“Consehal… kamu benci orang tuamu?”
Aku menggigit roti perlahan.
Lalu menggeleng.
“Aku cuma sudah capek berharap mereka akan menyayangiku.”
Ruangan langsung sunyi.
Jojo yang sedang bermain ponsel sampai berhenti bergerak.
Bahkan Mang Efren menunduk sambil pura-pura sibuk menuang kopi.
Karena kadang…
kalimat paling menyakitkan bukan teriakan.
Melainkan pengakuan seorang anak yang sudah terlalu lama kecewa.
…
Hari-hariku berubah total setelah tinggal bersama mereka.
Pagi sekolah.
Malam membantu memeriksa kontrak, surat utang, dan dokumen bisnis.
Atas saranku, kelompok Kuya Cardo berhenti memakai kekerasan.
Mereka membuka perusahaan debt collection legal.
Semua transaksi memakai kontrak resmi.
Semua penagihan direkam.
Dan perlahan…
orang-orang yang dulu memanggil mereka preman mulai memanggil mereka “tim legal.”
Kuya Cardo bahkan belajar memakai jas.
Walau tato di lehernya tetap terlihat menyeramkan.
Setiap kali ada yang mencoba menipunya dalam bisnis, dia selalu berkata sambil menunjukku:
“Tanya dulu sama Consehal kami.”
Aku menjadi anak paling muda di sekolahku.
Dan juga yang paling aneh.
Sementara murid lain bermain basket atau nongkrong di mall…
aku duduk di perpustakaan membaca hukum pidana sampai malam.
Namun untuk pertama kalinya dalam hidupku…
aku tidak merasa sendirian.
Karena setiap pulang sekolah…
selalu ada lampu rumah yang menyala menungguku.
…
Dua tahun kemudian.
Namaku mulai dikenal di kompetisi debat hukum nasional.
Banyak universitas menawarkan beasiswa.
Media mulai menulis tentang “anak jenius dari keluarga miskin.”
Tapi tidak ada yang tahu…
keluarga yang sebenarnya membesarkanku adalah sekelompok mantan penagih utang bertato.

Suatu malam, saat aku baru pulang dari lomba di Jakarta…
teleponku tiba-tiba berdering.
Nomor tidak dikenal.
Begitu kuangkat, suara di seberang langsung menangis.
“Ate…”
Aku langsung membeku.
Angel.
Sudah dua tahun aku tidak mendengar suara adikku.
Suaranya gemetar.
“Ayah dipenjara…”
“Ibu sakit…”
“Kami tidak punya tempat tinggal…”
Aku diam cukup lama.
Di masa lalu…
aku pasti akan langsung berlari menolong mereka.
Karena seburuk apa pun perlakuan mereka, aku tetap anak mereka.
Namun sekarang…
aku hanya merasa asing.
Angel menangis semakin keras.
“Ate… pulanglah…”
“Aku takut…”
Aku menutup mata perlahan.
Lalu bertanya pelan:
“Waktu kalian meninggalkanku dulu…”
“apa kalian sempat takut aku mati sendirian?”
Sunyi.
Hanya suara tangisan kecil di telepon.
Dadaku terasa nyeri.
Karena ternyata…
meski sudah disakiti sedalam itu, sebagian diriku masih ingin dipilih sebagai keluarga.
Namun kali ini…
aku tidak akan lagi menghancurkan diriku demi orang yang membuangku.
Aku menarik napas panjang.
“Aku akan bantu biaya rumah sakit Ibu.”
“Tapi setelah itu… hiduplah sendiri.”
Angel langsung panik.
“Ate jangan tinggalin kami…”
Air mataku akhirnya jatuh.
Karena untuk pertama kalinya…
aku sadar satu hal.
Anak yang ditinggalkan terlalu lama…
akhirnya akan belajar meninggalkan juga.
…
Malam itu aku duduk sendirian di balkon apartemen sambil memegang buku hukum.
Kuya Cardo datang membawa dua gelas kopi.
Dia duduk di sampingku tanpa banyak bicara.
Lalu tiba-tiba berkata:
“Consehal.”
“Kalau suatu hari nanti kamu jadi pengacara hebat…”
“jangan lupa sama kami yang mukanya kayak kriminal semua.”
Aku tertawa kecil.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun.
Kemudian menatap pria bertato di sebelahku.
Pria yang dulu kutakuti saat mendobrak pintu rumahku.
Namun justru menjadi orang pertama yang memberiku kamar hangat, lampu belajar, dan alasan untuk hidup.
Aku tersenyum pelan.
“Keluarga itu bukan soal darah, Kuya.”
“Kadang… keluarga adalah orang yang memilih tinggal saat semua orang lain pergi.”
Kuya Cardo langsung memalingkan wajah sambil mengusap matanya kasar.
“Heh.”
“Jangan bikin gue nangis, Consehal.”
Aku tertawa lagi.
Dan malam itu…
untuk pertama kalinya dalam hidupku…
aku merasa benar-benar punya rumah.