Posted in

“KAMU TAK BISA MENIKAHI SESUATU YANG SUDAH KAMU KUBURKAN”: PUTRI SEORANG PEMBANTU YANG MENAMPAR MILIARDER PALING DITAKUTI DI AMERIKA

“KAMU TAK BISA MENIKAHI SESUATU YANG SUDAH KAMU KUBURKAN”: PUTRI SEORANG PEMBANTU YANG MENAMPAR MILIARDER PALING DITAKUTI DI AMERIKA

Tamparan itu pecah di dalam kapel marmer Greyhaven seperti suara tembakan.

Semua pria berjas hitam serentak memasukkan tangan ke dalam jas mereka. Semua wanita berkalung mutiara berhenti bernapas. Kuartet gesek kehilangan iramanya, satu biola mengeluarkan nada kecil penuh ketakutan sebelum musik itu mati sepenuhnya. Di ujung lorong mawar putih, di bawah langit-langit berkubah yang dilukis malaikat-malaikat yang tampak terlalu tenang untuk kejadian barusan, Lena Mercer berdiri dalam gaun pengantin yang tak pernah ia pilih, dadanya naik turun seperti seseorang yang berlari ke sana, bukan diantar dengan limusin.

Roman Whitlock, pria tujuh puluh tahun, miliarder pemilik setengah pelabuhan di Pantai Timur Amerika dan penguasa kerajaan gelap yang tak pernah berhasil disentuh jaksa federal mana pun, perlahan memalingkan wajahnya kembali ke arah Lena.

Bekas telapak tangan merah menyala di pipi kirinya.

Tak seorang pun bergerak. Bukan para pengawal. Bukan para senator yang berpura-pura datang demi amal. Bukan para hakim yang berpura-pura datang demi persahabatan. Bahkan keluarga-keluarga tua Newport, Rhode Island, yang memenuhi kapel di tanah milik Roman, tetap diam membeku—karena ketika Roman Whitlock mengirim undangan, orang-orang tidak bertanya apakah mereka ingin datang. Mereka bertanya apa yang akan terjadi jika menolak.

Ibu Lena, Marisol Mercer, berdiri dekat bangku depan dengan seragam pembantu abu-abu tersembunyi di balik mantel pinjaman, kedua tangannya menutup mulut. Dia tampak seperti baru saja melihat putrinya melompat dari tebing.

“Kau tidak berhak melakukan ini,” bisik Lena, namun bisikan itu menembus kesunyian lebih tajam daripada teriakan. “Kau tidak berhak mendandani aku, membuat ibuku hidup dalam ketakutan, memenuhi ruangan ini dengan para kriminal dan teman-teman kayamu, lalu menyebutnya pernikahan.”

Rambut perak Roman disisir rapi ke belakang dengan disiplin sempurna. Tuksedo hitamnya melekat di tubuh tuanya yang besar seolah dijahit oleh penjahit yang takut membuat kesalahan. Tato di pergelangan tangannya tersembunyi di balik cufflink berlian. Matanya yang abu-abu pucat, hampir tak berwarna di bawah cahaya kapel, tetap terpaku pada wajah Lena.

Salah satu tangan kanannya, Vincent Cross, melangkah maju dengan niat membunuh yang sudah terlihat jelas di rahangnya.

Roman mengangkat satu jari.

Vincent berhenti.

Miliarder tua itu menyentuh sisi wajahnya yang ditampar Lena. Dia memandang bekas merah di ujung jarinya, lalu kembali menatap Lena. Dan kemudian, membuat semua orang yang mengenalnya ngeri, Roman Whitlock tersenyum.

Bukan senyum hangat. Bukan ramah. Bukan senyum pria yang merasa terhibur.

Melainkan senyum seorang pria yang akhirnya menerima hukuman yang sudah dua puluh empat tahun ia tunggu untuk pantas diterimanya.

“Sudah lama sekali tak ada yang menyentuhku seperti itu,” katanya pelan.

Mata Lena berkilat penuh amarah. “Kalau begitu, ingatlah itu.”

Bisik-bisik menyebar di seluruh kapel. Dari bagian belakang, terdengar suara kamera memotret sebelum seorang pengawal menghancurkannya di bawah sepatu. Roman mengabaikan semuanya. Dia memasukkan tangan ke dalam jasnya, mengeluarkan surat izin pernikahan yang tadi diletakkan di dekat altar, lalu menahannya di antara dua jari.

“Kau pikir aku membawamu ke sini untuk menjadikanmu istriku,” katanya.

Tenggorokan Lena menegang. “Itu yang tertulis di suratmu.”

“Benar.” Suara Roman tetap tenang. “Karena jika orang-orang yang sedang memburumu percaya hal lain, kau pasti sudah mati.”

Selama satu detik mengejutkan, kemarahan Lena goyah. Tidak hilang. Hanya berhenti bergerak, seperti kereta yang menabrak sesuatu di rel.

“Orang-orang apa?” tanyanya.

Roman merobek surat izin pernikahan itu menjadi dua.

Suaranya pelan, hampir lembut, namun lebih mengubah ruangan daripada tamparan tadi.

Wajah Vincent Cross langsung pucat.

Roman menoleh ke para pria yang berjaga di pintu kapel. “Kunci seluruh estate.”

Lalu dia kembali memandang Lena, dan untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, pria paling ditakuti di Amerika itu tampak benar-benar takut.

“Sekarang,” katanya, “kita cari tahu anakku yang mana yang membocorkan namamu.”

Tiga minggu sebelumnya, hidup Lena Mercer begitu tenang hingga kebanyakan orang akan menyebutnya biasa saja—dan Lena akan mempertahankan kata itu sepenuh hati. Biasa berarti aman. Biasa berarti sewa apartemen yang bisa diprediksi, kopi gosong, rak buku berdebu, dan menutup kafe toko buku pukul sembilan malam sebelum berjalan pulang di bawah lampu pelabuhan Annapolis, Maryland. Biasa berarti ibunya pulang ke rumah kelelahan setelah membersihkan rumah orang-orang yang harga peralatan makannya lebih mahal daripada mobil Lena, namun tetap pulang dalam keadaan hidup.

Lena menyukai novel tua dengan punggung buku retak-retak. Dia menyukai pelanggan yang mengucapkan terima kasih. Dia menyukai aroma hujan di trotoar bata dan momen setelah tengah malam ketika kota terasa milik para pekerja, bukan turis. Dia tidak menyukai pria-pria berkuasa. Sejak kecil dia melihat bagaimana pria seperti itu memandang ibunya seolah Marisol hanyalah bagian dari furnitur yang dipolesnya. Para pria dengan cufflink mahal dan sopir pribadi punya cara khusus membuat kebaikan terdengar seperti belas kasihan.

Marisol telah bekerja untuk Roman Whitlock selama delapan belas tahun, meski dia tak pernah menyebut nama pria itu jika jendela rumah sedang terbuka.

“Dia bukan manusia,” katanya suatu kali saat Lena berusia lima belas tahun dan marah karena ibunya kembali melewatkan acara sekolah demi jamuan politik di Greyhaven yang membutuhkan staf tambahan. “Dia adalah badai. Kau tidak membenci badai. Kau hanya menjauh dari jalurnya.”

Lena memutar mata saat itu.

“Dan malam ini, Lena,” bisik Marisol dari barisan depan, suaranya gemetar saat rahasia puluhan tahun itu mulai runtuh di bawah megahnya atap kapel, “badai itu akhirnya sampai di depan pintu kita.”

Lena menatap potongan kertas surat nikah yang luruh ke lantai marmer bagai kelopak mawar yang layu. Napasnya masih memburu. Gaun pengantin satin putih yang memeluk tubuhnya mendadak terasa seperti baju zirah yang dipasang paksa untuk melindunginya dari perang yang tak pernah ia ketahui.

“Anakmu?” Lena mengulang kata-kata Roman, suaranya bergetar antara bingung dan muak. “Apa hubungannya anak-anakmu denganku? Aku hanya putri seorang pelayan yang kau paksa memakai gaun ini!”

Roman tidak langsung menjawab. Dia berbalik perlahan, menghadap ratusan pasang mata yang kini dipenuhi spekulasi liar. Ketakutan yang semula mencengkeram ruangan kini bermutasi menjadi ketegangan yang pekat. Di barisan kedua, tiga putra kandung Roman—Thomas, Julian, dan Christian Whitlock—duduk dengan punggung tegak, ekspresi mereka mengeras bagai batu cadas.

“Kalian semua berpikir aku membawa Lena Mercer ke sini untuk memuaskan ego seorang pria tua yang kesepian,” suara Roman menggema, berat dan berwibawa, memotong keheningan kapel. “Kalian mengira aku memaksanya menikahiku demi menutupi skandal, atau sekadar memamerkan kekuasaan.”

Roman melangkah mendekati altar, tatapannya menyapu ketiga putranya satu per satu sebelum kembali tertuju pada Lena.

“Dua puluh empat tahun lalu, seorang wanita yang sangat kucintai meninggal di tempat ini, di tanah Greyhaven ini. Semua orang mengira dia membawa rahasia terbesar kerajaan Whitlock ke dalam kuburnya. Sebuah rahasia tentang siapa pewaris sah yang sesungguhnya dari seluruh pelabuhan dan aset yang kalian perebutkan.”

Roman menunjuk ke arah Marisol yang kini bersimpuh di bangku jemaat, air mata membasahi wajah tuanya.

“Ibumu, Marisol, bukan sekadar pelayan di sini, Lena. Dia adalah satu-satunya orang yang kupercayai untuk melarikan darah dagingku dari tempat terkutuk ini sebelum musuh-musuhku—dan anak-anak kandungku sendiri—membunuhnya demi warisan.”

Dunia Lena seakan berputar. Dia menoleh ke arah ibunya, mencari bantahan, mencari tawa renyah yang biasa ibunya keluarkan saat mendengar cerita fiksi. Namun Marisol hanya bisa mengangguk pelan dalam tangisnya.

“Maafkan Ibu, Lena… Ibu berjanji pada mendiang ibumu, Ibu kandungmu, untuk membesarkanmu sebagai gadis biasa. Sebagai putri seorang pembantu agar mereka tidak pernah mencarimu,” bisik Marisol parau.

Pengkhianatan di Balik Altar

“Jadi…” Lena melangkah mundur, matanya melebar saat potongan teka-teki itu menyatu dengan mengerikan. “Pernikahan ini…”

“…Adalah satu-satunya cara legal untuk memindahkan seluruh aset Whitlock kepadamu di depan publik tanpa memicu kecurigaan dewan direksi sebelum semuanya terlambat,” potong Roman. “Jika aku mengumumkannya sebagai adopsi atau surat warisan biasa, mereka akan membunuhmu di jalanan Annapolis bahkan sebelum penamu menyentuh kertas. Tapi sebagai pengantin Roman Whitlock, kau tidak tersentuh. Seluruh dunia akan mengawasimu.”

Roman memalingkan wajahnya yang masih memerah bekas tamparan Lena ke arah barisan keluarganya. Matanya yang abu-abu pucat kini berkilat dengan kegelapan yang membuat para senator di ruangan itu menunduk.

“Namun seseorang di ruangan ini tahu. Seseorang membocorkan identitas asli Lena kepada sindikat Pantai Barat tiga hari lalu. Mereka menginginkan kepalamu, Lena, agar garis keturunan sah Whitlock terputus selamanya.”

Vincent Cross, sang tangan kanan, melangkah maju sambil memegang sebuah tablet digital yang menampilkan enkripsi pesan yang baru saja dicegat oleh tim keamanan estate.

“Tuan,” kata Vincent dengan nada dingin, “pesan itu dikirim dari dalam kapel ini. Lima menit sebelum upacara dimulai.”

Roman tidak membuang waktu. Dia berjalan perlahan ke arah ketiga putranya. Langkah sepatunya di atas marmer terdengar seperti detak jam kematian. Dia berhenti tepat di depan putra sulungnya, Thomas, yang mengelola divisi logistik pelabuhan.

“Thomas,” panggil Roman pelan. “Kau selalu mengeluh tentang bagaimana aku mengelola bisnis ini.”

“Bukan aku, Ayah!” Thomas mengelak, keringat dingin mulai membasahi dahinya. “Demi Tuhan, aku tidak tahu apa-apa tentang gadis pelayan ini!”

Roman tidak berkedip. Dia beralih ke putra keduanya, Julian, lalu ke putra bungsunya, Christian. Christian, yang selama ini dikenal paling tenang, perlahan meletakkan tangannya di dalam saku jas.

Klik.

Suara kokangan senjata api kecil terdengar dari saku Christian. Namun sebelum pemuda itu sempat mengangkat tangannya, tiga titik laser merah sudah mendarat di dadanya dari arah balkon kapel tempat para penembak jitu Roman bersiaga.

“Kau selalu meremehkan pengawasanku, Christian,” ucap Roman tanpa nada emosi sedikit pun.

Christian mendongak, wajahnya yang tampan berubah menjadi seringai penuh kebencian. “Dia hanya anak dari seorang wanita mati, Ayah! Kita yang berdarah di pelabuhan itu selama belasan tahun! Kau ingin memberikan semua yang kita bangun kepada putri seorang pembantu?”

“Dia bukan putri seorang pembantu,” sahut Roman, suaranya meninggi, menggetarkan kaca-kaca patri kapel. “Dia adalah pemilik sah Greyhaven. Dan kau baru saja menandatangani surat kematianmu sendiri.”

Dengan satu isyarat tangan dari Roman, Vincent Cross dan dua pengawal bertubuh raksasa langsung meringkus Christian, merebut senjatanya, dan menyeretnya keluar melalui pintu samping kapel tanpa memedulikan jeritan atau protes dari para tamu undangan terhormat.

Babak Baru Greyhaven

Suasana kapel kembali hening, namun keheningan kali ini dipenuhi oleh rasa ngeri yang baru. Para tamu undangan kini memandang Lena Mercer dengan tatapan yang sama sekali berbeda. Dia bukan lagi gadis miskin yang beruntung; dia adalah penguasa baru yang baru saja menyaksikan bagaimana dinasti Whitlock dihancurkan dan dibangun kembali dalam hitungan menit.

Roman kembali berjalan mendekati Lena. Dia membungkuk sedikit, mengambil belahan surat nikah yang robek di lantai, lalu menyerahkannya kepada Lena.

“Kamu benar, Lena. Kamu tidak bisa menikahi sesuatu yang sudah kamu kuburkan,” kata Roman, mengulangi kata-kata yang menjadi hantu dalam hidupnya. “Aku sudah mengubur hatiku dua puluh empat tahun lalu. Aku tidak membawamu ke sini untuk menjadi istriku. Aku membawamu ke sini untuk mengambil kembali apa yang menjadi hakmu.”

Dia menyerahkan sebuah pena emas dari saku jasnya bersama draf dokumen pengalihan kekuasaan yang sesungguhnya—bukan surat nikah, melainkan akta penyerahan takhta absolut atas Whitlock Enterprises.

Lena menatap pena itu, lalu menatap ibunya, Marisol, yang kini tersenyum tipis di antara sisa air matanya. Marisol mengangguk, sebuah isyarat bahwa pelarian mereka telah berakhir. Badai itu tidak lagi bisa dihindari; kini, Lena harus mengendalikannya.

Lena menerima pena itu. Dengan tangan yang tidak lagi gemetar, dia menandatangani dokumen di atas altar mawar putih, di bawah kesaksian para penguasa Amerika yang kini harus tunduk padanya.

Dia menatap Roman Whitlock untuk terakhir kalinya sebelum berbalik meninggalkan kapel.

“Aku menerima ini bukan karena aku menghormatimu, Roman,” ucap Lena lantang, suaranya terdengar matang dan penuh kuasa baru. “Aku menerima ini agar tidak ada lagi orang kecil seperti ibuku yang harus hidup dalam ketakutan karena pria-pria sepertimu.”

Lena Mercer melangkah turun dari altar, gaun pengantin putihnya menyapu lantai marmer saat dia menggandeng tangan Marisol, berjalan melewati kerumunan orang kaya yang kini membungkuk hormat padanya. Putri sang pembantu tidak memenangkan pernikahan malam itu; dia memenangkan sebuah kerajaan.