“Mantan suamiku mengundangku ke pernikahannya untuk memamerkan kebahagiaan dan kekayaannya setelah meninggalkanku saat aku hamil dan bersama putri kami, Penny, lima tahun lalu. Dia pikir aku akan menangis dan merasa bersalah. Tetapi ketika sebuah helikopter pribadi mendarat di tengah pernikahannya di kebunnya dan aku keluar bersama anak kembarku, hanya dengan satu kalimat… aku menghancurkan pernikahannya dan masa depannya.” “DIA PERGI DALAM SEKEJAP.”
Masa Lalu yang Pahit
Namaku Samantha, 32 tahun. Lima tahun lalu, aku mengalami tragedi paling menghancurkan dalam hidupku. Aku sedang hamil tujuh bulan ketika suamiku, Julian, tiba-tiba mulai mengemasi barang-barangnya. “Kau tidak berguna, Samantha! Aku tidak akan mendapatkan apa pun darimu atau anak kita!” geramnya saat aku berlutut dan memohon padanya untuk tetap tinggal. “Aku akan menikahi Beatrice. Dia putri pemilik perusahaan real estat terbesar di negara ini. Dia bisa memberiku kekayaan yang tidak pernah bisa kudapatkan!”
Dia meninggalkanku, membuatku miskin, kelaparan, dan harus membesarkan dua anak kembar yang sehat, Lucas dan Luna, sendirian. Yang tidak diketahui Julian adalah bahwa rasa sakit yang ditinggalkannya justru memicu kesuksesanku. Dengan menggunakan keterampilan teknologi dan investasi, aku membangun perusahaanku sendiri dari nol.
Sekarang, lima tahun kemudian, aku adalah seorang miliarder rahasia yang dikenal di kalangan bisnis sebagai “Nyonya S.”
Undangan Menuju Kehidupan yang Fana
Suatu pagi, aku menerima undangan pernikahan yang sangat mewah. Itu dari Julian dan Beatrice. Setelah lima tahun bersama, mereka akhirnya memutuskan untuk resmi menikah.

Di dalam undangan itu terdapat catatan kecil tulisan tangan dari Julian:
“Samantha, aku ingin kau melihat langsung kehidupan bahagiaku dan kekayaanku sekarang. Kuharap kau bisa datang dan menikmati makan malam yang enak bersamaku. Tentu saja, hanya jika kau mampu.”
Aku menatap surat itu. Alih-alih menangis atau marah, senyum dingin muncul di bibirku. Dia ingin mempermalukanku? Baiklah. Aku akan memberinya apa yang dia inginkan.
Kebahagiaan Lintah
Pernikahan itu diadakan di klub golf paling mahal dan eksklusif di negara itu. Taman luar ruangan dipenuhi oleh para pengusaha dan politisi terkenal. Julian berdiri di altar dengan setelan putihnya, sementara Beatrice berjalan ke arahnya dengan gaun pengantinnya yang elegan. Mereka tersenyum seolah seluruh dunia milik mereka.
“Sepertinya mantan istrimu yang malang tidak akan datang, sayang,” bisik Beatrice sambil terkekeh saat mereka mendekati altar.
“Mungkin dia tidak mampu. Lupakan saja sampah kecil itu,” jawab Julian dengan senyum sinis.
Upacara pernikahan dimulai. Julian hendak memasangkan cincin di jari Beatrice ketika tiba-tiba…
BOOM! BOOM! BOOM!
Deru mesin mengguncang taman. Angin kencang menerbangkan bunga-bunga mahal dan kerudung Beatrice. Para tamu berteriak dan menutupi wajah mereka.
Dari udara, sebuah helikopter pribadi hitam besar dengan logo emas perlahan turun dan mendarat tepat di tengah-tengah lahan pernikahan yang luas!
BAGIAN 2 (Tamat)
Semua mata tertuju pada helikopter hitam mewah tersebut. Angin kencang yang dihasilkan oleh baling-baling raksasa itu mengacaukan dekorasi pernikahan yang bernilai miliaran rupiah. Gaun pengantin Beatrice kusut, sementara Julian berdiri terpaku dengan wajah merah padam karena amarah. Klub golf eksklusif itu mendadak senyap, hanya menyisakan deru mesin helikopter yang perlahan meredam.
Pintu helikopter terbuka.
Seorang pria tegap berjas hitam turun terlebih dahulu, memasang tangga kecil, lalu berdiri tegak dengan sikap hormat yang luar biasa.
Dari dalam helikopter, muncullah dua anak kembar berusia empat tahun yang mengenakan pakaian desainer pesanan khusus dari Paris—Lucas tampak tampan dengan tuksedo kecilnya, dan Luna terlihat menggemaskan dengan gaun sutra lavender. Mereka menggandeng tangan seorang wanita yang memancarkan keanggunan, otoritas, dan kekayaan yang tak tertandingi.
Itu aku. Samantha.
Aku mengenakan gaun malam hitam bertahtakan berlian langka, dengan kacamata hitam yang menutupi mataku. Begitu aku melangkah turun ke rumput hijau, keheningan di taman itu berubah menjadi kasak-kusuk yang riuh.
“S-Samantha?!” bisik Julian, matanya hampir melompat keluar dari rongganya. Dia mencari-cari tanda-tanda kemiskinan atau penderitaan di wajahku, namun yang dia temukan hanyalah sosok wanita yang berkali-kali lipat lebih bersinar daripada pengantinnya.
Beatrice yang merasa acaranya dirusak langsung berteriak histeris. “Siapa kamu?! Berani-beraninya kamu mendaratkan helikopter di tengah pernikahanku! Penjaga! Usir wanita gila ini!”
Namun, tidak ada satu pun petugas keamanan yang bergerak. Mengapa? Karena klub golf mewah ini adalah salah satu dari puluhan aset yang berada di bawah payung perusahaanku.
Aku berjalan perlahan mendekati altar, dengan Lucas dan Luna di kedua sisiku. Para tamu undangan—yang sebagian besar adalah pebisnis kelas atas—mulai mengenali logoku. Tiba-tiba, ayah Beatrice, Tuan William, sang pemilik perusahaan properti raksasa, maju dengan tubuh gemetar dan wajah pucat pasi.
“M-Madam S? Anda adalah Madam S?!” suara Tuan William bergetar penuh ketakutan. Dia langsung membungkuk hormat di hadapanku.
Mendengar nama itu, seluruh tamu undangan menarik napas tertahan. “Madam S” adalah investor misterius yang baru saja membeli saham pengendali di perusahaan properti milik keluarga Beatrice, sekaligus orang yang memegang keputusan apakah perusahaan mereka akan diselamatkan dari kebangkrutan atau dihancurkan besok pagi.
Julian memandang calon ayah mertuanya dengan bingung. “Papa, apa yang Anda lakukan? Dia hanya mantan istriku yang miskin! Dia sampah!”
Plak!
Satu tamparan keras dari Tuan William mendarat di pipi Julian hingga pria itu tersungkur ke lantai altar. “Diam, bodoh! Dia adalah investor utama kita! Satu kata darinya, dan seluruh keluarga kita akan menjadi gelandangan!”
Aku melepas kacamata hitamku, menatap Julian yang terduduk di lantai dengan sudut bibir berdarah, lalu beralih menatap Beatrice yang mulai menangis ketakutan. Aku tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat dingin.
Aku mendekati Julian, lalu menjatuhkan surat undangan tulisan tangannya tepat di depan wajahnya. Aku menarik napas dalam-dalam, memastikan seluruh pengeras suara di altar menangkap suaraku, dan mengucapkan satu kalimat yang menghancurkan sisa hidupnya:
“Julian, terima kasih atas undangannya untuk ‘makan enak’, tapi sayang sekali, mulai detik ini, aku menarik seluruh investasiku dari perusahaan keluarga calon istrimu, dan aku pastikan tidak akan ada satu pun perusahaan di negara ini yang sudi mempekerjakan seorang pria yang membuang darah dagingnya sendiri.”
“Tidak… Samantha, kumohon! Aku khilaf lima tahun lalu!” raung Julian, merangkak mencoba menggapai ujung gaun hitanku. Dia menangis tersedu-sedu, menyadari bahwa wanita yang dulu dia buang demi harta, kini memegang seluruh takdir dunia bisnis di tangannya.
Beatrice langsung melepas cincin pernikahannya dan melemparkannya ke wajah Julian. “Pernikahan ini batal! Kamu pembawa sial!” teriaknya sambil berlari meninggalkan altar bersama ayahnya yang sibuk memohon ampun kepadaku. Pesta pernikahan megah itu berubah menjadi arena kehancuran dalam hitungan menit.
Aku tidak sudi melihat ratapan pria bajingan itu lebih lama lagi. Aku membalikkan badan, menggandeng tangan Lucas dan Luna yang menatap mantan ayahnya dengan pandangan asing dan tak peduli.
Kami kembali berjalan menuju helikopter. Sebelum pintu ditutup, aku menatap sekilas ke arah taman yang kini porak-poranda. Lima tahun lalu aku menangis di lantai apartemen yang dingin, mengira duniaku telah berakhir. Namun hari ini, di bawah langit yang cerah, aku membuktikan bahwa balas dendam terbaik bukanlah dengan kemarahan, melainkan dengan kesuksesan yang membuat musuhmu berlutut tanpa perlu kamu menyentuhnya.