Namaku Lira. Sekarang aku berusia 47 tahun.
Tapi semuanya bermula saat aku berumur 22 tahun.
Waktu itu aku baru saja pindah ke Semarang. Seorang gadis kecil dari Purwokerto yang hanya bermodal ijazah SMK dan mimpi besar. Ibuku meninggal karena sakit ketika aku berusia 15 tahun. Ayahku? Dia memilih pergi bersama wanita lain ketika aku masih kecil.
Aku bekerja sebagai barista di sebuah kafe kecil bernama Kopi Senja di daerah Candi. Gajinya pas-pasan, tapi aku bahagia karena bisa belajar membuat latte art dan bertemu orang-orang baru.
Lalu aku bertemu Raka.
Putra sulung dari Pak Surya Wardhana, pemilik jaringan hotel mewah terbesar di Jawa Tengah. Raka baru pulang dari kuliah di Australia. Ganteng, percaya diri, dan punya senyum yang membuat siapa saja sulit menolak.
Aku tidak pernah menyangka anak orang sekaya itu mau memperhatikan aku.
Semuanya dimulai dari pesanan kopi yang ia ulang-ulang hanya untuk bisa mengobrol sebentar denganku. Lalu ia mulai datang hampir setiap sore, duduk di pojok kafe, dan menunggu aku selesai shift.
“Kamu punya mata yang jujur, Lira,” katanya suatu malam saat hujan deras di luar. “Itu langka di kota ini.”
Raka pandai bicara. Kata-katanya lembut, tapi penuh keyakinan. Ia bilang aku berbeda dari semua wanita yang pernah ia kenal. Ia bilang ia lelah dengan dunia palsu kelas atas dan merasa tenang hanya ketika bersamaku.
Hanya dalam dua bulan, aku sudah jatuh hati sepenuhnya.
Kami sering menghabiskan malam di apartemennya yang mewah. Ia memperlakukanku seperti ratu. Memberi hadiah, mengajak traveling ke Bali dan Yogyakarta, bahkan berjanji akan memperkenalkanku pada keluarganya.
Aku percaya.
Karena itu, aku memberikan segalanya padanya — termasuk tubuh dan hatiku yang masih utuh.
Tapi suatu pagi, setelah malam yang penuh janji, ia menghilang.
Tidak ada pesan.
Tidak ada panggilan.
Nomornya tidak aktif.
Aku tahu dari teman kerjaku bahwa Raka sudah kembali ke Jakarta karena akan dijodohkan dengan anak pengusaha properti besar. Aku hanya hiburan sementara baginya.
Aku hancur.
Aku kehilangan pekerjaan karena sering bolos dan menangis di belakang kafe. Tabunganku habis untuk biaya hidup. Aku hampir putus asa.
Delapan tahun kemudian, aku sudah berubah total.
Kini aku adalah Lira Pramesti, pemilik Senja Coffee Roastery — sebuah brand kopi spesialty yang sudah punya tiga cabang di Semarang dan Solo. Aku bangkit dari nol. Belajar sendiri, berhutang, bekerja keras siang malam, sampai akhirnya berhasil.
Suatu hari, aku diundang sebagai pembicara di sebuah acara bisnis perhotelan di Hotel Wardhana Grand.
Dan di sana, aku bertemu Pak Surya Wardhana — ayah Raka.
Aku pikir ia akan sama seperti anaknya. Hanya ingin memanfaatkanku atau sekadar nostalgia. Ternyata tidak.
Pak Surya memintaku bertemu secara pribadi setelah acara.
Di ruang kerjanya yang sunyi, ia mengeluarkan sebuah map tebal.
“Delapan tahun lalu, Raka meninggalkanmu,” katanya dengan suara berat. “Aku baru tahu semuanya dua tahun yang lalu. Tapi ada hal yang lebih penting dari itu, Lira.”

Ia membuka map tersebut.
Di dalamnya ada dokumen, foto, dan bukti transaksi.
“Perusahaan kami sebenarnya sudah hampir bangkrut saat itu. Raka dijodohkan karena kami butuh suntikan dana besar dari keluarga calon istrinya. Tapi ada yang lebih besar… saya menyembunyikan sesuatu dari anak saya sendiri.”
Pak Surya menatapku dalam-dalam.
“Raka punya kembaran. Saudara kembar yang hilang sejak kecil. Dan dari hasil tes DNA yang baru saja saya lakukan diam-diam… kamu adalah saudara kembar Raka, Lira.”