“Dua anak tunawisma mendekati meja saya dan dengan polos bertanya, ‘Permisi, Bu, bolehkah kami minta sisa makanan Anda? Kami sangat lapar.’ Melihat wajah mereka, air mata langsung menggenang di mata saya. Kedua anak tunawisma di hadapan saya tampak persis seperti kedua putra saya, yang hilang lima tahun sebelumnya… dan di situlah balas dendam paling brutal dalam hidup saya dimulai.”
Kerinduan Seorang Ibu
Nama saya Olivia Imperial, 35 tahun. Saya adalah CEO dan pewaris tunggal Imperial Group, kerajaan bisnis terbesar di negara ini. Saya memiliki segalanya, tetapi lima tahun yang lalu, saya kehilangan satu-satunya hal yang memberi makna bagi hidup saya—putra kembar saya, Lucas dan Leo.
Mobil pengasuh mereka diserang. Mobil itu ditemukan hangus terbakar, tanpa ada seorang pun di dalamnya. Polisi mengira anak-anak saya telah meninggal, tetapi sebagai seorang ibu, saya yakin mereka masih hidup. Saya mencari selama lima tahun, menghabiskan miliaran rupiah, tetapi sia-sia.
Hari ini adalah ulang tahun mereka yang ketujuh. Untuk berduka sendirian, aku pergi ke restoran luar ruangan mewah dan terkenal. Aku memesan semua hidangan favorit mereka, meskipun aku tahu tidak ada yang akan memakannya.
Permohonan Dua Anak Tunawisma
Saat aku menatap kue cokelat besar di depanku, aku merasakan dua sosok kecil mendekati mejaku.
“Bu…” sebuah suara kecil yang gemetar memanggilku.
Aku mendongak. Dua anak laki-laki, sangat kotor, berpakaian compang-camping dan tanpa alas kaki, berdiri di depanku. Tubuh mereka kurus, tetapi tangan mereka terkepal erat.

“Bu, bolehkah kami minta sisa makanan Anda?” tanya anak di sebelah kanan, mencoba melindungi adik laki-lakinya yang menangis di belakangnya, “Bahkan tulangnya pun masih utuh. Adikku sangat lapar.”
Saat mata kami bertemu, jantungku berdebar kencang. Mata mereka… fitur wajah mereka… persis seperti mendiang suamiku!
Piring di tanganku jatuh.
Aku berdiri dan perlahan mendekati mereka. Aku memegang lengan anak laki-laki yang baru saja berbicara, dan di sana aku melihat tanda yang sangat familiar—tanda lahir berbentuk bintang di pergelangan tangan kanannya. Tanda lahir Lucas!
“L-Lucas? L-Leo?” bisikku, suaraku bergetar, air mata mengalir di pipiku.
Kedua anak laki-laki itu tampak bingung.
“B-Bagaimana kau tahu nama kami?” tanya Leo polos.
Aku langsung menangis dan berlutut di lantai semen. Aku memeluk mereka berdua erat-erat, tak peduli dengan kotoran dan bau badan mereka.
“Ini ibumu, anakku… Aku ibumu! Akhirnya aku menemukanmu!”
Kedua anak itu membeku di dalam pelukanku. Tubuh kecil mereka yang kurus bergetar hebat. Selama lima tahun, mereka hanya mengenal kelaparan, dinginnya jalanan, dan cambukan kejam dari orang-orang yang menawan mereka. Namun, kehangatan pelukan seorang ibu tidak pernah bisa bohong. Naluri mereka mengenalku.
“M-Mama?” bisik Lucas, air matanya mulai menghapus debu di pipi kecilnya. “Mama yang selalu ada di mimpi kami?”
Aku mengangguk dalam tangis, mencium puncak kepala mereka bergantian. “Iya, Sayang. Ini Mama. Maafkan Mama karena butuh waktu lama untuk menemukan kalian.”
Saat aku mencoba menenangkan mereka, dari sudut matanya, Leo tiba-tiba tersentak ketakutan. Ia menyembunyikan wajahnya di balik tubuhku sambil berbisik panik, “Mama… ada Paman Botak! Dia akan memukul kami lagi kalau tahu kami tidak membawa uang!”
Aku menoleh ke arah koridor jalan di luar restoran. Seorang pria bertubuh besar, berkepala botak, dengan tato memenuhi lengannya sedang berjalan mondar-mandir sambil membawa sebatang kayu. Dia adalah salah satu sindikat pengemis anak yang selama ini menyiksa darah dagingku.
Kemarahan yang belum pernah kurasakan seumur hidup mendadak membakar seluruh jiwaku. Rasa sedihku menguap, bergantikan naluri membunuh dari seorang ibu yang anaknya telah dianiaya. Di sanalah, rencana balas dendam paling kejam dalam hidupku dimulai.
Langkah Pertama: Perlindungan dan Penjebakan
Aku segera berdiri, menyeka air mataku, lalu memanggil asisten pribadi dan tim keamanan berbaju hitam yang selalu mengawalku dari jarak jauh. Dalam hitungan detik, mereka sudah mengelilingi meja kami.
“Bawa Lucas dan Leo ke rumah sakit terbaik dengan pengawalan ketat. Rawat mereka, pastikan tidak ada satu pun media yang tahu,” perintahku dingin, suaraku berubah drastis menjadi sekeras baja.
“Dan untuk pria di luar sana…” Aku menatap Paman Botak yang mulai menyadari ada yang tidak beres. “Tangkap dia hidup-hidup. Jangan sampai mati. Aku ingin dia bicara.”
Malam itu juga, di sebuah gudang tua milik Imperial Group, pria botak itu terikat di kursi di bawah siraman cahaya lampu yang menyilaukan. Di hadapan tim hukum dan interogator terbaikku, dia tidak bertahan lama. Setelah beberapa menit, dia merangkak memohon ampun dan menyebutkan sebuah nama yang membuat duniaku bergoncang.
Dalang di balik penculikan anak-anakku bukanlah orang asing. Dia adalah Adrian, sepupu mendiang suamiku, yang selama lima tahun ini berpura-pura menjadi tangan kananku di perusahaan dan mengincar seluruh warisan Imperial Group.
Eksekusi Balas Dendam yang Sempurna
Aku tidak langsung menyerahkan Adrian ke polisi. Kematian atau penjara biasa terlalu instan dan terlalu murah untuk membayar lima tahun penderitaan anak-anakku. Aku ingin menghancurkannya perlahan, membiarkannya melihat semua yang ia dambakan hancur berkeping-keping sebelum ia sendiri membusuk di penjara.
Dua minggu kemudian, Imperial Group mengadakan pesta ulang tahun perusahaan yang megah. Adrian berdiri di atas panggung dengan setelan jas mewah, tersenyum bangga karena mengira malam itu ia akan diumumkan sebagai wakil CEO yang baru.
Saat ia mulai berpidato, layar besar di belakangnya mendadak mati, lalu berganti menampilkan sebuah video penayangan:
- Rekaman Pengakuan: Video interogasi sang bos sindikat pengemis yang menjelaskan secara detail bagaimana Adrian membayar mereka untuk membuang Lucas dan Leo ke jalanan setelah memalsukan kecelakaan mobil.
- Bukti Transaksi: Aliran dana gelap dari rekening pribadi Adrian ke sindikat tersebut selama lima tahun terakhir demi memastikan anak-anakku tetap menderita dan tidak pernah kembali.
- Kehancuran Finansial: Di saat yang sama, tim legal auditku telah membekukan seluruh aset Adrian, menyita rumah, mobil, dan seluruh sahamnya atas dakwaan korupsi dan percobaan pembunuhan berencana.
Pesta yang megah itu langsung berubah menjadi ruang sidang publik. Semua kolega bisnis dan kamera media menatap Adrian dengan pandangan jijik.
Akhir dari Sang Parasit
Adrian jatuh terduduk di atas panggung, wajahnya pucat pasi bagai mayat saat puluhan polisi masuk dan memborgol tangannya. Ia menatapku yang berdiri di ujung ruangan dengan gaun hitam anggun, menggandeng Lucas dan Leo yang kini telah bersih, sehat, dan berpakaian layaknya pangeran.
“Olivia! Tolong ampuni aku! Aku saudaramu!” teriaknya histeris sambil diseret melewati karpet merah.
Aku tidak membalas sepatah kata pun. Aku hanya menatapnya dengan senyum dingin. Dia akan menghabiskan sisa hidupnya di sel paling gelap, tanpa uang, tanpa kekuasaan, dan dihantui oleh bayang-bayang kejahatannya sendiri.
Aku berlutut di antara kedua anakku, memeluk mereka erat di bawah kilatan lampu kamera yang kini menyambut kembalinya sang pewaris sejati.
“Semuanya sudah berakhir, Sayang,” bisikku lembut ke telinga mereka. “Mulai hari ini, tidak akan ada lagi yang bisa menyakiti kalian.”