Pvas!
Door! Door! Doorr!
Suara ketukan pintu terdengar beruntun. Suaranya keras sekali.
“Rin, cepat buka pintunya!” Suara Mas Panji terdengar mengiringi suara ketukan pintu tersebut.
Aku tak peduli.
Mulai detik ini aku tak takut padanya. Bukannya tak menghormati dia sebagai seorang suami, tapi aku hanya ingin lepas dari p e n i n d a s a n selama ini. Pen in d a s a n yang dilakukannya selama usia pernikahan kami.
“Syifa bobo, ya. Tadi malam kan Syifa begadang karena lihat orang takbiran keliling kampung.”
“Iya, Ma…”
Kutepuk tepuk bahu putriku agar bocah itu bisa cepat tertidur pulas. Sudah tak sabar rasanya ingin keluar menemui dedemit-dedemit itu untuk melakukan pem b a l a s a n pada mereka.
“Mereka tadi menertawakan aku, karena aku mengatakan bahwa u a n g untuk membeli da gi. ng untuk rendang tadi dan perbumbuannya adalah u a n g ku. Heemm, belum tahu saja mereka kalau g a j i ku selama ini perbulannya sampai dua hingga tiga digit dari tiga platform. Bahkan selama ini pun mereka tak tahu kalau aku bekerja. Mereka tahunya Mas Panji lah yang selama ini bekerja sebagai asisten lapangan di sebuah perkebunan swasta. Tunggu saja…”
Tak lama, terdengar dengkuran halus Syifa. Itu artinya tidurnya sudah pulas.
Aku bangkit.
Membuka pintu.
Lalu mengayun langkah menuju ruang makan yang sempat kutinggalkan tadi.
“Ji, kalau ibu lihat sifat istrimu sekarang sudah berubah.”
“Mungkin dia terkena gangguan j. i w. a, Bu.”
“Betul Mbak. Barusan saja aku mau bilang begitu.” Tawa Marisa p e. c. a. h.
“Habis lebaran ini masukkan aja dia ke rvmah s a k i t ji w a sekaligus dengan anakmu. Biar nggak repot kamu ngurusnya.”
“Habis itu cari pengganti…”
“Mbak Lilis aja! Dia kan udah jendes! Jendes tajir. Nggak punya anak pula. Pokoknya kalau Mas Panji sama Mbak Lilis, pasti kalian bisa jadi keluarga Sultan.” Marisa bersemangat sekali saat mengatakan itu, mencoba mempromosikan seorang wanita pada suamiku.
“Oh jadi Lilis sudah jendes, ya, Mar? Ya udah lah, jadian aja! Dari pada sama istrimu yang orgil itu… adanya nanti u a n g mu habis. Lagi pula istrimu tak bekerja. Hari gini nggak jaman lagi seorang wanita bisanya hanya berpangku tangan saja. Semuanya harus merdeka secara finansial.” Itu suara Mbak Lira. Suara yang kentara sekali aura gosipnya. Membuat tvbuhku gemetar hebat. Kusandarkan tubvhku di dinding pembatas antara ruang makan dengan ruang keluarga, agar tak jatuh.
“Ibu setuju. Mantan pacar Panji itu memang cocok sekali dengan Panji. Ayo, kapan lagi punya kesempatan untuk dapetin jba n d a k a y a tanpa anak, Ji. Besok kita undang, ya, dia kesini. Besok di rumah kita kan ada acara open house. Semua saudara dan tetangga satu RT sudah ibu undang saat bubaran tarawih kemarin. Adakan bajetnya, Ji.”

Suamiku tak menyahut.
“Mas, ditanya ibu, tuh!” ucap Tania.
“Eh, – eh apa Bu?” Suara Mas Panji mulai terdengar. Suaranya gugup, seperti orang tertekan.
“Kita besok bikin open house, Mas. Ibu minta dananya dari kamu.” Tania mencoba menjelaskan ulang apa yang dikatakan oleh ibunya pada Mas Panji tadi.
“A-a-ada… ada, Bu.” Suara Mas Panji terdengar gugup. Wajar dia gugup, karena apa yang baru diucapkannya kan hanya b o h o ng belaka. Mana ada lagi dia uang. Kan uang gaji plus THR dari perusahaan sudah ludes untuk untuk membayar c ic i la n-c ic i la nnya. Ci c i l an m0t0r gede dan m o b i l kebanggaannya. Sok k a y a, sih. Naik m o t o r biasanya aja nggak mau, maunya naik m o t o r gede! Belum pantas punya mobil, nekat pula ingin punya m o b i l! Sekarang, makan tuh, c i c i l an!
“Heemm, rasain kamu Mas. Aku nggak akan memberimu u a n g sepeser pun. Kalau memungkinkan pun aku mau ke rumah bapak dan ibu. Biar jauh, yang penting nyaman. Tidak seperti lebaran disini… seperti di n e r a ka,” batinku sambil terus mencvri dengar obrolan mereka.
Aku yang tinggal beberapa langkah lagi sampai di ruang makan, mencoba bertahan agar tetap berdiri di sini. Menguping obrolan yang membahas tentang diriku.
“Biarkan mereka puas mengh i n a ku!” ucapku dalam hati, meski gemuruh di dalam d a d a ini bergejolak ingin menumpahkan apa yang ada di dalamnya.
Sakit!
“Nah, kalau ada langsung lah kamu transfer ke rekening ibu. Biar ibu belanja. Sore kan pasar sayuran udah buka. Lima juta aja cukup, kok, Ji.” Suara Ibu mertua terdengar girang sekali.
“Tu-tunggu, Bu…” Kuintip Mas Panji bangkit dari duduknya. Melangkah menuju keluar ruangan.
Dan kini, posisinya sudah dekat sekali denganku berdiri saat ini.
“Rin!” serunya kaget.
“Heeemm!” jawabku singkat.
“Rin, aku pinjam u a n g mu lima. jvta. T r a ns fer aja ke rek3ni ng ibu. Ibu mau bikin acara open house besok.” Tanpa rasa bersalah, lelaki tak tahu malu itu langsung saja mengutarakan niatnya untuk meminjam u a nbg padaku.
“Oke.” Aku menjawab dengan sikap setenang mungkin.
“Jadi… kamu mau me n tr n s f er ke ibu? Kamu sudah tidak m a r a h lagi?”
“Oh, tidak Mas. Lebaran tidak boleh m a r a h. Lupakan saja soal tadi,” ucapku sambil tersenyum penuh arti.
Terkadang memang kita harus bersabar untuk membalas sakit hati ini, sampai menemukan waktu yang tepat. Dan inilah yang sedang kulakukan.
Aku melangkah menuju ke dalam ruang makan sambil mengeluarkan ponsel dari saku gamis. Seolah sedang bersiap ingin melakukan tr a n sfber melalui M-b a n kibng yang ada di dalam ponselku. Padahal, ini hanya akting saja, karena yang sebenarnya, akan hanya ingin menggunakan momen ini untuk memb a la s s a k i t ha tiku selama ini.
“Bu… “
Bo0m pertama kul e m pa rkan tak seberapa dahsyat.
“Mau apa kamu muncul kembali di ruangan ini?” ujar ibu mertua dengan sewot. Tatapannya t a j a m penuh keb e n ci an.
“Bu, sudahlah m a r a h-m a r a h nya! Rini kesini mau ment ra n s f e r u a n g yang ibu minta tadi.”
“Apa? Jadi selama ini u a n g-u a n g mu dikendalikan oleh istrimu? Sampai ibu minta u a n g saja, harus dia yang me n t r a ns fernya. Jangan b o d o h, Ji… lelaki itu berhak sepenuhnya dengan u a n g gajinya. Bukan malah kamu kasih semua padanya! Kalau dia mau pegang u a n g banyak, ya suruh dia kerja. Jangan bisanya nge m i s terus dengan kamu!” Ibu mertua mengarahkan jari telunjuknya padaku. Tepat di wajahku, seolah aku ini seorang terdakwa.
Namun, aku hanya tersenyum kecil, sambil bersiap memvntahkan timah panas pada wanita tua itu dan juga pada yang lainnya.
Maka siapkan jantvng!
1… 2… 3…