Demi membalas adikku yang merebut tunanganku, aku menyewa lelaki pengangguran jadi calon suami palsu.
Tapi saat lamaran, dia malah bawa hantaran satu pick up lengkap dengan mobil BRIO kuning.
Menyala dompetku!
Rombongan keluarga Baskara akhirnya melangkah masuk melewati pintu depan rumah. Senyumku yang sedari tadi sudah mengembang bersiap menyambut mereka, perlahan luntur.
Begitu pandangan kami berserobok, kulihat jelas raut wajah Baskara dan kedua orang tuanya berubah drastis. Mereka tampak sangat terkejut melihat kehadiranku. Langkah Baskara bahkan sempat tertahan sejenak, matanya membelalak kecil, seolah melihat hantu alih-alih kekasih yang akan dilamarnya. Kenapa mereka harus kaget? Bukankah ini memang acaraku?
Kecanggungan yang pekat seketika menguar di udara. Mereka kemudian dipersilakan duduk, namun gestur mereka terlihat sangat gelisah di hadapan Bapak dan ibu tiriku. Duduk mereka tak tenang, pandangan mereka kerap membuang arah. Sementara itu, aku dan Mikha duduk di sofa panjang bagian samping, agak berjarak dari titik fokus obrolan utama.
Dari ekor mataku, aku bisa melihat beberapa tetangga mulai mondar-mandir masuk ke ruang tamu, membantu menerima dan menyusun kotak-kotak seserahan. Kotak-kotak akrilik berpita mewah itu berjejer rapi, isinya barang-barang bermerek yang dulu sering Baskara dan aku bicarakan untuk pernikahan kami.
Sejak duduk di ruang tamu, Baskara sama sekali tidak berani menatapku. Laki-laki itu terus menunduk dalam-dalam, menatap ujung sepatu pantofel mengkilapnya.
Mungkin dia terlalu gugup karena ini momen pentingnya, pikirku berusaha berprasangka baik. Mencoba menepis segala firasat buruk yang sejak tadi merayap di pikiranku.
Lalu, tibalah saat di mana ibunya Baskara berdehem pelan, mengambil alih perhatian seluruh ruangan untuk menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan mereka malam itu.
Meskipun suasananya terasa sangat ganjil dan dingin, aku tetap memaksakan diri memasang senyum paling lebar yang kubisa.
“Terima kasih atas sambutan keluarga Pak Kukuh Arif Himawan kepada keluarga kecil kami,” ucap ibunya Baskara dengan nada formal yang kaku. Wanita paruh baya bermake-up tebal itu tersenyum tipis ke arah Bapak dan ibu tiriku. “Adapun maksud dan tujuan kedatangan kami ke sini adalah hendak melamar salah satu putri Bapak untuk putera tercinta kami, Baskara.”
Setelah mengucapkan kalimat sakral itu, ibu Baskara menoleh ke samping. Dia merogoh tas tangannya, lalu menyerahkan satu buah kotak kecil berlapis beludru merah kepada puteranya. Jantungku berdebar kencang. Itu cincinnya.
Baskara menerima kotak itu dengan tangan sedikit gemetar. Dia mengangkat wajahnya, menatapku sebentar dengan pandangan yang sulit kuartikan. Mungkin campuran antara rasa bersalah dan takut. Baskara lalu berdiri dan melangkah pelan namun pasti, menuju ke arah tempatku dan Mikha duduk.
Mataku berkaca-kaca menatapnya. Inilah momennya. Aku menatap laki-laki itu dengan binar bahagia di mataku, melupakan sejenak segala keanehan malam ini. Perlahan, aku memajukan tubuh, hendak berdiri untuk menyambut uluran tangannya.
Namun, tepat sebelum tubuhku sepenuhnya tegak, tiba-tiba saja Mikha menarik tanganku dengan tarikan yang sangat kasar dan bertenaga.
Bruk!
Aku kembali terhempas ke atas sofa dengan posisi canggung. Belum sempat aku memproses apa yang baru saja terjadi dan mengapa Mikha melakukannya, adik tiriku itu sudah lebih dulu berdiri. Dia melangkah gemulai, memperbaiki letak kebaya seragamnya dengan senyum penuh kemenangan, dan berdiri berhadapan sangat dekat dengan sosok Baskara.
“Bismillahirrohmanirrohim. Mikha Putri Himawan, maukah kamu menjadi pendampingku, menjadi istri dan ibu dari anak-anakku?”
Ucapan Baskara meluncur lancar. Suaranya tidak terlalu keras, namun di telingaku, kalimat itu terdengar seperti gemuruh badai yang menghancurkan gendang telinga.
Dadaku seakan dihantam godam raksasa. Napasku terhenti seketika. Apa-apaan ini? Kenapa Baskara malah melamar adik tiriku?
Mataku terpaku pada pemandangan menjijikkan di depanku. Baskara, laki-laki yang biaya kuliahnya kubantu mati-matian, kini sedang menyodorkan cincin kepada Mikha yang tersipu malu.
Otakku kesulitan memproses realita gila ini. Aku menunduk menatap pangkuanku. Perlahan, bahuku mulai berguncang.
Alih-alih menangis, rongga dadaku justru dipenuhi oleh dorongan tawa menyakitkan yang memberontak ingin keluar. Tawaku bergemuruh di tenggorokan.
Hatiku hancur berkeping-keping, rasanya seperti dikuliti hidup-hidup oleh pengkhianatan yang begitu rapi dan sistematis ini. Tapi aku menolak terlihat menyedihkan dan hancur di depan para pengkhianat ini.
Bibirku terbuka, dan akhirnya tawa itu meledak. Tawa yang keras, sarkas, dan getir.
Keheningan khidmat di ruang tamu itu pecah. Saat tawaku meledak, semua mata langsung tertuju padaku. Beberapa tetangga dan kerabat yang hadir tampak heran, berbisik-bisik, menatapku dengan sorot mata seolah berpikir aku sudah gila.
Lagipula, siapa yang tidak akan gila jika berada di posisiku saat ini? Kekasihnya berkhianat dan melamar perempuan lain di depan kedua matanya, di dalam rumahnya sendiri!
“Dasar gila,” bisik ibu tiriku dari seberang meja. Suaranya disengaja agar terdengar cukup jelas di telingaku. “Bikin malu keluarga aja. Untung Nak Baskara sadar dan milih Mikha.”

Aku menghentikan tawaku perlahan, menyeka sudut mataku yang berair karena tertawa terlalu keras. Aku mendongak, menatap lurus ke wajah Baskara yang kini pias.
“Wow, Baskara, apa ini? Jadi kamu selingkuh sama MIkha? Sejak kapan?” tanyaku dengan nada suara rendah, tenang, namun setajam silet.
Baskara menelan ludah, tidak berani menatap mataku terlalu lama. “Maaf, Kirana,” ucapnya pelan. “Aku … aku merasa kita sudah tidak cocok lagi. Terlalu banyak perbedaan di antara kita sekarang. Kata ibuku, kalau menikah, kita harus memilih pasangan yang setara. Aku butuh istri yang pantas kubawa ke acara-acara dinas pemerintahan. Yang… elegan. Maaf.”
Aku tersenyum miring. Tanganku mengepal kuat hingga kuku-kukuku memutih. “Oh? Jadi sekarang aku udah enggak setara sama kamu?”
“Lah, dia enggak nyadar!” sahut ibu tiriku cepat, memotong dengan nada yang sangat memuakkan. Dia menatapku dari atas ke bawah dengan jijik. “Sadar diri, Nak. Ngaca dong! Baskara itu sekarang seorang Sarjana. Pejabat! Sedangkan kamu apa? Cuma lulusan SMA. Terus sekarang dia bekerja jadi staf khusus walikota, gajinya besar, jabatannya mentereng. Masa istrinya cuma pekerja serabutan di kota orang? Kulit kucel, tangan kasar. Malu-maluin kalau diajak kumpul pejabat!”
Kepalaku berdenyut nyeri menahan ledakan emosi yang siap meletus. Ibu tiriku sendiri yang menyerangku di depan keluarga laki-laki brengsek ini.
“Selain itu…” Kali ini ibunya Baskara yang angkat bicara, menaikkan dagunya dengan angkuh. “Hitungan hari kelahiran kalian tidak serasi. Kalau kalian menikah, maka akan membawa kesialan di hidup Baskara. Karir anak saya yang sedang bersinar bisa hancur berantakan gara-gara bawaan sial kamu. Kami butuh menantu yang membawa hoki, seperti Mikha.”
Darahku mendidih. Aku pembawa sial? Aku menoleh ke arah Bapak, menatapnya dengan pandangan memohon bercampur marah. Aku berharap mendapat pembelaan, sedikit saja keadilan dari sosok ayah kandungku sendiri. Saat ini, harga diriku sedang diinjak-injak hingga rata dengan lantai rumah kami.
Namun, sebelum Bapak sempat membuka mulut, ibu tiriku kembali menyemburkan racunnya. “Betul kata Ibu Baskara. Weton kamu itu panas, Kirana. Siapa yang dekat dengan kamu pasti kena bala. Almarhum ibu kandung kamu contohnya. Mati muda kan gara-gara melahirkan anak bersuhu panas kayak kamu!”
Deg!
Tubuhku menegang. Membawa-bawa almarhumah ibuku adalah batas toleransiku. Aku baru saja akan membuka mulut untuk membalas makian perempuan ular itu, saat suara gebrakan meja terdengar.
“Diam!” teriak Bapak murka. Napasnya memburu.
Aku menatap Bapak, berharap dia akan mengusir mereka semua. Namun, kalimat yang keluar dari mulutnya justru menjadi paku terakhir yang menutup peti matiku hari ini.
“Kirana, cukup! Jangan merusak acara lamaran adikmu!” ucap Bapak dingin, menatapku dengan sorot mata lelah yang menyuruhku untuk menyerah. “Terima saja jika Nak Baskara memang bukan jodoh kamu. Bapak yakin nanti pasti akan datang jodoh yang lebih pantas buat kamu.”
Aku mendesah kecewa. Tarikan napasku putus-putus. Hatiku patah tak bersisa oleh Baskara. Ditambah lagi, tidak ada satupun keluargaku yang membela. Terutama Bapak. Laki-laki yang seharusnya menjadi pelindung utamaku justru memintaku mengalah pada ketidakadilan ini demi anak dari istri barunya.
Satu tetes air mata lolos tanpa permisi. Namun, dengan cepat kuusap air mata yang jatuh di pipiku itu dengan punggung tangan. Aku menaikkan dagu setinggi mungkin. Aku menolak memperlihatkan kehancuranku lebih jauh di hadapan manusia-manusia menjijikkan ini. Jika mereka pikir aku akan menangis meraung-raung meminta Baskara kembali, mereka salah besar.
Sambil menatap tajam, Baskara dan ibunya, aku berdiri tegak. Suaraku menggema di ruang tamu yang mendadak hening itu.
“Baiklah. Aku menerima pertunangan Baskara dan Mikha. Mereka mau nikah besok juga akut tidak peduli. Dengan syarat, kembalikan semua uangku yang Baskara pakai untuk biaya pendidikannya!”