Arkan menikahi Laras karena terpaksa. Ia akan membuat gadis itu tersiksa lahir batin dan akan dalam waktu paling lama satu tahun mereka akan bercerai.
Lalu, yang terjadi….
Dentum musik di kelab malam itu masih terngiang di telingaku, bercampur aduk dengan rasa pening yang hebat akibat tegukan wiski yang tak terhitung jumlahnya. Pandanganku kabur, dunia seolah berputar pada poros yang salah. Aku bahkan tak ingat bagaimana caranya aku bisa sampai di depan pintu apartemenku sendiri. Yang aku tahu, tubuhku terasa berat dan lenganku ditumpu oleh seorang wanita—mungkin salah satu kenalanku di bar tadi, atau mungkin teman kencanku malam ini. Aku tak peduli.
Tujuanku hanya satu, aku ingin Laras melihat ini. Aku ingin dia merasa hancur. Aku ingin dia melihat bahwa posisinya sebagai “istri” sama sekali tak berharga di mataku. Membawa wanita lain ke rumah di malam pertama adalah serangan paling telak yang bisa kupikirkan untuk menghancurkan harga diri seorang gadis desa.
Klik. Pintu apartemen terbuka otomatis.
Laras berdiri di sana. Dia tidak sedang tertidur. Dia menungguku, atau mungkin dia baru saja selesai dengan urusan bersih-bersihnya. Kutatap dia dengan pandangan sayu, mencoba mencari gurat luka, air mata, atau setidaknya ledakan amarah di wajahnya.
Namun, aku justru menemukan sesuatu yang lebih menyakitkan bagi egoku, ketenangan.
Laras tak terlihat terkejut. Dia tak memekik histeris melihat suaminya pulang dalam keadaan mabuk berat sambil memeluk wanita lain. Dia hanya diam, berdiri dengan gestur tubuh yang sungguh sangat tenang. Matanya jernih, menatapku seolah-olah aku hanyalah tamu asing yang salah alamat.
“Oh, jadi ini istrimu, Arkan? Gadis ini?” suara wanita di sampingku melengking, penuh nada merendahkan. Dia menatap Laras dari ujung kaki hingga ujung kepala, mencibir daster sederhana yang dikenakan Laras. “Kelihatannya lebih mirip asisten rumah tangga daripada seorang istri.”
Laras tak membalas hinaan itu. Dia tetap berdiri di posisinya, membiarkan perdebatan itu mengalir di atas kepalanya.
“Keluar,” ucap Laras tiba-tiba. Suaranya rendah tapi memiliki otoritas yang aneh.
“Apa? Kau mengusirku? Kau tahu siapa aku?” wanita di sampingku meradang.
“Aku tahu siapa dirimu, dan aku tahu posisiku. Tapi ini sudah jam tiga pagi, dan suamiku sedang tidak sadar. Tugasmu mengantarnya sudah selesai. Sekarang, keluar sebelum aku memanggil keamanan gedung,” Laras berkata dengan nada datar, tanpa emosi, namun kata-katanya menghujam seperti belati.
Terjadi perdebatan panjang yang dapat kudengar dengan samar antara perempuan itu dengan Laras. Aku hanya bisa mengerang, memegangi kepalaku yang berdenyut-denyut. Di tengah kabut alkohol, aku bisa merasakan Laras seolah tetap ingin melindungiku, meskipun aku baru saja mencoba menginjak-injak martabatnya. Dia mengambil alih tubuhku dari rangkulan wanita itu dengan gerakan yang sigap.
Begitu pintu tertutup dan wanita itu pergi dengan gerutu kesal, keheningan yang menyesakkan menyelimuti kami.
Aku terduduk di kursi ruang tamu dengan napas yang berat. Laras segera berlutut di depanku. Tanpa bicara, tanpa keluhan, dia mulai membuka sepatuku. Gerakannya cekatan, lembut, namun penuh perhitungan. Dia melakukan apapun selayaknya seorang istri yang baik—hal yang justru membuatku merasa semakin jahat.
“Jangan… jangan sentuh aku,” gumamku tak jelas. Tapi tenagaku sudah habis.
Laras mengabaikan protesku. Dia memapahku, membiarkan tubuhku yang jauh lebih besar bersandar padanya. Langkahku terhuyung, tapi Laras dengan sigap menahan beban tubuhku agar tidak jatuh. Dia membawaku menuju kamar utama—kamar pribadi yang seharusnya menjadi kamar pengantin kami.
Begitu pintu kamar terbuka, pemandangan di dalamnya seolah menamparku. Kamar itu telah dihias sedemikian rupa oleh tenaga Wedding Organizer atas perintah Mamaku. Taburan kelopak mawar merah di atas seprai sutra, aroma lilin terapi yang menenangkan, dan cahaya lampu temaram yang romantis. Semuanya dipersiapkan untuk sebuah malam yang penuh cinta, bukan untuk drama memuakkan seperti ini.
Laras menatap semuanya. Matanya menyapu dekorasi kamar pengantin itu dalam diam. Aku tak tahu apa yang ada di pikirannya saat melihat ranjang yang seharusnya ia tempati justru digunakan untuk membaringkan suami yang baru saja mempermalukannya.
Begitu dia membaringkanku di kasur, Laras langsung berbalik. Dia seolah tidak sudi berlama-lama di dalam ruangan yang penuh dengan ironi ini. Dia buru-buru pergi, seolah-olah berada di dekatku adalah sebuah beban yang ingin segera dia lepaskan.
Entah setan apa yang merasukiku, atau mungkin itu hanya insting bawah sadarku yang tak mau ditinggalkan dalam kesendirian yang gelap, tanganku tiba-tiba meraih pergelangan tangannya.
Laras tersentak. Dia segera menepis tanganku dengan gerakan yang sangat cepat, seolah-olah kulitku adalah api yang membakar.
Dia berdiri tegak, menatapku dengan sorot mata yang paling dingin yang pernah kulihat. Tak ada lagi keramahan seorang istri desa. Yang ada hanyalah seorang wanita yang sudah mencapai batas kesabarannya.
“Mas Arkan,” suaranya bergetar karena emosi yang tertahan, namun tetap terdengar tajam. “Seperti yang sudah Mas bilang tadi, dan seperti yang tertulis di kertas itu… pernikahan kita hanya di atas kertas. Aku adalah istri di atas kertas.”

Dia menarik napas panjang, menatap dekorasi mawar di sekelilingnya dengan tatapan meremehkan. “Jadi, tidak ada alasan lagi bagimu untuk menyentuhku, atau mengharapkan aku melakukan lebih dari sekadar kewajiban formalitas ini. Kau ingin aku merasa rendah diri? Kau gagal. Karena bagiku, perilakumu malam ini justru menunjukkan siapa yang sebenarnya berada di posisi rendah.”
Setelah mengucapkan kalimat pedas itu, dia langsung pergi dari kamarku tanpa menoleh sedikit pun. Suara pintu yang tertutup rapat bergema di dalam kepalaku yang pening.
Aku tergeletak di atas kelopak mawar itu, sendirian. Aroma bunga yang seharusnya manis kini terasa menyesakkan. Aku ingin marah, ingin mengejarnya dan berteriak bahwa akulah pemenangnya. Tapi tubuhku tak bisa berkompromi.
Kegelapan mulai menarikku masuk. Sebelum aku benar-benar tak sadarkan diri karena pengaruh alkohol, satu pikiran melintas di benakku, Laras tak hancur. Dialah yang baru saja menghancurkanku dengan kata-katanya.
Penyiksaan batin yang kurencanakan justru berbalik menyerangku. Dan saat mataku terpejam, aku tahu bahwa besok pagi, segalanya tidak akan pernah sama lagi. Aku bukan lagi penguasa di rumahku sendiri.
BERSAMBUNG…
KISAH INI BISA DIBACA DI APLIKASI KBM
JUDUL : MAHLIGAI DINGIN SANG PENGUASA