Ibu mertuaku yang sejak tadi mematung, kini wajahnya sepucat kertas. Beberapa teman sosialitanya mulai menjauhinya sambil berbisik-bisik.
“Ya ampun, Jeng, ternyata cincin berlian yang dipamerin tadi hasil memeras keringat menantunya yang buka katering? Memalukan sekali,” cibir salah satu wanita berkalung mutiara.
“Benar. Ngakunya anak pengusaha sukses, ternyata benalu pengangguran. Ayo kita pergi dari sini, mual rasanya,” sahut yang lain.
“Kalian—kalian jangan percaya perempuan kampung ini!”
Ibu mertuaku menjerit histeris, menunjuk wajahku dengan tangan dipenuhi perhiasan emas. Dadanya naik turun dengan napas tersengal, tak kuat menanggung rasa malu yang menampar harga dirinya telak.
Detik berikutnya, matanya mendelik ke atas, dan ia jatuh pingsan tak sadarkan diri di atas karpet mahal itu.
Anehnya, tak ada satu pun dari teman sosialitanya yang sudi menolong. Mereka justru sibuk menyingkir agar gaun mewah mereka tidak tersentuh.

Akbar berlari menghampiri ibunya dengan langkah gontai.
“Mama! Ma, bangun, Ma!” ratapnya panik. Ia lalu menoleh menatapku dengan mata memerah, penuh genangan air mata keputusasaan.
“Dek, tolong Mas, Dek. Kamu puas sudah menghancurkan Mas dan Mama di depan semua orang?! Kamu istri yang kejam, Dek!”
“Kejam?” Aku tertawa kecil, suara tawaku menggema pelan melalui microphone, terdengar begitu dingin.
“Enam bulan aku tidur hanya dua jam sehari, tanganku melepuh terkena minyak panas, lambungku hancur karena menahan lapar, sementara kalian berpesta pora di atas penderitaanku. Dan kamu bilang aku kejam? Mas, aku bahkan belum mulai membalas kalian.”
Tepat pada saat itu, pintu ballroom kembali terbuka. Surya, pengacaraku, melangkah masuk dengan setelan jas hitam yang sangat rapi.
Ia berjalan santai membelah kerumunan tamu yang tersisa, lalu melemparkan sebuah map tebal berstempel merah tepat ke dada Akbar yang sedang bersimpuh di lantai.
“Itu adalah surat pemberitahuan pembekuan seluruh rekening rahasiamu, Akbar,” ucap Surya dengan suara baritonnya yang tegas.