Posted in

“Daripada kamu terus-terusan bertemu dengan Mayang di belakangku, kenapa tidak kamu nikahi saja dia Mas?”

Mas Dirga yang tengah b3rkut4t di depan laptop ters3nt4k, menoleh ke arah Farra dengan tatapan bingung.

“Ngomong apa sih kamu? Kalau mau cari masalah tidak perlu men*d*h ku seperti itu!” ucapnya dengan suara tinggi.

“Tidak perlu bernada tinggi, Mas. Dan, aku tidak pernah men*d*hmu, apa yang kukatakan karena aku sudah meng*mpulkan bukti. Kamu tahu, aku sudah cukup diam selama 5 tahun menikah denganmu.”

Wajah Farra terlihat datar, pun bahasa t*b*hnya, tidak ada terlihat seperti orang yang em*si. Dia terlihat begitu tenang.

“Kalau kamu sudah tahu dan selama ini diam, kenapa sekarang berbicara? Lanjutkan saja diammu. Lagian selama menikah aku sedikitpun tidak mel3watkan n4fk4h padamu.”

Apa yang dikatakan Dirga memang benar. Mungkin tak ada yang meny4ngka dibalik tanggung jawabnya pada keluarga, dia juga bisa bermain peran yang lain, m3nikm4ti kisahnya yang tak dir3stui dengan sang mantan pacar.

“Kalau aku diam, selama itu juga aku akan menjadi boneka dalam hidupmu, Mas. Jika memang kamu berupaya t4ng9ung jawab secara ikhlas, tentulah kamu lebih mengsampingkan 3g* dan hatimu itu. Tapi ny4ta tidak ‘kan?

“Sudahlah, aku c4pek membicarakan hal tak berb*bot ini.”

Farra meng4n9guk-ng4n9guk penuh arti. Seakan meny3t*jui pertanyaan yang terl*nt4r dari mulut suaminya itu.

“Kalau begitu, aku ingin kita berpis4h, dan silakan kamu kembali pada cinta pertamamu, Mas. Tak mungkin kubiarkan diri ini dengan sengaja d1s…iks4 terus-terusan.”

Dirga spontan berdiri. Dia berjalan mendekat ke arah Farra yang berdiri di amb4ng pintu k4m4r.

“Siapa yang m3nyik.ss4 kamu? Apa aku pernah KD .RT nggak ‘kan?”

“Kamu berkarir aku izinkan. Sampai fasilitas di rumah ini tak kurang satupun. Apa kamu tidak bersyukur?”

“Raisa masih kecil. Umurnya masih 4 tahun. Apa kamu pikir dengan b3rpis4h akan membuat keadaan lebih baik? Apa kamu tidak memikirkan perasaan Raisa?”

Malam semakin sunyi h4wa malam tak men3piskan rasa p4n4s di k4m4r sepasang suami istri ini.

“Harusnya sebelum kamu mengatakan hal itu, kamu yang harus tahu sikap apa yang mesti kamu ambil, Mas.”

“Jangan disaat aku bert1ndak mem*t*skan untuk mengakhiri pernikahan ini, kamu baru mempertanyakan bagaimana perasaan Raisa.”

“Bisa tidak kamu meng4jakku berdiskusi? Bisa tidak kamu tidak mem*jokkan seperti ini?”

“Tidak ada satupun istri yang ingin mem*jokkan suaminya dalam hal apapun, Mas.”

“Seharusnya tak ada yang perlu didiskusikan atas perasaan yang tak pernah effort untuk kamu lupakan.”

“Pernikahan itu perjalanan dua orang, bukan satu orang. Ya aku tahu, kamu begitu tanggung jawab dalam hal yang t4mpak di mata, Mas.”

“Tapi yang aku p3rsoal4n sekarang bukan tentang itu. Tapi tentang hatimu yang terbagi banyak pada cinta pertamamu itu.”

Dirga hanya tert*nduk mendengar r3ntet4n kalimat yang terl*nt4r dari mulut istrinya itu. Agak shock terlihatnya. Bagaimana tidak, selama menikah, mereka termasuk jar4ng bert3ngkar. Paling sel1sih paham saja. Itupun tidak berl4rut.

“Oke, aku sudah berus4ha. Tapi tidak bisa. Ya aku jujur, aku memang bertemu dengan Mayang, tapi tidak sering. Hanya beberapa kali.”

Farra menggeleng cepat mendengar pemb3l4an suaminya itu yang jelas saja penuh keb*h*ngan.

“Perpis4han bukan ide dan kep*tus4n yang tepat. Aku akan b3rus4ha berubah dan belajar menc1nt4imu sepenuhnya, tapi tolong bantu aku, b3ri aku waktu untuk merubah semuanya.”

Dirga mencoba meraih tangan istrinya, tapi Farra meng3lak seperti tak ingin dis3nt*h sedikitpun oleh suaminya itu.

“Jika kamu mengambil kep*tus4n ini, apa kamu tidak memikirkan perasaan ibuku? Kamu ‘kan tahu, betapa sayangnya ibuku padamu, Farra. Dia lebih menyayangi kamu daripada aku an4k k4nd*ngnya sendir.”

“Jika kita berpisah, mungkin yang paling sakit adalah ibuku. Dan, juga Raisa.”

Farra menghela napas berat.

“Bisa ya kamu, Mas. Melindungi dirimu dengan seolah-olah mengedepankan ibumu dan an4k kita.”

“Kalaupun kamu memang memikirkan perasaan siapa yang lebih s4kit saat ada perpis4han, tentulah sejak awal ijab Qabul, atau paling tidak satu tahun cukuplah ya rasanya menghapus cinta pertamamu itu dalam perjalanan hidupmu.”

“Nyatanya kan tidak. Gimana mau lupa meskipun pernikahan pul*h4n tahun atau sampai s3puh, kamu sendiri terus mem*puk, dengan bertemu, bertuk4r kabar.”

“Sekarang perju4n9kan dia di depan ibumu, perju4n9anku selesai. Ini bukan lagi demi memikirkan orang lain, tapi aku mem*t*skan untuk menyayangi diriku sendiri.”

Bukannya merasa bers4lah atas sikapnya yang tak setia dan b3rkhi4nat secara halus, Dirga malah balik meny3r4ng Farra.

“Kamu eg*is!”

“Sudahlah, Mas. Aku sudah keh4bis4n energi untuk membahas ini, biarlah nanti dip3rsid4ngan saja kita lanjutkan.”

Farra bertol4k pergi ke lantai dua untuk tidur di k4m4r Raisa.

Judul Novel Kembalilah Pada Cinta Pertamamu, Mas!
Penulis Dwi Nella Mustika