“Ada apa ini? Kenapa anakku menangis?” suara Jihan menggema dikeheningan.
Semua orang menoleh bersamaan. Jihan melangkah masuk dengan wajah tegang. Tatapannya langsung jatuh pada Arsya yang masih menangis di pelukan Rahmi.
“Arsya, sini sama Mama,” ucap Jihan sambil meraih anaknya.
Arsya langsung memeluk ibunya erat. “Ma… Arsya nggak ambil…”
Jihan mengusap kepala anaknya. “Ambil apa?”
Rahmi menarik napas pelan. “Tadi dompet Lisa hilang. Mereka menuduh Arsya yang mengambilnya.”
Jihan terdiam beberapa detik. Matanya perlahan berpindah ke arah Lisa yang masih memegang dompetnya.
“Menuduh?” tanya Jihan dingin.
Lisa mendengus. “Ya wajar saja curiga. Dia satu-satunya yang masuk ka mar.”
“Tapi dompet itu ditemukan dari Reyna,” Rahmi menimpali taj am.
Suasana langsung sunyi.
Jihan menatap Lisa tanpa berkedip. “Jadi sebelum tahu yang sebenarnya kalian sudah menuduh anakku mencuri?”
Lisa mengangkat bahu. “Namanya juga anak kecil. Kadang suka ambil barang tanpa sadar.”
Tepat saat kalimat itu selesai, sebuah suara keras terdengar.
Plak!
Tangan Jihan mendarat di pipi Lisa.
Semua orang terperanjat.
Lisa memegang pipinya dengan mata membelalak. “Kamu berani mena mpar aku?!”
Jihan menatapnya ta jam. Suaranya dingin tapi penuh kemarahan.
“Aku sudah cukup sabar selama ini,” katanya pelan namun jelas. “Tapi kali ini kesabaranku benar-benar habis.”
Beberapa orang mulai berbisik panik.
Uwak Mirna langsung berdiri. “Jihan! Kamu keterlaluan!”
Jihan menoleh padanya dengan tatapan ta jam.
“Keterlaluan? Anak kecil dituduh mencuri sampai menangis seperti itu menurut Uwak tidak keterlaluan?”
Uwak Mirna terdiam.
Jihan melanjutkan dengan suara lebih keras. “Kalian pikir kami ini apa? Bisa kalian h ina seenaknya?”
Lisa masih memegang pipinya. “Anakmu sendiri yang masuk ka mar!”
“Masuk kam ar karena Reyna yang menyuruhnya mengambil mainan!” balas Jihan taj am. “Tapi kalian langsung menuduh dia pencuri!”
Tante Lilis mencoba menenangkan suasana. “Sudahlah, Jihan. Ini cuma salah paham.”
Jihan tertawa sinis. “Salah paham? Kalau dompet itu tidak ditemukan dari Reyna, kalian pasti sudah menggeledah anakku!”
Tidak ada yang bisa membantah.
Rahmi yang berdiri di sampingnya ikut bersuara. “Dari tadi mereka bahkan mau memeriksa saku Arsya.”
Mata Jihan langsung membesar. “Apa?”
Lisa tampak gugup.
Jihan menggeleng pelan sambil menahan amarah. “Luar biasa… benar-benar luar biasa.”
Nenek menatap Jihan lembut, mencoba menenangkan amarah yang masih menyala di mata menantunya. “Jihan, sudahlah… ini kan hanya kesalahpahaman kecil saja. Apalagi ini suasana Lebaran. Yang artinya kita saling bermaaf-maafan, bukan malah berdebat seperti ini.” Wanita yang sudah lanjut usia itu tahu kalau terus dikeraskan Jihan pasti tidak mau mengalah, Lisa akan terus disalahkan.
Jihan menarik napas panjang, tapi suaranya masih bergetar saat ia membalas. “Nenek bicara begitu karena anakku yang dituduh. Tapi coba lihat apa yang terjadi padaku dulu. Sudah cukup dulu kalian menuduhku mencuri ua ng nenek 20.000, aku dihukum oleh bapak, dicap sebagai maling di keluarga ini, bahkan ibuku diserang habis-habisan. Tapi ternyata ua ngnya diambil Deon. Bahkan tidak ada yang meminta maaf kepadaku dan ibu, atau ingin memberi hukuman pada Deon.”
Deon menunduk, wajahnya memerah. “Ala Jihan… itu sudah jadi masa lalu, kenangan masa kecil kita… nggak usah diunggah-ungkit lagi,” sangkalnya dengan suara kecil, terasa canggung karena malu.
Jihan menatapnya taj am, tapi napasnya mulai menenangkan diri. “Masa lalu atau bukan, yang penting aku tidak ingin anakku mengalami hal yang sama. Tidak akan ada lagi tuduhan tanpa dasar.”
Ia menatap mereka satu per satu. “Dengar baik-baik. Aku boleh kalian hi na. Ibuku sudah kalian rendahkan. Tapi anakku? Jangan sekali-kali kalian sentuh.”
Suasana ruang tamu berubah mencekam.

Tepat saat itu suara mobil berhenti di depan rumah. Beberapa detik kemudian langkah kaki terdengar dari teras.
“Mobil siapa itu? Mewah sekali,” kata salah satu tetangga nenek.
Lisa segera berdiri, tersenyum penuh kemenangan. “Lihat? Mobil suamiku. Aku pastikan kalian semua akan dapat THR, kecuali keluarga yang selalu jadi benalu di sini,” ujarnya sombong, menatap tajam pada Rahmi dan Jihan.
Pintu mobil terbuka, dan Erik turun dengan tenang. Pakaian rapi, senyum tipis di wajahnya. Toni menyambutnya hangat. “Wah, rupanya kamu sudah sukses sekarang. Bisa membawa mobil sebagus ini ke kampung kita. Om bangga padamu. Memang seharusnya kita berusaha lebih, bukan hanya cukup untuk makan.”
Erik melangkah masuk dengan tenang, setelan rapi menempel sempurna di tu buhnya, wajahnya memancarkan kesan profesional dan percaya diri. Mulai menyalami orang-orang disana satu persatu Namun, langkahnya terhenti sesaat ketika matanya menangkap sosok Rangga berdiri di sudut ruang tamu, dekat Jihan dan Arsya. Sekejap, senyumnya mengendur, dan alisnya terangkat sebuah kilatan keterkejutan muncul di wajahnya.
Setelah memastikan kalau dia tidak salah lihat, Erik pun segera menghampirinya.
“Pak Rangga, Bu Jihan, kenapa kalian ada disini?” tanyanya sambil menyalami keduanya.
Seketika semua orang kaget, terutama Lisa matanya melotot melihat suaminya yang begitu menghormati orang yang dianggap sangat rendah.
Bersambung …