yang sesungguhnya untukku dan bayiku.