Emosiku yang sejak sore tadi kutahan akhirnya tumpah ruah.
Mas Danang terdiam sesaat. Tangannya yang baru saja merapikan kerah seragam satpamnya turun perlahan. Laki-laki itu membuang pandangan ke arah pintu kamar, tidak berani menatap langsung ke mataku. Namun, keterdiamannya adalah jawaban paling nyata yang menghancurkan hatiku malam ini.
“Jawab aku, Mas!” sentakku dengan suara bergetar. “Uang tabungan keluarga kita, yang niat awalnya buat persiapan masa depan anak kita, kamu kasih semua ke Ibumu buat biaya kuliah Farah?”
“Kamu tuh nggak usah ngegas gitu dong, Rum! Sabar dikit kenapa!” Mas Danang berbalik menghadapku, wajahnya memerah, mencoba membela diri.
“Kamu kan tahu sendiri masuk perguruan tinggi itu biayanya nggak sedikit. Ada uang pangkal, uang semester pertama, belum lagi buat beli laptop sama buku-bukunya. Ibu mana sanggup bayar uang puluhan juta kayak gitu sendirian? Kamu masa nggak kasihan ibuku janda.”
“Terus kenapa harus kamu yang nanggung semuanya? Farah itu kan punya tiga kakak perempuan lain yang udah pada nikah dan hidup enak di kota! Kenapa cuma kamu yang diperas habis-habisan sampai ngorbanin uang buat anak kita?” Air mataku menderas.
“Arumi, sadar, Rum! Anak kita udah meninggal. Anggap aja uang yang dipakai Farah itu sedekah atas nama anak kita!”
Hatiku benar-benar hancur, bagaimana bisa Mas Danang berpikir sedangkal itu?
“Kakak-kakak perempuanku itu kan udah ikut suaminya masing-masing, Rum. Mereka ada kebutuhan rumah tangganya sendiri, nggak bisa ngasih uang banyak ke Ibu. Wajar kan kalau Ibu minta tolong ke aku? Aku ini kan anak laki-laki satu-satunya di keluarga! Aku punya kewajiban angkat derajat keluarga. Kalau Farah bisa sarjana dan sukses, kita juga kan nanti yang bakal numpang bangga!” terang Mas Danang panjang lebar, seakan merasa alasannya sangat logis dan mulia.
“Bangganya ke kamu dan Ibumu, Mas! Bukan ke aku!” isakku tertahan sambil mencengkeram sprei kasur.
“Terus gimana sama anak kita? Anak darah dagingmu yang kamu tolak dioperasi berjam-jam cuma karena kamu takut biaya mahal! Dan sekarang, untuk sekadar beli gula dan kopi buat bapak-bapak tahlilan kirim doa buat anakmu yang udah di dalam kubur, kamu bilang nggak punya uang? Padahal sisa tabungannya habis kamu setor buat Farah! Di mana letak keadilanmu sebagai seorang ayah, Mas?”
“Astaghfirullah, Rum! Kok pikiranmu picik banget sih sama adikku sendiri?” Mas Danang menepuk jidatnya frustrasi.
“Anak kita itu udah meninggal! Uang disebar buat acara ngaji segala macam juga nggak bakal bikin dia hidup lagi, kan? Tolong dong kamu tuh ngerti posisiku sedikit. Jangan cemburuan sama adik ipar! Udah deh, aku capek debat begini terus. Bikin pusing! Mending aku berangkat kerja sekarang!”
Tanpa rasa penyesalan sedikit pun, Mas Danang menyambar tas kecilnya dan melangkah keluar kamar. Beberapa detik kemudian, terdengar suara deru motor dihidupkan, memecah keheningan malam, lalu perlahan menjauh meninggalkan halaman rumah.
Aku kembali sendirian, menangis tersedu-sedu meratapi nasib menjadi istri dari seorang pria yang menjadikan keluarga intinya sebagai prioritas paling bawah.
…
Pagi-pagi sekali setelah urusan dapur selesai, aku mengambil sapu lidi di sudut teras. Halaman depan rumah ini banyak guguran daun mangga.
Aku menyapu dengan pelan, mengumpulkan sampah daun kering sedikit demi sedikit.
Tepat saat aku menyapu bagian dekat pagar pembatas, terdengar suara bising dari arah rumah ibu mertuaku. Tukang sayur keliling langganan desa, Bang Jali, sedang memberhentikan gerobak motornya tepat di depan teras rumah ibu.

Ada tiga orang ibu-ibu tetangga yang sedang asyik memilah sayuran di sana. Salah satunya adalah ibu mertuaku, yang berdiri dengan daster bunga-bunga kesayangannya.
Aku sebenarnya tidak ingin mencampuri urusan mereka. Namun, jarak rumah kami yang berdempetan dan suara ibu mertuaku yang lantang tanpa filter, membuat setiap kata yang diucapkannya terdengar sangat jelas di telingaku.
“Loh, itu menantu Ibu udah pulang dari rumah sakit? Gimana kabarnya?” tanya Bu RT basa-basi sambil memasukkan tempe ke keranjang belanjanya. “Kemarin saya dengar bayinya … ndak selamat ya, Bu?”
“Iya, tuh orangnya! Ya begitulah nasib kalau punya menantu yang fisiknya lemah dari sononya!” sahut ibu mertuaku ketus, sengaja mengeraskan suaranya.
“Baru kontraksi sebentar aja udah jerit-jerit minta disesar! Lebay banget. Padahal saya dulu lahirin si Danang tuh normal-normal aja, cuma sakit dikit langsung plorot! Lah ini si Arumi, udah dioperasi mahal-mahal, eh ujung-ujungnya anaknya malah meninggal juga! Rugi lah anakku udah keluar banyak biaya!”
Darahku mendidih mendengarnya. Tanganku yang memegang gagang sapu bergetar hebat menahan emosi. Bisa-bisanya dia memutarbalikkan fakta? Jelas-jelas anakku meninggal karena dia dan Mas Danang menahan persetujuan operasi selama berjam-jam! Dan sekarang dia menyalahkan fisikku di depan tetangga?
“Waduh, biaya sesar kan mahal banget tuh, Bu,” celetuk ibu-ibu lain yang memakai kerudung kuning.
“Mahal banget, Bu! Jangan ditanya!” keluh ibu mertuaku, bersemangat membeberkan aib finansial kami.
“Uang tabungan hasil kerja keras Danang sampai ludes! Menantu saya itu emang nyusahin. Udah dibayarin mahal, di rumah malah kerjaannya cuma rebahan doang alasan bekas jahitannya sakit! Manja banget, padahal cuma dibelek dikit. Tuh lihat aja nanti, siang dikit pasti dia asyik main HP sambil tiduran di kasur!”
Aku menghentikan ayunan sapuku. Rasanya ingin sekali aku melangkah ke sana, melabrak mulut jahat mertuaku di depan semua tetangga dan membongkar bahwa tabungan itu habis untuk membiayai adik iparku.
Tapi aku sadar, melawan ibu mertuaku di area publik hanya akan membuatku dicap sebagai menantu durhaka, dan Mas Danang pasti akan semakin menyalahkanku.
Dengan daa da sesak menahan tangis, aku membalikkan badan dan berjalan pinncang masuk ke dalam rumah. Kubiarkan sisa daun-daun itu berserakan di dekat pagar. Hatiku terlalu lelah untuk pura-pura kuat.
Setibanya di ruang tengah, perutku kembali berdenyut perih karena terlalu lama berdiri. Aku mendudukkan tubuhku perlahan di atas sofa untuk sekadar meluruskan otot pinggang dan mengatur napas. Rasa pusing di kepalaku kembali mendera. Tubuh ini butuh istirahat panjang.
Namun, baru saja aku memejamkan mata selama lima menit untuk meredakan denyut di perut, pintu depan rumah didorong kasar dari luar tanpa ketukan.
Ibu mertuaku melangkah masuk. Wajahnya masam, seperti tak punya dosa sehabis menggunjingku di depan tetangga. Dia tidak datang dengan tangan kosong. Tangannya menenteng sebuah kantong plastik kresek hitam berukuran cukup besar.
Dengan wajah angkuh, wanita itu berjalan mendekatiku yang masih terduduk lemas di karpet, lalu menjatuhkan kantong plastik itu tepat di pangkuanku.
Ternyata, isi kantong itu adalah ….
…
Judul : Larangan Melahirkan Caesar
Penulis : Pemulung Kisah
Selengkapnya di aplikasi KBM App!