Posted in

Hamil 6 bulan aku ngidam mie gacoan, karena besok suami gajian aku minta belikan, tapi ternyata katanya dia lupa. Malamnya saat aku menawarkan makan malam, dia bilang kenyang.

Ternyata dia sudah makan mie gacoan bersama adik dan ibunya, tanpa membawakanku

Sakit hati, akhirnya aku nekat melakukan…

“Erika? Benar ini Erika, kan?”

Namaku yang keluar dari bibir Kalila membuat pertahananku runtuh seketika. Aku ingin menjawab, tapi tenggorokanku seperti terkunci. Yang mampu kulakukan hanya mengangguk pelan sambil menggenggam gagang koper lebih erat.

Wajah Kalila berubah. Detik berikutnya, ia sudah melangkah cepat mendekatiku.

“Ya Allah, Er… kamu kenapa?” Suaranya bergetar saat melihat wajahku yang sembap, daster yang tertutup jaket tipis, dan perutku yang membesar. “Kamu hamil?”

Aku menunduk. Entah kenapa, pertanyaan sesederhana itu membuat mataku kembali panas.

“Iya,” jawabku lirih.

Kalila menoleh tajam ke arah satpam. “Buka gerbangnya sekarang.”

“Tapi, Nyonya—”

“Sekarang, Pak Hamid.”

Satpam itu langsung gelagapan membuka gerbang lebih lebar. Kalila mengambil alih koperku tanpa banyak bicara, lalu menggandeng tanganku masuk. Hangat telapak tangannya membuat dadaku makin sesak. Sudah lama sekali rasanya tidak ada orang yang menyentuhku dengan rasa khawatir, bukan sekadar kewajiban.

“Kenapa datang jam segini? Kenapa nggak telepon dulu? Suamimu ke mana?”

Aku tidak menjawab. Bukan karena tidak mau, tapi karena kalau satu kata saja keluar, tangisku pasti ikut tumpah.

Kalila tampaknya mengerti. Ia tidak memaksa. Ia membawaku melewati halaman luas, lalu masuk ke rumah yang terang dan wangi. Lantainya mengilap, dindingnya penuh lukisan, dan udara di dalamnya terasa sejuk. Aku berdiri kaku di dekat pintu, merasa seperti noda basah yang tersesat di atas kain sutra.

“Duduk dulu, Er,” ucap Kalila lembut.

Aku menurut. Tubuhku mendarat di sofa empuk, tapi hatiku tetap terasa jatuh di lantai. Kalila memanggil seorang asisten rumah tangga, meminta air hangat dan makanan ringan. Semua terjadi begitu cepat sampai aku hampir lupa bahwa beberapa menit lalu aku masih berdiri di depan gerbang seperti orang tak punya arah.

Kalila duduk di depanku. Ia menatapku lama. Tatapan itu bukan tatapan menghakimi, melainkan tatapan seseorang yang sedang berusaha mengenali sisa-sisa sahabat lamanya di wajah perempuan lusuh yang duduk di hadapannya.

“Erika,” panggilnya pelan. “Kamu kabur dari rumah?”

Aku menggigit bibir. Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya jatuh juga.

“Aku pergi, Kal,” jawabku serak. “Aku sudah nggak sanggup.”

Kalila terdiam. Rahangnya tampak mengeras, tapi ia tetap menahan diri.

“Suamimu melakukan kekerasan?”

Aku menggeleng.

“Dia selingkuh?”

Aku kembali menggeleng.

“Lalu?”

Aku menatap gelas air hangat yang baru diletakkan di meja. Uapnya naik tipis, kabur seperti hidupku sendiri.

“Dia tidak melakukan apa-apa,” bisikku. “Justru itu yang membunuhku pelan-pelan.”

Kalila tidak langsung bicara.

Aku menarik napas patah-patah. “Tiga tahun aku hidup dengannya, Kal. Serumah, sekamar, satu atap. Tapi rasanya seperti tinggal dengan orang asing. Dia tidak pernah bertanya aku baik-baik saja atau tidak. Tidak pernah peduli aku ingin apa. Bahkan saat aku hamil… aku tetap merasa sendirian.”

Kalila meraih tanganku. Genggamannya menguat.

“Er…”

Aku tertawa kecil, hambar. “Kemarin aku cuma minta dibelikan mie gacoan. Satu bungkus saja. Aku ngidam, Kal. Bukan minta emas, bukan minta rumah. Cuma mie gacoan.”

Bibir Kalila mengatup rapat.

“Dia lupa?” tanyanya rendah.

Aku mengangguk. “Katanya lupa. Tapi ternyata dia membelikan adiknya, ibunya, bahkan dirinya sendiri.”

Kalila memejamkan mata sebentar. Ketika membukanya lagi, sorot matanya sudah berbeda. Lebih tajam. Seperti ada api kecil yang diam-diam menyala di sana.

“Dan kamu pergi karena itu?”

Aku menggeleng pelan. “Aku pergi bukan karena mie gacoan itu. Aku pergi karena akhirnya sadar… bahkan hal sekecil itu pun aku tidak punya tempat di ingatannya.”

Kalila menunduk, menarik napas panjang. Sesaat, ruangan itu hanya diisi suara hujan yang mulai turun lagi di luar sana.

“Mas Rian menikahiku bukan karena cinta,” lanjutku lirih. “Dia menikahiku karena janji pada Mbak Eva.”

Kalila mendongak. “Mbak Eva?”

“Ya. Mbakku.” Suaraku tercekat. “H-3 sebelum pernikahannya dengan Mas Rian, Mbak Eva kecelakaan. Sebelum meninggal, dia meminta Mas Rian menjagaku. Lalu mereka menikahkan kami di hari H pernikahan Mbak Eva dan Mas Rian. Semua orang bilang itu jalan terbaik. Aku masih muda, sendirian, tidak punya siapa-siapa. Mas Rian dianggap lelaki baik karena mau menerima adik dari calon istrinya yang sudah meninggal.”

Kalila menatapku tidak percaya. “Jadi… dia calon suami kakakmu?”

Aku mengangguk. Dadaku terasa diremas ulang oleh kenangan lama yang tidak pernah benar-benar selesai.

“Selama ini, aku hidup di bawah bayangan Mbak Eva. Aku tidak pernah menjadi Erika di matanya. Aku cuma amanah. Titipan. Janji yang harus dia jaga.”

Kalila bangkit tiba-tiba. Ia berjalan beberapa langkah, lalu berhenti sambil memijat pelipisnya.

“Astaga, Er…”

Aku mengusap perutku perlahan. Gerakan kecil dari dalam sana membuat mataku kembali basah.

“Aku pernah berpikir, mungkin kalau aku sabar, suatu hari dia akan melihatku. Mungkin setelah punya anak, hatinya berubah. Tapi malam ini aku sadar… aku tidak bisa membesarkan anakku sambil terus mengemis kasih sayangnya.”

Kalila kembali duduk di sampingku. Kali ini ia memelukku. Hangat, erat, tanpa banyak kata. Pelukan itu membuat tangisku pecah. Bukan tangis cantik yang tertahan, tapi tangis seorang perempuan yang terlalu lama pura-pura kuat.

“Maaf,” ucapku di sela isak. “Aku datang mendadak. Aku benar-benar nggak tahu harus ke mana.”

“Jangan minta maaf,” jawab Kalila tegas. “Kamu datang ke tempat yang benar.”

Aku menarik diri, menatapnya dengan mata kabur.

“Tapi aku nggak mau merepotkanmu, Kal. Aku cuma butuh tempat menginap beberapa hari. Setelah itu aku cari kontrakan kecil. Aku bisa kerja apa saja setelah melahirkan nanti. Aku—”

“Diam dulu,” potong Kalila. Bukan kasar, tapi cukup tegas untuk membuatku berhenti. “Malam ini kamu tidak perlu memikirkan apa pun selain istirahat.”

“Tapi—”

“Tidak ada tapi. Kamu hamil enam bulan, datang tengah malam, wajahmu pucat, dan dari tadi tanganmu gemetar. Besok kita pikirkan semuanya. Malam ini kamu harus istirahat, jangan pikirkan apapun.”

Aku menunduk. Ada malu yang menyelinap, tapi lebih besar dari itu, ada rasa lega yang hampir asing bagiku. Kalila memanggil asisten rumah tangganya lagi.

“Siapkan kamar tamu yang dekat kamarku. Ambilkan baju tidur yang longgar. Tolong buatkan susu hangat juga.”

“Kamar tamu?” gumamku cepat. “Kal, aku bisa tidur di sofa saja.”

Kalila menatapku tajam. “Erika please. Kamu sahabatku. Mana tega aku membiarkanmu tidur di sofa, apalagi dalam keadaan hamil seperti ini.”

Sederhana. Tapi kata itu menampar bagian hatiku yang sudah terlalu lama merasa tidak punya tempat. Aku kembali menangis diam-diam.

Kalila mengusap punggung tanganku. “Kamu aman di sini, Er.“

Aku mengangguk. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ada seseorang yang mengatakan aku aman.

Malam itu, saat aku masuk ke kamar tamu, aroma seprai bersih langsung menyambutku. Ruangan itu luas, nyaman, dengan lampu tidur yang temaram. Aku duduk di tepi ranjang, menatap koperku yang diletakkan di sudut kamar. Rasanya aneh. Aku pergi dari rumah suamiku, tapi justru di tempat asing ini napasku terasa lebih lapang.

Kalila berdiri di ambang pintu.

“Aku di kamar sebelah. Kalau perutmu sakit atau kamu butuh apa pun, ketuk pintu. Jangan sungkan.”

“Terima kasih, Kal.”

Ia tersenyum kecil, lalu wajahnya kembali serius.

“Besok pagi, kamu ceritakan semuanya dari awal. Aku ingin tahu seberapa jauh luka yang sudah dia lakukan padamu.”

Aku terdiam. Kalila melanjutkan dengan suara lebih rendah,

“Dan Erika… selama kamu di rumah ini, jangan pernah merasa kamu membebaniku.”

Pintu tertutup pelan setelah ia pergi. Aku merebahkan tubuh perlahan, menghadap ke samping. Tanganku kembali mengelus perut.

“Nak,” bisikku, “malam ini kita tidur di tempat orang baik.”

Gerakan kecil terasa dari dalam sana. Aku tersenyum tipis di antara air mata.

Sementara itu, entah kenapa bayangan wajah Mas Rian melintas. Apakah dia sudah sadar aku pergi? Apakah dia akan mencariku? Atau justru ia akan merasa lega karena janji yang membelenggunya akhirnya lepas begitu saja?