Posted in

“DIA MENERTAWAKANKU DAN MEMPERMALUKANKU DI DEPAN BANYAK ORANG SAAT AKU MENYATAKAN CINTA PADANYA KARENA AKU HANYA SEORANG MISKIN KELAPARAN. DIA MEMBUANG CINCIN MURAH YANG KUBERIKAN KE TEMPAT SAMPAH DAN BERKATA DI SANALAH TEMPATKU. SEPULUH TAHUN KEMUDIAN, AKU KEMBALI SEBAGAI SEORANG MILIARDER—DAN MENEMUKAN WANITA YANG MENGHINAKU ITU SEDANG MEMBERSIHKAN TOILET DI IMPERI BISNISKU SENDIRI.”

“DIA MENERTAWAKANKU DAN MEMPERMALUKANKU DI DEPAN BANYAK ORANG SAAT AKU MENYATAKAN CINTA PADANYA KARENA AKU HANYA SEORANG MISKIN KELAPARAN. DIA MEMBUANG CINCIN MURAH YANG KUBERIKAN KE TEMPAT SAMPAH DAN BERKATA DI SANALAH TEMPATKU. SEPULUH TAHUN KEMUDIAN, AKU KEMBALI SEBAGAI SEORANG MILIARDER—DAN MENEMUKAN WANITA YANG MENGHINAKU ITU SEDANG MEMBERSIHKAN TOILET DI IMPERI BISNISKU SENDIRI.”

MASA LALU YANG PAHIT

Namaku Julian, tiga puluh dua tahun. Sepuluh tahun lalu, aku mengalami penghinaan paling menyakitkan dalam hidupku.

Saat itu aku hanyalah mahasiswa pekerja paruh waktu, sementara Cassandra adalah wanita tercantik dan terkaya di universitas kami.

Meski tahu dunia kami berbeda, aku tetap memberanikan diri menyatakan cinta padanya. Aku menabung dari gaji recehku hanya untuk membelikannya cincin perak sederhana. Aku menghentikannya di tengah lobi kampus.

Namun bukannya terharu, dia malah tertawa sangat keras.

“Julian? Orang miskin kelaparan sepertimu berani mengejarku?!” teriak Cassandra dengan suara tajam penuh hinaan, membuat semua mahasiswa menoleh lalu ikut tertawa.

Dia mengambil kotak cincin kecil itu lalu melemparkannya ke tempat sampah.

“Lihat dirimu sendiri! Bau keringat dan sepatu lusuh! Tempatmu memang di tong sampah, Julian! Dan aku tidak akan pernah turun ke levelmu!”

Setelah itu dia pergi menaiki mobil sport mahalnya.

Hari itu aku menangis diam-diam.

Dan di situlah aku bersumpah pada diriku sendiri:

Aku akan bangkit dari tempat sampah yang dia tunjukkan kepadaku… dan suatu hari aku akan membeli dunia tempat dia hidup.

KEMBALINYA SEORANG RAJA

Sepuluh tahun berlalu dipenuhi darah, keringat, dan malam tanpa tidur.

Dengan kecerdasan dan kerja keras, aku membangun perusahaan teknologi dan properti milikku sendiri. Kini aku menjadi miliarder dan CEO termuda di seluruh negeri.

Pagi ini adalah hari pertamaku menginjakkan kaki di gedung pencakar langit lima puluh lantai yang baru kubeli di pusat kota dengan nilai miliaran rupiah.

Saat aku turun dari Rolls-Royce hitamku, para bodyguard langsung mengelilingiku. Aku mengenakan setelan Italia mahal.

Semua direktur dan manajer gedung menyambutku dengan kepala tertunduk penuh hormat.

“Selamat pagi, Mr. Julian,” sapa Direktur HR dengan keringat dingin di dahinya. “Kantor Anda di lantai paling atas sudah siap.”

Aku hanya mengangguk lalu berjalan memasuki lobi besar yang berkilau.

Namun saat aku melangkah menuju lift, aku mendengar suara bentakan yang terasa sangat familiar dari sudut dekat area elevator…

“Kamu ini kerja pakai otak atau tidak?! Lihat, lantai ini masih ada bercak air! Kalau ada tamu VIP yang terpeleset, kamu mau bertanggung jawab?!” bentak seorang manajer operasional dengan wajah merah padam.

Di hadapannya, seorang wanita paruh baya dengan seragam petugas kebersihan berwarna biru pudar sedang menunduk dalam-dalam. Tubuhnya gemetar, tangannya yang kasar memegang erat sebuah alat pel.

“Maaf, Pak… maafkan saya. Saya akan segera membersihkannya lagi,” jawab wanita itu dengan suara parau, hampir menangis.

Langkah kakiku mendadak terhenti. Jantungku berdesir tajam. Suara itu… meskipun sudah sepuluh tahun berlalu dan kini terdengar jauh lebih lelah serta bergetar, aku tidak akan pernah melupakannya. Suara yang dahulu meruntuhkan seluruh harga diriku di tengah lobi kampus.

Aku membalikkan badan dan berjalan perlahan menuju sudut lobi tersebut. Para bodyguard dan jajaran direksi langsung mengikutiku di belakang, menciptakan keheningan yang mencekam di seluruh area.

Melihat rombonganku mendekat, sang manajer operasional langsung mengubah ekspresinya menjadi penuh senyuman palsu dan membungkuk hormat. “Ah, selamat pagi, Mr. Julian! Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Pegawai kebersihan baru ini sangat ceroboh. Saya akan segera memecatnya hari ini juga!”

Wanita berseragam biru itu semakin menunduk, air matanya menetes ke lantai yang baru dipelnya. “Tolong jangan pecat saya, Pak… saya butuh pekerjaan ini untuk biaya pengobatan ibu saya…” ratapnya tanpa berani mengangkat wajah.

Aku berdiri tepat di depannya. Sepatu kulit Italia-ku yang mengkilap kini hanya berjarak beberapa sentimeter dari sepatu karetnya yang tampak usang dan basah.

“Angkat wajahmu,” kataku dengan suara bariton yang tenang namun penuh penekanan.

Wanita itu perlahan mengangkat kepalanya. Begitu matanya bertemu dengan mataku, detak napasnya seolah berhenti. Pupil matanya melebar sempurna. Seluruh tubuhnya mendadak kaku seperti batu.

“Ju… Julian?” bisiknya, nyaris tak terdengar.

Ya, itu dia. Cassandra. Wanita yang dahulu memenuhi lobi kampus dengan aroma parfum Prancis mahal, kini berbau sabun pembersih lantai murah. Kulitnya yang dulu mulus kini terlihat kusam dan dipenuhi gurat-gurat kelelahan. Tidak ada lagi mobil sport mewah, tidak ada lagi pakaian bermerek, dan tidak ada lagi tatapan mata elitis yang memandang rendah dunia.

“Mr. Julian! Apakah wanita ini lancang kepada Anda? Berani-beraninya dia memanggil nama Anda tanpa rasa hormat!” bentak Direktur HR yang panik di sampingku.

Aku mengangkat satu tangan, memberi isyarat agar semua orang diam. Seketika itu juga, lobi menjadi sepi seperti kuburan.

“Lama tidak bertemu, Cassandra,” kataku sambil memasukkan sebelah tangan ke saku celana bahan mahalku. “Bagaimana kabarmu?”

Air mata Cassandra mengalir semakin deras, menyusuri pipinya yang kini tirus. Rasa malu, syok, dan penyesalan yang mendalam terpancar jelas dari matanya. Dia melihat ke arahku—pria yang dulu dihinanya sebagai ‘orang miskin kelaparan’—kini berdiri sebagai pemilik tunggal dari imperium bisnis tempatnya mengais rezeki.

“Julian… aku… maafkan aku…” suaranya tercekat di tenggorokan. Dia langsung berlutut di atas lantai yang dingin, tepat di hadapan sepatuku. “Aku mohon maaf atas apa yang kulakukan sepuluh tahun lalu… Tolong jangan pecat aku… keluargaku bangkrut setelah ayahku wafat, dan aku tidak punya apa-apa lagi…”

Aku memandangnya yang bersujud di bawah kakiku.

Sepuluh tahun lalu, aku mengira momen seperti ini akan membuatku tertawa terbahak-bahak membalaskan dendam. Namun, saat melihatnya begitu hancur di tempat sampah yang sesungguhnya—roda kehidupan yang berputar ke titik terendah—aku hanya merasakan kepuasan yang dingin dan sunyi.

Aku membungkuk sedikit, mengambil alat pel yang terlepas dari tangannya, lalu menyerahkannya kembali ke genggamannya yang gemetar.

“Aku tidak akan memecatmu, Cassandra,” kataku datar, menatapnya lurus-lurus. “Bekerjalah dengan baik. Bersihkan setiap sudut gedung ini tanpa ada noda sedikit pun. Karena mulai hari ini… tempatmu memang di sini, di bawah kekuasaanku.”

Aku menegakkan tubuh, berbalik, dan berjalan mantap menuju lift VIP tanpa menoleh lagi.

Hari ini, sumpahku telah lunas. Aku tidak perlu melemparnya ke tempat sampah untuk membalas dendam. Cukup dengan membiarkannya melihat dari lantai terbawah, bagaimana pria yang dulu dihancurkannya kini telah membeli dunia tempat dia berdiri.