Posted in

“AKU PURA-PURA BUTA DAN LUMPUH SETELAH KECELAKAAN UNTUK MENGUJI KESETIAAN ISTRIKU. AKU PIKIR DIA AKAN MERAWATKU… TAPI APA YANG KUTEMUKAN DI DALAM KAMAR KAMI MENGHANCURKAN DUNIAKU. MEREKA MENGKHIANATIKU TEPAT DI DEPANKU KARENA MENGIRA AKU TAK BISA MELIHAT DAN TAK BERDAYA… MEREKA TIDAK TAHU BAHWA AKU SUDAH MENYIAPKAN AKHIR YANG MENGERIKAN UNTUK MEREKA.”

“AKU PURA-PURA BUTA DAN LUMPUH SETELAH KECELAKAAN UNTUK MENGUJI KESETIAAN ISTRIKU. AKU PIKIR DIA AKAN MERAWATKU… TAPI APA YANG KUTEMUKAN DI DALAM KAMAR KAMI MENGHANCURKAN DUNIAKU. MEREKA MENGKHIANATIKU TEPAT DI DEPANKU KARENA MENGIRA AKU TAK BISA MELIHAT DAN TAK BERDAYA… MEREKA TIDAK TAHU BAHWA AKU SUDAH MENYIAPKAN AKHIR YANG MENGERIKAN UNTUK MEREKA.”

Ujian Rahasia

Namaku Tristan, tiga puluh lima tahun, CEO sebuah perusahaan investasi bernilai miliaran rupiah. Aku dan istriku, Valerie, sudah menikah selama dua tahun. Banyak orang memperingatkanku — terutama ibuku — bahwa Valerie hanya mengincar hartaku. Tapi karena aku mencintainya, aku memilih untuk menutup mata.

Sampai aku mengalami kecelakaan mobil bulan lalu.

Aku sebenarnya selamat tanpa cedera serius, tetapi tiba-tiba muncul sebuah ide di kepalaku. Aku berbicara dengan sahabatku, Dr. Ramirez, dokter di rumah sakit tempatku dirawat. Aku memintanya memalsukan laporan medis.

Kami akan membuat seolah-olah tulang belakang dan saraf optikku rusak parah — bahwa aku menjadi lumpuh dan buta total.

Aku ingin tahu… apakah Valerie akan tetap di sisiku meski aku hanyalah “mayat hidup.”

Saat aku dibawa pulang ke mansion kami, aku hanya duduk diam di kursi roda. Menatap kosong, tidak berbicara, dan berpura-pura tak merasakan apa pun di kedua kakiku.

Pengkhianatan Tepat di Depanku

Baru minggu pertama, aku sudah merasakan sikap Valerie berubah dingin. Dia jarang bicara denganku dan menyerahkan semua urusanku kepada para pengasuh.

Namun malam paling buruk terjadi pada minggu ketiga.

Aku duduk di kursi roda di tengah kamar kami, berpura-pura menatap ke arah jendela meski sebenarnya aku bisa melihat semuanya dengan jelas.

Pintu terbuka.

Valerie masuk… tapi dia tidak sendirian.

Bersamanya ada Dennis — pengacaraku sendiri sekaligus sahabat yang paling kupercaya.

Mereka masuk sambil tertawa.

Mereka bahkan tidak menutup pintu dengan benar.

Dan tepat di depanku — tidak sampai dua meter jauhnya — Dennis menarik tubuh Valerie lalu menciumnya dengan penuh nafsu!

Seluruh tubuhku mendidih.

Aku ingin berdiri dan menghajar Dennis sampai pingsan, tapi aku menahan diri. Otot-ototku menegang.

Sabar, Tristan.
Biarkan mereka membuka semua kebusukan mereka sendiri.

“Sayang, pelan-pelan dong… nanti Tristan lihat kita,” tawa genit Valerie sambil melingkarkan tangan di leher Dennis.

“Lihat? Orang bodoh itu sudah buta, Valerie. Dia cuma sayur hidup sekarang,” jawab Dennis sambil menyeringai jijik ke arahku.

Dia bahkan berjalan mendekat lalu melambaikan tangan di depan mataku.

Aku tidak berkedip.

Aku tetap menatap kosong.

“Nah, lihat? Dia sudah tidak berguna lagi. Sekarang kita yang akan menguasai semua hartanya,” tambah Dennis sambil tertawa.

Dokumen Keserakahan

Valerie mendekat kepadaku. Dia menatapku dari kepala sampai kaki dengan wajah penuh rasa jijik…

Valerie kemudian berjalan menuju meja kerja di sudut kamar. Dia membuka laci, mengeluarkan selembar dokumen tebal yang sudah dipersiapkan sebelumnya, lalu membawanya kembali ke hadapanku.

“Ini dia,” kata Valerie sambil menyodorkan sebuah pulpen ke tangan kananku yang sengaja kubuat terkulai lemas di atas sandaran kursi roda. “Dennis, bantu posisikan jarinya. Kita butuh sidik jari dan tanda tangan ‘buta’ dari si cacat ini.”

Dennis menyeringai. Pria yang sudah kuanggap seperti saudaraku sendiri itu dengan kasar menarik telapak tanganku, menempelkan jempolku pada bantalan tinta, lalu menekannya kuat-kuat di atas kertas. Aku melirik sekilas ke arah judul dokumen tersebut: Surat Pengalihan Aset dan Kuasa Penuh Atas Seluruh Rekening Perusahaan.

“Bagus sekali,” bisik Dennis setelah berhasil memalsukan tanda tanganku di bawah cap jempol itu. “Besok pagi, semua saham miliaran rupiah milik Tristan resmi menjadi milik kita. Dan setelah itu, kita tinggal menunggu waktu yang tepat untuk memberinya ‘dosis obat penenang’ ekstra agar dia pergi untuk selamanya tanpa kecurigaan.”

Mereka kembali berpelukan dan tertawa di atas penderitaanku, merayakan kemenangan palsu mereka tepat di depan mataku. Mereka mengira telah berhasil membodohi seorang pria tak berdaya.

Mereka sama sekali tidak tahu bahwa singa yang sedang mereka usik sama sekali tidak sedang tertidur.

Perangkap Mulai Menutup

Keesokan paginya, Valerie dan Dennis pergi ke kantor pusat perusahaanku dengan langkah angkuh, siap untuk merebut takhtaku menggunakan dokumen palsu tersebut.

Begitu pintu mansion tertutup dan mobil mereka pergi, aku langsung berdiri dari kursi roda. Aku berjalan tegak menuju ruang kerja pribadiku, menyalakan komputer, dan menghubungi Dr. Ramirez serta tim pengacara bayangan yang selama ini mengawasi aset pribadiku di luar sepengetahuan Dennis.

Semua rekaman kamera tersembunyi yang kupasang di kamar tidur—yang merekam setiap desah napas pengkhianatan mereka, ciuman menjijikkan itu, hingga proses pemalsuan dokumen semalam—telah tersimpan dengan kualitas ultra-HD di dalam cloud server-ku.

“Tristan, semua sudah siap,” suara pengacara bayanganku terdengar dari telepon. “Pihak kepolisian dari divisi kriminal ekonomi dan unit kejahatan terencana sudah bersiap di ruang rapat kantormu.”

Aku tersenyum dingin. “Bagus. Biarkan mereka menikmati ilusi kemenangan itu selama beberapa menit lagi.”

Aku mandi, mencukur jenggot tebalku, dan mengenakan setelan jas kustom terbaikku. Hari ini, “mayat hidup” ini akan bangkit untuk menjemput jiwa mereka.

Pembalasan yang Sempurna

Di ruang rapat utama perusahaan, Valerie dan Dennis sedang berdiri di depan jajaran direksi, memamerkan dokumen palsu tersebut dengan wajah penuh kelicikan.

“Mulai hari ini, saya yang memegang kendali penuh atas perusahaan ini karena kondisi suami saya yang sudah tidak memungkinkan,” ucap Valerie dengan nada berpura-pura sedih.

“Apakah Anda yakin, Valerie?”

Suara baritonku yang menggema dari arah pintu membuat seluruh ruangan seketika hening. Valerie dan Dennis menoleh dengan patah-patah, seolah-olah baru saja melihat hantu yang bangkit dari liang kubur.

Aku berjalan masuk dengan langkah tegap, berwibawa, dan tatapan mata yang tajam menghujam langsung ke pusat ketakutan mereka. Tidak ada kursi roda. Tidak ada kebutaan. Hanya ada Tristan, CEO yang mereka remehkan.

“K-Kamu… bisa melihat? Kamu tidak lumpuh?!” pekik Dennis, wajahnya seketika memucat seperti mayat, kertas di tangannya jatuh berserakan.

“Dennis, sebagai pengacaraku, harusnya kamu tahu bahwa membuat laporan palsu dan berzina dengan istri klienmu adalah tindakan yang sangat amat bodoh,” kataku tenang, sambil duduk di kursi kebesaran di ujung meja rapat.

Valerie langsung berlari ke arahku, mencoba berlutut dan menangis histeris. “Tristan! Ini semua rencana Dennis! Aku dipaksa, sayang! Aku diancam olehnya! Aku sangat mencintaimu!”

“Mencintaiku?” Aku tertawa hambar, lalu menekan tombol remote di tanganku.

Layar proyektor besar di ruang rapat langsung menyala, menampilkan rekaman video intim mereka semalam, lengkap dengan suara Valerie yang menyebutku “sayur hidup” dan rencana mereka untuk meracuniku sampai mati. Seluruh dewan direksi berbisik ngeri dan menatap menjijikkan ke arah mereka berdua.

Akhir yang Mengerikan

Pintu ruang rapat terbuka lebar, dan enam orang petugas kepolisian berseragam lengkap masuk dengan borgol di tangan mereka.

“Dennis, Valerie, kalian ditangkap atas pasal berlapis: penipuan terencana, pemalsuan dokumen otentik, percobaan pembunuhan berencana, dan penggelapan aset,” ujar komandan polisi dengan tegas.

Dennis mencoba melarikan diri, namun para pengawal pribadiku dengan mudah menjatuhkannya ke lantai, menekan wajah sombongnya ke atas karpet. Sementara Valerie terus menjerit-jerit histeris, memohon ampunan yang tidak akan pernah datang dari hatiku yang sudah membatu.

Aku mengabaikan jeritan mereka saat polisi menyeret mereka berdua keluar dari gedung, melewati ratusan karyawan yang menatap mereka dengan hinaan.

Sebelum mereka dimasukkan ke dalam mobil tahanan, aku mendekat dan berbisik di telinga mereka berdua:

“Aku telah membekukan seluruh rekening kalian. Semua aset, rumah, dan pakaian mewah yang kalian pakai saat ini dibeli dengan uangku, dan aku menariknya kembali hari ini juga. Kalian akan membusuk di penjara selama dua puluh tahun ke depan tanpa sepeser pun uang untuk menyewa pengacara.”

Mobil polisi itu melaju pergi, membawa dua parasit yang telah menghancurkan kepercayaanku. Aku berbalik, menatap gedung imperium bisnisku yang berdiri megah. Ujian rahasia ini memang menghancurkan hatiku, tetapi ia juga membebaskanku dari racun yang selama ini kupikir adalah cinta.