Posted in

AKU MENERIMA PEKERJAAN MERAWAT SEORANG WANITA TUA KAYA DEMI MENYELAMATKAN KELUARGAKU… NAMUN PADA MALAM PERTAMAKU DI MANSIUN ITU, DIA HANYA MENATAPKU DAN BERKATA: “JANGAN KUNCI PINTU KAMARMU MALAM INI.”

AKU MENERIMA PEKERJAAN MERAWAT SEORANG WANITA TUA KAYA DEMI MENYELAMATKAN KELUARGAKU… NAMUN PADA MALAM PERTAMAKU DI MANSIUN ITU, DIA HANYA MENATAPKU DAN BERKATA: “JANGAN KUNCI PINTU KAMARMU MALAM INI.”

Hari ketika aku membawa koperku dan memasuki mansiun itu adalah hari ketika kehidupan keluargaku benar-benar runtuh.

Ayahku baru saja menjalani operasi besar.

Ibuku hampir tidak pernah tidur karena terus bekerja, tetapi penghasilannya tetap tidak cukup untuk membayar obat-obatan dan kebutuhan sehari-hari.

Setiap hari, tagihan dan utang terus bertambah, seolah perlahan mencekik rumah kecil kami.

Saat kami hampir kehilangan harapan, seorang kenalan menawarkan pekerjaan kepadaku.

Menjadi perawat pribadi bagi seorang wanita tua kaya yang tinggal sendirian di sebuah mansiun besar.

Gajinya sangat tinggi.

Cukup untuk melunasi seluruh utang keluarga kami hanya dalam waktu satu tahun.

Namun ada satu hal yang aneh.

Selama tiga bulan terakhir, tidak ada satu pun perawat yang bertahan lebih dari seminggu.

Ada yang tiba-tiba mengundurkan diri.

Ada yang pergi di tengah malam.

Dan ada pula yang kabarnya menangis sambil berlari keluar dari mansiun.

Tetapi aku tidak punya pilihan lain.

Sore itu, sebuah mobil mewah mengantarkanku ke depan gerbang besi raksasa.

Seluruh tempat itu sunyi.

Terlalu sunyi.

Seolah ada rahasia besar yang tersembunyi di dalamnya.

Aku melihat wanita tua itu duduk di kursi rodanya di dekat jendela.

Rambutnya putih seluruhnya.

Wajahnya terlihat tegas.

Dan matanya sangat tajam, seakan mampu membaca semua isi pikiranku.

Dia menatapku lama sebelum akhirnya berbicara.

“Apakah kamu takut gelap?”

Aku berkedip bingung.

“Tidak, Bu.”

Dia mengangguk pelan.

“Bagus.”

Kupikir percakapan kami sudah selesai.

Namun sebelum kepala pelayan mengantarkanku ke kamar, dia kembali memanggilku.

Suaranya lambat dan dingin.

“Mulai malam ini… apa pun yang kamu dengar setelah tengah malam, jangan keluar dari kamarmu.”

Aku langsung membeku.

“Suara seperti apa?”

Dia tidak menjawab.

Sebaliknya, dia hanya menatapku lama.

Tatapan yang membuat bulu kudukku meremang.

Malam pertama pun tiba.

Aku berbaring di ranjang besar yang telah disediakan untukku.

Jam menunjukkan pukul dua belas malam.

Tidak ada hal aneh yang terjadi.

Aku mulai berpikir bahwa para perawat sebelumnya mungkin hanya terlalu penakut.

Namun ketika jam berdentang dua belas kali…

TOK…

Aku mendengar suara dari luar.

Mataku perlahan terbuka.

TOK… TOK…

Seperti ada seseorang yang mengetuk dinding dengan pelan.

Berulang-ulang.

Lambat.

Menggema di tengah keheningan.

Aku memeluk selimut semakin erat.

Suara itu terus berlanjut.

Sepuluh menit.

Dua puluh menit.

Tiga puluh menit.

Lalu…

Tiba-tiba berhenti.

Keesokan harinya, aku bertanya kepada kepala pelayan tentang hal itu.

Wajahnya langsung pucat.

“Jangan tanyakan lagi.”

“Lebih baik kamu tidak tahu.”

Setelah mengatakan itu, dia buru-buru pergi.

Sejak saat itu, kejadian-kejadian aneh mulai bermunculan.

Terkadang sebuah kursi di lorong berpindah tempat tanpa ada yang menyentuhnya.

Foto-foto keluarga lama sering kutemukan dalam posisi terbalik, seolah seseorang ingin menyembunyikannya.

Tetapi yang paling menakutkan…

Setiap pukul dua belas malam, suara ketukan itu selalu kembali.

Dan semakin lama semakin dekat.

Pada malam ketiga…

Suara itu masih berada di ujung lorong.

Pada malam keempat…

Suara itu sudah tepat di depan pintuku.

Pada malam kelima…

Suara itu terdengar dari sisi lain dinding kamarku.

TOK…

TOK…

TOK…

Aku langsung duduk tegak.

Jantungku hampir meloncat karena ketakutan.

Dan saat itulah aku mendengar sebuah suara.

Pelan.

Serak.

Seperti suara seseorang yang sudah lama tidak berbicara.

“…Bukakan pintunya…”

Seluruh tubuhku membeku.

Bulu kudukku berdiri.

Suara itu terdengar lagi.

Kali ini lebih jelas.

“…Tolong… bukakan pintunya…”

Aku hendak meraih sakelar lampu.

Namun tiba-tiba…

Semua lampu di kamar padam.

Kegelapan menyelimuti seluruh mansiun.

Lalu…

Sebuah bayangan muncul di bawah pintu.

Perlahan.

Seolah ada seseorang berdiri di luar.

Tidak bergerak.

Hanya menunggu.

Aku mundur ke sudut ranjang.

Tubuhku gemetar ketakutan.

Tiba-tiba layar ponselku menyala.

Ada pesan dari nomor yang tidak dikenal.

Hanya satu kalimat yang tertulis:

“JANGAN BUKA PINTUNYA.”

Aku bahkan belum sempat menguasai diri ketika terdengar benturan keras.

BRAK!

BRAK!

BRAK!

Pintu kamarku bergetar hebat.

Seolah ada sesuatu yang ingin menghancurkannya.

Namun itu bukan bagian yang paling mengerikan.

Ketika aku membuka kamera pengawas lorong melalui ponselku…

Tidak ada seorang pun di luar kamarku.

Tetapi pintu itu tetap bergetar hebat akibat ketukan dari luar.

Dan saat aku hendak menelepon kepala pelayan…

Tiba-tiba muncul wajah pucat di layar.

Matanya terbuka lebar.

Bibirnya bergerak perlahan.

Seolah ingin mengatakan sesuatu.

Dan saat itu juga aku benar-benar terpaku.

Karena aku mengenali wajah itu.

Dia adalah wanita yang ada dalam foto keluarga lama yang kulihat sore tadi.

Di bawah foto itu tertulis:

“Putri tunggal pemilik mansiun — hilang selama lima belas tahun.”

Lalu…

Perlahan wanita itu memalingkan kepalanya.

Menatap langsung ke kamera.

Dan tersenyum.

Senyuman di layar ponselku itu begitu dingin, begitu hampa, hingga rasanya seluruh darah di tubuhku berhenti mengalir.

BRAK! BRAK!

Pintu kamarku dihantam sekali lagi dengan kekuatan yang luar biasa. Grendel pintunya berderit, sekrupnya perlahan melonggar dari kayu. Di tengah kegelapan total ini, suara hantaman itu terdengar seperti lonceng kematian.

Aku tidak bisa bernapas. Ponsel di tanganku bergetar hebat. Bayangan di bawah celah pintu masih ada di sana, bergerak-gerak seperti sesuatu yang gelisah.

Tiba-tiba, hantaman itu berhenti.

Keheningan yang mencekam kembali menguasai mansiun. Satu-satunya suara yang terdengar hanyalah deru napasku yang memburu dan detak jarum jam dinding yang lambat.

Apakah dia sudah pergi?

Aku memberanikan diri melihat kembali ke layar ponsel yang menampilkan CCTV lorong. Kosong. Wanita itu sudah tidak ada. Bayangan di bawah celah pintuku pun perlahan menghilang.

Namun, tepat ketika aku mengira bahaya telah lewat, sebuah suara bisikan terdengar. Bukan dari luar pintu. Bukan dari lorong.

Suara itu terdengar tepat di belakang tengkukku, dari dalam kegelapan kamarku sendiri.

“Terima kasih… sudah menungguku.”

Aku menjerit histeris. Ponselku terlempar ke atas ranjang saat aku melompat mundur hingga punggungku menghantam dinding kamar.

Secara ajaib, tepat pada detik itu, seluruh lampu di mansiun menyala kembali secara serentak. Cahaya benderang yang tiba-tiba membuat mataku perih. Aku mengerjap-erjap panik, menyapu seluruh sudut kamar dengan pandangan liar.

Tidak ada siapa-siapa. Kamarku kosong.

Tetapi pintu kamarku… pintu kayu ek yang tebal itu kini retak di bagian tengahnya, dengan bekas hantaman yang sangat nyata dari luar.

Aku tidak bisa bertahan lagi di sini. Persetan dengan utang keluarga, persetan dengan gaji tinggi. Jika aku tetap tinggal di mansiun ini, aku akan mati gila. Dengan tangan yang gemetar hebat, aku menyambar ponselku, membuka pintu kamar yang rusak itu, dan berlari sekencang-kencangnya menuruni tangga menuju aula utama.

Aku harus keluar dari tempat terkutuk ini malam ini juga.

Namun, begitu aku sampai di ujung tangga aula bawah, langkahku mendadak terhenti.

Di tengah aula yang luas dan dingin itu, wanita tua pemilik mansiun sedang duduk di kursi rodanya. Dia tidak mengenakan pakaian tidurnya, melainkan gaun hitam formal, seolah-olah dia memang sedang menungguku turun.

Di sampingnya, berdiri kepala pelayan dengan wajah kaku dan pucat pasi.

“Kamu ingin pergi?” Suara wanita tua itu memecah keheningan, lambat dan sedatar air tenang, namun entah bagaimana terdengar sangat berwibawa.

“B-Bu… ada sesuatu di atas,” suaraku tercekat, air mata ketakutan mulai mengalir di pipiku. “Putri Anda… putri Anda yang hilang lima belas tahun lalu… dia ada di depan pintu saya! Dia mencoba mendobrak masuk!”

Wanita tua itu tidak terkejut. Dia tidak memanggil polisi, tidak juga menyuruh kepala pelayan memeriksa ke atas. Dia hanya menatapku dengan mata tajamnya yang sedalam sumur tua.

“Aku tahu,” jawabnya pelan. “Dialah alasan mengapa tidak ada satu pun perawat sebelummu yang bertahan lebih dari seminggu. Mereka semua melihatnya. Dan mereka semua lari ketakutan.”

Aku mundur selangkah, menggelengkan kepala tidak percaya. “Jika Anda tahu tempat ini dihantui oleh mendiang putri Anda, kenapa Anda terus menyewa perawat?! Kenapa Anda menjebak kami di sini?!”

Wanita tua itu menghela napas panjang. Untuk pertama kalinya, ketegasan di wajahnya runtuh, menyisakan raut wajah seorang ibu yang sangat rapuh dan dipenuhi rasa bersalah yang teramat dalam.

“Dia tidak menghantui mansiun ini, Nak,” kata wanita tua itu, suaranya mendadak bergetar hebat. “Dan dia… tidak mati.”

Kata-kata itu membuatku terpaku di tempat. Tidak mati?

Sebelum aku sempat mencerna ucapannya, wanita tua itu memberi isyarat dengan tangannya. Kepala pelayan perlahan melangkah ke arah sebuah lemari besar di sudut aula, menggeser sebuah panel rahasia di dinding belakangnya, dan menekan sebuah tombol.

KLIK.

Terdengar suara mekanisme besi yang berat berputar dari balik dinding. Perlahan, sebuah pintu baja tersembunyi di bawah tangga utama terbuka, menampakkan sebuah lorong bawah tanah yang gelap dan pengap.

Dari dalam kegelapan lorong bawah tanah itu, terdengar suara yang sangat akrab di telingaku.

TOK… TOK… TOK…

Suara ketukan dinding yang kudengar selama lima malam ini. Dan dari sana pula, aroma obat-obatan kimia yang sangat menyengat menguar ke udara.

“Lima belas tahun lalu, putriku, Evelyn, didiagnosis mengidap gangguan jiwa yang sangat parah dan berbahaya. Dia menderita skizofrenia akut yang membuatnya sering menyerang orang lain tanpa sadar,” wanita tua itu mulai bercerita, air mata perlahan menggenang di matanya yang keriput.

“Aku terlalu egois. Aku tidak ingin nama baik keluarga kami hancur jika orang-orang tahu putri tunggal mansiun ini mengalami gangguan jiwa. Aku juga tidak tega memasukkannya ke rumah sakit jiwa pemerintah. Jadi… aku memalsukan berita kehilangannya, dan mengurungnya di bawah tanah ini dengan perawatan medis pribadi.”

Aku menutup mulutku dengan tangan, ngeri membayangkan apa yang terjadi. “Jadi… suara ketukan itu…”

“Itu adalah Evelyn. Lorong bawah tanah ini terhubung langsung dengan sistem pipa pemanas yang menembus ke dinding kamarmu,” potong kepala pelayan dengan nada menyesal. “Setiap kali obat penenangnya habis di tengah malam, dia akan memukul pipa besi itu untuk meminta bantuan. Dan malam ini… entah bagaimana, dia berhasil merusak kunci pintu selnya dan naik melalui jalur pipa perawatan.”

Wanita tua itu memutar kursi rodanya, mendekat ke arahku. Dia meraih tanganku dengan jemarinya yang dingin dan gemetar.

“Setiap perawat yang datang ke sini selalu lari karena mengira putriku adalah hantu. Tetapi aku melihat berkas riwayat hidupmu. Kamu adalah lulusan sekolah keperawatan, ayahmu sedang sakit sakral, dan kamu tahu bagaimana rasanya merawat orang yang sekarat.”

Wanita tua itu menatapku dengan pandangan memohon yang teramat sangat.

“Aku sudah terlalu tua dan sekarat, Nak. Aku tidak butuh perawat untuk diriku sendiri. Uang miliaran yang kutawarkan itu… adalah bayaran agar ada seseorang yang mau merawat Evelyn di bawah tanah sana dengan layak setelah aku tiada. Agar dia tidak kelaparan, dan agar dia tetap mendapatkan obatnya.”

Tepat setelah wanita tua itu menyelesaikan kalimatnya, lampu aula kembali berkedip-kedip.

Dari balik pintu baja bawah tanah yang terbuka, sesosok wanita berpakaian putih lusuh dengan rambut panjang acak-acakan perlahan merangkak keluar. Wajahnya pucat, matanya kosong, dan di tangannya ia memegang sebuah balok kayu kecil—alat yang ia gunakan untuk memukul dinding kamarku.

Dia adalah Evelyn.

Evelyn menatap ibunya, lalu pandangannya beralih kepadaku. Dia tidak menyerang. Dia hanya berdiri di sana, tubuhnya gemetar kedinginan, menatapku dengan pandangan memohon yang sama persis dengan yang ada di layar ponselku tadi.

Pesan misterius “JANGAN BUKA PINTUNYA” di ponselku tadi… tampaknya dikirim oleh kepala pelayan yang memantau situasi dari ruang kendali untuk melindungiku sebelum mereka berhasil menjinakkan Evelyn.

Aku berdiri di tengah aula yang megah namun terasa seperti penjara bawah tanah ini. Di satu sisi, ada rahasia mengerikan dan tugas ekstrem yang harus kuhadapi setiap malam di mansiun terisolasi ini. Di sisi lain, ada bayangan wajah ibuku yang kelelahan dan tagihan rumah sakit ayahku yang menumpuk.

Aku memandang wanita tua itu, lalu beralih menatap Evelyn yang malang.

Aku menarik napas panjang, menguatkan hatiku, dan perlahan melepaskan koper yang sejak tadi kucengkeram erat.

“Bawa saya ke kamarnya,” kataku pada kepala pelayan, suaranya mantap meski jantungku masih berdegup kencang. “Tunjukkan pada saya jenis obat apa saja yang harus dia minum setiap malam.”