PEMBANTU RUMAH TANGGA YANG SUDAH ENAM TAHUN KUPERCAYAI TIBA-TIBA MENGUNDURKAN DIRI… NAMUN SEBELUM PERGI, DIA MENINGGALKAN SEBUAH PERINGATAN YANG MEMBUATKU TIDAK BISA TIDUR SELAMA TIGA MALAM
Pembantu rumah tangga di keluarga lain biasanya hanya bertahan beberapa bulan sebelum pergi.
Tetapi pembantuku, Bu Marites, sudah mendampingi keluarga kami selama enam tahun.
Selama enam tahun itu, aku tidak pernah menganggapnya sekadar pembantu.
Setiap ulang tahunnya, aku selalu memberinya hadiah.
Ketika putrinya, Liza, dirawat di rumah sakit, aku yang menanggung seluruh biaya pengobatannya.
Setiap akhir tahun, bonus yang kuterimakan kepadanya bahkan lebih besar daripada bonus staf rumah lainnya.
Aku pikir hubungan kami sudah lebih dari sekadar majikan dan pembantu.
Kami seperti keluarga.
Namun suatu pagi, tiba-tiba dia menyerahkan surat pengunduran dirinya kepadaku.
Aku menatapnya.
“Apakah gajimu kurang?”
Dia menggeleng.
“Tidak, Bu.”
“Apakah ada yang memperlakukanmu buruk di rumah ini?”
Dia menggeleng lagi.
Matanya yang telah menyimpan jejak usia tampak memerah.
“Saya hanya ingin pulang ke kampung dan menemani kakak perempuan saya.”
Alasannya terdengar biasa saja.
Karena itu, aku tidak memaksanya untuk tetap tinggal.
Aku menghela napas dan menandatangani surat pengunduran dirinya.
Sebelum dia pergi, aku bahkan memberinya uang dalam jumlah besar sebagai tanda terima kasih.
Tangannya gemetar saat menerimanya.
“Bu Clarissa… terima kasih banyak.”
Sore itu, aku sendiri yang mengantarnya ke pelabuhan.
Sepanjang perjalanan, dia hampir tidak berbicara.
Sangat berbeda dari sifatnya yang biasanya ceria.
Aku mengira dia hanya sedih karena harus meninggalkan rumah kami.
Sampai kapal hampir berangkat.
Tiba-tiba dia menggenggam tanganku.
Matanya penuh kecemasan.
“Bu Clarissa.”
“Mulai sekarang… jangan lagi minum susu hangat yang selalu diletakkan di depan kamar Ibu setiap malam.”
Aku terdiam.
“Maksudmu apa?”
Dia melirik ke sekeliling dengan gugup, seolah takut ada yang mendengar.
Suaranya merendah.
“Mungkin saya hanya terlalu banyak curiga.”
“Tapi selama tiga bulan terakhir, setiap kali Ibu minum susu itu, keesokan harinya Ibu selalu baru bangun menjelang siang.”
“Suatu kali saya melihat seseorang diam-diam masuk ke dapur dan menukar botol susu itu.”
Jantungku berdegup semakin kencang.
“Siapa?”
Dia menggigit bibirnya.
Butuh waktu lama sebelum menjawab.
“Saya tidak melihat wajahnya dengan jelas.”
“Tapi dia punya kunci sendiri untuk masuk ke vila.”
“Dan… dia bukan orang dapur.”
Aku tidak sempat bertanya lebih jauh.
Sirene keberangkatan kapal sudah berbunyi.
Bu Marites kembali menggenggam tanganku.
“Bu.”
“Ada orang-orang yang sangat dekat dengan kita… tetapi itu tidak berarti mereka benar-benar tulus kepada kita.”
Setelah mengatakan itu, dia berbalik dan naik ke kapal.
Aku berdiri terpaku di tengah keramaian.
Seluruh tubuhku terasa membeku.
Malam itu.
Aku kembali ke vila besar kami.
Semuanya tampak sama seperti biasanya.
Lampu-lampu menyala terang.
Makan malam telah siap.
Suamiku yang sudah empat tahun bersamaku, Don Rafael, sedang duduk di ruang tamu sambil membaca dokumen.
Dia mengangkat kepala dan tersenyum.
“Kamu sudah pulang.”
Aku mengangguk.
Aku berusaha bersikap normal.
Tetapi kata-kata Bu Marites terus terngiang di kepalaku.
Jangan minum susu hangat itu.
Tepat pukul sepuluh malam.
Kepala pelayan mengantarkan nampan perak yang sudah sangat kukenal ke kamarku.
Di atasnya ada segelas susu hangat.
Persis seperti yang terjadi selama tiga bulan terakhir.
Aku tersenyum dan menerimanya.
Begitu pintu tertutup.
Aku langsung menuangkan seluruh isi gelas itu ke pot tanaman di balkon.
Malam itu.
Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan.
Aku tidak mengantuk.
Pukul satu dini hari.
Pukul dua.
Aku masih terjaga sepenuhnya.
Dan kemudian…
Sekitar pukul tiga lewat lima belas menit.
Terdengar suara yang sangat pelan dari lorong luar.
Suara kunci.
Klik.
Klik.
Klik.
Seseorang sedang menggunakan kuncinya sendiri untuk membuka pintu kamarku.
Seluruh tubuhku langsung dingin.
Aku mematikan semua lampu.
Lalu bersembunyi di balik pintu walk-in closet.
Pintu kamar terbuka perlahan.
Seseorang berpakaian hitam masuk tanpa suara.
Dia langsung menuju tempat tidurku.
Dia menatap selimut yang menutupi bantal dan boneka yang kususun agar terlihat seperti seseorang sedang tidur.
Beberapa detik kemudian.
Dia mengeluarkan ponsel dari sakunya.
Dengan suara pelan dia berkata,
“Dia sudah tidur.”
“Kita bisa mulai sekarang.”
Seseorang di seberang telepon segera menjawab,
“Baik.”
“Besok semuanya akan berakhir.”
Darahku seakan berhenti mengalir.
Karena suara dari telepon itu…
Adalah suara yang sangat kukenal.
Itu suara suamiku sendiri, Don Rafael.
Dan pada saat yang sama…
Orang berpakaian hitam itu tiba-tiba menoleh ke arah tempat persembunyianku.
Pintu lemari perlahan terbuka.
Dan saat itulah aku akhirnya melihat wajah orang itu…
Wajah di balik penutup kepala hitam itu perlahan terekspos oleh bias cahaya bulan dari jendela balkon. Jantungku serasa dihantam gada besar, membuatku nyaris memekik jika saja aku tidak membekap mulutku sendiri dengan kedua tangan.
Orang itu… adalah Liza.
Putri kandung Bu Marites. Anak perempuan yang dua tahun lalu kubiayai seluruh pengobatan kankernya hingga sembuh total.
Liza menatap langsung ke arah celah pintu tempatku bersembunyi. Matanya tidak memancarkan kebengisan seorang pembunuh, melainkan kilatan keputusasaan dan air mata yang berlinang. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah suntikan kecil berisi cairan bening.
“Ibu Clarissa…” bisiknya lirih, suaranya bergetar hebat. “Saya tahu Ibu tidak tidur. Tolong… jangan keluar.”
Aku mendorong pintu lemari hingga terbuka lebar, melangkah maju dengan tubuh gemetar namun berusaha tetap tegak. “Liza? Kenapa… kenapa kamu melakukan ini? Dan apa maksud dari telepon Rafael tadi?”
Liza langsung berlutut di lantai dingin, menyembunyikan wajahnya di balik kedua tangannya sambil terisak tanpa suara.
“Maafkan saya, Bu… Maafkan saya. Don Rafael… dia menyandera Ibu saya,” tangisnya pecah dalam bisikan yang tertahan.
Mendengar hal itu, otakku yang selama tiga malam ini buntu mendadak bekerja dengan cepat. Segala teka-teki aneh beberapa hari terakhir langsung terjawab.
Bu Marites tidak pernah mengundurkan diri secara sukarela. Dia dipaksa pergi oleh Rafael. Peringatan yang diberikannya padaku di pelabuhan bukanlah kecurigaan belaka, melainkan sebuah pertaruhan nyawa untuk menyelamatkanku tanpa membuat putrinya terancam.
“Don Rafael tahu Ibu Marites mulai curiga dengan susu yang selalu dia siapkan,” Liza bercerita sambil menyeka air matanya, tubuhnya masih gemetar. “Tiga bulan lalu, Don Rafael mulai memasukkan obat penenang dosis tinggi ke dalam susu Ibu agar Ibu selalu tertidur lelap di malam hari. Dia memanfaatkan waktu itu untuk memalsukan tanda tangan Ibu pada dokumen pengalihan aset perusahaan dan vila ini atas namanya.”
Aku mengepalkan tangan seerat mungkin. Penghianatan Rafael terasa seperti pisau yang menghujam tepat di dadaku. Empat tahun pernikahan kami ternyata hanyalah sebuah sandiwara matang untuk merebut seluruh harta warisan keluargaku.
“Lalu apa yang ada di tanganmu itu?” tanyaku sambil menunjuk jarum suntik.
“Ini… ini insulin dosis mematikan,” jawab Liza dengan tatapan ngeri pada benda di tangannya sendiri. “Don Rafael bilang, malam ini adalah malam terakhir. Setelah semua dokumen pengalihan aset selesai diproses besok pagi, Ibu harus tiada. Dia mengancam akan membunuh Ibu saya yang berada di kapal jika saya tidak menyuntikkan ini ke tubuh Ibu malam ini dan membuatnya tampak seolah-olah Ibu meninggal karena serangan jantung saat tidur.”
Liza mendongak, menatapku dengan tatapan memohon. “Ibu sudah menyelamatkan nyawa saya dua tahun lalu. Saya tidak mungkin membunuh Ibu. Tapi… saya juga tidak bisa membiarkan Ibu saya dibunuh oleh pria iblis itu.”
Suara langkah kaki yang berat tiba-tiba terdengar dari arah lorong bawah. Rafael sedang berjalan menuju ke kamarku, bersiap untuk memastikan bahwa rencana pembunuhan berencana ini berjalan tanpa cela.
Waktuku tidak banyak. Aku harus membalikkan keadaan malam ini juga.
Aku memegang bahu Liza, memaksanya untuk menatap mataku. “Liza, dengarkan aku baik-baik jika kamu ingin menyelamatkan ibumu dan mengakhiri semua ini.”
Aku mengambil ponselku dari dalam saku, menyalakan fitur perekam suara, dan meletakkannya di tempat tersembunyi di atas meja rias. Kemudian, aku merebut jarum suntik dari tangan Liza dan menyembunyikannya di balik bantal.
“Berdirilah di samping tempat tidur. Pasang kembali penutup kepalamu. Saat dia masuk, katakan padanya bahwa tugasmu sudah selesai,” perintahku dengan nada tegas yang belum pernah kugunakan sebelumnya.
Liza mengangguk cepat, menghapus sisa air matanya, dan segera mengambil posisi. Aku langsung merebahkan diri di atas ranjang, menarik selimut hingga sebatas dada, memejamkan mata, dan mengatur napasku seolah-olah aku telah jatuh ke dalam tidur abadi.
Pintu kamar terbuka dengan sentakan pelan.
Aroma parfum maskulin yang sangat kukenal menyeruak masuk, namun kali ini aroma itu terasa begitu memuakkan. Langkah kaki Rafael terdengar mendekati ranjang.
“Bagaimana?” suara Rafael terdengar, dingin dan tanpa emosi. Sama sekali berbeda dengan suara manis yang selalu ia gunakan di depanku selama empat tahun ini.
“Su-Sudah, Tuan,” suara Liza bergetar, mengeksekusi perannya dengan baik. “Dosisnya sudah masuk semua. Dalam beberapa menit, detak jantungnya akan berhenti sepenuhnya.”
Aku bisa merasakan kehadiran Rafael yang berdiri tepat di samping tubuhku. Sesuatu yang dingin menyentuh pipiku—jarinya. Ia memeriksa denyut nadiku di leher dengan kasar.

“Bagus sekali,” Rafael terkekeh, sebuah tawa licik yang membuat bulu kudukku merinding.
“Clarissa, Clarissa… kamu terlalu naif. Kamu pikir aku benar-benar mencintaimu? Jika bukan karena seluruh saham dan aset keluargamu, aku tidak akan sudi bertahan denganmu selama empat tahun ini. Besok pagi, semua ini akan menjadi milikku, dan kamu… hanya akan menjadi sejarah.”
Rafael berbalik menatap Liza. “Selesaikan tugasmu. Bersihkan ruangan ini, pastikan tidak ada jejak sidik jari atau bekas suntikan yang terlihat oleh tim forensik besok pagi. Setelah itu, aku akan melepaskan ibumu di pelabuhan tujuan.”
“Baik, Tuan,” jawab Liza.
Begitu mendengar suara langkah kaki Rafael berjalan menjauh dan pintu kamar tertutup rapat, aku langsung membuka mataku dan terduduk di atas kasur. Tubuhku gemetar karena amarah yang memuncak, namun pikiranku kini jauh lebih jernih dari sebelumnya.
Aku melangkah menuju meja rias dan mematikan rekaman di ponselku. Suara pengakuan Rafael terdengar sangat jelas dan tajam.
Aku menatap Liza yang kini bernapas lega.
“Hubungi polisi sekarang, Liza. Laporkan adanya ancaman pembunuhan dan penyanderaan,” kataku sambil menggenggam ponselku erat-erat. “Rafael mengira besok pagi adalah hari di mana semuanya berakhir bagiku. Dia salah. Besok pagi adalah hari di mana dia akan membusuk di penjara untuk sisa hidupnya.”