Posted in

Arkana Mahendra, pemilik grup pelayaran terbesar di Surabaya, pulang lebih cepat malam itu.Asha tidak langsung menjawab.

Tangannya refleks menutup kalung itu, seolah baru sadar benda di lehernya telah menjadi masalah besar. Napasnya sedikit terputus, sementara ketiga anak di belakangnya masih berdiri diam—Naura memegang ujung apron Asha, Kayla menatap Arkana dengan takut, dan Celine masih setengah bersembunyi di balik tubuh wanita itu.

“Pak…” suara Asha pelan, hampir bergetar. “Saya bisa jelaskan.”

Arkana tidak bergerak. Tatapannya justru semakin tajam, seperti sedang menekan setiap kemungkinan kebohongan yang bisa keluar dari mulut wanita itu.

“Kalung itu milik Kirana,” katanya datar. “Istri saya. Dia meninggal bersama kalung itu. Polisi tidak pernah menemukannya.”

Hening.

Hanya suara jam dinding di ruang makan yang terdengar, berdetak terlalu keras di tengah ketegangan itu.

Asha menunduk. Beberapa detik dia diam, seolah sedang menimbang sesuatu yang berat.

“Kalung ini… diberikan kepada saya,” akhirnya dia berkata.

Arkana menyipit. “Diberikan?”

Asha mengangguk pelan, tapi tidak berani menatap langsung ke matanya.

“Sebelum saya bekerja di sini… saya pernah bertemu Ibu Kirana.”

Kalimat itu membuat udara di ruangan seakan berubah.

Naura mengangkat wajahnya sedikit. Kayla berhenti bernapas. Bahkan Celine yang tadi tenang kini bergerak gelisah di pelukan Asha.

Arkana tertawa kecil—bukan tawa bahagia, melainkan tawa dingin yang nyaris tidak percaya.

“Tidak mungkin,” katanya tegas. “Istri saya meninggal dua tahun lalu. Dan kamu bilang kamu bertemu dia sebelum itu?”

Asha menggigit bibirnya.

“Saya tahu kedengarannya tidak masuk akal, Pak. Tapi saya tidak berbohong.”

Arkana melangkah lebih dekat. Kini jarak mereka hanya beberapa langkah.

“Kalau begitu jelaskan,” suaranya turun satu oktaf, lebih berbahaya. “Di mana, kapan, dan bagaimana kamu mendapatkan kalung itu.”

Asha menarik napas panjang.

“Saya dulu bekerja di yayasan kecil di daerah Sidoarjo,” katanya pelan. “Kami membantu perempuan dan anak-anak yang mengalami kekerasan rumah tangga. Suatu hari… Ibu Kirana datang sendiri ke tempat kami.”

Arkana langsung menyela. “Istri saya tidak pernah punya urusan dengan yayasan seperti itu.”

“Tapi dia datang,” Asha menatapnya akhirnya, meski masih ragu. “Dia datang tanpa sopir. Tanpa pengawal. Dan dia tidak menggunakan nama Mahendra.”

Ruangan kembali hening.

Arkana mengernyit, tapi ada sesuatu di wajahnya yang mulai berubah—bukan percaya, tapi mulai terganggu.

Asha melanjutkan, suaranya lebih pelan.

“Dia hanya bilang… dia butuh tempat untuk bernapas. Dia bilang rumahnya terlalu besar, tapi dia tidak merasa hidup di dalamnya.”

Kalimat itu seperti pukulan kecil yang tidak terlihat.

Arkana terdiam sepersekian detik, tapi cepat kembali mengeras.

“Itu omong kosong.”

Asha tidak membantah. Dia hanya menunduk lagi.

“Dia sering datang diam-diam,” lanjutnya. “Kadang membawa makanan. Kadang hanya duduk membantu anak-anak menggambar. Dan kalung itu… dia berikan pada saya di kunjungan terakhirnya.”

Kayla tiba-tiba menarik lengan Asha lebih erat.

“Benar, Kak Asha yang ajarin aku bikin kue…” bisiknya, hampir seperti pembelaan.

Naura mengangguk kecil, ragu tapi nyata.

Arkana melihat itu semua.

Dan untuk pertama kalinya sejak dia masuk ruangan ini… ekspresinya tidak sepenuhnya terkendali.

“Berhenti,” katanya tajam. “Kalian semua masuk kamar sekarang.”

Tidak ada yang bergerak.

Suara itu tidak keras, tapi cukup untuk membuat ketiga anaknya menunduk.

Asha menahan mereka dengan lembut. “Tidak apa-apa… kalian ke kamar dulu ya.”

Namun Celine justru memeluknya semakin kuat.

Arkana melihat itu.

Dan sesuatu di dalam dirinya retak sedikit.

Ketika anak-anak akhirnya pergi dengan langkah ragu, suasana dapur kembali menyisakan dua orang dewasa yang saling berhadapan.

Asha masih berdiri di tempatnya, tapi kali ini tanpa perlindungan anak-anak.

Arkana menatap kalung itu lagi.

“Kalau kamu memang mengenalnya,” katanya pelan, “kenapa dia tidak pernah menyebut kamu? Kenapa tidak ada satu pun catatan tentang pertemuan itu?”

Asha menggeleng kecil.

“Karena dia takut, Pak.”

Kalimat itu membuat Arkana langsung mengangkat kepala.

“Takut pada siapa?”

Asha ragu sejenak. Matanya bergerak ke arah lantai, lalu kembali ke Arkana.

“Pada rumah ini.”

Keheningan yang terjadi setelah itu jauh lebih berat dari sebelumnya.

Bukan lagi sekadar curiga.

Tapi sesuatu yang mulai mengarah ke tempat yang lebih gelap.

Arkana merasakan sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan.

Bukan marah.

Bukan kesedihan.

Tapi kegelisahan.

Seolah ada bagian dari hidupnya yang selama ini dia anggap sempurna… ternyata retak tanpa ia sadari.

“Kalau kamu berani mengarang cerita tentang istri saya,” suara Arkana akhirnya kembali dingin, “aku akan pastikan kamu tidak bisa menginjakkan kaki di kota ini lagi.”

Asha menatapnya lama.

Lalu, dengan suara sangat pelan, dia berkata:

“Kalau begitu, Pak Arkana… tolong cari tahu sendiri.”

Dia melepas kalung itu dari lehernya.

Dan meletakkannya di atas meja dapur.

“Karena kalung ini bukan satu-satunya hal yang Ibu Kirana titipkan pada saya.”

Jan lupa like dan follow agar gak ketinggalan update terbaru