Posted in

“JANGAN PERNAH BERPIKIR BAHWA SEORANG KULI ANGKUTAN RENDAHAN COCOK BERDIRI DI SAMPING ANAKKU.”

“JANGAN PERNAH BERPIKIR BAHWA SEORANG KULI ANGKUTAN RENDAHAN COCOK BERDIRI DI SAMPING ANAKKU.”

Suara dingin Dona Celestina terdengar seperti pisau yang menusuk keheningan kamar itu.

Setumpuk uang tebal dilempar begitu saja ke atas meja.

Aku berdiri di sudut ruangan.

Tanganku yang besar dan kasar—yang terbiasa mengangkat semen dan besi—sedang dengan sangat hati-hati menyetrika polo putih favorit Elias.

Kemeja itulah yang rencananya akan dipakai Elias besok, pada hari pertama dia mencoba berjalan lagi tanpa bantuan.

Aku mengusap pelan bagian kerahnya.

Seolah sedang berbicara pada kain itu.

Berharap pakaian itu bisa memberi kekuatan pada pria yang kini tertidur tenang di kamar sebelah karena obat tidur yang diberikan oleh ibunya sendiri.

Aku membeku.

Panas setrika terasa menjalar sampai ke tenggorokanku.

Kering.
Pahit.
Sesak.

Jari-jari yang katanya mampu mengangkat lembaran besi berat mendadak kehilangan tenaga.

Tanganku gemetar lalu melepaskan pegangan.

Perlahan, polo putih bersih itu jatuh ke lantai.

Aku tidak berteriak.

Tidak ada air mata yang jatuh.

Tapi di dalam dadaku, aku bisa merasakan sebuah mimpi hancur tanpa pernah sempat diberi nama.

Seperti kaca yang retak sedikit demi sedikit.

Menusuk setiap bagian hatiku.



“Apa yang masih kamu tatap?” lanjut Dona Celestina sambil memandangku seperti serangga menjijikkan yang masuk ke mansion mewahnya.

“Ambil uang itu lalu pergi sebelum Elias bangun.”

“Kamu cuma jadi tongkat penyangga saat dia lumpuh.”

“Tapi sekarang anakku sudah bisa berdiri lagi.”

“Dia tidak membutuhkan wanita yang hanya akan menjadi bahan tertawaan saat dikenalkan pada teman-teman kami.”

Sebelum aku sempat menjawab, pintu terbuka dan Veronica masuk.

Kulitnya putih mulus.
Gaunnya mahal.
Tubuhnya dipenuhi aroma parfum favorit Elias.

Dia berjalan mendekat, melihat polo putih yang jatuh di lantai, lalu tanpa ragu menginjaknya.

“Oh, poor Winona.”

“You really thought you had a chance.”

katanya sambil tersenyum mengejek dan menatap lengan besarku serta kulitku yang kasar.

“Ruangan ini bau sekali.”

“Bau keringat buruh bangunan.”

“Mungkin kamu lupa.”

“Tante Celestina cuma mempekerjakanmu karena kamu cukup kuat untuk mengangkat orang lumpuh.”

“Kamu cuma pengasuh.”

“Hanya wanita rendahan yang merawat pasien.”

“Jangan pernah bermimpi menjadi istri keluarga Monteverde.”

Dengan ujung sepatunya, Veronica menendang tas kain murahku keluar pintu.

Pakaian lamaku, beberapa keping uang receh, dan sisir murah langsung berhamburan di lantai koridor yang mengilap.

Aku memunguti barang-barangku satu per satu.

Dan setiap kali membungkuk, rasanya harga diriku ikut terkikis sedikit demi sedikit.

Aku ingin membela diri.

Aku ingin berteriak bahwa saat Elias hancur dan kehilangan harapan, akulah yang diam-diam memeluk dan menopangnya.

Saat Veronica menjauh dan tidak mau merawatnya, akulah yang tetap bertahan dengan tangan kasarku yang setia.

Tapi untuk apa?

Bagi mereka, cinta hanya diukur dari wajah cantik dan kekayaan keluarga.

Aku mengambil tasku.

Namun sebelum pergi, aku perlahan mengambil polo putih yang kusut itu dari lantai.

Aku menepuk-nepuknya pelan.

Melipatnya dengan rapi berbentuk persegi.

Lalu meletakkannya kembali di atas kursi.

Aku tidak menyentuh uang di meja.

“Tambahkan saja uang itu ke biaya pemakaman hati nurani kalian, Nyonya.”

kataku pelan namun tajam.

Aku tidak menoleh lagi.

Aku berjalan keluar dari mansion itu.

Hujan deras yang dingin langsung membasahi seluruh tubuhku.

Setiap tetes hujan terasa seperti pecahan es yang menusuk kulitku.

Tapi dadaku terasa jauh lebih dingin.

Aku mendongak ke arah jendela kamar Elias.

Lampunya sudah mati.

Apakah pria yang kucintai itu bisa mendengar suara hati yang sedang menangis dari kejauhan?

Atau mungkin besok saat bangun, dia juga akan percaya bahwa aku pergi diam-diam karena menerima uang mereka?

Aku menarik napas panjang.

Memaksa kakiku terus melangkah menjauh dari satu-satunya tempat yang pernah membuatku merasa menjadi wanita sungguhan.

Namun sebelum aku sampai di ujung jalan yang gelap, pandanganku mendadak kabur.

Kelelahan karena malam-malam tanpa tidur, rasa sakit akibat penghinaan, dan dinginnya hujan bercampur menjadi satu.

Tubuh besarku roboh di tengah jalan basah.

Yang bisa kurasakan hanya dinginnya aspal di pipiku.

Dan pada detik terakhir sebelum kesadaranku hilang…

cahaya menyilaukan dari dua lampu besar mobil yang melaju kencang mendekat lurus ke arahku…

Bersambung 👇 

Voir moins

Commentaires

Fan montant

Miranti Chikita

Lanjut

  • 52 min
  • Répondre
  • Envoyer un message
  • Masquer

Super fan

Neni Tasika

Lanjut

  • 1 h
  • Répondre
  • Envoyer un message
  • Masquer

Siti Rahayu

lanjutan

  • 12 min
  • Répondre
  • Envoyer un message
  • Masquer

Ray Rayhan

lanjut kak

  • 1 h
  • Répondre
  • Envoyer un message
  • Masquer

…Cahaya lampu itu semakin dekat, menyilaukan mataku yang kian meredup. Suara decitan ban yang bergesekan keras dengan aspal basah memecah keheningan malam, disusul oleh suara pintu mobil yang dibuka dengan kasar.

“Astaga! Ada orang pingsan! Cepat bantu dia!” sebuah suara bariton yang tegas terdengar samar di telingaku sebelum semuanya benar-benar menjadi gelap gulita.

TIGA TAHUN KEMUDIAN: KEBANGKITAN DARI RAKITAN BESI

Malam itu, lobi utama Monteverde Convention Center dipenuhi oleh ratusan konglomerat dan pejabat tinggi. Malam ini adalah perayaan kembalinya Elias Monteverde ke dunia bisnis setelah pulih total dari kelumpuhannya, sekaligus pengumuman kerja sama investasi terbesar dengan Arsenio Group—raksasa logistik dan manufaktur baja nomor satu di Asia Tenggara.

Dona Celestina berdiri di tengah ruangan dengan gaun beludru merahnya, tersenyum bangga didampingi Veronica yang kini menjadi tunangan Elias.

“Elias, lihatlah sekelilingmu,” bisik Dona Celestina penuh kemenangan pada putranya yang kini berdiri tegap dalam setelan jas mahal. “Inilah duniamu yang sebenarnya. Bukan dunia bersama wanita kuli rendahan yang dulu memanfaatkan kelumpuhanmu demi uang.”

Elias hanya diam, wajahnya datar tanpa ekspresi. Sejak terbangun tiga tahun lalu dan mendapati Winona pergi—dengan cerita karangan ibunya bahwa Winona kabur setelah menerima uang pesangon—sebagian dari jiwa Elias seperti mati. Dia hanya fokus pada bisnis, menjadi pria dingin yang tak tersentuh.

“Hadirin sekalian,” suara pembawa acara menggema melalui pengeras suara. “Mari kita sambut mitra utama kita malam ini, CEO dan Pemilik Tunggal Arsenio Group yang baru saja mendarat dari London…”

Pintu aula besar terbuka lebar.

Beberapa pengawal bertubuh tegap membuka jalan. Di tengah-tengah mereka, berjalan seorang wanita dengan keanggunan yang luar biasa. Dia mengenakan high heels perak yang mengetuk lantai marmer dengan irama yang penuh keyakinan. Gaun satin hitam yang melekat di tubuhnya memperlihatkan siluet tubuh yang tinggi, tegap, dan proporsional—tidak kurus rapuh seperti sosialita kebanyakan, melainkan memancarkan aura kekuatan yang dominan.

Rambutnya disanggul rapi, memperlihatkan leher jenjang dan kulit sehat yang eksotis. Wajahnya yang tegas dipulas dengan riasan minimalis namun sangat berkelas.

Dona Celestina dan Veronica seketika mematung. Napas mereka tercekat.

Elias, di sisi lain, langsung melangkah maju seolah ditarik oleh magnet tak kasat mata. Matanya melebar sempurna, tangannya yang memegang gelas sampanye mulai bergetar.

“Wi… Winona…?” bisik Elias, suaranya parau menahan badai emosi yang berkecamuk di dadanya.

AKHIR DARI SEBUAH KESOMBONGAN

Wanita itu adalah aku. Winona.

Malam tiga tahun lalu, mobil yang hampir menabrakku ternyata adalah mobil milik Don Raditya Arsenio, taipan baja yang kehilangan putri tunggalnya akibat kecelakaan. Dia menyelamatkannya, mengadopsiku, dan melihat potensi besar dalam diriku yang terbiasa bekerja keras dengan besi dan baja. Di bawah bimbingannya, aku belajar, bertransformasi, dan kini memegang kendali penuh atas imperium bisnisnya.

Aku berjalan melewati kerumunan, membiarkan tatapan tidak percaya dari Dona Celestina dan Veronica menusuk udara. Aku berhenti tepat beberapa langkah di depan keluarga Monteverde.

“Tidak mungkin…” gumam Veronica, wajahnya yang putih mulus kini memucat seperti mayat. “Kamu… kamu kuli bangunan itu! Bagaimana bisa?!”

“Jaga bicaramu, Veronica!” bentak direktur operasional Monteverde Group yang panik mendengar kelancangan tunangan bosnya kepada investor terbesar mereka. “Beliau adalah Nona Winona Arsenio!”

Dona Celestina gemetar hebat, tas tangan mahalnya hampir terjatuh. Kenangan tiga tahun lalu saat dia melemparkan seonggok uang dan menyebutku serangga menjijikkan kini berputar kembali di kepalanya seperti bumerang yang siap memenggal lehernya.

Aku menatap Dona Celestina dan Veronica bergantian, lalu memberikan senyuman tipis yang sangat dingin.

“Selamat malam, Nyonya Celestina, Nona Veronica,” kataku dengan suara yang tenang, bergema penuh otoritas. “Senang melihat kalian masih mengenali bau ‘keringat buruh’ ini. Bedanya, hari ini, keringat itulah yang mendanai seluruh proyek sisa milik keluarga Monteverde yang hampir bangkrut.”

“Winona… demi Tuhan, ini benar kamu?” Elias melangkah mendekat, matanya berkaca-kaca. Dia mengabaikan ibunya dan Veronica. “Kamu tidak pergi karena uang itu, kan? Mereka membohongiku!”

Aku menatap Elias. Ada denyut rindu yang sempat muncul, namun segera kutepis dengan logika yang sudah kutempa selama tiga tahun ini.

“Itu tidak penting lagi, Tuan Monteverde,” jawabku formal, membuat Elias tersentak mundur seolah ditampar. “Saya ke sini murni untuk urusan bisnis. Dan setelah melihat bagaimana kualitas moral internal keluarga Anda…”

Aku memberi isyarat kepada asisten pribadiku yang langsung menyodorkan sebuah dokumen map hitam. Aku mengambilnya, lalu menjatuhkannya begitu saja ke atas meja di samping Dona Celestina—persis seperti cara dia membuang uang ke hadapanku tiga tahun lalu.

“Perjanjian investasi ini resmi saya batalkan. Arsenio Group tidak akan pernah menanamkan modal sepeser pun pada perusahaan yang fondasinya dibangun dari kesombongan dan ketiadaan hati nurani.”

“Winona, tolong jangan lakukan ini! Perusahaan kami bisa hancur jika kamu menarik investasimu!” tangis Dona Celestina pecah, ego dan keangkuhannya runtuh seketika di depan ratusan pasang mata koleganya. Dia bahkan mencoba meraih tanganku, namun pengawal pribadiku langsung menghadangnya.

Aku memandang lenganku yang dulu mereka hina kasar, lalu beralih menatap Veronica yang kini menunduk dalam, menyembunyikan wajahnya yang merah padam karena malu.

“Dulu Anda bilang, saya hanya cocok jadi tongkat penyangga saat anak Anda lumpuh,” kataku pelan, menatap lurus ke mata Dona Celestina untuk terakhir kalinya. “Sekarang anak Anda sudah bisa berdiri. Tapi sayangnya, Anda dan seluruh keluarga Anda yang justru akan berlutut di bawah kakiku.”

Aku berbalik, membiarkan gaun satin hitamku berkibar megah seiring langkah kakiku yang mantap meninggalkan aula. Elias berteriak memanggil namaku, namun suaranya tenggelam dalam riuh bisik-bisik kehancuran keluarganya.

Malam ini, di bawah lampu kristal yang mewah, aku tidak hanya berjalan keluar sebagai pemenang. Aku keluar sebagai pemilik takdirku sendiri, meninggalkan mereka yang terikat dalam kemiskinan hati nurani yang sesungguhnya.