MENANTU CERDIK DARI KOTA
“Eh, menantu kota! Sini, Naima! Jangan takut kena debu motor Kang Asep,” seru Bu RT dengan suara melengking, memecah kesunyian pagi yang biasanya hanya diisi suara burung gereja.
Naima yang baru saja melangkah keluar pagar dengan daster batik satinnya yang rapi, terpaksa menghentikan langkah. Di depan rumah Mbok Sum, gerombolan ibu-ibu sudah mengepung motor tukang sayur keliling seperti semut mengerubungi gula. Mata mereka semua serempak tertuju pada Naima—radar gosip mereka sedang dalam mode siaga satu setelah drama penggerebekan Haji Pardi semalam.
“Pagi, Bu RT. Pagi, Ibu-ibu,” sapa Naima kalem, tetap berjalan mendekat meski ia tahu ia sedang masuk ke tengah pusaran obrolan hangat.
“Pagi, Naima. Gimana? Betah di desa? Katanya di Jakarta apa-apa serba instan, tinggal pencet HP makanan datang. Di sini harus sabar, ya. Sabar hadapi kompor tungku, sabar juga hadapi… mulut tetangga,” celetuk Bu RT sambil menyikut lengan Bu Haji Pardi yang berdiri di sebelahnya.
Bu Haji Pardi mendengus, membuang muka sambil memilah-milah cabai rawit dengan gerakan kasar. “Ya namanya juga orang kota, Bu RT. Biasanya kan cuma tahu makan enak, nggak tahu gimana susahnya ulek sambal sampai tangan panas. Kasihan Sugeng kalau setiap hari cuma dikasih makan roti tawar.”
Tawa kecil pecah di antara kerumunan itu. Ini adalah serangan terbuka. Di desa ini, kedaulatan seorang istri seringkali diukur dari seberapa mahir tangannya menghaluskan bumbu di atas cobek batu.
“Betul sekali, Bu Haji,” Naima menjawab dengan nada yang sangat manis, nyaris tanpa beban. “Makanya pagi ini Naima mau borong cabai dan terasi. Mas Sugeng billing, dia rindu sekali sambal buatan Ibu Diana. Naima sebagai menantu ya harus tahu diri, tidak boleh merasa lebih pintar dari mertua yang sudah puluhan tahun memanjakan lidah anaknya.”
Ibu-ibu itu saling lirik. Jawaban Naima tidak hanya sopan, tapi juga secara halus menempatkan Diana di posisi terhormat—sebuah taktik yang langsung membungkam niat mereka untuk mengadu domba mertua dan menantu.
“Halah, paling-paling nanti yang ulek juga Ibu Diana,” gumam Bu Haji Pardi pelan, namun masih terdengar.
“Kalau Ibu Diana yang ulek, berarti Naima menantu yang disayang, Bu Haji. Bukankah itu berkah?” balas Naima sambil menyerahkan selembar uang pas kepada Kang Asep tanpa meminta kembalian. “Kang, sisanya buat beli kopi ya.”
“Waduh! Makasih, Mbak Naima! Pelanggan idaman ini mah!” seru Kang Asep kegirangan, membuat ibu-ibu lain yang sejak tadi menawar harga kangkung seratus rupiah jadi merasa tersindir.
Naima baru saja hendak berbalik ketika Madani lewat di seberang jalan. Wanita itu berjalan kaki, langkahnya cepat dengan wajah yang ditekuk masam. Tanpa motor merah yang biasanya ia kendarai dengan angkuh, Madani tampak seperti kehilangan separuh nyawanya.
“Pagi, Mbak Madani! Jalan kaki memang paling bagus untuk membakar kalori dan… membakar rasa iri,” sapa Naima cukup keras.
Madani tersentak, menoleh sekilas dengan tatapan tajam yang seolah ingin menembus jantung Naima, lalu pergi tanpa sepatah kata pun. Ibu-ibu di tukang sayur langsung sibuk berbisik, menciptakan riuh rendah yang lebih berisik dari suara knalpot motor Kang Asep.
Sesampainya di dapur, Naima mendapati Diana sedang melamun di depan tungku yang belum menyala. Wajah mertuanya itu tampak kusam, beban soal sertifikat rumah yang disita Madani seolah menyedot seluruh energinya.
“Ibu kenapa? Takut sambal Naima nggak pedas?” canda Naima sambil meletakkan belanjaan.
“Naima… Ibu kepikiran ucapan Bu Haji tadi di depan. Apa mereka sudah tahu soal sertifikat itu? Desa ini temboknya punya telinga, Nak,” bisik Diana dengan suara bergetar.
“Biarkan saja mereka punya telinga, Bu. Yang penting kita punya mulut untuk tetap diam dan tangan untuk terus bekerja,” Naima menggenggam tangan Diana yang dingin. “Hari ini, Naima tidak cuma mau ulek sambal. Naima mau Ibu lihat bagaimana cara Naima ‘mengulek’ harga diri orang-orang yang sudah mengancam Ibu.”
Sore harinya, drama domestik kembali berlanjut. Kali ini sumbernya adalah Mbok Sum, tetangga sebelah yang hobi menjemur kerupuk gendar di sepanjang pagar tanaman teh-tehan milik Diana. Remah-remah kerupuk yang berbau terasi mentah itu berserakan di halaman Naima yang baru saja disapu bersih oleh Juang.
“Mbok Sum! Waduh, kerupuknya banyak sekali hari ini!” seru Naima dari teras, memanggil wanita tua yang sedang sibuk menata tampah kayu.
“Iya, Naima! Cuaca panas begini paling pas buat jemur. Sugeng suka banget ini kalau sudah digoreng!” sahut Mbok Sum tanpa rasa berdosa sedikit pun meski remahannya masuk ke pot bunga Naima.
Naima berjalan mendekat ke pagar. “Mbok, Naima punya ide bagus. Mbok mau tidak kalau kerupuk Mbok ini Naima bawa ke Jakarta? Ada teman Naima punya toko oleh-oleh mewah di mal besar. Tapi…”
Mbok Sum langsung menghentikan kegiatannya. Matanya yang rabun mendadak fokus. “Di mal? Jakarta? Harganya berapa kalau dijual di sana?”
“Bisa tiga kali lipat dari harga pasar sini, Mbok. Tapi syaratnya ketat. Tidak boleh ada debu jalanan, tidak boleh kena asap motor Juang, dan tempat jemurnya harus khusus, tidak boleh di atas pagar tanaman begini,” Naima memulai negosiasinya dengan sangat lihai.

“Duh, terus Mbok harus jemur di mana?”
“Di belakang rumah Ibu Diana ada lahan kosong yang panasnya langsung dari atas dan tertutup pagar tinggi. Naima sudah minta Juang buatkan rak bambu bertingkat di sana. Mbok jemur di sana saja, lebih bersih, lebih cepat kering, dan yang pasti… harganya jadi mahal. Gimana?”
Mbok Sum tidak butuh waktu lama untuk berpikir. Logika keuntungan langsung mengalahkan kebiasaan puluhan tahunnya. Dengan sukarela, ia memindahkan semua tampahnya ke halaman belakang Diana. Perselisihan soal jemuran yang biasanya membuat Diana dan Mbok Sum perang dingin selama berminggu-minggu, selesai hanya dalam waktu lima menit di tangan Naima.
Namun, kedamaian itu terusik saat Juang pulang membawa seekor ayam jantan besar dengan bulu jabrik yang suaranya sangat berisik.
“Mbak Naima! Ini buat Mbak! Hadiah dari Albab dan anak-anak bengkel!” seru Juang dengan wajah bangga, memegangi kaki ayam yang meronta-rottal itu.
“Ayam? Untuk apa, Juang?” Naima menatap ngeri hewan unggas itu.
“Ini ayam juara, Mbak! Namanya si Guntur. Biar Mbak punya alarm alami kalau di rumah!” Juang melepaskan ayam itu di ruang tamu.
Seketika, si Guntur melompat ke atas meja makan, mematuk tudung saji, dan puncaknya—ia membuang kotoran tepat di atas sandal kulit branded milik Naima yang diletakkan di dekat pintu.
“JUANG! Ambil ayam itu sekarang!” teriak Naima, yang untuk pertama kalinya kehilangan ketenangan khas kotanya.
Kekacauan pecah. Juang mengejar ayam, Sugeng yang baru pulang ikut-ikutan mencoba menangkap dengan handuk, sementara Diana hanya bisa tertawa geli melihat menantunya yang biasanya anggun kini sibuk menghindari terbangnya bulu ayam.
“Mbak… maaf, Guntur cuma kaget lihat rumah bagus,” ucap Juang sambil memegangi ayam yang akhirnya tertangkap.
Naima menatap sandalnya yang ternoda, lalu menatap Juang dengan mata menyipit. “Malam ini, kita makan besar. Ibu, tolong siapkan bumbu rujak yang paling pedas. Juang, kamu yang olah ayam ‘juara’ ini sekarang juga untuk makan malam. Jangan sampai ada satu bulu pun yang tertinggal.”
“Tapi Mbak… ini ayam mahal!” protes Juang lemas.
“Lebih mahal mana dengan harga diri Mbak yang baru saja diinjak-injak oleh ayam ini di atas meja makan sendiri?” balas Naima dingin.
Malam itu, aroma ayam bakar bumbu rujak memenuhi rumah. Juang makan dengan wajah melas dan air mata yang hampir menetes di setiap kunyahannya, sementara Diana dan Sugeng makan dengan sangat lahap.
“Enak ya, Juang? Ternyata ayam juara memang lebih gurih kalau jadi makanan daripada jadi alarm,” sindir Naima sambil menyodorkan nasi tambahan.
Di tengah tawa kecil keluarga itu, Naima tahu bahwa kebahagiaan receh ini adalah benteng pertahanannya. Ia sedang menyiapkan mental mereka semua, karena ia tahu, besok pagi ia tidak akan lagi menghadapi ayam atau tukang sayur, melainkan Madani dan sertifikat tanah yang harus ia rebut kembali dengan cara yang paling elegan namun menyakitkan.