Posted in

Sirine itu semakin keras.

Nyeeeng… nyeeeng…

Suara yang biasanya terdengar jauh kini seperti menghantam langsung dada Rian.

“Ayah…” suaranya pecah. “Ayah nggak mungkin laporin aku.”

Pak Surya tetap duduk tenang.

Tatapannya datar. Terlalu datar untuk seorang ayah yang baru saja menghancurkan hidup anaknya sendiri.

“Ayah sudah menunggu kamu berubah selama dua tahun.”

Kalimat itu membuat ruangan kembali sunyi.

Bu Marni menutup mulutnya sambil menangis pelan.

Sementara Karin mulai panik setengah mati.

“Rian, kamu bilang semuanya aman!” bisiknya cepat. “Kamu bilang nggak ada yang tahu soal rekening itu!”

Rian langsung menoleh tajam.

“Diam!”

Namun semuanya sudah terlambat.

Pak Surya mengeluarkan beberapa lembar transfer bank.

Nominalnya miliaran.

Rekening tujuan berbeda-beda.

Dan salah satunya atas nama Karin.

Wajah wanita itu seketika pucat pasi.

“Itu fitnah!” teriaknya. “Saya nggak tahu apa-apa!”

“Benar,” jawab Pak Surya dingin. “Kamu memang tidak mencuri.”

Karin mengembuskan napas lega.

“Tapi kamu menikmati hasilnya.”

Deg.

“Mobil Alphard putih. Tas-tas branded. Apartemen di Jakarta Selatan.” Pak Surya menatapnya tajam. “Semua dibeli dari uang proyek karyawan yang gajinya sempat tertunda.”

Karin mundur selangkah.

Untuk pertama kalinya sejak menikah dengan Rian, wanita itu kehilangan kesombongannya.

Pintu rumah terbuka.

Dua polisi masuk bersama pria berkacamata tadi.

“Selamat malam,” ucap salah satu polisi tegas. “Saudara Rian Santoso?”

Rian langsung berdiri.

“Ayah, jangan lakukan ini…” suaranya mulai bergetar. “Aku anak Ayah.”

Pak Surya mengangkat wajah perlahan.

“Dan wanita yang kamu tampar tadi…” katanya lirih, “adalah ibu yang mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkanmu.”

Kalimat itu menghantam lebih keras daripada sirine polisi.

Rian menoleh ke arah Bu Marni.

Wanita tua itu masih menangis diam-diam sambil memegangi pipinya yang merah.

Tiba-tiba ingatan masa kecil menyerbu kepalanya.

Ibunya yang berjalan kaki saat hujan demi membayar uang sekolahnya.

Ibunya yang menjahit sampai dini hari ketika ia sakit tifus.

Ibunya yang menjual gelang kawin agar Rian bisa kuliah.

Dan tadi…

dia menampar wanita itu demi membela istrinya.

Tubuh Rian langsung lemas.

“Aku… khilaf, Bu…”

Bu Marni justru menangis semakin keras.

Karena permintaan maaf yang datang setelah seorang ibu dihancurkan di depan menantunya… tidak pernah benar-benar terdengar utuh.

Polisi mulai mendekat.

“Saudara Rian, kami harap kooperatif.”

Karin tiba-tiba menunjuk suaminya sendiri.

“Semua ide dia!” teriaknya histeris. “Saya cuma ikut!”

Rian menoleh tak percaya.

“Karin…”

“Kamu yang transfer uang itu! Kamu yang pakai nama perusahaan!” suara Karin makin panik. “Jangan seret aku!”

Pak Surya memejamkan mata sesaat.

Ironis.

Anak yang tadi membela istrinya mati-matian… kini dijatuhkan pertama kali oleh wanita yang sama.

Rian tertawa kecil.

Tawa yang terdengar menyedihkan.

“Jadi ini alasan kamu selalu nyuruh aku ambil lebih banyak uang?” bisiknya pahit.

Karin tidak menjawab.

Karena suara langkah sepatu polisi sudah berhenti tepat di depan mereka.

Klik.

Borgol terpasang di tangan Rian.

Bu Marni spontan berdiri.

“Pak… jangan… dia anak kita…”

Namun Pak Surya hanya menggenggam tangan istrinya erat.

Pria tua itu menahan gemetar di rahangnya.

Karena sesungguhnya…

tidak ada hukuman yang lebih menyakitkan bagi seorang ayah selain melihat anaknya sendiri dibawa polisi.

Saat Rian digiring keluar, hujan mulai turun deras.

Tetangga berdatangan.

Lampu-lampu rumah menyala.

Bisik-bisik malu mulai terdengar dari luar pagar.

Karin buru-buru mengambil tas mahalnya.

“Aku harus hubungi pengacara.”

“Tidak perlu.”

Suara itu membuat langkahnya berhenti.

Pria berkacamata tadi menyerahkan satu dokumen lagi.

“Semua aset atas nama Anda sudah dibekukan sementara sampai proses penyelidikan selesai.”

Tas Karin jatuh ke lantai.

Bruk.

“Termasuk apartemen dan kendaraan.”

“Tidak…” bibirnya gemetar. “Tidak mungkin…”

Pak Surya berdiri perlahan.

Lalu menatap menantunya untuk terakhir kali.

“Kamu salah satu kesalahan terbesar anak saya,” katanya dingin. “Tapi tamparan itu tetap pilihan tangannya sendiri.”

Karin menangis histeris.

Namun tak satu pun orang di ruangan itu lagi merasa iba.

Di tengah hujan malam itu…

keluarga Santoso akhirnya runtuh.

Bukan karena kemiskinan.

Bukan karena musuh dari luar.

Melainkan karena seorang anak yang lupa…

bahwa wanita yang paling mudah ia sakiti adalah wanita yang paling tulus mencintainya sejak lahir.