Posted in

Aku membuka lemari. Tujuanku adalah mencari ponsel Alya. Benda itu tidak bersama Alya saat terakhir kali kami bertemu. Aku yakin akan menemukan petunjuk melalui ponselnya. Tapi aku tidak menemukannya setelah mengubek-ubek seisi lemari.

Justru kutemukan tumpukan dokumen.

Sangat hati-hati, kubuka beberapa dokumen. Kutemukan kartu keluarga.

Ini dia yang kubutuhkan.

Gita Asyafa. Ternyata itu nama wanita paruh baya tadi. Suaminya bernama Hasan. Lalu tiga anaknya Andin, Alka dan Asti.

Aku memotretnya, kusimpan di galery.

Itu adalah kartu keluarga lama. Kartu keluarga baru milik Alka tidak ada. Mungkin dia belum mengurusnya.

Tok tok…

“Nduk, ayo makan malam!” Bu Gita masuk kamar. “Hayoo udah seharian toh istirahat di kamar? Sekarang waktunya makan dulu.”

Aku mengangguk.

Kami langsung menuju ruang makan yang luas. Rumah bergaya klasik itu cukup memikatku.

Asti dan Andin sudah ada di meja makan. Tatapan Andin sinis.

Lalu Asti… dia melempar senyum ke arahku.

Satu lagi, ada lelaki berbadan tegap dan tinggi, sudah berumur. Aku yakin itu Pak Hasan, suami Bu Gita alias mertua Alya. Tangan kirinya asik dengan ponsel. Tangan kanan menyuap nasi ke mulut.

“Duduk sini!” Bu Gita menunjuk kursi.

“Ayo ayo, semaunya makan! Malam ini jadi rame. Cuma Alka yang nggak ikutan!” Bu Gita tersenyum. “Pak, lihat tuh mantu kita pulang!”

Pak Hasan mengangkat kepala, menatapku. “Oh… Alya. Ya ya…”

Tidak ada respon mencurigakan. Pak Hasan biasa saja melihatku. Malah kelihatan cuek. Padahal menantunya ini menghilang selama seminggu.

“Apa bapak ada nasihat buat Alya? Dia kan pergi dari rumah cukup lama, siapa tahu bisa membuat Alya merasa lebih nyaman tinggal di sini,” saran Bu Gita.

“Alya sudah besar. Sudah dewasa. Dia tahu pilihannya. Kita ndak perlu mendikte seperti anak kecil. Kalian makanlah. Bapak mau keluar, ada pertemuan sama Pak Kades.” Pak Hasan berlalu pergi.

Dia tak peduli pada Alya dan keluarganya. Lebih fokus dengan pekerjaan. Dan Alka?

Aku belum melihat reaksi Alka saat melihatku. Dimana pria itu? Sampai sekarang belum muncul juga.

“Alya, kamu jangan gampang tersinggung sama ucapan orang di rumah ini. Ibu Cuma nggak mau kamu ngambek, terus kabur hanya karena masalah ucapan.” Bu Gita agak kikuk.

Aku hanya diam, masih beradaptasi, jadi tidak perlu banyak bicara.

Aku menyantap ayam goreng dan tumis sayur gambas. Enak sekali. Ada ikan tongkol sambal juga, tapi aku tidak mengambilnya. Masakan ala orang desa, tetap enak dan lezat.

“Ayamnya itu aku yang goreng.” Mbak Andin melirik sepotong ayam di piringku. “Besok kamu yang harus masak, Al. Gantian!”

Tiba-tiba suara langkah kaki memasuki ruang makan dengan tergesa-gesa. Pria berbadan gagah melewati meja makan. Bajunya basah kuyup, kotor kena lumpur. Celananya robek di lutut, sepertinya bekas terjatuh, luka berdarah mencuat melalui robekan celana.

Pria itu membuka lemari bagian atas.

“Kotak obat mana, Bu?” tanya pria itu sambil mengobrak-abrik isi lemari. Dia menoleh ke arah Bu Gita yang duduk di sebelahku.

Saat itulah aku melihat wajahnya dengan jelas. Pria itu… wajahnya mirip dengan yang di foto. Alka.

“Kamu luka-luka begini, basah kuyup, kotor lagi. Kenapa?” Bu Gita tidak jadi makan. Dia bangkit, mengambilkan kotak obat.

Alka meraih kotak obat tanpa bicara apa pun, lalu balik badan hendak pergi.

“Istrimu pulang!”

Kalimat itu membuat Alka menoleh ke arahku yang ditunjuk Bu Gita.

Pandangan kami bertemu.

Alka kaget. Aku melihatnya dengan jelas. Matanya sampai membelalak. Urat di wajahnya menonjol. Kulit wajahnya yang putih langsung memerah.

Tanpa sepatah kata, dia berlalu pergi.

Andin melirikku tajam. “Kamu nggak layani suamimu? Nggak lihat dia pulang-pulang luka-luka gitu, hujan-hujanan basah kuyup. Malah dicuekin! Sana temui suamimu!”

Aku menaruh sendok. Hampir saja aku kebingungan, apa yang harus kulakukan setelah melihat Mas Alka. Perkataan Nadin cukup memberiku petunjuk.

“Jadi istri tuh mesti tahu tanggung jawab, jangan malesan. Jangan salahin Alka kalau kamu dicere,” imbuh Andin.

“Andin!” Bu Gita menegur lembut. “Kamu ini sudah gagal menikah, baru saja dicerai suamimu. Jangan bikin rumah tangga adikmu sama seperti rumah tanggamu yang gagal.”

“Aku bicara apa adanya, Bu!” Andin sewot.

Alya itu cengeng, lemah, mental juga melempem. Tidak kebayang bagaimana dia tertekan berada di tengah-tengah keluarga ini.

“Aku punya cara sendiri untuk menjalani rumah tanggaku, seenggaknya sampai saat ini aku masih bisa mempertahankan keutuhan rumah tangga!” sahutku, tetap tenang. Sengaja menyinggung Mbak Andin yang gagal dalam berumah tangga.

Tak kusangka, ketiga manusia di meja makan itu tiba-tiba terdiam mematung.

Aku berdiri, meninggalkan meja makan. Sayup-sayup kudengar suara mereka bersahutan.

“Nggak salah Alya ngomong gitu? Kok, jadi berani sih dia?” Mbak Andin keheranan.

“Kayak lebih punya power, ya gak sih?” Asti menyahuti.

“Kalau diperhatikan, sikapnya beda banget loh. Kesambet apa dia?”

Ya, tentu beda. Aku Aiza. Bukan Alya. Dan aku tidak akan lemah seperti Alya.

Aku memasuki kamar.

Air shower kamar mandi mengucur. Mungkin Mas Alka di dalam, sedang mandi.

Sekarang apa yang harus kulakukan? Biasanya Alya ngapain saat kondisi seperti ini?

Aku berinisiatif mengambilkan baju ganti untuk Mas Alka. Sehelai kaos dan celana panjang untuk tidur.

Pintu kamar mandi terbuka, Mas Alka keluar hanya dililit handuk di pinggang. Pemandangan roti sobek jadi sorotan.

Aku segera memutar badan, memunggunginya. Pria asing ini membuatku risih. Tapi aku tidak boleh membuatnya curiga.

Mas Alka berjalan ke depanku.

Aku hendak balik badan, menghindarinya, takut melihatnya tanpa baju.

Tapi ternyata dia sudah memakai pakaian lengkap. Hanya semenit? Cepat sekali.

Baju yang kusiapkan masih teronggok manis di atas kasur. Dia memakai baju yang lain dan celana selutut.

Hening.

Asing sekali.

“Mas, aku pulang!”

Aku ingin tahu responnya.