(3) Nadira melangkah keluar dari pintu rumah sakit dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Bukan marah, bukan sedih, bukan pula kecewa—tapi semacam kekosongan yang aneh. Seperti ada ruang di dadanya yang tiba-tiba menganga dan tidak tahu harus diisi dengan apa.
Udara malam menyambutnya dengan dingin yang menusuk. Langit di atas sana gelap tanpa bintang. Nadira menaiki taksi online yang sudah ia pesan dari dalam kamar, menyebutkan nama Cafe Little Spoon kepada supir yang hanya mengangguk malas.
Sepanjang perjalanan, ia tidak berbicara sepatah kata pun. Pikirannya terlalu penuh untuk dirangkai menjadi kalimat. Yang ia tahu, ia akan segera bertemu dengan wanita itu. Wanita yang namanya tersimpan manis sebagai Bebe di ponsel suaminya. Wanita yang membuat Fadil rela mengkhianati pernikahan tiga tahun mereka. Wanita yang—ironisnya—justru menjadi alasan suaminya terbaring lemah di rumah sakit.
Cafe Little Spoon ternyata tempat yang cukup nyaman. Lampu-lampu kuning temaram menghiasi dinding bata ekspos, musik jazz pelan mengalun dari pengeras suara, dan aroma kopi bercampur vanilla menyebar di seluruh ruangan. Tapi Nadira tidak menikmati satupun dari itu.
Ia memilih kursi paling ujung dekat jendela. Dari sini, ia bisa melihat siapa yang masuk dan keluar. Ia meletakkan kedua telapak tangannya di atas meja marmer dingin, dan ia terkejut betapa dinginnya tangannya sendiri. Bukan karena suhu ruangan. Tapi karena darahnya seakan berhenti mengalir dengan semestinya.
Jantungnya berdegup kencang. Begitu kencang hingga ia bisa mendengar suara dum-dum-dum di pelipisnya. Seperti ada bom di dalam dadanya yang setiap saat bisa meledak. Napasnya pendek-pendek. Ia memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan diri.
Kamu kuat, Nadira. Kamu sudah sampai sejauh ini. Jangan hancur sekarang.
Pintu cafe terbuka.
Seorang wanita melangkah masuk, dan Nadira langsung tahu itu dia tanpa perlu bertanya. Wanita itu cantik—mungkin lebih dari sekadar cantik. Rambut coklat panjangnya terurai lembut di bahu, wajahnya bersih dengan senyum manis yang otomatis terpasang. Ia menggunakan blazer krem dipadu rok hitam selutut. Penampilannya rapi, profesional, tapi tetap feminin.
Wanita itu menengok ke kanan dan kiri, matanya mencari seseorang. Ia terlihat sedikit gelisah, jemarinya bermain-main dengan tali tas selempangnya.
Sari. Itu pasti Sari.
Nadira menahan napas. Ia memberi waktu beberapa detik kepada dirinya sendiri untuk menyerap kenyataan: Ini dia. Ini wanita yang suamiku cintai.
Sari berjalan ke arah meja di dekat Nadira, lalu duduk di kursi yang hanya berjarak dua meter dari tempat Nadira berada. Ia meletakkan tasnya di samping, lalu memesan kopi pada pelayan yang menghampirinya.
Nadira tidak bisa berhenti menatapnya.
Cantik. Ia memang cantik. Mungkin lebih cantik dariku.
Perasaan tidak aman yang selama ini ia tekan tiba-tiba muncul ke permukaan. Apakah Fadil bosan dengannya? Apakah ia tidak cukup menarik? Apakah ia terlalu membosankan sebagai istri? Ribuan pertanyaan menghujani kepalanya seperti hujan badai.
Tapi kemudian Nadira mengingat sesuatu: Aku bukan yang bersalah di sini. Aku bukan yang berhutang. Aku adalah istri yang selama tiga tahun setia, sementara dia—wanita di depanku ini—adalah selingkuhan.
Dengan sisa keberanian yang masih tersisa, Nadira berdiri.
Langkah kakinya terasa berat, seperti sedang berjalan di lumpur. Setiap langkah mendekati Sari terasa seperti langkah menuju medan perang. Tapi ia tetap melangkah. Ia tidak akan berhenti sekarang.
Sari mendongak saat bayangan seseorang menutupi meja kecilnya.
Nadira berdiri di hadapannya, menatap lurus ke mata wanita itu. Suaranya keluar pelan tapi jelas, meskipun ia tidak yakin dari mana ia mendapat kekuatan untuk bicara.

“Sari, ya?”
Wajah Sari berubah. Dari awalnya ramah menjadi waspada. “Maaf, kenal saya?”
Nadira tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke mata. “Saya istri Mas Fadil. Nadira.”
Sari terperanjat kaget. Wajahnya yang semula tenang berubah pucat dalam sekejap. Matanya membelalak, mulutnya setengah terbuka, dan tubuhnya refleks bergerak untuk berdiri. Tasnya hampir terjatuh karena gerakannya yang terlalu cepat.
“Saya… saya harus pergi,” gumam Sari, suaranya bergetar. “Ini salah. Saya tidak seharusnya—“
Namun sebelum Sari bisa melangkah pergi, Nadira meraih pergelangan tangannya. Lembut, tapi tegas.
“Tolong,” kata Nadira. “Jangan pergi dulu. Dengarkan aku sebentar. Hanya sebentar.”
Sari berhenti. Ia menatap tangan Nadira yang menggenggam pergelangannya, lalu menatap wajah Nadira. Mungkin karena Nadira terlihat tidak mengancam, atau mungkin karena rasa bersalah, Sari akhirnya menghela napas dan duduk kembali.
“Baik,” ucapnya lirih.
Nadira menarik kursi dan duduk di hadapan Sari. Kedua tangannya ia letakkan di pangkuan—ia tidak ingin Sari melihat betapa hebatnya tangan itu bergetar. Dadanya masih terasa seperti bom yang siap meledak, tapi ia tidak boleh menunjukkan kelemahan.
Ia menarik napas panjang.
“Mas Fadil sakit,” kata Nadira pelan. “Dia dirawat di rumah sakit. Sekarang.”
Sari menunduk. Ia tidak terlihat terkejut—mungkin karena ia sudah tahu, mungkin karena memang ekspresinya sulit dibaca. “Aku… iya, aku tahu dia lagi nggak enak badan.”
“Bukan tidak enak badan biasa,” potong Nadira. Suaranya mulai bergetar meskipun ia berusaha keras menahannya. “Dokter bilang dia stres berat. Tubuhnya ambruk karena tekanan psikologis.”
Hening.
Sari menggigit bibir bawahnya. Nadira bisa melihat ada pergulatan batin di wajah wanita itu. Mungkin rasa bersalah. Mungkin juga rasa khawatir.
“Aku tidak tahu harus bilang apa,” ujar Sari akhirnya dengan suara hampir berbisik. “Aku minta maaf. Sungguh. Aku nggak tahu kalau dia… sampai separah ini.”
Nadira menggeleng pelan. “Aku tidak datang ke sini untuk mendengar permintaan maafmu, Sari.”
Sari menatapnya dengan tatapan bertanya.
Nadira menelan ludah. Kata-kata berikutnya terasa seperti pecahan kaca di tenggorokannya. Tapi ia harus mengatakannya.
“Aku minta kamu datang ke rumah sakit,” ucap Nadira. “Temui dia.”
Sari terbelalak. “Apa?”
“Temui Mas Fadil,” ulang Nadira. “Dia merindukanmu. Dia sakit karena kamu. Mungkin… mungkin kalau dia melihatmu, dia akan bahagia. Dan sakitnya akan cepat sembuh.”
Sari menggeleng cepat. “Tidak. Tidak bisa. Itu… itu tidak benar. Aku nggak bisa bertemu dia di depan kamu. Itu gila.”
“Aku yang minta.”
“Tapi kamu istrinya!”
“Iya. Aku istrinya,” kata Nadira dengan suara yang tiba-tiba menjadi sangat tenang. Tenang yang menakutkan. “Dan aku istrinya yang melihat suaminya terbaring lemah, mengigau menyebut namamu, dan tidak bisa tersenyum sedikit pun kecuali saat ponselnya bergetar karena pesan darimu.”
Sari terdiam. Matanya mulai berkaca-kaca.
Nadira melanjutkan, “Aku tidak marah. Aku juga tidak akan menangis di depanmu. Tapi aku mohon… datanglah. Hanya sekali ini. Setelah itu, urusan kalian terserah. Aku hanya ingin dia sembuh.”
Sari menunduk dalam-dalam. Tangannya gemetar memegang cangkir kopi yang bahkan belum ia sentuh. Untuk beberapa saat yang terasa seperti selamanya, tidak ada suara di antara mereka selain alunan jazz yang sayu.
Lalu Sari mengangguk.
“Baik,” bisiknya. “Aku akan datang.”
Nadira tersenyum. Lagi-lagi senyum yang tidak sampai ke mata. Senyum yang ia pasang untuk menyembunyikan seribu pecahan yang berserakan di dalam dadanya. “Terima kasih.”
Mereka berjalan bersama menuju rumah sakit. Dua wanita yang seharusnya menjadi musuh, kini berjalan berdampingan dalam diam. Nadira di depan, Sari di belakang. Jarak di antara mereka hanya satu meter, tapi rasanya seperti jurang yang tak terlewati.
Saat mereka tiba di lorong menuju kamar Fadil, Nadira berhenti.
“Masuklah,” katanya pelan. “Aku akan menunggu di luar.”
Sari menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Mungkin iba. Mungkin heran. Mungkin juga tidak percaya bahwa seorang istri bisa rela melakukan ini.
“Kamu yakin?” tanya Sari.
Nadira hanya mengangguk.
Sari menarik napas, lalu mendorong pintu kamar perlahan.
Dan di situlah pemandangan yang akan membekas di memori Nadira seumur hidupnya.
Fadil sudah bangun. Matanya terbuka lebar saat melihat sosok yang masuk. Dan kemudian—untuk pertama kalinya selama tiga hari ini—wajah suaminya bersinar.
Fadil tersenyum.
Bukan senyum tipis atau senyum formal yang selama ini ia berikan pada Nadira. Tapi senyum lebar, senyum bahagia, senyum yang membuat matanya berbinar seperti bintang. Senyum yang selama tiga tahun pernikahan mereka, tidak pernah Nadira lihat sesering ini.
Senyum itu bukan untuknya.
Fadil sontak menengok ke kanan dan kiri, matanya memeriksa setiap sudut ruangan. Ia mencari-cari, memastikan bahwa istrinya tidak ada di sana. Bahwa ia aman. Bahwa ia bisa tersenyum pada wanita lain tanpa ketahuan.
Setelah yakin Nadira tidak terlihat, Fadil meraih tangan Sari dengan kedua tangannya yang lemah tapi penuh hasrat.
“Sari,” bisiknya parau. “Kamu datang. Aku kira kamu nggak bakal…”
Sari tidak menjawab.
Fadil melanjutkan, suaranya bergetar, matanya basah. “Jangan tinggalin aku lagi. Tolong. Aku nggak kuat hidup tanpa kamu. Aku mohon…”
Sementara itu, di balik pintu yang tidak sepenuhnya tertutup, Nadira berdiri.
Ia menyaksikan semuanya.
Ia melihat senyum yang tidak pernah ia terima.
Ia melihat tatapan yang tidak pernah ia dapatkan.
Ia melihat suaminya memohon kepada wanita lain untuk tidak pergi—sementara ia sendiri, istrinya yang sah, belum pernah sekalipun dimohoni untuk tinggal.
Dada Nadira terasa sesak. Begitu sesak hingga ia hampir tidak bisa bernapas. Hancur. Hancur berkeping-keping. Tapi ia tidak menangis. Ia menggigit bibirnya begitu keras hingga ia merasakan rasa logam darah di lidahnya.
Ia menahan tangis.
Ia menahan teriakan.
Ia menahan amarah.
Karena hari ini, di balik pintu kamar rumah sakit itu, Nadira memutuskan sesuatu.
Dia tidak akan menjadi wanita yang hancur di hadapan mereka.
Tidak.
Dia akan menjadi wanita yang menyaksikan kehancurannya sendiri dengan kepala tegak.